PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 383. Menemukan Bangsa Cahaya


__ADS_3

Robert dan Sunil terbang lebih dekat ke tempat mengerikan yang mereka lihat dari atas. Tempat penuh cahaya kehidupan yang hampir redup.


Entah desa apa itu. Tapi mereka menggunakan tubuh Bangsa Cahaya sebagai sumber penerangan dan mengikatnya ke tiang-tiang.


Desa itu terlihat sepi. Entah apakah karena hari sudah sangat larut, atau memang penduduknya sedikit. Tapi Sunil dan Robert tak peduli dengan hal itu. Mereka hanya harus menyelamatkan Bangsa Cahaya yang tersisa dan disiksa di tempat itu.


Sunil mendekati sesosok tubuh yang cahayanya mulai meredup. "Bagaimana kalian bisa ada di sini, saudaraku?" tegurnya lembut.


Orang itu membuka matanya, namun dia bahkan tak sanggup lagi untuk mengangkat kepala.


"Kalian pasti keturunan Bangsa Cahaya, sama seperti kami. Minumlah ini untuk memulihkan kondisimu."


Sunil mengeluarkan kendi air dari penyimpanan dan membantu orang itu minum.


Orang itu mendesah lirih. "Terima kasih...."


"Bagaimana kalian bisa disiksa begini? Apakah ini desa Bangsa Cahaya?" tanya Sunil lagi.


"Me-re-ka men-cu-lik kami dari de-sa lain!" jawabnya terbata.


"Berarti ini desa musuh?" tanya Sunil lagi. Orang itu hanya mendehem sebagai jawaban.


"Di mana desamu? Apakah masih banyak keturunan bangsa kita di sana?" tanya Sunil antusias.


"Ja-uh ... aku ti-dak tahu apa-kah ma-sih ada ketu-runan mur-ni yang ter-sisa," jawabnya lemah.


"Bantu dulu dia, kita bicarakan nanti!" seru Robert lewat transmisi suara.


Sunil akhirnya menbantu melepaskan ikatan tangan kaki dan seluruh tubuh orang itu. Disimpannya orang itu dalam penyimpanan.


Masih ada seorang lagi yang terlihat paling muda dan cahaya tubuhnya masih bersinar terang. Tapi dia tepat berada di depan sebuah rumah besar.


Sunil mendekat dengan hati-hati. Mencoba bicara lewat transmisi suara pada anak muda yang terlihat tertidur lelah itu.


"Apakah kau bisa mendengar suaraku, saudara?" sapa Sunil.


Dia harus hati-hati, agar tak menimbulkan keributan. Bagaimanapun juga, pihaknya belum mengetahui kekuatan penduduk desa ini. Dan melihat lima saudara sebangsanya diikat hingga tak berdaya begini, kemungkinan kekuatan yang dimiliki penduduk desa, tidaklah kecil.


"Saudara." Sunil memanggil sambil menyentuh tangannya. Kemudian cahaya tubuhnya berpendar lebih terang.


"Ahh," gumamnya terkejut ketakutan.


Sunil memperhatikan respon itu dengan terkejut. "Ssstttt!" ujarnya sambil memberi isyarat agar dia tak berisik.

__ADS_1


Tapi anak muda itu justru makin ketakutan. Matanya menyiratkan rasa takut yang amat sangat.


Sekejap Sunil tak memahami reaksi itu. Tetapi kemudian dia ingat bahwa mereka belum mengenal dirinya. Mungkin itu sebabnya dia takut.


"Kita satu bangsa, Bangsa Cahaya," bisik Sunil sambil menunjukkan cahaya tubuhnya yang biru terang dan cantik.


Anak muda itu terpana. Mulutnya sedikit terbuka dan melihat tak percaya. "Ka-kalian si-sia-pa?" tanyanya lirih.


"Kami saudaramu dari desa lain. Tak sengaja lewat di sini dan melihat kalian diperlakukan begini. Mari kubantu," jawab Sunil ramah.


Anak muda itu meneteskan air mata. "Ternyata masih ada bangsa kita di tempat lain," lirihnya haru.


"To-tolong warga desa kami. Hanya tersisa sedikit lagi keturunan murni bangsa kita. Selebihnya adalah keturunan campuran yang lemah. Tapi mereka tetaplah saudara yang harus kita lindungi," mohonnya.


"Penguasa memerintahkan kami menyelamatkan kalian. Hal lain akan diputuskan oleh Penguasa Cahaya," jawab Sunil.


Tangannya sudah bergerak memutuskan tali-tali yang menahan tubuh anak muda itu pada tiang.


"Penguasa?" gumam anak muda itu tak mengerti. Sunil mengangguk.


Setelah ikatan itu lepas, anak muda itu segera hilang dalam penyimpanan. Disusulnya Robert yang sedang mengawasi sekitar desa itu.


"Apakah masih ada lagi?" tanya Sunil.


Keduanya lalu melesat cepat ke arah Dokter Chandra dan Naga Tua itu mengawasi dari kejauhan.


"Sejauh ini, hanya menemukan lima orang bangsa kita, Penguasa," lapor Robert.


"Kita kembali ke gua dan merawat mereka dulu!" Dokter Chandra berbalik dan terbang ke arah gunung, di mana gua berada.


"Baringkan mereka di sini," tunjuknya ke lantai gua.


Lima orang itu keluar dari penyimpanan satu persatu. Mereka dibaringkan berjejer. Sunil membantu memberi minum air abadi untuk kelimanya.


"Mereka kehabisan tenaga. Beri mereka pil ini!" Dokter Chandra memberikan lima pil pada Robert. Robert memasukkan pil itu ke dalam mulut masing-masing.


Lima orang itu merasa ragu dan takut untuk menerima obat yang tak diketahui, dan juga dari orang-orang asing.


"Pil itu akan meleleh di dalam mulut dan mengembalikan tenaga kalian secara perlahan," jelasnya.


"Kalian mungkin belum pernah mengenal tentang Penguasa Cahaya. Penguasa Bangsa Cahaya di tempat asal kita, sebelum seluruh bintang hancur berkeping-keping," jelas Robert.


"Tapi di sini ada Penguasa Cahaya. Kami tidak akan membiarkan kalian sendirian lagi," Robert memperkenalkan Dokter Chandra.

__ADS_1


"Jika memang Penguasa Cahaya masih hidup, kenapa dia tak mencari kami? Ratusan tahun kami hidup dalam ketakutan dan telah banyak yang tewas untuk mempertahankan kemurnian darah kami!" protes anak muda yang ditolong Sunil.


Wajah Jenderal So memerah. Tak disangkanya di depan matanya ada yang bersikap tak hormat pada Penguasa Cahaya. Tubuhnya berpendar orange kemerahan. Dari tangannya keluar api.


"Beraninya kau bersikap kurang ajar di depan Penguasa!" teriaknya marah.


Dokter Chandra menyentuh bahunya. "Jenderal So, tenanglah...."


"Mereka sudah mengalami banyak kesulitan dan benar, kita tak ada untuk membantu. Sekarang kita ada, jadi saatnya untuk membereskan masakah ini," ujar Dokter Chandra bijak.


"Kalian ... kalian tak tau kesulitan yang dialami Penguasa, makanya berani bicara omong kosong!" dengus Robert kesal.


Perlahan tubuhnya yang memerah dan api di tangannya, lenyap. Dia kembali seperti Robert yang biasanya.


"Sunil, masih adakah bekal makanan? Beri mereka makan lebih dulu!" perintah Dokter Chandra.


"Ya, Penguasa," sahut Sunil. Diberinya mereka sedikit makanan yang ada. Karena bekal yang dibawa memang tidaklah banyak.


Dokter Chandra terbang ke mulut gua, di mana naga tua itu masih tetap berada di luar.


"Apa kau mau aku membasmi mereka?" tanya Kang Tua.


"Jangan! Kita belum tahu duduk persoalannya. Mereka sedang memulihkan diri di dalam. Setelah itu kita baru bisa bicara dan memutuskan," sahut Dokter Chandra.


"Kau memang pemimpin yang bijak dan cinta damai. Sesuai dengan informasi yang beredar di tempatku."


Naga Tua itu memulai pembicaraan. Dokter Chandra mendengarkan dengan serius. Dia menghormati Naga Tua itu.


"Tapi kau harus tahu satu hal. Saat anak bangsamu diperlakukan tak adil, maka kau harus memberinya keadilan itu. Meskipun itu artinya kau harus berperang. Setelah apa yang mereka alami, kebijaksanaanmu tidak akan cukup memenuhi rasa keadilan dan kekecewaan yang mereka rasakan!"


Dokter Chandra merenungi nasehat Kang Tua. "Aku paham maksudmu. Aku akan mempertimbangkannya," sahut Dokter Chandra.


Dialihkannya pandangan ke arah desa di kaki gunung yang sekarang gelap gulita. "Setelah mendengarkan keterangan mereka, kita bisa membalas orang-orang itu!" ujarnya datar.


"Kenapa tidak sekarang saja, saat mereka masih terlelap?" tanya Naga Tua itu heran.


"Aku tak tahu, apakah masih ada bangsaku yang disembunyikan mereka di dalam rumah-rumah itu dan digunakan sebagai lampu!" jelas Dokter Chandra getir.


Naga Tua itu bisa melihat wajah Dokter Chandra yang muram dan matanya meredup. "Dia pasti sedang sedih saat ini," pikirnya.


"Katakan padaku, saat kau sudah membuat keputusan untuk menyerang mereka. Aku bisa membumi hanguskan desa itu dengan sekali sapu!" Kang Tua berujar datar, namun penuh dukungan.


"Terima kasih. Sifatmu sangat mirip dengan Kang yang kami kenal," balas Dokter Chandra sambil tersenyum samar.

__ADS_1


*******


__ADS_2