
Setelah 2 hari, kesehatan Kang kembali pulih. Robert merawatnya mengikuti instruksi Kang. Benar saja, lantai bawah pondok itu adalah tempat persediaan penting milik Kang. Beberapa botol obat berjejer rapi di rak yang menempel dinding. Di rak lain disimpan rempah-rempah dan bahan obat yang dibutuhkan Kang selama ini.
Dari Kang, Robert mengetahui bahwa lingkaran cahaya yang melingkupi makam adalah langkah yang diambil ayahnya saat terjadi gempa dahsyat di tempat itu. Ayahnya mengeluarkan hampir semua kekuatannya untuk menjaga agar makam tidak sampai ambruk. Itu membuat kesehatan ayahnya menurun. Terlebih lagi kesedihan karena mereka bertiga terkurung dan terputus dari dunia luar.
Ibu dan adik perempuan Kang yang tinggal di desa pinggir hutan tak pernah lagi bisa mereka jumpai. Sekian tahun mereka hanya hidup bertiga dengan biksu penjaga kuil di kompleks makam. Kematian biksu yang makin menua, makin melemahkan kesehatan ayahnya. Setelah kematian ayahnya, jadilah Kang hidup sendirian di tempat itu. Terputus dari dunia luar yang sudah berubah jauh.
"Kang, di duniamu ini, waktu seakan berhenti berputar. Lihatlah kau terlihat seperti anak muda biasa." Kata Robert.
Kang menyentuh dahi Robert, lalu tersenyum.
"Aku mau memeriksa hutan lagi. Kita harus mencari jalan keluar dari sini. Ayo. Temani aku." Robert menarik tangan Kang.
Mereka menuju kandang kuda. Kang memilih kuda yang akan mereka pakai. Setelah 2 hari hanya berbaring, Kang senang bisa keluar lagi bersama teman barunya itu.
Keduanya menunggangi kuda, memeriksa area terjauh dunia kecil itu. Kang menjadi penunjuk jalan yang handal. Jelas saja dia hafal luar kepala semua sudut. Dia telah tinggal di situ ribuan tahun. Kang sudah menjelajahi semua tempat.
Sebenarnya Robert pesimis bisa menemukan celah dunia lain di situ. Bagaimanapun, Kang dan ayahnya yang punya kemampuan hebat saja, tak bisa menemukan cara keluar dari perangkap dunia ini.
Hingga matahari meredup dan condong ke barat, mereka kembali ke pondok dengan sia-sia.
Rutinitas sore adalah memerah susu, memetik sayuran dan memberi makan ternak. Lalu mereka menyiapkan makan malam dan beristirahat.
Selama seminggu berikutnya, Kang dan Robert terus melanjutkan pemeriksaan area terluar dunia kecil itu. Tapi hasilnya tetap nihil.
"Kang, yang belum kita periksa adalah area jurang dan tebing di depan sana. Ku kira, besok kita harus mencari jalan untuk turun." Kata Robert.
Kang menyentuh dahi Robert sejenak. Lalu dia mengangguk.
"Kau setuju untuk turun?" Tanya Robert sambil mengangguk.
Kang juga membalas anggukan dan tersenyum.
"Hahaa.. oke. Kita turun bersama." Ujar Robert senang.
*
*
__ADS_1
Pagi hari setelah sarapan, Robert dan Kang bersiap untuk kembali memeriksa. Mereka menunggang kuda dengan kecepatan sedang. Tak lama sampailah ke tepi jurang tempat mereka berteriak sebelumnya.
Kuda-kuda ditinggalkan Kang begitu saja.
"Hei, kenapa tidak mengikat mereka?" tanya Robert heran.
Kang menyentuh dahi Robert. Ekspresi tercengang wajah merah Robert membuat Kang tersenyum lebar.
"Wahh, kuda-kudamu sudah terlatih untuk pulang sendiri ya? Hebat sekali. Dan kau benar. Tak perlu takut hilang dicuri. Karena memang tak ada orang lain di sini. Hahaha.. Aku yang terlalu khawatir." Robert merasa bodoh.
"Baiklah. Sekarang kita cari jalan turun yang lebih mudah."
Robert memeriksa tepi tebing yang dirimbuni semak belukar.
"Vegetasi di sini terlalu rimbun. Sulit untuk mencari jalan turun," Robert terus menyibak dedaunan dan tanaman rambat yang saling membelit.
Kang meraih tangan Robert. Dengan tangannya yang lain dia menunjuk ke arah jurang.
"Kau tau cara ke sana?" Robert bicara sambil memberi isyarat.
Kang mengangguk.
Kang memegang tangan Robert erat. Lalu dia mulai melompat dari dahan ke dahan dengan lincahnya.
Robert benar-benar tak bisa mempercayainya matanya. Bagaimana Kang bisa melenting tinggi hanya dengan bertumpu pada ranting kecil dan lemah? Misalpun tubuh Kang seringan kapas, tapi bukankah Robert cukup berat untuk bisa mematahkan ranting rapuh itu?
Tapi Robert tak berlama-lama dengan itu. Matanya sudah teralihkan pada pemandangan lembah yang teramat indah. Di satu sisi sungai kecil itu terhampar karpet alami hijau berbunga putih kecil-kecil.
"Indah banget. Apakah kau pernah ke sini Kang?" tanya Robert setelah mereka menapakkan kaki di permukaan.
Kang menyentuh dahi Robert, lalu mengangguk. Dia memeriksa bunga-bunga putih yang memenuhi seluruh area lembah. Kang memetik salah satu bunga. Dia meremasnya. Lalu tinggal beberapa biji kecoklatan di telapak tangannya. Kang mengambil satu biji, lalu memasukkannya ke mulut. Dia mengunyah pelan.
"Ternyata itu bisa dimakan ya? Ku kira hanya tanaman liar." Robert menggeleng pelan.
Tiba-tiba di tangan Kang ada sebuah pisau besar agak melengkung. Robert terkejut dan mundur saat Kang mengangkat pisau itu ke arahnya. Dahi Kang mengerut melihat Robert menjauh. Tapi dia kemudian menyadari bahwa Robert mungkin salah paham.
Kang menurunkan pisaunya lalu tersenyum. Dia menunjuk hamparan bunga putih di situ.
__ADS_1
"Kau mau memotong bunga-bunga itu?" Tanya Robert sambil menunjuk ke arah ladang bunga. Kang mengangguk.
"Oke, baiklah. Akhirnya kita panen di sini." Robert mengeluarkan pisau besarnya.
Kedua orang itu akhirnya sibuk memanen bunga-bunga yang ada di situ. Tapi setiap kali bunga-bunga sudah menumpuk banyak, mereka semua segera menghilang.
"Kemana semua hasil panen kita?" tanya Robert.
Kang meletakkan jarinya di dahi Robert. Itu membuat Robert mengerti.
"Keren sekali. Dengan cincin spasial, kita tak perlu repot membawa banyak barang bawaan. Orang jaman dulu ternyata lebih praktis." Robert memuji Kang sambil mengacungkan jempolnya.
Lewat tengah hari, setengah ladang bunga di lembah sudah selesai dipanen. Kang mengajak Robert kembali.
"Tapi kita sama sekali belum memeriksa area sekitar sini." Robert keberatan untuk kembali secepat itu.
Kang menunjuk ke langit. Robert tak menyadari bahwa awan gelap sudah menggantung di langit.
"Oh, mau hujan. Baiklah.. kita kembali." Robert akhirnya menyerah.
Kang memegang tangan Robert. Membawanya melompat menjejak di beberapa tanaman sepanjang tebing. Mereka akhirnya mencapai tepi tebing. Dua kuda tadi masih asik merumput di situ.
Sampai di pondok, gerimis sudah turun. Kang berlari untuk menutup rapat semua kandang ternaknya. Kolam ikan juga ditutupinya. Robert yang tak mengerti, hanya bisa berdiri menunggu. Lalu mereka segera masuk rumah. Kang langsung menutup pintu dan menguncinya sekalian. Jendela juga ditutupnya rapat-rapat.
"Ada apa?" Tanya Robert tak paham.
Kang tak menjawab. Ditariknya tangan Robert menuju tangga tersembunyi di lantai. Dia bergegas masuk dan segera menutup rapat lantai pondok.
Robert merasa ada sesuatu yang dikhawatirkan Kang tentang hujan di luar. Jadi dia tak banyak bertanya lagi. Sekarang Kang sudah membuka pintu rahasia di dinding.
Robert mengikutinya masuk lorong. Pintu batu di belakang langsung tertutup. Tapi pelita di lorong segera menyala. Mereka menyusuri lagi lorong batu di bawah tanah itu. Panjang dan berkelok-kelok. Sampai akhirnya ada cahaya dari arah depan.
Ternyata pintu batu di depan sana sudah terbuka. Robert mengikuti Kang masuk. Sekarang keduanya kembali berada di ruangan batu di bawah tanah dekat kompleks pemakaman. Pintu batu itu juga segera lenyap.
Robert ingin bertanya, tapi Kang memilih masuk ke dalam kamarnya. Jadi Robert hanya bisa masuk ke dalam kamarnya juga. Kamar tempat dulu Kang merawatnya.
"Ahh.. misterius sekali. Sudahlah. Tanyakan nanti saja."
__ADS_1
Robert membaringkan dirinya di dipan batu. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.