PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 209. Temuan Baru


__ADS_3

Dean berhenti di titik yang ditandainya. Dia melihat ke sekitar, mencari petunjuk. Tak lama Yabie menyusul. Dia ingin turun ke balik pepohonan di bawah sana. Tapi dicegah Dean.


"Tunggu dulu!" kata Dean.


"Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana."


Dean menjauh sedikit, ingin mematahkan sedikit ranting pohon yang dilihatnya. Tapi Dean tak bisa menjangkau pucuk pohon itu. Ada penghalang transparan yang menutupi pohon itu. Dean kemudian terbang lebih tinggi. Memperhatikan sekitarnya. Itu nyaris tak terlihat..


"Yabie, ke sini!" panggil Dean.


Yabie melesat mendekati Dean yang melayang di udara.


"Coba kau lihat ke arah itu," Dean menunjuk ke satu arah dengan senyum misterius.


Yabie memperhatikan arah yang ditunjuk Dean dengan cermat.


"Tak ada apapun di sana," ujar Yabie bingung.


"Tunggu dan tetap perhatikan!" perintah Dean.


Dean melesat menuju tempat yang ditunjuknya tadi. Lalu dia turun dan menyentuh penghalang transparan di atas puncak-puncak pohon.


"Apa yang kau lihat?" tanya Dean dari kejauhan.


"Hemmm...." Yabie terlihat berpikir.


"Bayangan langit sore!" teriak Yabie.


"Exactly!" seru Dean senang.


Dia lalu melesat menghampiri Yabie.


"Lalu apa yang bisa kau simpulkan dari itu?" tanya Dean.


Yabie menggeleng makin bingung. Dean menarik nafas panjang.


'Bukan salahnya jika dia tak mengerti. Bi hanya bisa mengajarinya cara bertahan hidup di kota mati' batin Dean.


"Kau lihat pohon-pohon di sebelah sana." Dean memutar tubuh Yabie agar bisa menoleh ke arah belang.


"Apakah kau bisa melihat bayangan langit sore pada pohon-pohon itu?" tanya Dean.


"Tidak!" jawab Yabie setelah memperhatikan cukup lama.


"Lalu, menurutmu kenapa pohon di bagian itu bisa membiaskan bayangan langit?" Dean menguji Yabie.


"Tidak tau," jawab Yabie lagi.

__ADS_1


"Apa kau pernah melihat bayangan langit di permukaan laut?" tanya Dean.


Yabie berpikir.


"Ya. Jika laut tenang, kita bisa lihat bayangan langit di permukaan laut."


Tiba-tiba mata Yabie membesar. Wajahnya senang dengan mulut sedikit terbuka, seperti tau sesuatu.


Dean tersenyum, 'Dia mengerti sekarang,' pikir Dean.


"Apakah di situ ada laut, paman? Aku tak melihatnya!" Yabie mencari-cari.


Dean terkejut sesaat mendengar perkataan Yabie. Dia menepuk jidatnya dan memejamkan mata.


'Aku berharap terlalu banyak,' keluh Dean dalam hati.


"Lupakanlah. Intinya, di bawah sini ada sesuatu. Tertutup dan terlindungi oleh sesuatu. Coba kau pegang ini," Dean mengajak Yabie menyentuh permukaan transparan tersebut.


"Paman benar. Ini mirip penutup kota mati," ujar Yabie.


"Akhirnya kau mengerti," kata Dean senang.


"Di bawah sini ada sesuatu. Seperti dunia berbeda juga. Tapi tampilan luarnya bisa menipu kita," jelas Dean.


"Menipu bagaimana?" tanya Yabie tak mengerti.


"Waktu itu aku dan Alan sudah memeriksa hutan ini lebih jauh lagi. Dan karena di sini semata-mata hutan lebat tak tersentuh, maka kami tak menduga ada yang seperti ini."


"Jadi bagaimana kita meneriksa tempat ini?" tanya Yabie.


"Kita tak bisa memeriksanya malam ini. Terlalu gelap," ujar Dean.


Dean terbang perlahan dan terus mencoba menyentuh puncak-puncak pohon. Dan dia berhenti saat dapat menyentuh satu puncak pohon. Dean menebang puncak pohon tersebut. Dilakukannya hal yang sama hingga 3 batang pohon.


"Kita sudah menandai lokasinya. Besok kita bisa memeriksa area sekitar sini."


"Ayo pulang. Ini sudah mulai malam," ajak Dean.


Keduanya terbang menuju rumah di hutan.


*


******


Kang mencari Robert dan mengajak kembali ke rumah mereka lebih cepat. Vivian ditinggal bersama kelompoknya. Langit menggelap dengan tiba-tiba. Kang memegang tangan Robert dengan erat lalu melompat cepat pada jarak yang lebih jauh.


Robert sampai berteriak-teriak. Karena untuk jangkauan lompatan sejauh itu, berarti Kang harus melentingkan tubuhnya lebih tinggi. Bagi Robert, itu seperti menaiki Rollercoster. Naik tinggi dengan cepat lalu menukik turun dengan kencang. Membuatnya ngeri, mual dan pusing.

__ADS_1


Rintik hujan pertama telah jatuh saat mereka tiba di rumah. Semua pintu rumah ditutup. Dan pekerjaan menutup kandang juga sudah jauh lebih mudah. Robert sudah mendisain semua kandang yang dibangun ulang agar mudah dibuka-tutup.


Lalu mereka kembali ke ruang batu bawah tanah di kompleks makam.


Tak ada yang bisa dilakukan Robert selain beristirahat di kamar. Mereka bahkan lupa membawa makanan saking terburu-buru. Apa boleh buat, terpaksa tidur dengan perut kosong.


*


*


Robert terbangun mendengar ketukan pintu kamarnya. Matanya masih mengantuk, seperti orang yang terganggu tidurnya.


"Ya. Masuk saja Kang," jawab Robert sembari duduk.


Kang masuk dan menunjuk-nunjuk ke atas.


"Kau mau melihat pelangi lagi?" tanya Robert heran. Kang mengangguk antusias.


"Hah.... Oke, ayolah," jawab Robert enggan.


Kang menarik tangan Robert dan membawanya ke atas. Suasana terlihat lebih gelap kali ini. Mereka tiba di atas saat kabut berwarna magenta yang magis, menyelubungi hampir seluruh area luar yang terlihat.


'Kabut apa itu? Seberapa bahaya?' batin Robert.


Kang melihat ke arah puncak kuil. Robertpun menoleh ke sana. Dan kembali, seberkas cahaya putih yang sangat terang, memancar jauh tinggi ke angkasa.


'Cahaya apa ini? Sudah dua kali ku alami. Mungkinkah itu sinyal pemanggil atau komunikasi? Seperti orang-orang dulu menggunakan asap api sebangai sinyal bahaya?' pikir Robert.


Cahaya itu hanya muncul setelah kabut magenta menutup area sekitar kubah. Lalu turun hujan yang cukup lebat selama beberapa waktu. Sedikit kilat mewarnai hujan kali ini.


Hanya sekitar 1 jam, hujan sudah kembali reda. Kabut magenta itu sudah hilang. Langit kembali bersih. Tapi masih gelap.


"Ternyata masih malam. Pantas saja rasanya masih ngantuk tadi." gumam Robert.


"Kang, ini masih malam. Tak kan ada pelangi malam hari. Ayo kita kembali tidur," ajak Robert.


Tapi Kang masih terus menatap langit. Robert ikut melihat ke atas sana. Hanya ada langit gelap gulita. Tak ada satupun bintang yang menunculkan diri.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Robert bingung. Kang tak merespon. Dia terus menatap ke atas, seperti menunggu sesuatu.


'Apakah sinar tadi panggilan? Permintaan tolong? Atau apa? Kang seperti menunggu sesuatu muncul di langit.' Robert akhirnya ikut mengamati langit. Sampai kepalanya lelah karena terus mendongak.


Robert melihat sekitar. Dalam kubah itu tak ada hujan. Jadi tanah tetap kering. Robert berbaring di tanah. Menyangga kepalanya dan menatap lurus ke langit.


"Kang, kalau kau mau terus mengamati langit, berbaring begini adalah cara terbaik." panggil Robert.


Kang menoleh. Lalu mengikuti cara Robert dan berbaring di sebelahnya. Dia terus melihat ke arah langit, tanpa memberi petunjuk pada Robert.

__ADS_1


Robert juga tak memaksa. Sambil menemani Kang yang mengamati langit, Robert melanjutkan tidur di sebelahnya. Dia lelah, lapar dan sangat mengantuk. Urusan lain tunggu besok saja. Toh di dalam kubah cahaya ini sangat aman. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.


******


__ADS_2