
"Bagaimana pemeriksaan kalian?" tanya dokter Chandra saat melihat Dean berjalan menuju pelataran. Tak lama Yabie mendarat mulus di halaman.
"Kita diskusikan nanti saja saat makan malam," ujar Dean.
"Aku sudah lama tak membantu pekerjaan di sini. Mumpung belum terlalu sore, biar ku bereskan dulu rumput-rumput di halaman dan menyiram kebun."
Dean mengambil air minum dari tempayan.
"Kau sudah kembali?" sapa Widuri lembut.
Dean mencium keningnya dengan sayang. "Hemmm...."
"Kau lapar?" tanya Widuri.
"Ya. Siapkan makan malam yang enak ya.... Aku mau bersihkan halaman rumah kita dulu," sahut Dean.
"Oke." Widuri tersenyum.
"Bibi, aku tidak ditanya? Aku juga lapar," ujar Yabie.
"Ya... akan kusiapkan makan malam yang enak. Jadi kau bisa bantu pekerjaan pamanmu lebih dulu." Widuri tersenyum lebar.
"Aaahhh, ku kira bisa istirahat lebih cepat jika pulang," gerutu Yabie sambil berlalu.
Widuri hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.
"Paman Sunil, kalian sedang membuat apa?" sapa Yabie saat melewati kebun.
"Ini? Kami sedang membuat orang-orangan pengusir burung. Gandum di sini sudah mulai berisi. Kemarin saat kembali, banyak burung yang hinggap dan mulai mematukinya," jawab Sunil.
"Benarkah? Pasti menarik. Aku ingin melihatnya nanti," ujar Yabie tertarik.
"Apa maksudmu dengan menarik? Kau senang jika burung memakan biji gandum di ladangmu?" Sunil melotot.
"Tidak ada burung di sana. Itu sebabnya aku ingin melihatnya di sini," jawab Yabie tanpa rasa bersalah.
"Hah, kau ini..!" Sunil tak bisa berkata-kata melihat kepolosan Yabie.
"Hahahaa," Alan tergelak melihat ekspresi Sunil.
"Kau menertawaiku? Ayo cepat selesaikan! Sebentar lagi sore," kata Sunil kesal.
Dari kejauhan masih terdengar tawa Alan dan omelan Sunil.
"Kalian sedang apa?" tanya Yabie pada Indra dan Michael.
"Sedang menyiapkan kamar pengantin baru," sahut Michael cepat.
"Ngeledek aja terus." Indra melemparkan kerikil ke arah Michael.
"Apa itu pengantin baru?" Yabie menghampiri keduanya.
"Ehemm," Michael memikirkan cara menjelaskannya.
"itu tentang dua orang yang akan menikah. Seperti paman Dean dan bibi Widurimu." Michael lega bisa menemukan kata yang tepat.
"Lalu?" Yabie belum puas dengan jawaban itu.
"Lalu, mereka harus tinggal terpisah dari lainnya." Michael masih menjawab dengan senyuman.
"Kenapa begitu? Apakah bila aku menikah, harus keluar dari rumah ayah? Aku tidak mau." Protes Yabie.
"Ya, tidak usah kalau begitu," jawab Michael singkat.
"Tadi paman bilang harus. Aku masih mau tinggal dengan ayah dan Yoshi," kata Yabie ngotot.
"Ya sudah kalau tidak mau. Kenapa jadi marah padaku?" Muchael mulai dongkol.
"Lagipula, yang mau menikah itu Indra dan Niken. Ini rumah untuk mereka. Ini halaman mereka. Kami sedang merapikannya," jelas Michael menahan jengkel.
"Bukankah bibi Niken tinggal di rumah besar? Kenapa harus ke sini?" Yabie masih tak mengerti.
"Oh ya Tuhan.... Bagaimana cara menjelaskan pada anak ini?" gumam Michael sambil mengurut dada.
Indra yang melihat Michael mulai hilang kesabaran. mencoba menjelaskan.
"Karena orang menikah butuh privasi," jawab Indra bijak. Dia tersenyum sambil mengatakan itu.
__ADS_1
"Apa itu privasi? Apa itu enak? Aku juga mau kalau enak." Mata Yabie berbinar-binar.
???
Indra melongo. Matanya tak berkedip melihat ekspresi Yabie
"Paman Indra, aku mau. Berikan padaku satu. Apa tadi namanya?" Yabie memeriksa badan Indra depan belakang, mencari sesuatu.
Indra menatap Yabie dengan pandangan kosong. Michael tertawa terpingkal-pingkal melihat keduanya.
"Paman!" Yabie masih mendesak Indra yang kebingungan, tak tau harus apa.
"Yabie, bantu aku di sini!" teriak Dean.
Yabie menghentikan aksinya, menoleh ke arah kediaman Dean.
"Ya!" jawab Yabie.
Yabie berlari kecil ke arah Dean.
"Ahh, aku selamat."
Indra terduduk setelah Yabie pergi.
Michael masih tertawa terpingkal-pingkal.
"Beruntung hanya ada satu Yabie di sini. Atau kita bisa stress karena tak tau harus marah, kesal atau tertawa mendengar kata-katanya."
Indra menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.
*
*
Saat makan malam.
"Jadi sampai mana persiapan kediaman kalian?" tanya Dean pada Indra.
"Bagian luar sudah rampung kami kerjakan hari ini. Tinggal pergi ke pasar untuk membeli beberapa kain penutup tempat tidur. Juga pakaian pengantin untuk Niken," kata Indra.
"Kita masih punya stok minyak goreng. Tapi menurutku, hasilnya belum akan cukup untuk membeli kain penutup tempat tidur.
Dean mengangguk.
"Besok kita ke hutan dan memetik blueberry. Kita buat pie atau roti lalu jual. Bagaimana?" Nastiti mengatakan idenya.
"Oke, lakukan itu," kata Dean setuju.
"Aku bisa mengambil kelapa di pantai air asin dan menambah stok minyak goreng kita," kata Alan.
"Bagus!" Dean mengangkat jempolnya dan tersenyum.
"Ada ide lain?" tanyanya lagi.
"Aku tak tau ini ide bagus atau tidak. Kemarin saat kembali dari kota mati, aku pergi ke arah tebing dulu baru pulang." Sunil menjeda kata-katanya.
"Lalu?" tanya Marianne.
"Aku melihat pohon beberapa pohon apel yang buahnya sedang ranum. Apa itu bisa dijual?" tanyanya ragu.
"Wahh, apel. Apa kau sudah mencoba buahnya?" tanya Niken.
"Belum. Aku hanya melihatnya. Lalu pulang." Sunil menggeleng.
"Tidak apa. Petik saja. Baik apel manis ataupun asam, keduanya tetap bisa dimanfaatkan," kata Marianne.
"Baiklah. Aku akan ke sana dan memanennya besok." Sunil mengangguk.
"Baiklah. Jadi kita siapkan dulu yang mau dijual. Setelah itu beli keperluan pernikahannya. Setelah siap, baru kita undang ketua kota dan Yoshi. Juga Liam, Laras, Mattew dan Kenny." ujar Dean.
Widuri mengangkat tangannya ingin bicara.
"Katakan." Dean mengijinkannya.
"Menurutku, lebih baik melakukan acara pernikahannya di kota mati saja. Jadi, anak-anak yang ada di sana bisa ikut bergembira," usul Widuri.
"Bagaimana menurut kalian berdua?" tanya Dean pada Indra dan Niken.
__ADS_1
"Menurutku, begitu memang lebih baik," sambut Niken.
"Baik. Nanti kita pindahkan acaranya ke sana." Dean menyetujui.
"Lalu bagaimana dengan penyelidikan kalian hari ini?" Tanya Sunil.
Yabie menoleh pada Dean. Membiarkan pamannya yang bercerita. Dia lebih tertarik dengan makanan lezat yang dibuat para wanita. Sambil sesekali mengganggu Cloudy yang setia menunggunya memberi tulang ayam.
"Yah, kami sudah bisa memetakan lokasi itu. Sekelilingnya sudah ditandai. Juga tadi ada sesuatu yang menarik."
Dean menceritakan kegiatan mereka hari itu. Semua berpandangan.
"Mungkin perlu tes?" kata Nastiti ragu.
"Tes bagaimana?" tanya Alan.
"Tes untuk memastikan apakah celah-celah itu satu arah atau dua arah seperti di kota mati," jelas Nastiti.
"Ya, aku tau. Tapi tes yang seperti apa?" Kata Dean mengulangi pertanyaan Alan sebelumnya.
"Hemmm, mungkin seperti mengikat Cloudy dan memasukkannya ke sana. Lalu menariknya lagi keluar," jawab Nastiti ragu.
"Lalu kalau Cloudy tidak dapat keluar, bagaimana? Aku tak setuju," kawa Widuri tegas.
"Emmm, ya...." Nastiti terdiam.
"Itu hanya contoh, Widuri. Tidak harus Cloudy juga kok." Niken menenangkan Widuri.
"Kau benar. Itu bisa dicoba. Sekarang, binatang apa yang bisa kita korbankan? Karena kemungkinan terjebak itu lebih besar," ucap Dean.
Alan, Sunil, Michael dan Indra mengarahkan tatapan pada Yabie yang asik mengganggu Cloudy.
Wajah Dean cerah. Bukankah ada banyak domba di padang rumput?
"Yabie, tampaknya kami butuh bantuanmu sekarang," kata Dean lembut, penuh senyuman.
Dean mencondongkan tubuh ke arah Yabie yang duduk di sisi kirinya. Wajahnya berseri-seri.
"Paman, sikapmu ini membuatku merinding. Aku bukan bibi Widuri. Bersikaplah biasa saja."
Yabie mendorong tubuh Dean menjauh.
"Hahahaa... hahahaa...."
Derai tawa pecah di tengah hutan itu.
Senyum Dean tak lepas dari wajahnya yang tampan itu. Dean sengaja memasang senyum terbaiknya untuk merayu Yabie. Umumnya wanita mudah terpikat saat melihatnya tersenyum. Jadi Dean cukup percaya diri.
Yabie mundur.
"Kau ingin bantuan apa? Katakan saja. Aku jadi takut melihatmu seperti ini."
Kembali gelak tawa terdengar. Tapi Dean tak teroengaruh. Dia tetap tersenyum.
"Kami butuh satu dombamu untuk melakukan tes," ucap Dean dengan mengulas senyum terbaiknya.
"Oh, ya Tuhan.... Benarkah kau saudara ibuku? Kau sungguh tak terduga!" kata Yabie. Sikapnya masih waspada.
"Untuk apa? Tes apa?" tanya Yabie.
"Melakukan tes seperti yang dikatakan Nastiti tadi." kata dokter Chsndra tak sabar.
"Bibi Nastiti menyarankan apa?" tanya Yabie lagi.
"Kita berdiskusi sejak tadi, tapi kau tidak menyimak sedikitpun?"
"Hahh.. percuma membicarakan ini.," Niken merasa putus harapan.
Alan mengatakan cara yang tadi dirawarkan Nastiti.
"Waahh, aku harus berkorban lagi." keluh Yabie sedih.
"Bagaimana?" desak Dean.
"Apa boleh buat. Besok pagi kita ke kota mati," kata Yabie. Dia mengangguk setuju.
******
__ADS_1