PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 337. Percobaan


__ADS_3

"Tapi, aku tak ingin pergi tanpa kepastian. Aku tak mau tempat yang kita tuju, ternyata membahayakan anak kita!" tegas Widuri.


Ruangan itu kembali sunyi. Yang dikatakan Widuri, benar adanya. Selama ini, tak masalah baginya mengadu nasib melintasi berbagai celah dinding dunia, pintu teleportasi ataupun worm hole. Tapi sekarang dia sudah akan menjadi seorang ibu. Dan seperti para ibu umumnya, nalurinya untuk melindungi calon bayinya, mengalahkan semua ego.


"Mari kita istirahat dulu. Besok kucoba mempelajari pintu teleportasinya." Dokter Chandra mengakhiri diskusi malam itu.


Mendengar itu, mereka merasa ada sedikit harapan. Lalu semua bubar dengan berbagai pemikiran yang bergelayut di kepala masing-masing. Terutama Dean, yang kesulitan mengatakan keinginannya yang berbeda, pada Widuri.


*


*


Pagi hari, Dean dan Indra segera melanjutkan pekerjaan menaburi bibit di ladang gandum. Sementara Sunil menyiapkan tempat untuk mengeringkan air laut agar menjadi garam. Robert membantu dokter Chandra memeriksa dan membandingkan dua pintu teleportasi yang ada di sana.


Menurut Robert, titik koordinat pada pintu teleportasi yang mereka bawa, sudah hampir benar. Hanya selisih tahunnya saja. Jadi sekarang mereka perlu mencari cara untuk mengubah waktu dan lokasi keluar. Namun, itu juga bukan perkara mudah. Tanpa percobaan, tak bisa membuat perbandingan.


Malam hari, mereka mendiskusikannya kembali.


"Kita harus mencoba lebih dulu, untuk melihat apakah koordinat yang kita masukkan, benar atau salah," ujar Robert.


"Maksudmu, kita coba satu tujuan, lalu kembali kemari jika salah?" tanya Dean.


"Robert mengangguk. " Ya, hanya bisa begitu. Karena tak ada satupun dari kita yang ahli dalam teleportasi ini," tegasnya.


"Lalu siapa yang akan pergi mencoba?" tanya Indra serius.


"Harus cukup orang yang pergi, agar bisa membawa kembali pintu teleportasi itu. Kalian yang waktu itu melakukannya. Coba katakan, kira-kira butuh tenaga berapa orang untuk menariknya?" tanya dokter Chandra.


"Wah ... itu berat sekali. Kita bertiga saja saat itu agak kesulitan, kan?" Sunil meminta pendapat teman-temannya. Dean dan Indra mengangguk.


"Berarti, setidaknya butuh tiga orang untuk membawa pintu teleportasi itu kembali dalam perjalanan pulang." Dokter Chandra manggut-manggut.


"Sunil dan Robert, besok kita lakukan percobaan pertama." Dokter Chandra telah memilih kandidatnya.


"Biar aku yang ikut," tawar Dean.


"Tidak! Kau harus menjaga Widuri. Dan Indra harus membantu dan menjaga tempat ini. Lagi pula, ini hanya percobaan. Apapun hasilnya, kami toh akan kembali lagi." Keputusan dokter Chandra tak bisa diubah.


"Baiklah," Dean tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Sekarang kita istirahat dan kumpulkan tenaga untuk besok!" perintah dokter Chandra.


*


*

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Dean dan Indra ikut ke gua, dimana pintu teleportasi tempat itu dan yang mereka bawa dari Rusia, diletakkan.


Menurut dokter Chandra, koordinat yang ada pada pintu teleport dari Rusia itu mengarah ke dunia kecil yang mereka huni sekarang. Jadi yang harus diatur ulang adalah kordinat yang berada pada pintu teleportasi di dalam gua.


Mereka membandingkan angka-angka dan tulisan yang tertera. Lalu Dean mencatat yang persis sama, pada dinding gua. Itu akan jadi patokan mereka untuk mereset ulang, jika koordinat yang baru dibuat, melenceng jauh.


"Baik, kita bisa mulai," ujar Sunil.


"Jangan lupakan bekal untuk perjalanan kalian." Dean mengingatkan.


"Sudah semua," Robert mengangguk.


"Biar pintu teleportasi ini aku yang simpan," ujar dokter Chandra. Yang lain mengangguk setuju.


Pintu teleportasi dari Rusia yang diikat dengan tali-temali, sudah lenyap dalam penyimpanan dokter Chandra.


Kini Robert dan Sunil berdiri mengapit dokter Chandra. Ketiganya menghadap pintu teleportasi yang ada di gua.


"Berhati-hatilah," pesan Dean.


"Oke!" sahut Robert.


Sebuah bola cahaya putih berkilau, terbentuk. Lalu perlahan, melayang masuk dan ditelan dalam cahaya pintu teleportasi.


Dean dan Indra merasa khawatir, tapi mereka mendapat perintah untuk menjaga istri dan tempat ini. Jadi tak mungkin membantah.


"Mau mengerjakan apa?" tanya Indra. Rasanya semua yang penting, sudah mereka kerjakan dalam dua minggu ini.


"Memotong pepohonan yang terlalu rapat. Jika benar akan tinggal di sini, maka kita harus siapkan cukup kayu," jawab Dean sekenanya.


"Baiklah ...."


Indra mengikuti Dean, terbang keluar gua dan menuju hutan, diujung padang rumput.


Hingga sore tiba, sudah banyak batang pohon yang dikumpulkan. Semua diletakkan di tepi hutan.


"Dean, jika membangun satu pondok mungil di sini, bukankah bagus?" celetuk Indra.


Dean melihat tepi hutan yang kini mulai agak terang itu.


"Jika pondoknya menghadap ke kali kecil ini, maka pemandangannya akan sangat spektakuler," tunjuk Indra ke arah bebukitan di belakang ladang gandum.


Dean tersenyum tipis. Dia mengakui penilaian Indra. Pemandangan sekarang saja sudah indah. Ada padang rumput yang dipenuhi domba, di bagian kiri. Dan ada hamparan ladang gandum di bagian kanan kali.


Di kejauhan, air terjun yang jatuh masih bisa terlihat. Airnya yang jernih seperti mengelilingi seluruh tempat, sebagai pengairan alami. Lalu background bukit dilatar langit biru itu, memang luar biasa.

__ADS_1


"Akan lebih indah saat gandum berwarna keemasan," Dean akhirnya mengakui.


"Gazebo yang di puncak bukit juga harus kita perbaiki," tambahnya lagi.


"Dan pohon-pohon yang menghalangi pemandangan laut dari bukit, juga harus kita tebang."


Tanpa disadari, mereka membuat beberapa perencanaan untuk tempat itu. Setelah menyadari obrolan itu, keduanya terdiam.


"Apa kau berencana untuk tinggal, Dean?" Indra mengajuk hati Dean.


"Tidak tau. Sejujurnya aku merasa dilema. Antara mengikuti keinginan Widuri dan keinginanku untuk terus menjaga Penguasa." Dean duduk di atas gelondongan batang pohon.


"Ku kira hanya aku saja yang merasa begitu." Indra membaringkan tubuhnya di rerumputan.


"Tapi tempat ini memang sangat bagus untuk dijadikan tempat tinggal," imbuhnya lagi.


"Andai saja pintu teleportasi itu bisa menghubungkan dunia kecil ini dengan dunia asal kita. Maka kita bisa bolak-balik datang dan pergi keluar, jika butuh sesuatu." Indra mengutarakan harapannya.


Dean mencerna kalimat-kalimat Indra. "Andai saja bisa begitu. Alangkah indahnya hidup ini," batin Dean.


Namun Dean tahu bahwa tidak semua keinginan manusia bisa terpenuhi. Bahwa manusia justru sering kali dihadapkan pada pilihan yang sangat rumit dan tidak disukainya.


"Sudah hampir petang. Ayo bantu aku memetik buah apel dan pir sebelum kembali," ajak Dean.


Keduanya kembali terbang menuju hutan luas untuk mencari buah-buahan yang bisa menyenangkan para wanita mereka.


"Apa kau pernah ke kebun buah ini, Dean?" tanya Indra.


"Belum. Penguasa yang mengatakannya. Makanya aku mencari," jawab Dean jujur. "Tapi tak kusangka bahwa ini kebun buah-buahan. Tadinya kukira hanya beberapa pohon buah terselip diantara rimbunan hutan," tambahnya lagi.


"Rasanya kebun buah ini jauh lebih banyak ragamnya ketimbang dunia kecil di gunung batu. Saatnya kita panen!" Indra tertawa gembira.


Dengan riang, keduanya terbang ke sana kemari memetik buah. Mereka seperti kupu-kupu yang riang menari di tiap bunga yang tengah mekar.


"Sudah hampir gelap. Ayo kembali. Nanti mereka panik mencari!" Dean mengingatkan.


"Ayo kejar aku!" tantang Indra. Dia melesat cepat dan terbang berputar-putar di atas padang rumput.


Tapi Dean mengabaikannya. Dia langsung menuju ke air terjun. Widuri tidak boleh sampai merasa cemas.


Saat makan malam.


"Penguasa belum juga kembali." Indra tak dapat lagi menyembunyikan rasa cemasnya.


"Bukankah mereka harus memeriksa keadaan sekitarnya dulu. Jika tak diperiksa, bagaimana bisa tahu koordinat tadi menuju ke mana." Dean menghibur dirinya sendiri dengan jawaban logis itu.

__ADS_1


Indra tak lagi mendebat. Tapi gelisahnya tidak mau hilang. Setelah para wanita beristirahat, keduanya duduk di bawah cahaya bulan, di depan kolam air terjun. Rasa gelisah dan khawatir itu membuat mereka tak bisa tidur.


*******


__ADS_2