
Pada akhirnya, berkat bantuan dan pendekatan Astrid, orang tua Widuri, dan keluarga Dokter Chandra, keluarga Nastiti dan Indra dapat menerima kenyataan dan tutup mulut, demi keamanan anak-anak mereka.
Untuk membuat mereka percaya, secara bergantian dibawa menemui anggota keluarganya di dunia kecil. Penerimaan keluarga jauh lebih membahagiakan dari pada apapun. Terlebih lagi, mereka tetap bisa bertemu jika saling merindukan
Dunia kecil itu sekarang mulai diramaikan dengan sanak kerabat yang singgah. "Membuat Guest House adalah langkah yang tepat!" celetuk Indra.
"Menurutku, Penguasa seperti mampu melihat masa depan. Bukan baru kali ini prediksinya benar!" Sunil nimbrung.
"Kukira, aku saja yang merasa seperti itu!" timpal Dean.
"Tapi, kenapa Penguasa tidak pernah mengatakan tentang hal itu?" Indra bertanya-tanya.
"Mungkin tidak boleh disebutkan!" kata Robert.
"Dokter Chandra sedang di mana sekarang?" tanya Widuri.
"Pergi bersama Marianne dan Aslan ke tempat Suku Cahaya," sahut Niken.
"Bagaimana persiapan kalian membuat turbin di air terjun?" tanya Niken.
"Masih ada sparepart yang harus indent," jawab Robert.
"Andai saja ada mesin listrik penggiling gandum. Kita akan lebih mudah untuk membuat tepung. Tidak seperti sekarang yang harus kita giling setiap dua hari sekali!" gerutu Niken.
"Kau benar. Jika kita melahirkan nanti, Marianne akan kerepotan melakukannya terus-menerus," tambah Widuri.
Dean berpikir dalam. "Mumpung masih siang. Ayo bantu aku membust sesuatu untuk para wanita ini!" ujarnya.
"Oke!" Robert, Sunil dan Indra mengikuti Dean.
Widuri dan Niken saling pandang sambil tersenyum simpul. "Kita berhasil!" bisik Niken.
"Para pria itu harus diberi ide dulu baru bergerak!" Widuri menggelengkan kepalanya.
"Kau ingin melahirkan di mana nanti?" tanya Niken.
"Harusnya, di sini juga bisa, kan?" harap Widuri.
"Jika klinik Dokter Chandra selesai, harusnya bisa." Niken mengangguk setuju.
"Tak perlu klinik. Di rumah saja juga bisa! Apa lagi mama berjanji akan menemaniku melahirkan!" sahut Widuri.
"Bagaimana dengan klinik Tabib Tua? Di sana sudah komplit. Obat juga ada. Bukankah itu hal yang bagus?" Niken menawarkan alternatif.
"Aku ingin di sini, tapi biar nanti Bicarakan dengan Dean dulu. Lagi pula, waktunya masih panjang," sahut Widuri.
*
*
"Apa yang mau kau buat?" tanya Robert.
__ADS_1
"Windmill atau watermill, untuk menggiling tepung," sahut Dean.
"Kau tau cara membuatnya?" tanya Sunil.
"Gunakan ingatan, ditambah imajinasi dan improvisai!" Dean nyengir.
"Hahahaha...." Teman-temannya tertawa geli.
"Baiklah ... baiklah. Sekarang katakan kami bisa bantu apa?" Robert berhasil menghentikan tawa mereka yang berkepanjangan.
"Pertama, kita putuskan dulu, ingin membuat yang mana. Windmill yang mengandalkan tenaga angin, atau watermill yang kupikir bisa kita letakkan di saluran air ini." Dean menunjuk kali kecil yang merupakan aliran air dari kolam air terjun.
"Kenapa tak kita buat sekaligus?" tanya Indra.
"Sekaligus bagaimana?" tanya Dean yang belum memahami ide Indra.
"Mill-nya digerakkan oleh angin dan juga air sekaligus!" cetus Indra.
Tiga temannya terdiam. "Seharusnya sih ... bisa ya...." Robert meragu.
"Maksudku, lihatlah. Aliran airnya tidak cukup kencang. Sementara angin juga sepoi-sepoi saja. Takutku, jika hanya digerakkan oleh salah satu saja, dia tidak cukup kuat untuk menggiling gabah. ataupun tepung!" jelas Indra.
"Aku tidak memperhatikan hal itu," aku Dean. Dia berjalan ke beberapa arah, untuk merasakan embusan angin.
"Jika kita buat tepat di depan padang rumput, anginnya lumayan terasa, karena tempatnya terbuka," simpulnya.
Kemudian Dean berjalan lagi mengamati aliran kali kecil itu. "Memang alirannya tidak cukup kuat. Tapi kurasa bisa diakali, jika kita mau memperbaiki jalur airnya!" katanya lagi.
"Ckckck.... Lihatlah ... dengan cepat dia bisa menemukan masalah dan solusinya!"
"Kalau di dunia modern, kau itu disebut enginer, A!" puji Sunil bangga.
"Benarkah?" Dean tersenyum matanya bercahaya keemasan mendapat pujian dari teman-temannya.
"Nah, setelah pengamatanmu tadi, hal apa yang harus kita lakukan dulu?" tanya Indra.
"Memperbaiki saluran air!" ujar Dean yakin.
"Oke! Beri tahu kami caranya. Kita kerjakan bersama!" ujar Robert.
"Ayo! Kita mulai dari kolam!," kata Dean.
Keempat pria itu berjalan kembali ke arah kolam air terjun. Dean membuat perhitungan dengan cepat.
"Kita buat saluran air baru di samping sini, terus ke sebelah sana. Lalu buat melintasi jalan setapak. Sebelah situ bangunannya dibangun!" Dean menunjukkan jalur air yang harus dibangun.
"Tunjukkan dulu posisi pertama. Nanti kami lanjutkan," saran Robert.
"Oke!" Dean membongkar tanah lembab dengan lebar dan tinggi yang diinginkannya.
"Buat salurannya halus, lalu panaskan dengan api kalian. Maka tanah liat itu akan langsung mengeras. Kita tak perlu repot lagi mencetak batu bata!"
__ADS_1
Dean memberikan instruksi lain untuk memudahkan teman-temannya bekerja membuat saluran air. Kemudian, dia lanjut menarik garis, sebagai patokan arah pembuatannya.
Tiga pria itu sibuk membuat saluran air baru, sesuai permintaan Dean. Sementara Dean telah terbang untuk memotong-motong kayu yang akan dipakai membangun pondok kecil tempat mengolah gabah.
Hingga hari telah memasuki sore. Namun pekerjaan itu belum selesai juga.
"Ternyata lama juga ya, menggali tanah dan membuat saluran air," keluh Indra. Tubuh mereka penuh dengan lumpur.
"Sekarang kita tahu bahwa pekerjaan Dean tidak ringan. Biasanya dia yang bagian menggali, memotong dan sebagainya!" sambung Sunil kelelahan.
"Tapi dia sedang serius membangun windmill. Kita tak bisa mengganggunya. Tak mungkin kita biarkan dia mengerjakan semua ini sendirian, kan?" tukas Robert.
"Jika kalian sudah selesai, pergilah mandi, sebelum menjadi patung terakota!" ledek Niken sembari tertawa.
"Kami sudah siapkan kue dan jus segar untuk kalian!" timpal Widuri.
"Oke!" Indra menyahuti.
"Dean, sudah sore! Mari istirahat dulu. Kita lanjutkan besok lagi!" panggil Robert.
"Sebentar!" Yang terdengar hanya suaranya. Tapi orangnya entah di mana.
Robery, Indra dan Sunil berlarian ke kolam air terjun dan langsung melompat ke air yang sejuk dan jernih. Ketiganya segera membersihkan tubuh yang memang sangat kotor itu.
"Sedikit demi sedikit, dunia kecil kita jadi makin moderen!" celetuk Robert sambil memandangi kincir air yang sedang mereka bangun.
Kincir itu diharapkan akan menghasilkan listrik yang cukup untuk Rumah Dean, Dokter Chandra, dan Robert. Jadi panel surya yang mereka pakai, bisa dialihkan ke tempat lain.
Kemungkinan bangunan berikutnya yang akan ada, adalah klinik Dokter Chandra. Dan beberapa peralatan medis, akan butuh listrik. Termasuk lampu yang terang.
"Menurutku, boleh saja peralatan yang kita miliki berasal dari dunia modern. Tapi sebaiknya tidak meninggalkan ciri khas tempat ini yang simpel dan sederhana." Sunil ikut mengemukakan pendapatnya.
"Kalian sedang memikirkan apa?" tanya Dean tiba-tiba.
"Kau sudah selesai?" tanya Robert tanpa menjawab pertanyaan Dean tadi.
"Belum. Besok kita lanjutkan lagi," sahut Dean sambil ikut masuk ke kolam.
"Kapan pembangkit listrik itu selesai?" tanya Indra.
"Saat mesinnya datang!" sahut Dean.
Kalian sudah indent itu sejak dua minggu lalu!" tambah Indra lagi.
"Ya, janjinya satu bulan!" Robert yang menyahuti.
"Setelah itu, tempat ini akan terang benderang seperti di kota. Kesyahduan dan kecantikan alaminya perlahan akan hilang...."
Sunil seperti menyayangkan masuknya peradaban. Tiga temannya terdiam. Itu konsekwensi yang akan didapat, ketika manusia menginginkan kemudahan.
"Itu sebabnya aku lebih memilih membangun windmill atau watermill, ketimbang membeli peralatan penggiling gandum di kota!" jelas Dean.
__ADS_1
"Kemudahan tetap bisa didapat, tanpa merusak keindahan alam yang ada!" tambahnya lagi.
*********