
Empat orang melintasi lorong gelap hanya dengan mengandalkan cahaya dari mata mereka. Lorong gua itu panjang dan berkelok-kelok.
"Kenapa aku merasa dia seperti membuat lorong obat nyamuk di gunung ini? Kita berputar-putar terus di sini!" gerutu Robert.
"Tak ada satupun dari kita yang bisa membuat lubang menembus dinding. Jadi jangan protes. Kita harus mencapai ujung lorong ini, jika ingin keluar!" Suara Dokter Chandra juga terdengar kesal.
Sunil hanya bisa menahan senyum. Dia juga kesal, tapi Dokter Chandra benar. Tidak ada yang punya kemampuan seperti Dean di sini. Jadi tak ada pilihan lain, selain mengikuti jalan yang sudah ada.
Sepuluh menit kemudian.
"Aku sudah melihat akhir dari jalur tikus ini!" ujar Kang Tua ikutan kesal.
Kang bisa saja merubah tubuhnya jadi raksasa dan meruntuhkan satu sisi gunung, agar ada jalan keluar. Tapi teman-teman barunya sangat berhati-hati dan tak ingin menarik perhatian penduduk dunia ini.
Mereka akhirnya sampai di ujung jalan yang tertutup batu.
"Tckk!" Robert mendecak kesal.
"Biar kurubuhkan pintu batu ini!" Kang Tua menawarkan diri.
"Jangan! Nanti penduduk sekitar terkejut!" cegah Dokter Chandra.
"Robert, bisakah kau fokuskan cahayamu menjadi titik kecil tapi sangat kuat dan tajam? Seperti teknik laser yang biasa dipakai Alan!"
"Biar kucoba!"
Robert berkonsentrasi dengan api di telapak tangannya. Itu bukan hal yang mudah, karena Robert belum pernah melakukan teknik itu. Dia bissa menembakkan api yang langsung besar membara. Semakin besar semakin bagus dipakai untuk menghalau musuh dalam perang.
Sunil juga mencoba melakukan teknik itu dengan api birunya. Tapi langsung mendapat teguran keras. "Apa kau mau meledakkan kita semua dengan api nuklirmu!"
Sunil langsung berhenti. Api biru bulat kecil yang muncul di telapak tangannya langsung digenggam kembali dan menghilang. Dia tak berani membantah.
Robert mengarahkan selarik cahaya orange ke pintu batu. Tapi itu masih belum cukup kuat untuk menggores batu. Apalagi untuk membelahnya.
Kang Tua menggeleng tak sabar. "Aku bisa meledakkannya!" ujarnya.
"Tidak!" larang Dokter Chandra.
"Aku ingin pintu batu ini bisa dipotong seukuran pintu, untuk jalan kita keluar. Tapi batu itu harus tetap utuh, agar kita bisa menutupnya lagi tanpa menimbulkan kecurigaan," jelasnya.
"Biar kucoba!"
__ADS_1
Seketika, tangan Kang Tua berubah menjadi tangan Naga. Kukunya yang panjang, digoreskannya ke ujung jalan yang tertutup batu, membentuk lobang pintu.
Tak butuh waktu lama. Hampir secepat Dean. "Sudah!" katanya ringan tanpa beban.
"Kau ... kau bisa melakukannya?" tanya Sunil tak percaya.
"Coba tarik!" perintah Dokter Chandra.
Sunil dan Robert menarik dinding batu itu mundur. Perlahan-lahan, potongan itu bergeser ke arah dalam gua.
"Kau ternyata bisa memotong benda keras!" puji Dokter Chandra.
"Memang itulah gunanya cakar. Mencengkeram, melukai, membunuh," timpal Kang Tua.
"Aku lupa bahwa dia seekor naga," batin Dokter Chandra.
Akhirnya lorong itu terbuka. Pintu batu disandarkan ke dinding gua. Dokter Chandra menjulurkan kepalanya keluar, dengan hati-hati.
"Tak ada siapapun di sekitar sini!" celetuk Kang Tua dari belakang.
"Ahh ... kau menghancurkan momen kejutannya!" sesal Sunil. Dia langsung berjalan menyusul Robert dan Dokter Chandra yang juga akhirnya keluar.
"Kalian orang-orang yang aneh!" pikirnya.
Yang dikatakan Kang Tua, benar adanya. Tempat itu sepi dan gelap. Ternyata di dunia ini, hari sudah malam. Begitu sunyi, hingga suara perut Robert terdengar.
Sontak kesunyian itu pecah dengan derai tawa. Robert tersenyum kecut.
"Baiklah, saatnya kita istirahat dan membuka bekal," kata Dokter Chandra setelah tawanya reda.
Keempatnya kembali duduk di lantai gua dan membuka bekal yang telah disiapkan para wanita. Mereka berbagi dengan Kang Tua yang tak sempat membawa persediaan.
"Air minum ini lezat sekali. Menyegarkan dan menambah energi," tuturnya.
"Bagus, jika kau menyukainya. Kadang para wanita akan menambahkan potongan buah-buahan ke dalam tempat air, agar rasanya lebih lezat dan menyehatkan," terang Dokter Chandra.
"Beruntung kalian masih memiliki para wanita. Masih bisa berkembang dan menjaga Bangsa Cahaya agar tak punah," ada rasa iri dalam suara itu.
Robert, Sunil dan Dokter Chandra tak mengatakan apapun. Mereka terdiam. Naga Tua itu jauh lebih beruntung masih dapat bertahan hidup dan masih ada Kang bersama Nastiti.
Sementara Bangsa Cahaya, entah apakah misi Ivy untuk menemukan anak-anak itu berhasil atau tidak. Jika tak ada lagi yang bertahan di sana, maka Yoshi dan Yabie adalah keturunan terakhir Bangsa Cahaya. Itupun keturunan campuran dengan The Fallen Angel.
__ADS_1
Betapa menyedihkan saat membayangkan kepunahan Bangsa-bangsa di Dunia Bintang. Sekarang mereka bergantung pada manusia Bumi, untuk kelangsungan hidup anak keturunan.
"Kurasa, memeriksa di malam hari adalah saat yang paling tepat. Aku suka datang melihat kota-kota dari pintu teleportasi di malam hari," saran Kang Tua.
"Itu ide bagus. Kita juga belum mengantuk bukan. Mari kita lihat berkeliling hutan ini dulu. Besok kita lihat lebih jelas apa yang mungkin bisa kita bawa ke dunia kecil."
Dokter Chandra sudah memutuskan seperti itu. Robert dan Sunil ikut berdiri. Keempatnya keluar dari gua. Kang merubah bentuknya menjadi naga agar bisa ikut terbang mengitari gunung itu.
"Tak ada satu pun cahaya lampu di kaki gunung ini. Apakah tempat ini tak berpenghuni?" ujar Robert sambil melihat kiri kanan.
"Bukankah bagus jika tak berpenghuni. Waktu itu penjaga pintu teleportasi bilang, tempat ini tak layak untuk dihuni, dan memang tak berpenghuni. Itu sebabnya dia menyimpan pintu itu di sini, agar aman!" debat Sunil.
"Hemmm ... ya, aku ingat." Robert mengangguk.
Naga Tua itu terbang lebih jauh dari sekedar mengitari gunung.
"Mau ke mana kau?" panggil Robert sambil menyusulnya. Sunil dan Dokter Chandra ikut melesat mengejar dua makhluk yang seperti sedang bermain berkejaran sambil tertawa.
"Penguasa, Robert tampaknya mudah akrab dengan Naga Tua itu," komentar Sunil.
"Dia sudah punya bonding dengan Kang si Naga Hijau. Tak sulit baginya untuk memahami yang satu ini juga." simpul Dokter Chandra tersenyum.
Mereka ikut terbang dengan bebas di sana, saling berkejaran dan menghindar, lalu tertawa senang.
"Hei, stop! Sssstttt!" Sunil mengingatkan teman-temannya untuk berhenti tertawa.
"Ada apa?" tanya Robert.
"Lihat cahaya-cahaya redup di sana itu! Berwarna-warni dan terasa familiar!" tunjuk Sunil.
Empat orang itu terbang mendekat perlahan-lahan. Dan dengan segera emosi mereka naik ke kepala.
"Kurang ajar! Biadab! Siapa yang melakukan hal sekeji ini!" geram Dokter Chandra murka.
"Tenang, penguasa. Aku akan pergi untuk mencari tahu!" Robert sudah siap bergerak.
"Jenderal So, kau jenderalku satu-satunya sekarang. Berhati-hatilah. Bawa Sunil membantumu!" perintah Dokter Chandra.
"Baik, Penguasa!" Robert dan Sunil segera melesat ke arah kumpulan cahaya redup di bawah sana.
*********
__ADS_1