
Rombongan kecil Dean, kembali ke rumah besar pinggir tebing itu. Kang mengantar Nastiti untuk mengambil barang-barang miliknya. Juga untuk berpamitan.
Dokter Chandra ingin melihat tempat dimana Nastiti akan tinggal. Dia ingin memastikan gadis itu dapat hidup dengan baik.
Dan Robert masih ingin kembali mengambil barang-barangnya yang tertinggal di tempat Kang.
"Bagaimana pengantin baru? Apa sudah diresmikan?"
Terdengar suara Alan yang baru kembali dari pantai air asin.
Nastiti mendelik ke arah Alan yang hobby mengganggu orang. Alan terkekeh melihatnya.
"Lihat istrimu itu Kang. Super galak. Kau harus sabar dengan temperanennya." Alan mengadu pada Kang.
Tapi Kang hanya menanggapi dengan senyum tipis saja. Kang sedang memperhatikan Dean.
"Ongkos naik kapal sudah di bayar. Waktu kita tinggal hari ini dan lusa. Jadi jika tak ada yang perlu dikerjakan lagi, baiknya mulai beres-beres perlengkapan pribadi."
"Oke!" jawab mereka.
Semua anggota tim terlihat makin bersemangat setelah mendengar arahan Dean. Tak sabar menunggu lusa untuk naik kapal.
"Sunil, temani aku mengantar Kang dan Nastiti kembali ke rumah mereka," ujar Dean.
"Cieee... yang sudah punya rumah...." Niken menggoda Nastiti. Yang lain hanya tersenyum mendengar candaan itu.
"Ayo," ajak Sunil.
Kang, dan yang lainnya berangkat menuju dunia kecil Kang. Hari masih belum pun tengah hari. Tapi keenam orang itu melesat cepat.
*
*
"Ini rumahmu?" tanya Dokter Chandra.
Kang mengangguk.
Dia membuka lebar pintu dan langsung masuk ke dalam. Nastiti mengikutinya ke belakang. Kang langsung berjalan ke arah halaman belakang. Sementara Nastiti yang melihat dapur, segera menyiapkan minuman untuk Dean dan yang lainnya.
"Masuk saja Dok. Aku siapkan minuman sebentar," teriak Nastiti dari dapur.
"Ya!" sahut Dokter Chandra. Dia masuk dan melihat-lihat.
Dokter Chandra mengagumi rumah itu. ruangannya komplit. Ada 2 kamar, ruang makan, itu mungkin ruang kerja? Kamar mandi yang layak serta dapur yang bersih dan luas.
Di halaman belakang ada kandang ternak. Kang sedang mengurus semua ternak yang terlambat diberi makan.
Ada 2 kolam ikan cukup besar yang dipenuhi oleh ikan-ikan berenang.
Dokter Chandra lega. Nastiti akan hidup dengan baik di sini. Semua kebutuhan pokoknya telah tersedia.
Kang bukanlah pangeran Elf yang kaya. Tapi diapun tidak miskin. Tanah kebun, peternakan dan ladang gandumnya melebihi kebutuhan tahunan mereka.
"Anda puas Dok? tanya Dean, yang mengikutinya dari belakang.
Dokter Chandra mengangguk ringan. "Nastiti akan hidup baik di sini," jawab Dokter Chandra.
Robert masuk ke kamar untuk mengambil pakaiannya.
__ADS_1
Setelah puas melihat-lihat, Dokter Chandra dan Dean memilih duduk di bangku panjang teras bersama Sunil. Angin semilir yang lembut berhembus dari arah lembah. Harum rumput dan bunga segar terbawa angin. Memanjakan indra penciuman. Letak teras ini sangat strategis.
Nastiti keluar membawa nampan dan menyajikan cangkir-cangkir minuman. Hanya ada air putih di dapur.
Mereka duduk menikmati pemandangan hingga bosan.
"Aku ingin melihat lembah yang waktu itu," kata Sunil.
"Aku juga ingin lihat. Bagus tidak?" ujar Dokter Chandra.
"Jangan terlalu lama. Kita harus cepat kembali." Kata Dean mengingatkan.
"Ya!"
Sunil dan Dokter Chandra segera melesat ke arah yang diingat Sunil.
"Dimana Sunil?" tanya Robert yang keluar dari kamar.
Dia sudah tak punya tas ransel lagi, karena hilang saat terhempas badai. Jadi baju yang diberikan Kang diikatnya dengan selembar kain lain. Bungkusan itu diletakkan di meja teras.
"Aku akan merindukan tempat ini," ujar Robert.
"Dunia ini mengesankan. Meski belum terjelajahi semua, tapi memang mengesankan. Aku juga akan merindukannya." Dean memandang jauh ke depan.
Lalu tiba-tiba dia berdiri. Matanya dipaksa melihat lebih jelas apa yang ada di kejauhan. Burung-burung raksasa terbang mendekati rumah Kang.
"Ada apa?" tanya Robert yang menyadari arti pandangan Dean.
"Itu gadis yang waktu itu kita rawat. Waspadalah," ujar Dean mengingatkan.
"Vivian? Dia tak perlu diwaspadai," bantah Robert.
Dean memiringkan kepalanya sedikit. Matanya terpejam. Dia berkonsentrasi untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang membahayakan dari kelompok Vivian. Instingnya menyuruhnya waspada. Tapi Robert bilang tidak. Itu membuatnya ragu sejenak.
"Nastiti, masuk rumah!" teriakan Dean menggelegar.
Tapi terlambat!
Segumpal kabut merah magenta bergulung dari atas ke teras rumah, mengaburkan pandangan.
"Aaaarrhhhhhh!"
Sebelum tak sadarkan diri, Dean masih sempat mengirim pesan transmisi pada Sunil.
"Cepat kembali! Gadis bersayap itu menyerang rumah Kang. Hati... hati....!"
Keributan dan teriakan nyaring Nastiti mengagetkan Kang yang sedang berganti baju di kamar.
Dia lari keluar dan menemukan kabut yang selalu dihindarinya. Dengan menggunakan pandangan matanya, Kang bisa melihat menembus kabut. Tapi tak ada siapapun di situ kecuali Dean, Robert dan Nastiti yang tergeletak di lantai.
Namun Kang sudah sangat marah. Dia tak ingin pelakunya lepas lagi dari genggamannya.
Kang mengibaskan tangannya membuyarkan pekatnya kabut magenta. Kulitnya melepuh terkena kabut tebal tadi. Kang lalu berubah jadi naga di halaman.
Mengandalkan penciuman dan pendengarannya yang sangat tajam, Kang akhirnya bisa mengetahui dimana para pelaku berada.
Kang terbang, mengejar dan meraung marah.
Sunil yang buru-buru kembali, melihat Kang terbang entah kemana. Dan.... Mulutnya mengeluarkan api saat meraung.
__ADS_1
"Api yang dahsyat," ujar Dokter Chandra kagum.
"Dean!" jerit Sunil histeris.
3 orang tergeletak di teras dengan luka bakar di sekujur tubuh mereka.
"Siapa yang melakukan ini?!"
Dokter Chandra tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini... ini sangat parah! Dokter Chandra tak tau harus berbuat apa. Bahkan di rumah sakit besarpun, kondisi begini hanya akan berakhir cacat, jika tidak meninggal.
"Asap! Ada yang terbakar!"
Sunil memutar tubuhnya mencari arah angin bertiup. Itu dari arah Kang terbang tadi. Kang pasti sudah menemukan pelaku penyerangan. Sunil ingin terbang ke sana untuk membantu Kang.
"Jangan pergi! Cepat bantu siram tubuh mereka dengan air. Cepat!" teriak Dokter Chandra panik.
Dia sudah tergopoh-gopoh berlari masuk rumah untuk mengambil air di kamar mandi.
Sunil tersadar kembali. Ada 3 temannya yang butuh pertolongan darurat sekarang. Sunil mengangkat tubuh ketiganya. Mengambang di udara. Bersiap pergi.
"Mau kau bawa kemana?!"
Dokter Chandra muncul dengan seember air di tangan.
"Aku akan membawa mereka ke sungai di lembah. Air di situ mengalir dan sejuk. Semoga bisa membantu meringankan rasa sakit mereka," ujar Sunil sambil terbang.
"Baiklah... aku akan menunggu Kang kembali.
"Siapa yang menyerang Dean? Bukankah yang tinggal di sini hanya Kang, Robert dan keluarga Vivian?" gumam dokter Chandra tak habis pikir.
'Apakah gadis itu?' batinnya.
*
*
Kang mengikuti pendengaran dan penciumannya sampai di tebing. Hanya ada kelompok Vivian yang tinggal di sana.
Kang sangat marah. Dia terbang dengan cepat menuju satu-satunya rumah yang ada di situ.
Dan benar saja. Para pelakunya adalah mereka. Ternyata penyerangan itu hanya tipuan untuk mencuri domba dari kandang.
"Wanita-wanita keji ini!" geram Kang marah.
"Demi seekor domba kalian menyerang manusia. Tak termaafkan!" Teriakan Kang yang keras mengejutkan lima wanita yang sedang bersiap untuk pesta.
Mereka tak menyangka ada makhluk sebesar itu di tempat itu. Dan dia mengeluarkan api dari mulutnya. Menyambar ranting, dahan dan dedaunan.
Mata Kang memerah, semerah saga. Dia menggelembungkan pipinya lalu meniup ke arah para wanita itu berkumpul. Mereka lari kocar-kacir. Bulu-bulu di sayap-sayap mereka terbakar hangus.
Seseorang tampaknya berhasil menghindar. Sebelah sayapnya telah menghitam. Dia menggertakkan giginya marah. Tapi dia tak bisa apapun sekarang. Dia hanya ingin menyelamatkan diri.
Kang melihat tubuh-tubuh gosong dimakan api. Hanya ada 4 orang. Dengan emosi Kang melontarkan api dari mulutnya ke segala arah. Membakar habis tempat itu.
Kang lalu terbang lebih tinggi, untuk melihat dimana yang seorang lagi bersembunyi.
Namun, setelah berputar 3 kali, Kang tidak juga menemukannya. Dengan amarah membuncah dia membakar seluruh hutan di tebing itu. Kang pergi meninggalkan asap membumbung.
Kang ingin kembali ke rumah, saat melihat Sunil merendam ketiga temannya di air sungai yang mengalir jernih. Kang turun ke sana. Airmatanya menetes jatuh. Istri yang baru dinikahinya jadi seperti ini.
__ADS_1
Sunil membiarkan Kang menangis. Bagaimanapun, pria pastilah punya hati. Dia memaklumi jika Kang merasa hancur.
******