
Dean memutuskan untuk segera mengakhiri eksplorasi gua itu lebih cepat karena merasakan perutnya yang berontak minta diisi. Dia hanya mendekat sebentar ke arah pintu gua yang ditutupi cahaya putih. Cahaya itu memang bukan pantulan cahaya matahari dari luar. Itu lebih mirip tembok atau tirai cahaya putih susu yang terang. Dean tak mampu melihat menembus tembok cahaya itu. Dean menyapukan tangannya pada cahaya putih itu. Tidak terasa dingin ataupun panas yang mungkin bisa menyakiti kulit jika melewatinya. Dia termangu sembari berpikir keras, 'cahaya apa itu sebenarnya? Kenapa Eugene mengatakan pelayan wanitanya seperti jatuh setelah melangkah melewati tabir ini?' Dean masih belum bisa membuat kesimpulan apapun, jadi dia berbalik.
"Besok saja kita lanjutkan. Aku sudah lapar sekarang," ujar Dean sembari mendekati ujung tali tempat dia turun tadi.
"Hah?! Tidak jadi mandi air hangat?" tanya Widuri heran melihat Dean yang sudah bersiap memanjat.
Dean tak menjawab pertanyaan itu. Dia berkonsentrasi mencari batu pijakan yang kokoh agar tidak tergelincir apa lagi sampai jatuh. Widuri menjauh dari mulut lorong untuk membiarkan Dean masuk.
"Sumber air panas itu agak asin. Kau mau mandi di air asin?" Tanya Dean setelah mengeluarkan kristal ungu dari dalam tas. Dia memimpin jalan di depan dan berjalan kembali ke arah gua tempat mereka tidur beberapa hari ini. Widuri akhirnya mengikuti di belakangnya dengan kecewa karena tak jadi mandi.
"Kalau kau tadi mengatakan air itu asin, mungkin akan ku berikan botol air ini agar diisi air asin untuk kita memasak sup kelinci dan ubi. Mungkin bisa lebih enak." Widuri menyesali Dean yang tak mengatakan apapun tentang itu.
"Kau tak bilang bawa botol. Ku kira tertinggal di gua sana." Dean menyalahkan Widuri.
"Kau yang tidak bertanya. Suka berahasia." Widuri membalas menyalahkan Dean.
"Hah.. sulit bicara denganmu!" Dean bicara dengan ketus lalu mempercepat langkahnya.
"Kau.. apa katamu? Bukannya kau yang sulit diajak bicara karena selalu ketus?" Widuri tampak tak terima dengan tuduhan Dean.
Mereka bertengkar sepanjang lorong hingga tiba di gua. Dean menambahkan kayu api. Mengambil panci berisi air hangat dan langsung meneguk isinya. Dia merasa sangat haus bukan cuma karena telah berjalan jauh bolak-balik di lorong gua, tapi juga karena di gua di bawah sana lama-kelamaan terasa seperti sauna yang membuat keringatnya bercucuran.
Widuri duduk dekat api masih dengan tampang kesal. Diambilnya seekor kelinci matang yang dihangatkannya dekat api, ditariknya bagian pahanya hingga lepas lalu menyerahkan bagian lain pada Dean. Widuri makan masih dengan tampang ditekuk. Dia tak mau melihat Dean sama sekali. Makan malam itu berakhir dengan cepat dan hening. Keduanya memutuskan untuk beristirahat karena malam mulai larut. Suara Serigala juga terdengar bersahutan di atas sana.
***
Di shelter.
Setelah makan malam, semua orang membaringkan diri. Yang giliran berjaga masih memaksa membuka mata dan waspada sambil duduk dekat api. Mereka mengkhawatirkan kondisi Alex yang berubah liar tiap kali malam menjelang.
Petang tadi Lena dipaksa bergabung dengan para wanita untuk beristirahat setelah dia selesai memberikan Alex makan malam. Lena tak ingin meninggalkan Alex, tapi dia juga takut melihat perkembangan Alex yang terlihat mulai tidak mengenalinya.
__ADS_1
Tempat itu kini hanya ditempati Alex. Petang itu Alex tak bisa tenang. Dia terlihat gelisah, matanya memerah marah mencoba berontak dan melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Suara desis dan geraman silih berganti keluar dari mulutnya yang terus menyeringai. Robert dan Indra memperkokoh semua tiang kayu. Mereka memeriksa dan menancapkan kayu-kayu itu lebih jauh ke dalam salju. Semoga malam cepat berlalu dengan aman.
Saat giliran kedua penjagaan baru lewat 1 jam, terdengar lolongan serigala yang makin ramai dan bersahutan. Semua yang berjaga di tiap shelter duduk dengan tegak, menajamkan pendengaran untuk mencari tau. Apakah kawanan serigala memutuskan mendekati tempat mereka malam ini atau hanya sekedar lewat?
Suara bersahutan itu terasa mengelilingi shelter mereka tapi jaraknya cukup jauh. Tidak terdengar langkah atau kaki yang menggaruk salju dan geraman serigala di dekat mereka.
Tiba-tiba terdengar raungan keras dan asing yang lebih dekat.
Dhug.. Dug.. Suara kayu ditubruk berulang kali. Ditingkahi suara geraman marah dan lolongan yang begitu dekat.
Robert yang menjaga di waktu itu bersikap waspada. Dia merasa keributan itu berasal dari shelter Alex. Dibangunkannya dokter Chandra dan yang lainnya, meminta mereka tidak membuat keributan dan bersikap waspada. Robert memutuskan keluar untuk memperingatkan rekan di shelter lain.
Malam itu terang bulan. Di bawah cahaya bulan yang pucat Robert berjalan hati-hati mendatangi 3 shelter lain. Hingga sampai di shelter terakhir yang ditempati Lena. Indra berjaga di situ.
"Siapa yang jaga sekarang?" tanya Robert dari luar.
"Aku," sahut Indra.
"Ya, aku akan segera kembali. Aku hanya mengingatkan untuk waspada. Malam ini rasanya tidak seperti biasa. Berhati-hatilah."
Robert baru meninggalkan tempat itu beberapa langkah ketika shelter tempat Alex dikurung berantakan diterjang sesuatu.
Brakk! Kayu-kayu yang ditancapkan di salju patah dan berhamburan di atas salju. Sebagian dinding shelter itu runtuh, sebagian kayunya yang lembab dan dingin menyentuh perapian dan mulai mengeluarkan asap dijilat lidah api.
Robert seketika menghentikan langkahnya dan mengamati sosok besar yang lompat keluar dan memporak-porandakan shelter itu. Robert sangat terkejut melihatnya. Dia terpaku di tempatnya tampak tak mempercayai matanya sendiri.
"Robert, apa kau masih di luar? Masuk sini saja jika masih dekat, bahaya!" Indra memanggil Robert yang barusan datang ke tempatnya.
"Robert?" Panggilan kedua Indra menyadarkan keterkejutan Robert.
"Itu Alex, dia menghancurkan shelter. Ikatannya sudah lepas." Robert mundur dengan langkah pelan ke arah shelter Indra.
__ADS_1
"Apa? Apakah dugaan kita benar?" Indra langsung membangunkan semua rekan satu shelternya.
"Cepat bangun, Alex menghancurkan shelter," Indra memberi informasi pada mereka yang baru bangun.
Semua akhirnya duduk dengan tegak, bersikap waspada. Leon, Liam dan Toni di shelter itu segera meraih tombak masing-masing. Lena yang berada di situ bersama Marianne dan Silvia duduk dengan wajah tegang. Mereka cemas dan takut. Tadi saat makan malam, Robert mengatakan dugaannya tentang Alex. Sekarang mereka sangat takut jika itu benar terjadi. Terlebih bagi Lena yang merupakan kekasih Alex. Dia merasa bersalah dan sedih sebab Alex jadi seperti itu karena menyelamatkannya.
Langkah Robert yang mundur akhirnya tertangkap oleh pandangan makhluk besar itu. Dia menggeram menyeringai menunjukkan taringnya yang tajam. Robert waspada, menggenggam erat pisau di tangan kiri dan tombak di tangan kanannya.
"Kalian di dalam hati-hati, dia sudah menoleh ke arah sini." Robert mengingatkan Indra saat tiba-tiba makhluk itu menerjang ke arah Robert. Robert mengelak menjatuhkan diri bergulingan menjauh dari shelter untuk mengamankan penghuninya.
Tapi terjangan itu ternyata cukup jauh hingga menghantam dinding shelter dan menggoyangnya, menjatuhkan tumpukan salju di atap serta dindingnya. Suara jeritan wanita di dalam terdengar jelas keluar. Makhluk yang seperti serigala tapi berdiri dengan dua kaki belakang serta masih melekat baju Alex ditubuhnya itu menggeram dan mengalihkan pandangan dari Robert. Dia mengamati shelter dengan beringas. Melompat dan menabrakkan tubuhnya ke dinding shelter yang membuat teriakan ketakutan dan tangisan Silvia terdengar jelas.
Lena menangis sambil memanggil-manggil Alex.
"Alex.. Alex.. Sadarlah.. Jangan menyakiti orang lain.. Alex.. Kau mendengarku?"
Makhluk itu menghentikan tindakannya menghantam shelter. Seakan mencoba mengenali suara Lena. Merasa seperti itu, Indra meminta Lena untuk menenangkan Alex yang mengamuk di luar.
"Alex.. Ini aku Lena.. Kau bisa mengingatku? Bisakah kau tenang? Kau menakutiku," Lena terisak dengan sedih.
Makhluk itu menggeram pelan, menundukkan kepalanya terlihat bingung. Sementara saat itu Robert sudah mencapai pintu shelter berikutnya bermaksud meminta masuk ketika terdengar lolongan di kejauhan yang seketika membuat sikap Alex berubah garang dan kembali menghantam shelter tempat Indra dan lainnya berlindung.
Robert yang melihat kondisi shelter itu menggeleng khawatir. 'Ckk, kuat sekali tubuhnya. Shelter itu tak kan bertahan lama.'
"Hei,, shelter itu akan segera roboh, aku akan alihkan perhatiannya, kalian keluarlah dari situ dan pindah ke tempat lain!" Robert berteriak sambil lari ke arah lain menjauhi rekan-rekannya.
"Alex, ke sini kau. Jangan ganggu para wanita." teriak Robert sambil berlari. Makhluk besar itu sedang melompat untuk menghantam shelter sekali lagi saat mendengar teriakan Robert. Pengalihan itu membuat kekuatan yang dikeluarkannya tidak optimal. Shelter itu tidak rubuh seluruhnya, hanya beberapa kayu patah berderak dan kepanikan disitu kembali terdengar.
Lena terkejut melihat kepala serigala muncul di dalam shelter melalui lubang akibat patahnya beberapa bagian dinding. Dia menjerit histeris.
"Tidak! Alex! Sadarlah.. Alex!" teriakan Lena yang mencoba menyadarkan Alex bersaing dengan suara lolongan di kejauhan yang seakan menguasai pikiran Alex. Setelah sejenak terpaku, dia kembali menggeram marah dan ganas. Kali ini Alex ikut melolong menyahuti suara serigala lain.
__ADS_1
***