
Pagi hari di pantai itu suasana riuh dengan kicauan burung camar yang sesekali terbang rendah menyambar ke permukaan laut dan membawa terbang mangsanya.
Laras menikmati cuaca cerah itu sambil tersenyum. Alangkah damainya tempat ini. Jauh dari kebisingan dan polusi. Dunia yang masih sangat alami.
"Mungkinkah surga seperti ini?" Marianne melangkah ke tepi tebing. Pandangannya mengarah ke laut lepas.
"Tidak tau. Tapi meskipun begitu, dengan keadaan kita sekarang, berada di pantai indah ini patut kita syukuri." Laras tak mengalihkan matanya dari garis horizon.
Marianne menoleh ke arahnya sejenak, lalu kembali membuang pandangan ke laut.
"Apa kau berharap ada kapal yang muncul dari sana?" Marianne ikut mengamati garis pertemuan langit dan laut di kejauhan.
"Apa kau sudah tak berharap pulang Marianne?" Laras bertanya dengan suara rendah.
"Seumur hidupku ini, aku hanya seperti air mengalir. Ketika yang ku upayakan gagal, maka kucari jalan lain. Dan nikmati prosesnya. Selama tujuan utama tercapai, maka kita tak rugi apapun." Marianne menepuk pundak Laras dengan halus.
"Dan sekarang kita sedang menikmati prosesnya dear." Marianne tersenyum sebelum berbalik meninggalkan Laras yang termangu.
"Laras, tidakkah kau ingin mandi di pantai?" Niken berjalan di belakang Michael dan Robert yang tampak menyeret sesuatu.
"Kau ingin turun? Bagaimana caranya?" Laras menjejeri langkah Niken.
"Robert sudah membuat tangga tadi malam. Mereka akan memasangnya sekarang." Niken memperhatikan Robert dan Michael yang mengikatkan semacam tali ke sebuah pohon kelapa di dekat tebing.
Ujung jalinan tali itu dilemparkan ke bawah tebing. Robert menguji kekuatan ikatan di batang pohon kelapa. Ditariknya jalinan tali itu kuat-kuat hingga berhenti bergeser dan simpulnya makin erat.
"Biar ku coba lebih dulu," Robert mendekati tebing lalu membelakanginya dan mulai turun dengan menginjak jalinan tali undakan yang dibuatnya dari ranting willow. Beberapa kali Robert menghentak di tangga untuk mengeratkan simpul. Michael, Laras dan Niken memperhatikannya turun hingga ke pantai.
"Ahaa. Dengan tangga jadi lebih mudah turun dan naik. Ayo, yang berani, turunlah." Robert memanggil dari bawah tebing.
"Aku turun." Niken mendahului Laras menjawab tantangan.
"Hati-hati," kata Laras.
"Ah kau ini. Robert yang lebih berat dariku aja bisa turun dengan aman. Apa lagi aku yang imut begini." Niken tersenyum lebar pada ke arah Laras.
Michael membantunya turun. Dan Niken belajar dengan cepat bagaimana turun dengan tangga dari jalinan tali.
"Hahaa.. Aku sudah sampai. Ayo Laras, mandi di laut pribadi kita," panggil Niken sambil melambaikan tangannya mengajak Laras turun.
Laras melihat ke arah Michael.
"Apa kau mau turun juga?" tanyanya.
"Kalau kau mau turun, kau boleh lebih dulu," tawar Michel.
Laras mendekati tepi tebing. Berpegangan pada Michael, dia mulai turun perlahan.
"Jangan takut. Injak saja jalinan anak tangganya. Itu aman." Michael menenangkan Laras. Di bawah tebing, Niken memberi aba-aba dengan berisik.
"Hahaha.. gerakanmu turun itu seperti siput," ledek Niken saat Laras tiba di bawah tebing.
"Kau ini. Kalau bukan karena kau terlalu berisik, aku tak mungkin kehilangan konsentrasi," elak Laras.
"Hahaha.. iya.. iya.. Ayo ke pantai. Kata Robert, asalkan tidak terlalu ke tengah, aman." Niken menarik tangan Laras mengajaknya berlarian di pasir pantai.
"Kita mau kemana Robert? Apa mencari ikan di kolam ini lagi?" teriak Michael sambil berlari menyusul Robert yang ada di tepi kolam air mancur.
__ADS_1
"Mari kita lihat peruntungan kita pagi ini." Robert turun ke kolam kecil itu perlahan agar pasir di dasar kolam tidak naik dan memperkeruh air di cekungan itu.
Dasar kolam itu adalah bebatuan yang tertutup pasir. Saat laut pasang, kolam itu sepenuhnya tertutup air laut. Ketika surut, ikan, udang, ataupun kepiting yang terjebak di cekungan bebatuan bersembunyi di dalam pasir dangkal. Itu sebabnya petang sebelumnya, mereka mendapat cukup banyak kepiting dan beberapa ikan.
Dengan ujung pisaunya Robert menyibak pasir di dasar kolam dan memaksa ikan yang bersembunyi keluar. Robert langsung menangkapnya dengan tangan, memukulkan kepalanya ke bebatuan lalu melemparkan ke arah Michael untuk dikumpulkan.
"Robert, aku sudah memasang bubu ikan di sungai seperti yang kau katakan," Indra tiba-tiba muncul dari belakang.
"Astaga!" Michael kaget tiba-tiba mendengar suara di belakangnya. Dia hampir tercebur kolam.
"Aduh!" teriak Robert tertahan.
Robert yang sedang membungkuk mengawasi ikan seketika terkejut dan membuat tangannya terbenam di pasir lalu dicapit kepiting. Michael segera mengambil batu dan membenturkannya ke arah kepiting di tangan Robert.
"Kau ini.!" Robert menoleh dengan jengkel ke arah Indra yang memasang tampang memelas.
"Maaf.. maaf," Indra minta maaf dengan tulus.
"Apa bubu ikan sudah dipasang?" tanya Robert.
"Sudah. Toni sedang membuat satu bubu lagi. Marianne dengan Angel membuat keranjang dari ranting willow yang kau ambil tadi pagi." lapor Indra.
"Hmm, bagus. Lalu bagaimana shelter untuk pria?" tanya Robert lagi.
"Liam dan Leon sedang pergi mencari pohon untuk ditebang. Sebentar lagi aku kembali untuk membantu mereka. Apa kau butuh bantuan mengumpulkan makanan di sini?" Indra menawarkan bantuan.
"Coba kau telusuri bibir pantai. Lihat-lihat apakah ada ikan, cumi-cumi, kerang atau kepiting yang tertinggal air surut." Usul Robert.
"Baiklah." Indra membalikkan badan berlalu dari sana.
"Gunakan tombakmu untuk memeriksa pasir, jangan pakai tangan telanjang." Teriak Robert mengingatkan.
Indra menusuk pasir cukup dalam lalu menariknya dengan kuat hingga terbentuk lajur-lajur terbuka di pasir.
"Indra, kau sedang apa?" Niken yang sudah basah air laut menghampiri Indra. Laras mengikuti dari belakang.
"Mencari makanan. Kata Robert, mungkin ada ikan, cumi, kepiting atau kerang yang tertinggal saat air surut." jelas Indra sambil terus menggores permukaan pasir.
"Aku menemukannya! Ini kerang!" seru Niken.
"Woaaa besar sekali kerangnya. Apakah ini bisa dimakan?" tanya Laras.
"Kumpulkan saja. Nanti tanya Robert." kata Indra. Mereka bertiga mencari dengan semangat.
"Heyyy.. apa kalian tidak lapar?" teriak Michael dari jauh. "Kembali!" panggilnya.
Indra menoleh mendengar panggilan. "Ya, kami kembali."
Ketiganya berjalan meninggalkan pantai. Cukup banyak kerang ngumpet di dalam pasir yang dikumpulkan dan beberapa cumi-cumi yang ditarik bersama-sama agar bisa keluar seluruhnya.
"Kita pesta seafood," Niken berlari dengan gembira. Tshirtnya dijadikan wadah untuk membawa hasil perburuan mereka.
Laras dan Indra tertawa melihat keceriaannya. Mereka berlari kecil menyusul Niken yang sudah tiba dekat tangga. Robert membantu membawa sebagian beban Niken lalu diikatnya tshirt Niken agar kerang-kerang disitu tidak jatuh saat mereka memanjat. Laras dan Indra juga membawa sebagian hasil lainnya.
*
"Apa yang kalian dapatkan?" tanya Silvia yang baru selesai mandi dan menjemur pakaian.
__ADS_1
"Dimana Marianne dan Angel?" tanya Robert sambil menaruh bahan makanan yang mereka kumpulkan pagi itu.
"Mereka sedang mandi," jawab Silvia.
"Biar aku saja yang membersihkan itu semua," tambahnya lagi lalu mengambil keranjang yang sudah dianyam Marianne. Ikan-ikan itu dibawa ke tepi sungai dekat shelter mereka. Laras ikut membantunya agar pekerjaan segera selesai.
"Lihat! Gilang membawa pisang satu tandan." seru Niken yang melihat dokter Chandra dan Gilang kembali menggotong tandan pisang.
"Bagus Gilang!" Robert menepuk pundak Gilang sambil tersenyum. Dengan cepat dilepasnya tandan pisang dan buah-buah yang sudah menghitam karena terlalu matang.
Indra menyiapkan perapian untuk memasak. Tak lama Liam dan Leon kembali sambil menyeret batang-batang pohon untuk dijadian shelter para pria.
Marianne dan Angel kembali dari Mandi. Mereka sudah berganti pakaian dan mencuci baju-baju yang sebelumnya dipakai berlapis-lapis.
"Biar aku saja yang siapkan makanan. Kalian pergi mandilah, bauuu," ejek Angel pada Niken dan Laras disambut tawa yang lainnya.
"Oke, kami tinggal dulu." Laras membuka ransel dan mengambil pakaian bersih lalu menggunakan keranjang yang dibawa Angel sebelumnya sebagai wadah pakaiannya. Niken mengikutinya ke sungai menjauh dari shelter.
*
"Aku berencana memeriksa keliling pantai ini." Robert menyampaikan rencananya saat mereka makan.
"Kapan?" tanya Indra.
"Saat kurasa kalian sudah bisa mendapatkan sumber bahan makanan dan tempat berlindung yang memadai." jawab Robert.
"Jadi pastikan shelter selesai hari ini, agar besok bisa segera berangkat. Gilang, kau ikut denganku ya." tambah Robert.
"Oh, baiklah," Gilang mengangguk sambil menikmati sup kerang yang dibuat Angel dan Marianne.
"Kau tunjukkan pada Indra arah mana rumpun pisang dan pohon mangga yang kau temukan tadi." saran Robert.
"Siapp," jawab Gilang.
Seharian itu mereka membuat shelter, mengumpulkan ranting-ranting willow untuk berbagai keperluan. Robert meminta para wanita membersihkan area tempat mereka tinggal, lalu menancapkan dahan-dahan willow di sekelilingnya, membentuk pagar.
"Apa itu kuat?" gumam Gilang pesimis melihat diameter ranting yang hanya selebar 2 jarinya.
"Itu akan tumbuh makin tinggi dan kuat seiring waktu." Marianne menjawab.
"Robert, sebelum kau pergi, bisakah kau siapkan stok ranting willow untuk kami jadikan beberapa peralatan?" tanya Marianne.
"Tentu saja. Aku percaya kau bisa membuat banyak barang dengan ini." Robert mengacungkan jempolnya ke arah Marianne.
"Mau dibuat apa?" Niken ingin tau.
"Kita butuh tempat tidur bukan? Atau sudah merasa cukup dengan tidur di tanah beralas daun saja?" tanya Marianne.
"Jika ada dipan atau balai-balai tentu lebih baik dari pada tidur di tanah," jawab Silvia.
"Ya.. ya.." jawab Laras dan Angel.
***
Tambahan info tentang tanaman willow.
Ranting willow teksturnya mirip rotan yang bisa dibuat menjadi beragam benda juga dianyam menjadi keranjang, pagar, kursi, tikar dll.
__ADS_1
Contoh anyaman keranjang willow.