PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 420. Kelahiran Bayi Dean dan Widuri


__ADS_3

Cahaya senja kala itu terlihat lebih indah saat musik merdu terdengar dari dalam ruangan persalinan.


Tangisan pertama bayi Widuri dan Dean, adalah musik terindah mereka dalam minggu itu. Melepaskan semua rasa khawatir yang memberat dalam hati tiap orang.


"Syukurlah...." Papa Widuri dan ayah Dean saling berpelukan bahagia. Mereka punya cucu sekarang.


"Congratulation! You have grandchildren now!" ¹) Robert memberi selamat pada dua kakek baru itu.


""Thank you!" sahut ayah Dean dengan wajah berseri-seri.


Nastiti, Laras dan Yoshi saling berpelukan bahagia. Yoshi mengelus perutnya. Berharap persalinannya lancar.


"Kau juga akan baik-baik saja. Istri Yabie sudah belajar memeriksa wanita hamil dan melahirkan. Juga ada tabib dan Dokter Chandra yang siap membantumu!" Laras membesarkan hati Yoshi.


Yoshi mengangguk. "Jadi kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Yoshi pada Laras.


"Tiga hari ke depan. Aku akan minta Robert membawa orang tuaku saat mengantar Astrid kembali," jawab Laras.


"Apa persiapannya sudah selesai?" Nastiti nimbrung.


"Ah ... persiapan apa. Kami hanya mengecat rumah. Hahaha...." Laras tertawa kikuk.


"Jangan gugup. Kau bisa minta bantuanku jika kerepotan sendiri," ujar Nastiti lembut.


Laras mengangguk. "Terima kasih!"


Saat gelap mulai jatuh, pintu ruang persalinan dibuka. Seorang bayi, berada dalam gendongan Dean. Ibunya menemani dari belakang.


"Wahh, tubuhnya mengeluarkan cahaya biru keemasan!" ujar Liam.


"Tentu saja, dia putraku." Dean menunjukkan semburat tubuhnya yang juga berwarna keemasan. Robert meningkahi keindahan malam itu dengan cahaya orange miliknya.


"Paman, aku ingin menyentuh sepupuku!" ujar Yoshi.


Tubuhnya mengeluarkan cahaya putih susu yang lembut. Jarinya yang halus menyentuh pipi bayi yang menggemaskan itu.


"Hai, nakal. Aku adalah kakakmu sekarang. Jangan berani nakal lagi seperti sebelumnya. Atau aku yang akan menghukummu!" ujarnya dengan senyuman bahagia. Kebahagiaan hatinya, membuat sayap putihnya terkembang indah.


"Oh Lord! You're an angel!"


Ibunya Dean terpukau melihat tubuh Yoshi yang bercahaya putih susu dan bersayap. Wanita itu memang terlihat mirip bidadari dalam bayangannya.


Yabie juga mendekati bayi itu dengan tubuhnya yang bersinar keperakan dan sepasang sayap kuat di punggungnya. "Kukira aku yang paling nakal. Ternyata kau sudah nakal sebelum lahir. Cepatlah besar, agar aku bisa menghukummu nanti," omel Yabie sambil tersenyum.


Ibunya Dean tak bisa berkata-kata. Astrid benar. Tempat asing ini memang nyata. Dan dia bersyukur bisa melihat keajaiban ini.


"Selamat, Pak. Anda sekarang telah menjadi ayah," ucap Astrid sopan.


"Apa kau percaya tempat ini sekarang?" tanya Dean.


"Sejak awal anda menelepon, saya tidak meragukannya!" tegas Astrid.


"Ya, terima kasih untuk semua bantuanmu. Aku terlalu sering merepotkanmu!" balas Dean.


"Selama bisa saya lakukan, tidak masalah." Astrid mengangguk.


"Dean jangan biarkan bayimu kena angin malam terlalu lama!" tegur Dokter Chandra.

__ADS_1


Dia melangkah keluar sekarang. Baju kerjanya sudah dilepas. Sepertinya urusan persalinan Widuri telah selesai.


"Baik, akan kubawa masuk." Dean berbalik. Tapi kemudian menghentikan langkahnya. "Penguasa, berikan berkatmu pada putraku." Dean memohon dengan sopan.


Dokter Chandra meletakkan tangannya yang secemerlang berlian di atas kepala putra Dean. "Dia titisan leluhur. Tidak perlu berkat apapun. Aku hanya menambahkan pengetahuan yang kupunya padanya." Dokter Chandra melepaskan tangannya lagi, setelah cahaya berkilauan itu hilang.


"Aku juga ingin menurunkan pengetahuan berperangku padanya!" kata Marianne.


"Ivy, ini---" sanggahan Dokter Chandra diabaikan Ivy.


Tangan Marianne yang diselubungi cahaya kuning kehijauan telah berada di atas dahi bayi Dean. Seberkas cahaya menelusup masuk dan diserap. Setelah cahaya itu hilang, Ivy menarik lagi tangannya, sambil tersenyum.


"Kau tidak boleh nakal. Dan kau bisa jadi cucu keduaku, setelah Aslan."


"Terima kasih, Ivy," ujar Dean. Lalu dibawanya kembali bayi itu ke dalam ruangan.


"Widuri, selamat yaa. Kami harus kembali sekarang. Besok kami kunjungi lagi!" Nastiti berteriak dari depan pintu.


"Ya, terima kasih!" sahut Widuri sambil melambaikan tangannya.


"Widuri, aku juga pamit ya. Tiga hari lagi hari pernikahanku. Kau harus datang ke Kota Mati!" ujar Laras dari ambang pintu.


"Oke!" aku akan datang!" Widuri melambaikan tangannya.


"Kami pamit!" Wajah Kang dan Liam muncul di ambang pintu.


"Oke. Hati-hati, sudah malam!" Dean mengingatkan.


Kang merubah tubuhnya menjadi naga. Nastiti, Laras dan Liam naik ke punggungnya. "Kami berangkat!" seru Kang sembari terbang.


"Terima kasih bantuanmu!" seru Dokter Chandra.


"This place is truly magical," ²) ujar ayah Dean.


"If you guys want to rest, I'll take you to Dean's house on the cliff." ³) Robert menawarkan bantuan.


Dean keluar lagi dan meminta agar ayah mertua, ayah, ibu, dan Astrid beristirahat di rumah tebing. Mereka bisa makan malam di sana dan beristirahat.


"Aku juga akan pulang ke sana malam ini. Biarkan Widuri istirahat dengan tenang." Ibunya Widuri juga keluar.


"Baiklah. Mari kita kembali." para kakek nenek itu akhirnya setuju. Astrid juga ikut pergi. Robert dan Yabie mengantarkan mereka semua.


"Paman, kami juga sudah harus kembali. Kasihan ayah sendirian," ujar Yoshi.


"Baik. Terima kasih." Dean mengangguk pada Yoshi yang menggandeng suaminya dan pergi dari sana.


Dean melihat Dokter Chandra dan istrinya sedang berbincang. Dean balik ke dalam ruangan dan menikmati waktunya berdua dengan Widuri.


"Itu, makananmu sudah diantar pelayan. Makanlah!" ujar Widuri.


"Yang pasien itu kamu, kenapa aku yang dapat makan?" tanya Dean heran.


"Itu piringku sudah kosong." Tunjuk Widuri ke meja di sebelahnya.


"Oh, baiklah. Penjaga pasien ternyata juga dapat makan."


Dean tersenyum lebar. Dia duduk di kursi dan mulai menikmati makanannya dengan lahap. Dean memang merasa sangat lapar. Sejak pagi, dia lupa makan. Tapi sekarang hatinya sudah seringan kapas. Barulah terasa perut yang keroncongan.

__ADS_1


"Dean, kita belum punya nama bayi," kata Widuri.


"Biar kupikirkan dulu. Nanti kau pilih saja mana yang kau suka," sahut Dean. Widuri mengangguk.


"Tiga hari lagi adalah pernikahan Laras dan Liam. Aku harus cepat pulih," gumam Widuri.


"Hemm...." Dean mengangguk setuju.


"Hadiah apa yang akan kita berikan?" tanya Widuri.


Dean menggeleng. Dia sedang tak punya ide apapun. Sementara otaknya buntu. "Terserah padamu!" ujar Dean.


"Aku juga belum punya gambaran." Widuri terdiam.


"Dean, bisakah besok kita pulang ke rumah?" tanya Widuri.


"Akan kutanyakan pada Dokter Chandra," janji Dean.


"Aku merasa rindu rumah...." lirih Widuri.


Dean mengangguk-angguk.


"Dean, apa kau akan tetap mencintaiku meskipun aku sudah jelek, nanti?" Widuri mengajuk hati Dean.


Tangan Dean yang akan menyuap makanan ke mulut, jadi berhenti di udara. "Apa Widuri mengalami Baby Blues Syndrom?" pikirnya khawatir.


Dean menyingkirkan makanannya. Dia mendekati Widuri dan memeluknya mesra. "Sayang, aku akan tetap mencintaimu, meskipun kau sudah jadi nenek, nanti." Dean mengikrarkan janji.


"Jangan pikirkan apapun lagi. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kita akan punya banyak anak yang meramaikan rumah besar itu," kata Dean sambil berkhayal.


"Melahirkan itu sakit. Kenapa kau tak bertanya pendapatku dulu soal banyak anak!" debat Widuri ketus.


Dean kaget. "Ups aku salah bicara!" batinnya.


"Tentu, kita memang harus membicarakan hal itu lebih dulu. Aku tak ingin kau merasakan sakit seperti tadi lagi. Jika kau tak setuju, kita lupakan saja!" Dean tersenyum lebar. Dipeluknya lagi istrinya dengan sayang.


"Benarkah? Kau tidak akan mencari istri lain agar punya banyak anak, kan?" ajuk Widuri.


"Oh Tuhan ... seperti inikah perasaan ibu yang baru melahirkan? Amat sangat sensitif," keluh Dean dalam hati.


"Kau penguasaku. Bagaimana aku berani tidak mematuhimu?" ujar Dean akhirnya. Diharapnya kata-kata itu akan menyenangkan hati Widuri.


"Hemmm...." Widuri tersenyum puas. Dia tertidur dalam pelukan Dean.


*


*


Terjemahan:


¹) Selamat! Kalian punya cucu sekarang.


²) Tempat ini benar-benar ajaib.


³) Jika kalian ingin istirahat, aku akan mengantarkan ke rumah Dean di tebing.


**********

__ADS_1


__ADS_2