
Pagi hari, semua terbangun dengan sedikit bingung, sebelum akhirnya menyadari keadaan.
"Bagaimana keadaan Bibi?" tanya Yabie pada Dean yang baru bangun juga.
Dean refleks menoleh pada istrinya. Tapi kelihatannya Widuri seperti sedang tidur nyenyak. Napasnya teratur. Dean mencoba mendengarkan detak jantungnya. Juga telah normal. Wajahnya lega.
"Bibimu baik-baik saja. Sepertinya dia berhasil menghukum putra nakal itu!" ujar Dean terkekeh lucu.
"Syukurlah ... akhirnya bibi bisa istirahat dan tidak kesakitan lagi," ujarnya.
"Kau bisa istirahat dan kabarkan pada Yoshi, agar dia tak khawatir!" saran Dean.
"Baik, Paman." Yabie melangkah keluar ruangan dengan hati-hati. Dokter Chandra, Kakek Kang dan Tabib Tua, masih tertidur nyenyak. Dia tak ingin membangunkan mereka.
Satu jam kemudian.
Kang dan Nastiti datang. Melihat orang-orang berbincang santai, Nastiti agak bingung. Bukankah tadi malam Kang mengatakan bahwa kondisi Widuri buruk? Bagaimana mereka bisa santai?
Marianne membawakan sarapan untuk semuanya. Istri Yabie mengikuti dari belakang. Setelah mendengarkan cerita Dokter Chandra, semua akhirnya lega. Widuri akan baik-baik saja. Namun memang kelahirannya tinggal menunggu hari.
"Marianne, kau pergilah ke Jakarta. Hubungi mamanya. Widuri ingin persalinannya ditemani oleh mamanya," ujar Dokter Chandra.
"Baik, aku akan ke sana!" Marianne mengangguk. Dia menyelesaikan sarapannya lebih dulu, sebelum pergi.
"Tapi dia belum siuman. Apakah itu tak masalah?" tanya Nastiti.
"Tadi Dean sudah memberinya sarapan bubur halus, melalui selang makanan. Semoga dia segera tersadar," harap Dokter Chandra.
Nastiti memasuki ruangan. Dilihatnya Dean masih setia duduk di samping tempat tidur Widuri.
"Dean, istirahatlah. Biar aku menggantikanmu menungguinya," bujuk Nastiti.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," tolak Dean.
"Dia membutuhkanmu tetap sehat hingga persalinannya. Jadi, jangan forsir tubuhmu di awal, lalu kolaps saat dibutuhkan nanti!" tegur Nastiti.
Dia berusaha realistis. Jika persalinan Widuri masih seminggu lagi, maka Dean akan ambruk dalam tiga hati ke depan!
Dean mencerna kata-kata Nastiti. Dan itu benar adanya. Dia harus menyimpan tenaga untuk menjaga Widuri dan putranya nanti. Terutama jika Widuri terus seperti ini. Maka akan butuh perjuangan yang panjang baginya.
"Baik, aku akan beristirahat. Tolong jaga dia!" pesan Dean.
Dean keluar ruangan, dan berkumpul dengan yang lainnya. Batinnya yang penat sedikit rileks.
Dua hari berlalu. Widuri akhirnya sadar. Dan itu melegakan semua orang. Terutama kedua orang tuanya yang dengan telaten mengurusi segala keperluan Widuri.
*
*******
Dean sedang berada di dunia kecil. Dia bersama Sunil, Robert dan Indra akhirnya mengambil batu dari tempat Kakek Kang. Karena batu yang ada di bukit batu dunia kecil, tak bisa dipotong sebab mengandung biji besi.
Tempat penggilingan gabah itu akhirnya selesai. Mereka telah mengetes dan menjalankan aliran air untuk memutar kincir. Namun, rencana kincir angin ditunda dulu. Robert memandang dengan puas, hasil pekerjaan itu.
"Selesai juga. Dan ini tepung pertama yang kita giling di sini!" ujar Sunil bangga.
"Baiklah. Aku harus membersihkan diri dan kembali ke sana!" kata Dean.
"Oh ya, Robert, bisakah kau ke Jakarta? Tanya Astrid, bagaimana hasil dari tugas untuk menghubungi keluargaku. Sekalian mengecek pemesanan alat untuk pembangkit listrik tenaga air kita!" pinta Dean.
"Baik, aku akan ke sana," sahut Robert.
"Semoga Widuri segera sadar yaa," timpal Indra.
__ADS_1
"Terima kasih, In."
Dean melangkah cepat. Dia segera menyelesaikan urusannya di dunia kecil. Kemudian pergi ke Kota Pelabuhan.
*
*****
Pagi hari, sehari setelah Widuri sadar. Dia mengeluhkan perasaan tidak enak pada perutnya. Dean dengan sigap memanggil Dokter Chandra yang tidak meninggalkan klinik itu sejak Widuri dirawat.
Dokter Chandra dan Kakek Kang masuk ke ruangan. Keduanya bersama-sama memeriksa kandungan Widuri. "Bisakah kau lihat posisi kepala bayinya?" tanya Dokter Chandra.
Kakek Kang melihat ke dalam perut Widuri, sebagai pengganti mesin usg. "Posisi kepalanya sudah turun," jawab Kakek Kang.
"Apakah sudah sampai sini?" Tunjuk Dokter Chandra.
"Ya, di situ." Kakek Kang mengangguk.
"Sepertinya persalinan akan terjadi hari ini. Tapi proses ini akan sedikit menyakitkan. Kuharap kau kuat dan sabar melewatinya." Dokter Chandra bicara pada Widuri.
"Baik, Dok." Widuri mengangguk.
"Apakah sekarang?" tanya Dean tegang.
"Lihat jam ini. Hitung berapa jarak waktu dari kontraksi ke kontraksi!" Dokter Chandra melepaskan jam tangannya dan diserahkan pada Dean.
Dean dengan cepat menandai waktu kontraksi yang dialami Widuri barusan. "Baik, Dok," sahutnya.
"Biar aku siapkan dulu keperluannya. Sementara itu, kau bisa minta Yabie mengantarkan mertuamu dari rumah tebing, ke sini," saran Dokter Chandra.
Dean mengangguk. Dokter Chandra keluar dari ruangan. Dean mengabari Yabie bahwa Widuri akan melahirkan. Memintanya menjemput mertuanya dari rumah tebing untuk dibawa ke tempat Tabib Tua.
"Kau dengar kata Dokter Chandra. Kita harus lihat jam kontraksi dulu," senyum Dean, menenangkan Widuri.
"Mari kubantu." Dean membantu Widuri bangun dari tempat tidur dan pergi ke bilik kecil di belakang ruangan.
Sepuluh jam berlalu.
Intensitas kontraksi Widuri sudah lebih cepat. Dean mulai panik. Setiap kali istrinya meringis, menarik napas panjang dan menghembuskan pelan dengan wajah kesakitan, Dean merasa hatinya teriris.
"Dok, masih berapa lama lagikah?" tanyanya tak sabar.
"Sabar ... ini sedang kita persiapkan semua keperluannya. Masih ada waktu," kata Dokter Chandra.
"Widuri, jangan mengejan ya! Nanti sobek ke mana-mana jika dipaksa!"
Dokter Chandra memperingatkan. Kemudia kembali sibuk memberi instruksi pada Marianne dan istri Yabie untuk menata meja alat di tempat semestinya.
"Dean, aku kembali membawa kejutan untukmu!" terdengar teriakan Robert dari luar ruangan. Dia dilarang masuk, sebab di dalam sudah penuh orang.
Dean berdiri. "Aku temui dia dulu ya," ujar Dean pada Widuri.
"Pergilah. Biar mama yang menemaninya," kata mamanya Widuri.
Dean keluar ruangan. "Ada apa?" tanyanya tak sabar.
"Lihat, siapa yang ikut bersamaku!" Robert mengeluarkan seseorang. Tidak! Itu empat orang!
"Dean!" seru seorang wanita berambut pirang.
"Mom, you are here!" Dean memeluk ibunya. Lalu ayahnya juga ikut memeluk mereka berdua.
Setelah puas berpelukan, ibunya bicara. "Astrid said strange things to me. I can't believe it, but my heart keeps me thinking about it. And this doctor's wife continues to give me understanding. So we decided to come and see you." ¹)
__ADS_1
"Aren't you afraid to come to a foreign place?" ²) tanya Dean sambil tersenyum.
"There's your father, I'm not afraid of anything," ³) jawab ibunya sambil tersenyum lebar.
"How are you, Dad?" ⁴) tanya Dean pada ayahnya.
"I'm good and happy to see you," ⁵) sahut ayahnya sambil menepuk pundak Dean.
"Astrid says, you are married here. Where is she?" ⁶) todong ibunya penuh senyuman.
Dean seketika tersadar. "Oh, I forgot. She's about to give birth!" ⁷) Dean menepuk jidatnya dan berlari ke dalam ruangan.
"Sayang ... ibu dan ayahku datang!" ujar Dean dengan ekspresi gembira.
Seisi ruangan terkejut dan menoleh ke pintu. Di situ berjejalan kepala, melihat ke dalam ruangan.
"Sayang? Kau juga ikut?" tanya Dokter Chandra. Tapi dia tak bisa memeluk istrinya. Dia sudah mengenakan pakaian dinasnya.
"Lanjutkan tugasmu. Aku akan menunggu di sini," jawab istri Dokter Chandra sambil melambaikan tangannya. Lalu dia menghilang dari ambang pintu.
"You're a man, you don't have to watch your daughter-in-law give birth. Come out," ⁸) usir ibunya Dean, sambil mendorong suaminya menjauh.
Ibu Dean menunjukkan senyum ramah yang ada maunya. "May I come in?" ⁹)
Dokter Chandra menyerah. "Only one person. And wash your hands first," ¹⁰) ujarnya sambil menunjuk ke mangkuk air di sudut ruangan.
Wanita itu mengangguk dan masuk, kemudian mencuci tangannya hingga bersih. Dia berdiri di dekat Dean.
"Hello honey, you can do it," ¹¹) sapanya pada Widuri yang hanya bisa meringis dan mengangguk.
"Sekarang kita mulai!" kata Dokter Chandra. Widuri mengangguk. Diikutinya semua petunjuk Dokter Chandra.
Istri Yabie memperhatikan dengan seksama. Dia mengidamkan menjadi tabib yang dapat membantu para wanita melahirkan.
*
*
Terjemahan:
¹) Astrid mengatakan hal-hal aneh padaku. Aku tidak percaya, tapi hatiku terus memikirkannya. Dan istri dokter ini terus memberi saya pengertian. Jadi kami memutuskan untuk datang dan melihat Anda.
²) Apa ibu tidak takut datang kr tempat asing?
³) Ada ayahmu, aku tak takut apapun.
⁴) Apa kabarmu, Yah?
⁵) Kabarku baik dan bahagia bisa melihatmu.
⁶) Kata Astrid, kau sudah menikah di sini. Di mana dia?
⁷) Oh, aku lupa. Dia sudah mau melahirkan!
⁸) Kamu seorang pria. Kamu tidak perlu melihat menantumu melahirkan. Keluarlah.
⁹) Boleh aku masuk?
¹⁰) Hanya satu orang. Dan cuci tanganmu dulu.
¹¹) Hallo sayang, kau pasti bisa melakukannya.
********
__ADS_1