
Satu harian Dean dibantu Michael dan Marianne, berusaha memasang atap penghalang matahari. Dean menebang beberapa pohon. Membelahnya menjadi beberapa balok kayu yang dapat digunakan sebagai penyangga atap. Michael tetap tak mampu menahan kekagumannya melihat keterampilan Dean dalam menebang, memotong dan membelah log-log kayu. Tangan dan jarinya kadang seperti gergaji, kadang seperti bor yang mampu melubangi sambungan balok untuk diisi dengan pasak sebagai pengganti paku. Beberapa teknik menyambung kayu yang dibuat Dean, benar-benar menunjukkan kualitas seorang ahli. Tak ada paku bukan halangan untuk membuat sesuatu.
Dean meminta Michael mengumpulkan dedaunan berdaun lebar di sekitar tempat tinggal mereka. Marianne membantu memilah dan memilin serat dari kulit kayu untuk dijadikam tali pengikat dedaunan. Saat tiang-tiang sudah berdiri kokoh dan penyangga atap sudah berada di posisinya, Dean mengambil beberapa kulit kayu kering yang sudah disispkannya. Kulit-kulit kayu itu disusun menjadi alas atap. Diatasnya ditutupi dedaunan lalu bersama kulit kayu, diikat dengan erat pada balok-balok penyangga.
Sunil, Alan, Nastiti dan Widuri kembali lebih cepat. Mereka bisa melihat ketiga orang di pondok sedang bekerja keras membuat atap.
"Kerja bagus. Pastikan tiangnya kuat dan tak mudah roboh ditiup angin." Komentar Nastiti.
"Sipp," jawab Michael sambil tersenyum.
"Jangan lupa untuk menyambung atap hingga menutupi kamar-kamar kita," kata Widuri mengingatkan.
"Iya, nanti setelah ini selesai baru disambung ke arah kamar-kamar." Dean menjawab cepat. Dia tak ingin Widuri menghindarinya lagi.
"Baiklah. Kalian bisa istirahat dulu. Kami membawakan makanan dari pasar. Ayo." Widuri meletakkan keranjangnya di meja bulat. Sunil dan Alan langsung merubung.
"Aku coba dulu. Enak tidak?" Alan mengulurkan tangannya ke dalam keranjang.
"Cuci tanganmu dulu. Main pegang saja. Jorok ih," omel Nastiti sambil memukul tangan Alan.
"Hahaha.. kena kau. Dasar rakus. Sudah berapa jenis makanan yang kau coba tadi," Sunil tertawa senang melihat Alan mendesis sambil mengusap punggung tangannya.
"Apa tertawa? Kau juga cuci tangan dulu." Nastiti masih mengomel.
"Ahh, kalian ini bikin aku stress saja. Kecantikanku bisa cepat pudar jika terus melihat kekonyolan kalian."
Widuri dan Marianne tersenyum mendengar ocehan Nastiti.
"Tenang saja. Kau akan tetap cantik walau apapun yang terjadi." Michael menenangkan Nastiti.
"Benarkah?" Nastiti tersipu mendengar pujian Michael.
"Tentu saja. Aku tak kan membohongimu. Karena kau tak mungkin bisa jadi tampan sepertiku." Balas Michael kalem.
????
"Hei. Kau sedang meledekku ya. Awas kau." Nastiti mengejar Michael yang sudah mengantisipasi tindakannya.
"Hahaha... makanya jangan terlalu galak." Ledek Michael lagi.
"Kalau kalian tak segera cuci tangan dan duduk, makanan ini akan segera habis hlo.." Marianne mengingatkan kedua orang yang sedang berlarian itu.
Michael berhenti tiba-tiba dan melihat semua orang sudah duduk melingkari meja.
"Aduhh, kenapa kau menabrakku?" Michael mengaduh sambil mengusap jidatnya yang ditabrak Nastiti.
"Kau yang berhenti tiba-tiba. Jadi itu salahmu," Sungut Nastiti kesal.
__ADS_1
"Jangan habiskan. Itu ideku untuk membelinya," teriak Nastiti nyaring sambil berlari menuju meja.
Mereka menikmati makanan siang itu dengan santai. Suasana kembali hangat. Tampaknya Widuri tak lagi mempermasalahkan sikap Dean sebelumnya.
"Kue ini enak sekali. Apa kalian para wanita bisa menebak bahannya?" Tantang Sunil.
"Ahh, aku tau maksud ucapanmu." sela Nastiti.
"Kau mau minta kami membuatkan makanan ini untukmu kan? Tidak mau. Biarpun kami bisa menebaknya, kami takkan mengatakannya. Bukankah begitu Widuri?"
Nastiti mencari dukungan. Widuri mengangguk setuju. Mulutnya sibuk mengunyah kue dengan rasa asam manis itu.
"Kalian ini negatif thinking saja." Elak Sunil.
"Dean, atap penutup ini baru separuh. Ayo kami bantu agar selesai lebih cepat. Aku khawatir turun hujan malam ini." Kata Alan.
"Apa kau bisa meramal masa depan?" tanya Michael heran.
"Bukan meramal masa depan. Tapi saat kami terbang pulang tadi, aku melihat langit di sebelah sana gelap mendung. jika arah angin tak berubah, kemungkinan hujannya akan sampai di sini." Jawab Alan.
"Aku lupa kalau kau bisa terbang dan melihat batas cakrawala." Michael mengaku kalah.
"Kalau begitu mari kita selesaikan dengan cepat." Dean berdiri.
Dibantu Sunil dan Alan, pekerjaan memang jadi lebih mudah dan cepat. Ada Alan yang mengangkat bahan atap agar Dean dapat berfokus untuk memasang atap saja.
Sementara Sunil terbang menuju hutan untuk mengambil tambahan dedaunan. Nastiti dan Widuri membantu memilin tali dari serat kayu untuk mengikat bahan atap agar tetap berada di tempatnya.
Semua orang lega dan mengistirahatkan tubuh yang lelah. Angin berhembus lumayan kuat. Alan benar. Angin yang datang mengandung uap air. Mereka bahkan bisa mencium bau tanah basah menguar di udara.
"Sepertinya hujan akan segera sampai sini. Aku angkat dulu ikan yang dijemur tadi pagi." kata Marianne.
Semua membereskan apa-apa yang terserak di luar naungan. Memindahkannya ke tengah pelataran agar tak kena tampias air hujan.
Byuuuurrrrr...
Hujan turun dengan deras seolah ditumpahkan dari langit. Angin menggoyangkan tiang-tiang penyangga atap.
"Apakah atap daun dan tiang-tiang ini kuat menahan hujan sederas ini?" gumam Widuri. Wajahnya basah dengan percikan tampias air hujan.
"Kau basah. Ayo ke sini." Dean menarik Widuri ke dalam pelukannya. Dean menghadang serbuan angin basah dengan punggungnya yang kekar.
"Kau justru jadi basah." Mata Widuri menyiratkan kekhawatiran.
"Sepertinya diluar sinipun kita takkan luput dari basah. Baiknya kita masuk ke dalam kamar untuk berlindung." Kata Marianne.
"Kau benar. Ayo semua ke kamar. Hujannya terlalu deras." Panggil Sunil pada Nastiti, Michael dan Alan yang masih duduk santai di meja tengah pelataran.
__ADS_1
Dean dan Sunil bergerak cepat untuk menyimpan tempayan mata air abadi, menyimpan meja dan bangku-bangku, menyimpan cukup banyak potongan kayu bakar.
"Ya ampun kalian ini." Nastiti mengomel panjang pendek karena tiba-tiba jatuh terduduk di lantai saat bangku yang sedang didudukinya lenyap ke dalam kalung penyimpanan.
Alan justru keluar dari pelataran. Tubuhnya seketika basah kuyup. Kedua tangannya terentang lebar. Sunil dapat melihat kilatan cahaya merah dan senyum samar dibalik rinai hujan.
"Oh tidak! Z mulai lagi." Sunil mengabaikan semua benda yang sebelumnya ingin disimpannya dalam kalung.
Dia melesat cepat mengejar tubuh Alan yang perlahan naik ke langit.
"Kembali! Jangan lakukan hal konyol begini lagi."
Sunil menarik tangan Alan dan berusaha menariknya turun. Tapi Z seakan sudah menguasai tubuh Alan. Z sebenarnya sangat kuat. Dia hanya sering bertingkah konyol hingga tak ada yang menyadari kekuatannya yang mematikan.
"A, bantu aku menyadarkan Z. Atau Alan akan mati." Sunil mengirim pesan transmisi pada Dean.
Dean terkejut dan segera terbang menyusul Sunil.
Tak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka sadar bahwa ini adalah urusan A, O dan Z. Tapi, apapun urusan mereka. Semoga ketiga teman mereka tak terkena dampaknya.
Mereka ikut berdiri di bawah hujan untuk melihat apa yang dilakukan Alan. Tampak jelas Dean dan Sunil berusaha menarik tubuh Alan agar turun ke tanah. Tapi keduanya kalah kuat. Alan bergeming dan tetap tersenyum dengan tangan terentang seperti sedang menyambut sesuatu.
Jedddeeerrrr!
Petir menyambar-nyambar. Suaranya menggelegar. Terlihat nyata kilatan cahaya membelah di langit gelap seperti pecut api yang menyambar tanpa ampun.
"Ya Tuhan. Mereka akan tersambar petir kalau tak segera turun." Mata tua Marianne jelas menggambarkan kekhawatiran seorang ibu yang melihat tingkah nakal anaknya.
"Hei, kalian harus menyingkir dari sana."
"Turun! Apa kalian ingin mati?"
"Cepat turun. Petirnya akan menyambar kalian!"
"Apa kalian ingin bunuh diri? Turun sekarang!"
"Dean! Alan! Sunil! Turun!"
Teriakan-teriakan di bawah tak terdengar oleh ketiga orang yang sedang bergelut di atas. Angin kencang dan derasnya hujan tak lagi terasa. Mereka sedang menggunakan segenap kekuatan untuk melumpuhkan Z. Petir yang menyambar makin dekat, sebenarnya membuat mereka sangat khawatir. Sunil dan Dean mengangguk dengan berat hati.
Blaarrrr!
"Aahhhh...."
Sunil terkena sambaran petir tepat setelah melepaskan pegangan dari Alan dan Dean. Tercium bau daging gosong di udara. Tubuh Sunil yang berasap meluncur jatuh dengan deras.
"Oh tidak. Suniillll!"
__ADS_1
Empat orang biasa di bawah itu tak dapat berbuat apapun. Dalam pikiran mereka, tak ada yang bisa selamat jika disambar petir sekuat itu, lalu jatuh dari ketinggian ratusan meter.
*****