
Akibat kejadian kemarin, maka pagi hari ini aturan berubah. Para tahanan tak diijinkan keluar halaman untuk berjemur. Tapi pintu sel tetap dibuka.
Ruang makan menjadi tempat berkumpul hampir semua tahanan. Namun Dean, Alan dan Michael hanya berkumpul di depan kamar sel Alan setelah sarapan.
Menghilangkan bosan dan menyamarkan diskusi, ketiga orang itu bermain tebak-tebakan. Yang salah menjawab, dahinya disentil.
Petugas jaga yang melihat mereka bertiga memainkan permainan konyol sambil tertawa dan meringis, hanya bisa menggeleng. Tapi baginya, asalkan tidak ada keributan antar tahanan, maka waktu jaganya sempurna.
"Jadi bagaimana Dean? Kapan kita mau kabur?" tanya Alan.
"Hari ini tak mungkin. Semua pintu keluar dikunci," jawab Dean.
"Apakah Robert dan Sunil sudah pulih?" tanya Dean balik.
Alan menggeleng samar. "Belum."
"Aku sedikit heran, kenapa Jenderal So tidak melawan saat Robert ditindas ...."
Michael dan Dean juga tak mengerti.
"Mungkinkah jiwanya belum menyatu dengan Robert?" tebak Dean.
"Atau mungkin dia masih trauma. Dihantui bayangan kematian yang sebelumnya, yang juga disiksa?" Michael buka suara.
"Atau, yang menyiksanya punya kekuatan untuk melemahkan kekuatan jiwa bangsa cahaya?"
Tebakan Alan mengejutkan Dean dan Michael.
Dean menoleh ke arah selnya.
"Apa itu juga sebabnya sel tahanannya diblokir? Apakah tahanan pendiam itu juga salah seorang bangsanya?" batin Dean.
"Kalian tunggu di sini."
Dean berjalan santai menuju sel tahanannya.
Di dalam sana, seorang pria tua duduk memejamkan matanya. Dean mendekatinya. Dia tak bisa mengirim pesan transmisi di sel ini. Jadi Dean menyentuh tangan pria itu.
Matanya terbuka perlahan. Dia mengenal Dean sebagai teman satu sel. Tapi mereka tak pernah berinteraksi. Dia menatap Dean malas dan menarik tangannya tanda tak ingin diganggu.
__ADS_1
Dean tak peduli. Ditahannya tangan itu dan menatap tepat ke matanya. Seberkas cahaya keemasan redup tampak di mata Dean. Pria itu sangat terkejut.
Tubuh Dean segera ditariknya menjauh dari pintu. Ditunjukkannya cahaya di matanya yang berkilau seperti berlian. Dean terpukau melihatnya. Cahaya itu jernih, teduh dan terasa mendominasi jiwanya.
Dean ingin turun memberitahukan hal ini pada Alan dan Michael. Tapi tangannya ditahan.
Pria itu menuliskan sesuatu di telapak tangannya.
"Jangan beritahu siapapun tentangku!"
Dean mengerutkan kening dan bertanya tak mengerti.
"Kenapa?"
"Untuk keselamatanmu. Jangan dekat denganku!" balasnya.
"Ada seorang teman yang mereka siksa hingga hampir mati. Apa kau pernah dengar tentang Jenderal So?" tanya Dean.
Pria itu terkejut, matanya terlihat khawatir.
"Jenderal So? Bagaimana keadaannya sekarang?"
Pria tua itu makin terkejut.
"Bagaimana kalian bertemu dengan mereka?"
Dean, "Mereka tewas dalam tahanan di dunia asing dan liar. Kami memindahkan jiwanya ke tubuh salah seorang teman. Kami bermaksud menguburkan jasad mereka di suatu tempat. Tapi kami terdampar di sini, lalu ditahan."
"Bagaimana kalian tau cara itu untuk menjaga jiwa bangsa kita?"
Mata tuanya menatap keheranan.
"Tunggu sebentar. Ku beritahu teman-teman yang lain," ujar Dean sambil berdiri.
Dean tak mempedulikan ketidak setujuan pria itu. Dia berjalan ke pintu. Di ujung sana, Alan dan Michael masih bermain sambil menunggu.
"Alan, bagaimana kalau kita bermain di sini saja?" tawar Dean.
"Oke!"
__ADS_1
Alan dan Michael berjalan mendekat.
"Pria teman selku ternyata orang bangsa kita. Aku ingin, jika kalian melihatnya, tapi jangan tunjukkan wajah terkejut," pesan Dean lewat transmisi.
"Baiklah," jawab Michael.
Alan dan Michael kembali duduk di lantai di luar pintu. Dean duduk di bagian dalam. Mereka kembali bermain dengan seru.
Alan dan Michael berkali-kali mencoba melihat siapa dia sebenarnya. Tapi dia tak menoleh sedikitpun. Sampai suatu ketika, Alan berusaha menyentil dahi Michael dengan sedikit dorongan. Michael mengelakkan tubuhnya menghindar ke dalam sel.
"Kau curang, Alan," katanya protes.
Tapi Michael terkejut setelah melihat sosok pria tua itu. Dia langsung menunduk di lantai.
"Yang mulia," bisiknya lirih hampir menangis.
Dean dan Alan terkejut. Tapi bukannya ikut bersujud, dia justru menarik tubuh Michael keluar sel.
"Kau yang curang!" seru Dean.
"Iya, kalah tapi tak mau disentil," ujar Alan menambahi.
Alan melihat airmata di pipi Michael. Lalu dengan cepat disentilnya dahi Michael dengan keras. Dean melakukan hal yang sama.
"Aduhh ... sakit tau!" protes Michael.
"Itu akibat kau kabur saat disentil," ujar Alan tertawa senang. Sementara Michael meringis sambil mengusap-usap dahinya.
Mereka kembali bermain. Kali ini lebih tenang. Karena mereka sedang mendiskusikan temuan terbaru.
Ternyata pria tua itu adalah Yang Mulia Penguasa Cahaya. Pemimpin bangsa Cahaya. Ada rasa gembira karena ternyata pemimpin mereka tidak tewas dalam petaka yang menghancurkan dunia bintang.
Namun terasa pilu dan marah membayangkan orang paling mulia itu menjalani hidup terkungkung seperti ini selama ratusan tahun.
"Sekarang kita harus berpikir keras mencari jalan teraman untuk membawa beliau pergi dari sini," kata Michael.
Dean dan Alan mengangguk. Mereka bertekad menjaga orang tua itu. Karena dia terlihat kesepian tanpa ada penjaga sama sekali.
******
__ADS_1