
Udara pagi membekukan tulang. Bahkan perapian yang dibuat sejak tadi malam, tak dapat mengusir rasa dingin yang menggigit. Akhirnya diputuskan untuk memasukkan para wanita ke penyimpanan dan membiarkan mereka menghangatkan diri di sana.
Dean, dibantu Indra, sibuk menyiapkan sarapan sekedarnya. Telur orak-arik dicampur sayuran ditumis dan teh bunga yang hangat.
Mereka menikmati suasana pagi itu dengan kesyukuran. Meski sedang kesulitan dan jauh dari rumah, Tuhan tetap memberikan berbagai anugerah. Seperti juga Niken, jika bukan karena rumitnya urusan administrasi nanti, mereka akan memilih untuk tinggal di dunia ini saja, dan melanjutkan hidup dalam damai.
"Jadi, apa rencana kita hari ini?" tanya dokter Chandra.
"Lihatlah tempat ini. Alaska adalah tempat yang mayoritas terbuka. Hutan yang ada, tak cukup untuk menyamarkan keberadaan kita, bahkan di malam hari. Karena banyak wisatawan hingga penduduk yang mengawasi langit utara untuk melihat keindahan Aurora."
Robert membentangkan tangannya untuk menunjukkan seluruh tempat di bawah bukit.
"Apakah tak ada gunung atau bukit hingga ke perbatasan Rusia?" tanya Indra.
"Dari Alaska ke Rusia, ada selat Bering. Kita harus cari cara untuk melintasi itu dulu," timpal Dean.
"Yang dikatakan Dean benar. Dan terbang melintasinya mungkin bisa menimbulkan percikan api antar kedua negara yang selalu saling curiga." Robert mendukung kata-kata Dean.
"Apakah Rusia bermusuhan dengan Alaska?" tanya Indra.
"Seingatku, Alaska itu adalah teritori Amerika Serikat ya?" ucap dokter Chandra.
"Yups." Robert mengangguk membenarkan.
"Oh ... pantas saja." Indra akhirnya mengerti.
"Jadi gimana dong ke sananya? Jika naik kapal berlayar, mereka pasti minta pasport kita. Pasportku hilang bersama tas, saat kapal dari negri kurcaci itu karam diterpa badai," sungut Indra.
Dean menggeleng. "Ada pasport juga tak mungkin digunakan. mereka akan memeriksa stempel terakhir yang tercetak di situ."
"Hah ... lalu mau bagaimana? Masa kita berenang di laut dingin kuyup Utara?" keluh Indra lagi.
Empat temannya terdiam. Mereka sedang berpikir keras.
"Ah, sudahlah. Kita lihat bagaimana kondisi di sana saja. Sekarang kan masih pagi. Apakah mau lanjut istirahat di sini, atau membawa wanita jalan-jalan di kota, di bawah sana?" tanya Robert.
"Apa yang dilihat di kota?" tanya dokter Chandra.
"Pemandangan alam juga," sahut Robert.
"Para wanita itu kedinginan. Biarkan mereka istirahat saja, agar tidak terkena flu," cegah Dean.
"Baiklah. Jadi kita mau lanjut tidur, atau jalan sebentar melintasi dataran ini ke arah hutan sana? Menjelang sore istirahat sebentar, baru start jalan malam hari." Robert memberi pilihan.
"Kita jalan ke arah hutan sana," putus dokter Chandra.
"Oke."
Semua bersiap-siap untuk memulai perjalanan darat. Mereka harus melintasi Padang luas yang penuh tanaman bunga. Menuju pinggir hutan di kaki gunung lainnya.
Jalur perbukitan itu sangat indah. Di ujung sana gunung yang memutih ditutupi salju, menjulang tinggi.
Tim Dean melintasi padang terbuka yang dihiasi perdu berbunga liar, warna-warni. Sungai yang mereka susuri berair jernih dan terlihat membiru. Dokter Chandra sudah mencoba menyentuhnya dan langsung menggigil.
__ADS_1
"Seperti air es dinginnya."
Kenyataan itu, menghapus keinginan mereka untuk mandi. Digunakan untuk cuci muka saja, kulit wajah jadi memerah dan perih.
"Ayo, lanjut jalan lagi. Melihat-lihat pemandangan saja, rasanya sudah cukup puas kok," ujar Dean.
Mereka melihat rusa dengan tanduk lebar, asik minum air di tepian danau sana. Tampaknya tempat ini juga termasuk area konservasi, karena tak terlihat ada yang membangun rumah di tempat seindah ini.
*
*
Setelah cukup istirahat dan mengisi perut, tim itu kembali melanjutkan perjalanan malam hari mereka menuju selat Bering yang menjadi perbatasan dua negara.
Penjelajahan malam melintasi hutan dan kadang turun untuk berjalan kaki di area terbuka.
Menjelang pagi mereka akhirnya sampai di semenanjung Seward. Itu area terdekat untuk mencapai Rusia. Mereka harus memikirkan cara menyeberangi selat, besok pagi.
Saat ini kelima pria itu sudah sangat kelelahan. Diputuskan untuk beristirahat di kaki bukit, sejauh dua atau tiga kilometer dari kota kecil di bawah sana. Dean segera menyiapkan tempat untuk istirahat semua orang.
*
*
Pagi hari, mereka berlima turun dan berjalan-jalan di kota kecil bernama ****. Memeriksa peluang untuk menyeberangi selat. Mereka berjalan-jalan di sepanjang pesisir pantai yang cukup sepi.
Kota ini terlihat tidak cukup terawat. Seperti kota terbengkalai. Atau mungkin itu adalah di sebagian kota saja.
"Harus melesat secepat kilat, agar tak sempat terdeteksi oleh pihak manapun," tambah dokter Chandra.
"Oke. Kita lakukan seperti itu saja," Dean dan Robert setuju.
"Jadi, bagaimana kita mau menghabiskan waktu di sini?" tanya dokter Chandra.
"Bermain dan bersantai di pantai ini saja," jawab Robert.
"Aku ingin berenang!," teriak Dean.
"Mari kita berlomba," sahut Robert.
Melihat dua temannya baik-baik saja berenang di laut yang dingin, Sunil juga tak bisa menahan keinginannya. Diapun menyusul turun ke laut
Ketiganya berenang cukup jauh, lalu kembali ke pantai.
"Kami menemukan pulau kecil di selat. Hanya ada menara pengawas di sana," lapor Dean.
"Bagaimana jika kita berenang hingga ke sana? lalu menyeberang menuju Rusia?" usul Indra.
"Berenang? Hahahaha. Itu jauh sekali hlo!" Sunil geleng kepala.
"Kalau begitu saat terbang malam, upayakan untuk terbang lebih tinggi. Agar tak terlihat oleh cahaya lampu pengawasnya," kata dokter Chandra.
__ADS_1
"Sekarang kita bersenang-senang dulu saja. Siang nanti baru beristirahat sebentar. Ayo, kita berenang lagi. Ayo ikut, Indra. Ini menyenangkan!" ajak Dean.
"Aku juga ikut!" Dokter Chandra tak mau kalah. Kelimanya bersantai dengan asik di pantai.
*
*
"Sudah siap semua?" tanya dokter Chandra.
"Sudah!" anggota tim itu menjawab serempak.
Langit belum juga gelap. Meski perkiraan dokter Chandra sekarang harusnya sudah malam.
"Kota ini sudah sepi. Jadi baiknya kita mulai sekarang saja. Sebelum langit terang benderang," saran Robert.
"Oke. Kita harus hindari cahaya lampu dari menara pengawas itu. Dari sini, kita melesat secepatnya menuju area gelap. Kemudian putari pulau itu menuju kearah Rusia secepatnya. Bagaimana?" tanya dokter Chandra.
"Rencana yang simpel. Mari kita coba!" Sahut Sunil bersemangat.
"Sesuai aba-aba, hitungan ke tiga!" seruan dokter Chandra menggema di kepala masing-masing.
Keempatnya mengangguk.
"Satu ... dua .... Tiga!"
Dalam sedetik, terlihat lima cahaya melintas. Lalu hilang ....
Lima orang bersembunyi di dalam air, dekat pulau kecil, dibalik kegelapan.
"Sekarang kita lewati sisi sini, langsung ke arah Rusia," ujar dokter Chandra.
"Apakah kita terbang di dalam air?" tanya Indra dengan polosnya.
"Di air itu namanya berenang, bukan terbang!" Sunil menyentil dahi Indra dengan gemas.
"Kita tentu harus keluar dulu dari air, baru terbang," jelas Robert dengan suara pelan.
"Oke!" Indra mengangguk.
"Jadi, sudah siap semua?" tanya dokter Chandra.
Empat orang lainnya mengangguk mengerti.
"Kita mulai di hitungan ketiga!"
"Satu ... dua ...."
Kelima orang itu mulai melayang keluar dari air.
"Ti—"
Dokter Chandra tak meneruskan ucapannya. Beberapa senapan otomatis, diarahkan pada mereka berlima. Persembunyian mereka telah ketahuan!
__ADS_1
*********
*******