PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 68. Penjaga Kebun


__ADS_3

Istirahat siang itu Dean harus menjawab banyak sekali pertanyaan. Mereka ingin memuaskan rasa ingin tau yang sudah disimpan sejak pagi tadi.


"Jadi kau adalah penjaga tempat ini? Dan dunia kecil ini hanya untuk pertanian serta peternakan?" ulang Dewi untuk kesekian kalinya.


Dean mengangguk.


"Dean, kalau di negara kami, itu artinya kamu adalah penjaga kebun. Hahahaa.." Nastiti tertawa diikuti Dewi.


"Namaku A." Dean mengingatkan entah untuk yang ke berapa kali.


"Baiklah.. baiklah.." Nastiti mengibaskan tangannya tak terlalu peduli.


"Berarti jika kamu panggil pemilik kebun ini, maka dia akan datang?" tanya Widuri.


'Mungkin ini adalah jalan keluar' pikirnya.


"Tadi malam aku sudah mencoba menyambungkan transmisi ke markas, tapi tak bisa terhubung. Tidak tau apa yang terjadi," jawab Dean.


"Apakah sebelumnya pernah seperti ini? Kapan terakhir kamu mengirim pesan transmisi?" tanya Sunil.


Dean terlihat berpikir sejenak.


"Saat dunia kecil ini mengalami goncangan yang mengakibatkan sebagian besar area peternakan, perkebunan buah dan ladang grain lenyap dalam semalam, aku sudah mengirimkan informasi."


Dean diam sejenak dengan kening mengerut berusaha mengingat hal-hal yang terjadi.


"Sebelum kedatangan 2 orang pelindung, aku sudah memasang pagar di sekeliling area, agar binatang ternak yang tersisa tidak tersesat masuk ke area berkabut."


"Setelah kedua pelindung datang dan memeriksa dengan seksama, mereka memintaku untuk memanen semua yang bisa dipanen, dan menyimpannya di tempat khusus. Untuk itu aku membuat dua buah ruang penyimpanan, agar daging-daging domba bisa disimpan terpisah dengan hasil panen lain."


Kelima temannya mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Setelah semua dipersiapkan, pelindung O mengatakan bahwa mereka tidak menemukan pagar yang ku buat mengelilingi area. Mereka hanya melihat kabut kelabu kehitaman dan menurut mereka, kabut itu akan terus bergerak, dan mungkin suatu saat menutupi seluruh dunia kecil ini." papar Dean panjang lebar.


"Lalu dimana kedua pelindungmu itu?" tanya Alan tak sabar.


"Malam itu aku melaporkan hal tersebut, dan aku diijinkan kembali bersama semua persediaan dan kedua orang pelindung. Tapi esok paginya, perangkat kerja yang mereka bawa memberi sinyal merah. Sumber sinyal itu ada di balik dinding gua. Z bilang, itu sinyal bahaya. Mereka harus memeriksa dulu sebelum kembali ke markas pusat." Dean menjeda ceritanya.


"Lalu?" Dewi penasaran.


"Karena sinyal itu dari balik tembok batu, sementara area atas bukit ini telah ditutupi kabut, maka satu-satunya jalan untuk memeriksa ya harus menggali terowongan. Selama 2 hari, aku membantu menggali cukup jauh, mengikuti sinyal dari perangkat hingga menembus sisi bukit lainnya. Tapi di ujung lorong itu hanya ada kabut hitam pekat. Lalu sinyal perangkat mereka tiba-tiba hilang. Setelah berdiskusi, kami akhirnya kembali." Dean merenung mengingat kejadian itu.


"Malam itu kami berdiskusi, tapi saranku untuk segera kembali, mereka tolak. Mereka bilang hal ini sangat penting, karena bukan hanya dunia kecil yang ku jaga saja yang mengalami, tapi beberapa dunia kecil lain juga mengalami benturan dan guncangan. Ada dunia kecil yang langsung hilang dari peta kordinat, ada juga yang rusak parah. Itu membuatku terkejut, karena sebelumnya mereka tak mengatakan tentang krisis tersebut. Itu membuatku sangat khawatir."


"Mereka memintaku menutup pintu lorong gua dengan rapat agar kabut tak bisa menembus masuk. Mereka akan pergi memeriksa area seberang bukit dengan membawa suplai makanan. Setelah mereka pergi, aku harus langsung menutup rapat lagi lorong yang mereka lewati. Jika mereka telah selesai memeriksa dan ingin kembali, mereka akan mengirim sinyal transmisi agar aku dapat membuka lagi dinding yang ku tutup."

__ADS_1


"Setelah menunggu selama 3 hari, aku mengirim pesan transmisi ke markas pusat. Mengatakan bahwa mereka belum kembali. Lalu aku diminta untuk kembali lebih dulu dan membawa seluruh stok makanan yang ada. Markas pusat akan mengirim pengawas senior untuk menggantikanku menunggu kedua pelindung kembali dari misi."


"Itu terakhir kali aku terhubung ke markas pusat. Ku kira aku sudah kembali, ternyata aku tewas di sini. Entah bagaimana keadaan O dan Z di balik dinding itu. Apakah mereka terus mengirim transmisi tapi aku tak merespon karena sudah mati? Apakah mereka membenciku?"


Dean menundukkan kepala. 'O, Z, maafkan aku' bisiknya dalam hati.


Kelima temannya berpandangan satu sama lain. Kisah A tragis sekali, mereka jadi ikut sedih.


"Lalu, bagaimana caranya tubuhmu ada di atas alas batu yang di kelilingi air itu?" Alan merasa heran.


"Tentang itu aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Entah apakah itu karena aku merasa tidak sehat lalu berbaring di situ agar dekat untuk menjangkau obat dan air, atau karena hal lain." Dean termangu.


"Ah, ya. Aku ingat kalau di salah satu ceruk di dinding terdapat beberapa botol obat." Widuri mengangguk mengerti.


"Masuk akal juga. Kau merasa tidak sehat, lalu minum obat dan beristirahat di bak batu itu. Tapi ternyata kamu malah tewas dalam tidur." Dewi menyimpulkan dan mengangguk.


"Tapi sekarang kabut belum menenggelamkan tempat ini. Jadi, apakah kamu baru tewas kemarin? Kenapa kami tidak melihatmu sebelumnya?" Dewi merasa heran.


"Ku kira tidak seperti itu. Bukankah pelayan Eugene dan Eugene sendiri juga tiba di sini beberapa tahun yang lalu? Apa kau tidak ada bertemu manusia lain sebelumnya?" Widuri merasakan kejanggalan.


"Aku belum pernah bertemu manusia lain dari dunia kalian." Dean menjawab dengan yakin.


"Berarti dia sudah lama tewas." celetuk Nastiti.


"Tahun berapa kedua pelindung itu datang?" tanya Alan.


Kelima orang itu menatapnya dengan pandangan aneh.


"Tahun apa itu?" Dewi benar-benar tak menyangka mendapat jawaban seperti itu.


"Itu tahun yang berlaku sejak Penguasa Cahaya memimpin kami. Ribuan tahun yang cemerlang." Dean menjelaskan dengan serius.


"Yeaahh sudahlah.. Kita tak akan mengerti, karena itu tak ada dalam catatan kehidupan di bumi. Mungkin mereka berasal dari alam semesta lain," Nastiti menimpali sekenanya.


"Hemm, benar. Yang penting sekarang adalah perencanaan kita ke depannya. Apakah ingin menetap di sini atau mencari jalan pulang." Widuri mengingatkan hal yang menurutnya penting itu.


"Pulang? Aku tak bisa pulang tanpa sambungan transmisi dari markas pusat," jawab Dean.


"Hei, kau itu sudah mati, jadi tak perlu pusing memikirkan pulang ke tempat asalmu. Kami cuma mau membawa Dean pulang." Widuri bicara ketus.


"Betul. Jika kau ingin ikut, terserah. Tapi jika ingin tinggal di sini, maka cari tubuh lain untuk kau tempati. Jadi Dean bisa kembali dengan kami." Dewi menambahkan.


"Tubuh lain?" Dean termangu.


"Kalau kau bisa menggerakkan tubuhmu yang kaku di gua, itu bagus sekali. Bagaimanapun, kami ingin Dean menjadi dirinya sendiri lagi. Sejak tadi kau terus menguasainya. Lalu bagaimana dia bisa keluar? Awas saja jika kau membuatnya mati."

__ADS_1


Nastiti kembali menambahkan,


"Lagi pula, ada yang kangen ingin bertengkar dengan Dean, tapi sikapmu yang kaku dan membosankan ini, tidak asik untuk diajak bertengkar."


Nastiti terkekeh menoleh pada Widuri. Disambut pelototan mata kesal yang justru membuat Dewi dan Sunil jadi ikut tertawa.


Dean yang tak mengerti kenapa orang-orang jadi tertawa akhirnya menoleh ke Alan. Alan mengedikkan bahunya tanda tak tau menau.


"Baiklah, kita selesaikan pekerjaan di sini secepatnya sebelum petang. Kita sudah kelamaan ngobrol." Alan berdiri, mengibaskan rerumputan yang menempel di pantat celananya.


Dean mengikuti Alan. Mereka harus memasang daun pintu yang sudah selesai dibuat.


*


Langit kemerahan menemani aktifitas petang itu di depan gua. Dewi memerah susu domba sambil menunggu giliran mandi.


"Hei, kenapa jumlah domba-domba ini berkurang? Satu ekor tidak ada di sini." Dewi mencari ke sekitar.


"Memangnya ada berapa ekor semua?" tanya Sunil.


"Tadi pagi masih ada 16. Sekarang tinggal 15 ekor." Dewi tampak khawatir.


"Besok saja kita cari, sekarang sudah hampir malam. Mudah-mudahan tidak tersesat di kabut." Sunil menahan tangan Dewi yang ingin pergi mencari.


"Baiklah," jawab Dewi pasrah.


**


3 minggu berlalu begitu saja. Mereka kini sudah tinggal di pondok. Para pria membangun dapur dan kamar mandi. Air dialirkan dengan pipa-pipa gerabah dari pancuran dekat ladang gandum ke tempat penampungan di sisi pondok.


Bantuan A sangat terasa manfaatnya dan membuat pondok itu makin nyaman ditinggali. Para wanita dibuatkan satu kamar bersama. A mahir menggunakan tangannya merubah batang pohon menjadi dipan kayu yang besar. Mereka tak harus tidur di lantai batu lagi.


Dean bisa kembali menjadi dirinya sendiri jika roh A merasa lemah. Tapi jika Dean melakukan pekerjaan yang sulit dan lambat, maka jiwa A juga akan menggantikan dan membuat pekerjaan jadi lebih mudah dan cepat.


Alan dan Sunil membuat set busur dan anak panah untuk semua orang. Setiap sore mereka berlatih memanah. Meski progresnya lambat, mereka tak putus asa.


Para wanita menyibukkan diri berkebun dan membuat beberapa peralatan masak dan makan dari lempung. Nastiti makin mahir dalam hal ini, membuat mereka merasa kembali hidup di peradaban.


A mengajari gerakan-gerakan dasar bela diri, cara berpedang, menggunakan pisau dan semua senjata yang dimilikinya. Dia menguasai begitu banyak keterampilan bela diri.


Dean pun akhirnya selalu menyandangkan pedang di punggungnya jika keluar untuk memeriksa area. Anggota tim lain mengikuti langkahnya. Tak pernah meninggalkan busur panah dan pisau saat pergi cukup jauh dari pondok.


Domba-domba dibuatkan tempat berteduh baru di dekat pondok agar mereka nyaman. Juga ada beberapa ekor ayam hutan yang tertangkap lalu dipelihara dalam kandang agar terus menghasilkan telur.


Sesekali Sunil dan Alan bergantian menemani A memeriksa batas area berkabut serta membangun pagar baru agar tidak ada lagi ternak yang tersesat dan hilang dalam kabut.

__ADS_1


Lorong gua kini diberi pintu mekanis oleh A agar bisa dibuka tutup. Mereka telah menyimpan sangat banyak stok makanan di tempat yang dingin seperti kulkas itu. Jadi jangan sampai ruangan-ruangan di sana diambil alih kelelawar.


***


__ADS_2