
Malam itu, keakraban perlahan muncul diantara penjaga dan tim Dean. Mereka mendengarkan cerita tentang Bumi Satu dari Dean dan kawan-kawannya. Hal itu menimbulkan rasa sedih dan iri. Karena mereka tak pernah mengalami hal-hal menyenangkan seperti yang dikisahkan.
Kenapa para pemimpin di Bumi Satu tak melihat keadaan di sini? Begini buruknya, tapi mereka dipaksa menetap. Sementara Bumi Satu yang indah, meskipun porak-poranda akibat bencana, bukankah harusnya masih bisa dibangun ulang?
"Aku jadi ingin sekali bisa pergi ke sana. Melihat tempat hijau, biru, dan aneka warna indah lain yang hanya ada di buku sekolah," celetuk seseorang.
"Beruntung sekali kalian masih bisa memelihara seekor macan seperti ini. Kami bahkan baru sekarang bisa melihat wujudnya." timpal yang lain.
"Yaahh, tapi kami masih harus menemukan pasangan untuk Cloudy. Atau, dia akan jadi macan terakhir di dunia." Widuri mengelus bulu Cloudy dengan sayang.
Yang lain mengangguk. Jika Cloudy tak punya pasangan, maka hewan jenis macanpun akan punah.
"Apa yang akan kalian lakukan besok? Jujur saja, kami para penjaga di sini tak pernah melihat manusia lain selain orang-orang koloni yang berpakaian serupa. Jadi, jika kalian bertemu dengan yang lainnya, maka kalian akan langsung ditangkap dan dipenjara."
Seorang penjaga mengingatkan.
Dean mengangguk mengerti.
"Apakah para tentara sudah menjelajah seluruh bumi ini?" tanya Dean.
"Belum. Baru sepertiga luas bumi ini yang berhasil dipetakan. Yang lainnya masih misteri," jawabnya.
"Bisakah aku melihat peta kalian?" harap Dean.
"Peta itu ada di kediaman. Aku akan menunjukkannya padamu besok," janjinya.
"Terimakasih," ujar Dean tulus.
"Sebaiknya kita beristirahat sekarang. Besok masih hari yang panjang." Sunil membaringkan tubuhnya di samping Dokter Chandra.
*
*
Pagi hari, pintu bangunan itu dibuka. Seluruh permukaan tanah yang kemarin diguyur hujan, menjadi hitam legam seperti dituangi oli bekas. Termasuk rumput-rumput liar.
Baru kali ini tim Dean melihat fenomena ini. Sangat berbeda dengan keadaan bumi sehabis diguyur hujan, yang menguapkan aroma tanah basah yang segar. Di Bumi Dua ini, udara justru jadi tercemar bau tak sedap. Semua orang otomatis menutup hidung masing-masing.
"Pencemaran udara di sini sangat parah. Bagaimana kalian bisa tinggal di sini puluhan tahun?"
Tak ada yang merasa perlu menjawab gerutuan Alan. Keadaan ini memang sangat parah. Sungguh mengherankan orang-orang di sini bisa bertahan hidup. Apa mereka sudah kebal?
"Aku ambilkan peta dulu."
Salah seorang penjaga bicara pada Dean, kemudian pergi.
Dua penjaga a lainnya juga pergi. Sementara yang kemarin diculik Alan, sudah berdiri di pos penjagaan. Pos itu seperti menara 3 lantai. Michael mengikutinya naik.
__ADS_1
"Apa yang kau jaga di sini?" tanya Michael.
"Melihat situasi. Jika ada makhluk tak dikenal melintas," jawabnya.
"Apakah pernah ada makhluk tak dikenal muncul di siang hari?" tanya Michael lagi.
"Pernah," jawabnya.
"Oh ya? Kapan? Seperti apa mereka? Apa kalian langsung menangkap mereka?" Michael bertanya antusias.
"Kemarin. Kalian!" jawabnya tenang.
Michael diam untuk mencerna kata-kata itu. Dia bingung sebentar lalu menyadarinya.
"Kau ini!" Ditepuknya pundak penjaga itu. "Yang selain kami dong," ujar Michael.
Penjaga itu tersenyum dan menggeleng. Michael menatapnya tak percaya.
"Tidak pernah ada yang ditangkap di sini? Lalu kenapa bangunan penjara itu penuh orang?" pikirnya.
"Jika tak pernah kejadian, lalu untuk apa kalian terus berjaga?" tanya Michael usil.
"Yah, karena ini tugas. Dengan melakukan tugas, kami dapat makan," jawabnya.
"Cuma makan? Apa kalian tidak mendapat gaji? Rugi sekali," ejek Michael.
"Oh, banyak juga. Bagaimana kau akan menggunakannya?" selidik Michael lagi.
"Setiap satu tahun, para pekerja bisa mendapat cuti seminggu dan pergi ke pusat koloni. Di sana seperti kota. Banyak sekali lampu. Kita bisa membeli apapun jika punya cukup tabungan."
Penjaga itu tersenyum membayangkan kota yang menjadi pusat koloni.
"Tapi, menurutku, tetap lebih baik jika kau punya uang cash ditangan."
Michael menasihati.
"Jika terjadi sesuatu di bumi ini dan kau akhirnya berada jauh dari sini, maka kau masih punya cadangan uang untuk melanjutkan hidup," tambah Michael lagi.
Penjaga itu termenung sejenak sebelum berkata. "Tidak ada uang cash di sini. Bahkan Bumi Satu tidak lagi mencetak uang. Seperti inilah adalanya."
Michael tak menduga perkembangan itu. Tapi dia mengangguk mengerti. Mungkin keadaan yang kacau setelah bencana besar, membuat pemimpin yang dipilih mengambil kebijakan ini. Kehidupan kembali berjalan teratur.
"Tapi, bagi kami yang telah berkelana ke berbagai tempat dengan mata uang berbeda, maka nilai uangmu yang seperti ini, tidak bisa diandalkan. Di dunia lain, kau tidak bisa membeli sepotong roti dengan ini. Jadi setidaknya kau harus punya benda berharga yang bisa ditukar dengan uang yang berlaku di tempat tersebut." Michael menjelaskan panjang lebar.
"Hemmm ... ku rasa kau ada benarnya. Berarti dengan tabungan ini, aku harus membeli sesuatu yang di dunia manapun bisa dianggap berharga," ujarnya bersemangat.
Michael mengangguk mengiyakan. Dia puas karena si penjaga cukup cerdas untuk bisa memahami uraian tadi.
__ADS_1
"Lalu menurutmu, benda apa yang paling berharga?" tanyanya lebih antusias.
Michael terdiam. Apakah orang-orang ini tak punya pengetahuan tentang logam mulia atau batu permata?
"Yang universal dan mudah ditukar itu biasanya perak, emas, batu-batu permata, perhiasan, mutiara, bahkan untuk daerah yang sedang kesulitan pangan, maka bahan makananpun bisa sangat berharga," jelas Michael.
"Oh ... itu semua sangat mahal," keluhnya.
"Tentu saja mahal. Tapi kau bisa mengumpulkan sedikit-demi sedikit. Beli yang kecil-kecil dulu, sesuai tabunganmu. Kumpulkan. Itulah tabunganmu yang sesungguhnya. Yang benar-benar kau miliki. Simpan dengan baik," nasehat Michael.
Penjaga itu mengangguk mengerti.
"Jadi, jika keadaan memburuk, maka aku punya tabungan pribadi yang ku pegang sendiri," gumamnya.
"Kau pintar," puji Michael.
"Hei, waktunya sarapan!" teriak seseorang dari bawah.
"Ya!" jawab penjaga itu.
Michael dan penjaga menara itu turun ke bawah.
Dean mendiskusikan peta yang dilihatnya tadi. Lalu menggambarkannya di tanah.
Dean menunjuk satu titik.
"Kita di sini. Basecamp di sini. Ini garis tebing dan jurang dimana makhluk asli bumi ini berada. Tak ada yang tau seperti apa keadaan area ini sebenarnya. Bahkan petugas di sinipun, tak ada yang tau persis seperti apa wujud pemukim asli ini. Tak ada yang tetap hidup setelah melihatnya. Dan menurut petugas tadi, para penjaga hanya ditempatkan sepanjang tebing jurang saja."
"Berarti pintu teleportasi lima yang kita lewati dan pintu lainnya, ada di garis ini. Kita bisa saja menyusuri garis tebing ini dan menemukan pintu yang cocok." usul Michael.
"Lalu menghadapi lagi todongan senjata seperti sebelumnya?" bantah Dokter Chandra.
"Kita lumpuhkan saja sebelum mereka bergerak," sahut Alan enteng.
"Tunggu dulu." Dean melerai perdebatan teman-temannya.
"Peta ini belum selesai ku jelaskan!"
"Lanjutkan Dean!" kata Robert.
"Oke. Jadi dari peta itu, maka kota utama koloni mereka ada di sini. Jaraknya, 15 jam perjalanan dengan pesawat mereka. Artinya, berangkat pagi, maka tiba di sana malam hari. Area yang dilalui itu, meski termasuk yang sudah mereka jelajahi, tapi tetaplah tidak aman. Karena berada di tengah-tengah wilayah pemukim asli," urai Dean.
"Lalu, maksudmu menjelaskan ini apa?" tanya Michael.
"Kita harus putuskan bersama. Kemana arah tujuan kita selanjutnya. Apakah mau mencoba jalur teleportasi lagi, atau masih ingin mencari tau tentang koloni ini?" tanya Dean.
Teman-temannya terdiam. Berpikir keras mencari jalan terbaik.
__ADS_1
******