PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 276. Komputer Jadul


__ADS_3

"Jadi bagaimana keputusan kalian?" tanya Dean.


Pintu teleport itu satu-satunya pilihan. Keluar dari sini bukan pilihan bijak," kata Dokter Chandra.


""Bagaimana denganmu Indra?" tanya Dean sekali lagi.


"Yahh... argumen mereka masuk akal. Jadi aku ikut sajalah...."


"Oke. Mari kita bersiap ke sana."


Dean membagi anggota tim. Termasuk Cloudy dan seekor kuda milik Leon yang masih tertinggal di kalung Sunil. Dan mereka bersembunyi di kalung penyimpanan Dean, Alan, Sunil dan Robert.


Robert dan Michael juga menyimpan jasad Ma serta So ke dalam penyimpanan.


"Ayo berangkat!" ujar Dean.


Kelima orang itu terbang menuju ruangan yang didatangi Sunil sebelumnya.


"Tunggu!" ujar Michael. Matanya bersinar ungu.


"Ada apa?" Dean menghentikan teman-temannya yang lain.


"Kau tau aku sudah tewas, tapi jiwaku mampu mengembara layaknya masih hidup...."


"Lalu?" tanya Alan tak sabar.


"Jiwaku mengembara ke seluruh penjara ini sejak aku tewas. Aku pernah melihat sebuah pintu yang kurasa sangat istimewa. Tapi aku tak tau apa isinya."


Dean, Alan, Sunil dan Robert saling pandang.


"Apa maksudmu menceritakan ini?" tanya Dean.


"Mungkin kalian mau memeriksanya. Mungkin saja itu tempat mereka menyimpan harta rampasan?"


Ma jelas sedang menggoda hasrat dan keserakahan mereka.


"Bukankah kau tak tau isinya. Jadi bagaimana kau bisa yakin itu tempat harta?"


"Mungkin saja di sana adalah tempat penjagalan untuk orang-rang yang ingin kabur." tambah Sunil.


"Hemmm.... Yah, mungkin juga. Terserah sih, mau periksa dulu sebelum pergi, atau tidak," jawabnya Ma tak peduli.


"Mungkin ada petunjuk lain di sana. Baiknya kita periksa dulu," saran Robert.


Dean melihat ke arah Sunil, minta pendapat. Sunil mengangguk.


"Oke. Mari kita lihat sebentar."


"Ma, tunjukkan jalannya!"


Ma terbang lebih dulu, lalu diikuti yang lainnya. Mereka melewati lorong panjang dengan atap yang sangat tinggi.


Berbelok dua kali, lalu berhenti di sebuah pintu besar dan tinggi. Kelima orang itu melayang-layang di depan pintu setinggi dua setengah meter.


Dean meragukan ini pintu untuk manusia biasa. Terlalu besar dan tinggi!


"Apakah bangsa yang menahanmu tubuhnya setinggi pintu ini?" tanya Alan yang juga heran melihat pintu itu.


"Mereka tidak lebih tinggi dari bangsa kita."

__ADS_1


Robert yang menyahuti. Dia juga tertarik dengan pintu itu. Dia memperhatikan ukir-ukiran yang ada di daun pintu.


"Ma, coba kau amati tulisan ini. Tidakkah ini mengingatkan sesuatu?" tanya Robert ragu.


Ma mendekat dan memperhatikan ukiran yang dimaksud Jenderal So. Dia merasa mengenal lambang itu. Seperti pernah melihatnya. Tapi lupa apa dan dimana.


"Apa kalian bisa membukanya? Apa itu semacam simbol atau kunci rahasia?" tanya Dean tak sabar.


???


"Kau benar! Aku ingat sekarang. Aku pernah melihat lambang-lambang semacam ini di depan ruang penyimpanan harta di istana penguasa.


Alan tak memahami apa hubungannya. "Lalu?"


Ma tak menjawab. Tapi dia lalu menyentuh beberapa tempat di pintu. Namun tak terjadi apapun. Dia berhenti dan menunggu.


"Aneh," gumamnya sambil berpikir keras, hingga menautkan dua alis matanya.


"Ahhh... aku tau!"


Ma segera melayang dan menyentuh lagi bagian tengah daun pintu.


Klik!


Lalu diikuti suara mekanik dari balik pintu tersebut.


"Kau bisa memecahkan simbolnya!" seru Robert.


"Cih! Bisa jadi dia justru memicu jebakannya!" bantah Alan tak senang.


Tak ada yang mendebat. Mereka menunggu apa yang terjadi. Tak lama kemudian....


Pintu besar dan berat itu membuka perlahan. Tak lebih dari 2 menit. Pintu besar itu terbuka seluruhnya. Beberapa penerangan di tembok menyala otomatis. Lalu cahaya cemerlang memantul menyilaukan dari tengah-tengah ruangan.


Di sana, persis di tengah ruangan, ada bola kaca transparan. Sebening kristal dan bercahaya sangat terang.


Dean, Alan dan Robert tak tau itu apa. Tapi masih ada hal yang lebih mengejutkan mereka semua. Di bagian belakang bola kristal itu, ada sebuah meja. Benda di atas meja itu terasa sangat familiar.


Alan melesat ke arah itu dengan tak sabar.


"Apa ini seperti perkiraanku?" Nada suaranya terdengar gembira.


Dean dan Sunil mengikutinya.


"Ini perangkat komputer lama!" ujar Sunil.


"Hahahaaa..... Bagaimana alat ini bisa ada di sini?" Alan tertawa geli.


"Apa mereka melintasi ruang dan waktu ke dunia kita?!" seru Dean dan Sunil serempak.


Mereka berlima berpandangan.


"Bagaimana caranya pergi ke dunia kita?" Robert ikut bingung.


Dean lalu memperhatikan bola kristal terang itu.


"Di ruangan ini ada ada dua benda ini saja. Bukankah seharusnya ini saling berkaitan? Apakah bola kristal ini adalah alat teleport ke dunia kita?"


Gumaman Dean terdengar cukup keras di telinga teman-temannya. Alan melihat teman-temannya yang mulai mengelilingi bola kristal itu. Dia menjadi tak sabaran. Dicobanya menyentuh permukaan bola itu untuk membuktikan.

__ADS_1


Semua mengamati kenekadan Alan dengan khawatir. Tapi ternyata tak terjadi apapun. Telapak tangannya dapat menyentuh permukaan bola itu dengan aman.


"Rasanya hangat. Cuma itu. Tak ada yang istimewa," ujar Alan kecewa.


Yang lain ikut mencoba menyentuhnya. Mereka sedikit kecewa karena telah berharap terlalu tinggi.


"Lalu, apa hubungan kedua benda ini? Kenapa disimpan di sini?" gumam Dean lagi.


"Kita tak melihat hubungan keduanya. Komputer ini juga tak dapat dinyalakan tanpa listrik. Jadi menurutku, ini mungkin hanya benda kenang-kenang yang mereka bawa setiap kali mereka menjelajah ruang dan waktu." Robert membuat kesimpulan awal.


"Hemmm... kau mungkin benar. Lalu bagaimana cara mereka bisa menjelajah ruang dan waktu? Itu yang harus kita cari." Sunil mendukung pendapat Robert.


"Komputer ini butuh listrik kan? Mau coba menggunakan listrikku?" Ide Alan mengejutkan semuanya. Kenapa tak terpikirkan tadi? Bukankah Alan memiliki kemanpuan listrik di jari-jarinya?


Michael telah merunduk ke bawah meja. Mencari kabel dan steker listrik.


"Ku rasa tidak perlu!" ujar Michael dari bawah meja.


"Kenapa?" tanya Alan heran.


"Karena di sini ada stop kontak listriknya!" tunjuk Michael ke bawah meja.


Mereka ikut merunduk untuk melihat. Benar. Di situ steker dan stop kontaknya sudah terhubung.


Sunil mencoba menyalakan komputer jadul itu. Namun benda itu tidak bisa menyala.


"Biarpun ada steker dan stop kontak listrik, tapi kalau arus listriknya tak ada, bagaimana bisa menyala?"


"Hahahaaa.... Dasar bodoh!" Michael tertawa sendiri.


"Coba kalian lihat ini. Kabel stop kontak itu mengarah ke bagian bawah kristal ini," tunjuk Alan.


"Apa bola bulat terang ini adalah sumber listriknya?" tanya Dean heran.


Michael mencoba menyalakan komputer itu lagi. Tapi tetap tak merespon sama sekali.


"Hah! Biar kucoba saja!" ujar Alan tak sabar.


Dicabutnya steker komputer dari stop kontak. Dua besi kecil itu disentuhnya dengan jari dan mengalirkan arus listrik ke dalam kabel itu.


"Coba nyalakan lagi komputernya!" ujar Alan.


Michael mencoba menyalakan komputer kuno itu.


"Menyala! Akhirnya menyala!" seru Michael senang.


"Tapi, tanpa floppy disk program, komputer ini tak bisa bekerja," katanya kecewa.


Dua ruang floppy disk pada cpu itu kosong. Dan Michael tak menemukan floppy disk sebijipun di atas meja.


"Sudahlah... lupakan saja. Berarti kedua alat ini benar hanya suvenir yang mereka bawa saat menjelajah." Robert menengahi kekecewaan teman-temannya.


"Kita tau bahwa bangsa ini telah menjelajah ke dunia kita. Dia membawa komputer sebagai bukti, meski tak bisa digunakan. Lalu bagaimana dengan bola cahaya ini? Apa kalian bisa menerka ini suvenir dari bangsa mana?" tanya Robert.


Mereka mencoba memikirkan beberapa kemungkinan. Tapi pada akhirnya menggeleng sendiri. Menyerah.


******


1 Chapter 🙏

__ADS_1


__ADS_2