
Tak terasa, sudah 4 hari berlalu. Laut sangat tenang. Sesekali masih ada hujan. Kru kapal mengeluarkan tong-tong air untuk menampung air tawar.
Kapten Smith puas dengan keadaan para penumpangnya yang tenang. Tak ada insiden berarti diantara mereka. Kecuali sesekali wanita di kabin tengah menjerit ketakutan, jika berpapasan dengan Cloudy.
Bahkan kelompok Jason pun tak dapat berkata-kata lagi. Meski sudah dijelaskan, bahwa Cloudy tidak jahat, tapi istri penumpang tengah itu masih saja takut.
"Biar aku temui mereka dan menjelaskannya."
Dean bangkit dari duduknya. Dia melangkah keluar kabin.
Tok... tok...
"Permisi... saya penumpang kabin sebelah," ujar Dean.
Krieettt
Seraut wajah muncul dari balik pintu. Dilihatnya Dean dengan mata melotot kaget.
Dean tak kalah terkejut.
"Leon!" teriaknya keras.
"Akhirnya kami menemukanmu!"
Dean merangkul dan memeluk Leon dengan gembira.
Pintu kabinnya masih terbuka. Seorang wanita berpakaian asing menatap keduanya dengan pandangan tak mengerti.
Dean melepas pelukannya. Wajahnya sangat gembira. Dibukanya pintu kabin sebelah dan berteriak ke dalam.
"Aku menemukan Leon!"
"Apa?"
Suara-suara heboh terdengar dari sana. Dan segera terkejut saat wajah Leon muncul di pintu, dan menatap semuanya dengan ekspresi tak terlukiskan.
"Leon!"
Niken berlari keluar dan memeluk Leon.
"Syukurlah... akhirnya kita bertemu lagi. Syukurlah...." Niken melepas pelukannya karena ditarik Indra.
"Kau hanya boleh memelukku saja." Indra menatap Niken dengan tajam.
Leon jadi merasa canggung.
"Maaf...."
"Lupakan. Ayo kita bicara di dalam," ajak Dokter Chandra.
Leon baru akan berjalan, ketika dia tiba-tiba ingat Jane.
"Sebentar," katanya sebelum hilang di balik pintu kabinnya.
Kemudia Leon keluar lagi dan menggandeng seorang wanita berpakaian asing.
"Ini Jane, istriku."
Leon memperkenalkan Jane pada teman-temannya.
"Halloo Jane. Kami teman-teman Leon yang terpisah. Sekarang berjumpa lagi." Dokter Chandra mengulurkan tangan pada Jane.
Wanita itu mundur di belakang Leon.
"Dia tidak mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya."
Leon mencoba menjelaskan.
"Oh, tak apa. Namanya juga baru bertemu." Dokter Chandra mengangguk bijak.
"Ayo, kita bisa berbincang di dalam," ajak Sunil lagi.
__ADS_1
Tapi suara geraman Cloudy, membuat langkah Leon terhenti. Tangan Jane gemetar dalam genggamannya.
"Ku rasa lebih baik kita ngobrol di dek. Udaranya segar dan langit sedang cerah," kata Leon beralasan.
Dean bisa melihat bahu Jane bergetar karena Cloudy.
"Maafkan aku. Cloudy peliharaan aku dan Widuri. Mungkin sudah membuat istrimu sangat takut."
Dean melanjutkan. "Kita berbincang di dek saja, biar nyaman."
Yang lain mengangguk setuju. Mereka mengikuti Dean dan Leon serta Jane menuju dek.
Mereka berbincang santai di dek, sambil melihat laut lepas. Beberapa hal yang berlalu akhirnya bisa disikapi dengan santai dan penuh tawa.
"Sayangnya kami belum menemukan Silvia," kata Robert.
"Ah, tentang Silvia. Aku lupa memberitau kalian. Dalam perjalanan menuju kota Levin, aku bertemu dengannya. Dia diculik dan dijual pada pedagang budak...."
"Apa???" semua orang terkejut mendengarnya.
"Kenapa kau tak membantunya?" tanya Niken emosi.
"Ahh... tentu saja ku bantu." Bantah Leon.
Leon lalu menceritakan apa yang terjadi saat itu.
"Begitulah kami berpisah...." katanya.
Teman-temannya jadi terdiam. Mereka sudah sulit berkomentar, jika itu sudah menyangkut urusan hati.
"Kita doakan saja hidupnya baik di sana." Dokter Chandra memecah keheningan.
"Hemmm.... Dokter benar. Kita doakan saja semua teman yang memilih tinggal, dapat hidup bahagia."
Leon mengangguk setuju. Kini hatinya sudah lega. Karena semua teman yang terpisah sudah bertemu dan diketahui keberadaannya. Tak ada beban pikiran yang mengkhawatirkan lagi.
"Apa kuda yang dimasukkan palka adalah milikmu?" tanya Dean tiba-tiba.
"Kau menuju kota Rawa juga?" tanya Indra heran.
"Ya. Apakah kalian juga mendengar tentang dinding cahaya?" Leon balik bertanya.
"Hahahaa... artinya kita setujuan. Tak disangka." Dokter Chandra menepuk-nepuk pundak Leon gembira.
Leon tersenyum lebar. "Baguslah kalau begitu."
Perbincangan ramai itu menarik perhatian para kru dan penumpang kabin lain, juga kapten.
Mereka heran, bagaimana para penumpang bisa jadi akrab dengan penumpang lainnya. Biasanya mereka akan saling ribut dan berkelahi sepanjang pelayaran.
Saat jam makan siang tiba.
Semua duduk di lantai dek. Dean mengeluarkan makan yang disimpannya. Alan juga mengeluarkan beberapa buah kelapa muda untuk menjamu Jane dan Leon.
Leon sangat gembira. Sudah beberapa hari ini dia dan Jane hanya makan roti kering, ditambah makanan yang diantar kru kapal ke kabin. Sekarang, entah bagaimana, Dean dan Alan bisa mengeluarkan banyak makanan. Semua itu diletakkan begitu saja di depan mereka.
"Ayo makan. Berikan kelapa muda itu untuk istrimu. Mungkin dia belum pernah mencobanya," kata Alan.
Leon mengangguk dan memotong sedikit ujung atas buah kelapa yang sudah dibersihkan kulitnya oleh Alan.
"Coba ini. Air ini sangat menyegarkan dan lezat."
Leon menyodorkan buah kelapa ke tangan Jane. Tapi Jane bingung bagaimana memakan buah keras begitu.
"Ajari dia dulu, Leon. Kau ini tidak peka sama sekali," ejek Indra.
Leon ikut tertawa. Dia menunjukkan cara meminumnya pada Jane. Jane mengikuti Leon. Wajahnya sangat senang.
"Manis, segar," katanya takjub.
Leon mengambil sendok dan mengaduk bagian dalam kelapa. Diambilnya sedikit buah kelapa muda, ditunjukkannya pada Jane.
__ADS_1
"Makan buahnya. Ini enak."
Jane mengikuti cara Leon. Dia sangat bahagia siang itu. Perlahan-lahan, sikap kakunya melunak. Dia mulai bisa ikut tersenyum mendengar lelucon teman-teman Leon.
*
*
Malam terakhir di kapal.
Penghuni dua kabin itu bersiap untuk turun di pelabuhan kota Rawa. Dean baru saja menyampaikan nasihat Kapten Smith.
"Kita harus lebih berhati-hati di kota ini. Kehidupan penduduk di situ sangat sulit dan keras. Itu mempengaruhi karakter mereka. Kasar, tak mau kalah dan kadang bengis."
"Hemmm... sesulit apa kehidupan mereka hingga bisa begitu?" gumam Sunil.
"Kota itu benar-benar berdiri di atas rawa!" ujar Dean.
Semua terkejut mendengarnya.
"Kenapa mereka tak pindah ke area kering?" tanya Michael heran.
"Menurut Kapten, area sekitarnya juga rawa atau lumpur. Rawa yang sangat luas," jelas Dean.
"Bukankah ini aneh. Kenapa mereka tak menumpang kapal, lalu pindah dan mencari tempat yang lebih baik?" Widuri tak bisa menahan perasaan janggal di kepalanya.
"Itu karena, awal mulanya mereka adalah para pelarian, buronan suaru negara dan perompak lautan," jelas Dean.
"Apa?!!!"
Terlihat tatapan ngeri para wanita yang mendengar penjelasan Dean.
"Pantas saja sikap mereka kasar dan bengis. Sudah dari nenek moyangnya begitu ternyata." Indra mengangguk mengerti.
"Lalu, dimana dinding cahaya itu berada? di atas rawa atau di dalam lumpurkah?" tanya Niken bingung.
"Kapten menyarankan kita menyewa guide terpercaya. Dia bisa merekomendasikan beberapa orang yang dikenalnya baik. Tapi kita tentu harus membayar jasa mereka." ujar Dean lagi.
"Dan kita, tak punya uang."
Yang lain jadi lesu.
"Jika tak mahal, aku punya sedikit uang."
Suara itu seperti alunan lokananta dari nirwana. Terasa merdu dan sangat indah. Mereka memasang senyum terindah untuk dihadiahkan pada Leon.
"Ekspresi kalian membuatku merinding!" kata Leon.
"Hahahaaa..."
Semua tertawa mendengarnya.
"Terima kasih sudah mempertemukan kami dengan Leon, Tuhan...." ujar Sunil dengan ekspresi sangat serius.
"Terima kasih sudah membuat dia kaya raya, Tuhan...." Alan menyambung doa Sunil.
Semua tersenyum lebar. Persoalan telah teratasi. Dean menemui Kapten Smith. Membicarakan hal-hal lain yang dianggapnya penting.
Para wanita sibuk di dapur, mempersiapkan bekal untuk diperjalanan. Ini kali terakhir mereka bisa menggunakan dapur kapal. Jane ikut membantu kali ini. Dia sudah mulai terbiasa dengan teman-teman wanita Leon. Kedua wanita muda itu sudah punya suami. Tak ada yang perlu dikhawatirkannya.
Akankah mereka kembali ke kehidupan masa kini?
*****
Spoiler karya berikutnya..
Genre: Fiksi modern. Action, spionase, thriller, misteri dan romance.. Dijadiin gado-gado..
Cover blm ditentukan.
__ADS_1