PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 215. Saling Menguatkan


__ADS_3

Pagi sekali, semua orang sudah sibuk. Mereka menyiapkan barang-barang yang akan dijual di pasar. Niken mengemas minyak goreng dari kuali ke dalam wadah-wadah kecil. Ada juga kue-kue pie yang manis dan roti yang mengenyangkan untuk sarapan dengan isi daging ikan tumis serta sayuran.


Sinar pertama sang surya baru muncul di ufuk. Tapi rombongan itu telah melesat ke pinggir kota. Dean, Alan, Sunil dengan Widuri, Nastiti dan Niken.


Karena masih belum banyak yang datang, mereka bisa membuka lapak dagangan di bagian depan pasar. Itu tempat yang strategis untuk menjual roti-roti untuk sarapan. Serta dagangan lainnya.


Nastiti dan Widuri sangat bersemangat menawarkan kue-kue dan buah di meja mereka. Niken dan Sunil jadi ikut bersemangat menjual ikan-ikan asap dan minyak goreng yang mereka bawa. Sementara Dean dan Alan bagian menjaga stand buah kelapa, khusus untuk yang merasa kehausan. Dengan cepat mereka memotong buah kelapa muda dan menyajikannya dengan sendok dari batok kelapa.


Belum sampai tengah hari, ketiga meja itu sudah hampir kosong. Terutama meja Widuri dan Nastiti. Widuri membagikan roti yang tersisa untuk sarapan mereka berenam.


"Alan, bisakah kau di sini bersama Nastiti? Kami mau membeli keperluan pernikahan Niken," tanya Dean.


"Kalian pergilah." Alan mengangguk cepat.


Sunil menemani dua wanita berbelanja kain. Sementara Dean berkeliling mencari penjual ayam di bagian lain pasar.


*


*


"Dimana Dean mencari ayam? Ini sudah lewat tengah hari dan dia belum kembali," gerutu Nastiti.


"Sabarlah sedikit," bujuk Alan.


"Ya, jika tidak ada yang menahannya, pasti dia akan segera kembali setelah menemukannya," bela Sunil.


"Itu dia!" seru Niken.


"Apa yang dibelinya hingga butuh keranjang sebesar itu?" kata Alan penasaran.


"Hai.... Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Dean sambil tersenyum.


"Kami hampir karatan berdiri menunggumu di sini," ujar Nastiti ketus.


"Hahahaa...." Dean hanya tertawa menanggapi.


"Apa yang kau beli ini? Ayam dan kelinci sebanyak ini? Untuk apa?" tanya Sunil.


"Untuk kita pelihara dan juga untuk mengetes jalan keluar dari dunia misterius di tengah hutan larangan," jawab Dean setengah berbisik.


"Oo, baiklah." Sunil mengangguk mengerti.


"Apa semua keperluan kalian sudah ada?" tanya Dean lagi.


"Sudah lengkap. Ayo kita kembali," jawab Widuri.


"Ayo!" sahut Dean mengikuti Widuri.


Yang lain mengikuti dari belakang. Mereka berjalan hingga tepi kota. Lalu melesat terbang menuju tengah hutan larangan.

__ADS_1


*


*


Semua lega karena kebutuhan pernikahan sudah didapatkan. Penutup tempat tidur, juga kain berwarna lemon untuk dijadikan gaun pengantin Niken. Marianne akan menjahitkannya nanti.


Itu hari yang menyenangkan karena semua berkumpul dan pekerjaan selesai lebih cepat. Mereka sedikit bersantai siang itu.


Dean mengajak Alan dan Sunil untuk mengikutinya ke ladang gandum.


"Ada apa?" tanya Sunil tak sabar.


"Aku mendapatkan cerita dari dokter Chandra...." Dean lalu menceritakan apa yang dikatakan dokter Chandra tadi malam lewat transmisi suara. Matanya berkilau keemasan


Sunil dan Alan saling tatap. Mata keduanya memancarkan sinar redup. Meskipun telah menduga terjadi sesuatu saat tak bisa menghubungi kantor pusat, tapi mereka sungguh tak menyangka bahwa dunia asal mereka ternyata telah hancur.


Itu hal yang sangat menyakitkan. Membayangkan saudara-saudara dan penghuni lainnya menghadapi benturan keras bintang-bintang hingga menyaksikan dunia mereka meledak. Sungguh tak terbayangkan.


"Kira-kira, mereka yang jatuh itu terpencar kemana saja ya? Berapakah yang bisa bertahan hidup hingga hari ini?"


Mata Alan bersinar redup kemerahan. Cerminan hatinya yang gundah.


"Z, bahkan tetua Klan Penyihir itu telah mencapai batas usianya secara alami. Apakah mungkin masih akan ada yang selamat hingga kini?" O heran dengan pemikiran Z.


"O benar. Kita pun, jika bukan karena perpindahan jiwa, juga telah terkubur di gunung batu sejak lama," kata Dean.


"Lalu maksudmu apa menceritakan ini?" tanya Z melalui transmisi suara.


"Lalu?" tanya Z masih bingung.


"Jika dalam perjalanan tim Dean nanti kita bertemu dengan yang lainnya, jika mereka butuh bantuan, baiknya kita ulurkan tangan," ujar A.


"Itu tak perlu kau katakan lagi A. Bukankah kita juga berhubungan baik dengan keturunan Bi?" Z berkata sengit.


A menghela nafas, lalu mengangguk. Ada yang masih ingin dikatakannya, tapi ditahannya.


'Mungkin itu sama sekali tak perlu dikatakan' pikirnya.


*


*


"Ngapain Dean, Alan dan Sunil duduk -duduk di ladang gandum?" tanya Indra heran.


"Mungkin mereka sedang menjaga burung?" tebak Michael asal-asalan.


"Indra, setelah ini apa rencanamu?" dokter Chandra mengalihkan perhatian keduanya.


"Rencana apa maksudnya dok?" Indra tak mengerti.

__ADS_1


"Setelah menikah, apa rencanamu?" Dokter Chandra memperbaiki pertanyaannya.


"Ooo.. setelah menikah? Tentu saja ingin punya anak yang banyak," ujar Indra tersenyum lebar sambil mengangkat dagunya.


"Gayamu itu memuakkan!" Michael mengusap-usap wajah Indra sebal.


"Hah! Kau cuma iri...." Indra tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena sudah diusili oleh Michael.


"Hahahaa.." Michael tertawa senang bisa mengganggu Indra.


Dokter Chandra tersenyum lega. Beban rahasia itu telah terangkat. Jadi biarkan ketiga manusia dari bintang itu menghabiskan waktu bersama sesaat dan saling menguatkan.


*


******


Semenjak kejadian hari itu, Kang terlihat sangat waspada. Meski Robert telah berusaha menjelaskan dengan baik arti kata di pembatas itu, ekspresi Kang tak berubah.


Akhirnya Robert hanya bisa menduga-duga. Apa lagi seharian itu dia juga bisa merasakan getaran atau resonansi yang timbul dari pembatas yang mungkin terus disentuh orang di luar sana.


Sayangnya Kang tak mengijinkan Robert mengikuti gerakan pemeriksaan orang di luar itu. Jadi dia hanya berdiam di rumah. Kang bahkan tak bersedia melanjutkan pencarian celah di hutan tempat kelompok Vivian berburu.


Robert tak mengerti jalan pikiran Kang saat ini. Sikapnya tidak seperti Kang yang dikenalnya selama beberapa waktu terakhir.


Sebelumnya Kang seperti tertarik untuk mencari celah menuju dunia lain. Tapi sekarang Kang terlihat waspada dan melindungi Robert. Makhluk apakah yang dilihat Kang di luar sana hingga dia melindungiku? Atau melindungi tempat ini. Makam tua yang dipercayakan ayahnya?


Hingga sore, Kang terlihat sangat senewen. Dia bahkan tak menyentuh makan siangnya sama sekali. Kepalanya kadang melihat ke arah atas, kadang dia menutup mata dan berkonsentrasi mendengar resonansi getaran yang merambat di udara. Sebentar kepalanya miring ke kiri. Kadang juga miring ke kanan.


Robert hanya mengamatinya. Dia ingin sekali memeriksa seluruh pembatas dunia kecil ini. Tapi jika dia bersikeras melanggar larangan Kang, bisa jadi Kang akan tersinggung dan marah. Lebih buruk lagi, jika Kang sampai membencinya.


Robert mengerjakan semua tugas hari ini. Kang bahkan tak peduli apakah susu sapi sudah diperah atau belum. Apakah ternak sudah diberi makan atau belum. Robert menyelesaikan semuanya tanpa banyak protes.


*


*


"Kang, kau belum makan seharian. Ayo makan dulu. Kalau kau sakit, bagaimana aku bisa mengurus semuanya?" bujuk Robert.


Robert telah menyiapkan makan malam mereka. Kang terlihat lebih tenang setelah sore hari. Namun dia seperti sedang banyak pikiran.


"Kang, kau bisa melihat makhluk di luar itu. Apakah dia sangat menakutkan? Hingga kau sangat melindungiku?" tanya Robert hati-hati.


Kang hanya diam. Makanan yang disodorkan Robert terus ditatapnya. Dia seakan sedang tak berada di sana sekarang.


"Aku akan menghabiskan makananku dan beristirahat. Aku lelah sekali hari ini. Lagi pula kau mungkin kau butuh waktu untuk memikirkannya. Apakah ingin menceritakannya atau tidak."


Robert menghabiskan makanannya dengan cepat. Lalu mengangkat piring kotornya ke dapur. Dan segera masuk ke kamarnya.


Robert tak ingin bertanya lagi. Biarkan Kang memutuskannya sendiri. Jika sudah waktunya, Robert pasti akan mengetahuinya juga.

__ADS_1


******


__ADS_2