
Sebelum senja, tim Dean sudah tiba di kediaman Ketua Kota. Kapal akan berlayar besok. Jadi lebih praktis berada di kota. Sekaligus melakukan perpisahan pula dengan keluarga A di kota pelabuhan.
Suasana makan malam itu tidak terlalu hangat, karena Yoshi tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Sepanjang waktu wajahnya murung, dan irit bicara.
"Jadi bagaimana keputusanmu tentang pria itu?" tanya Dean saat berdiri di teras halaman dalam.
"Seperti yang paman katakan. Aku akan melakukannya," jawab Yoshi.
Dean menarik nafas panjang. Ditelusurinya wajah gadis itu. Ada sedikit garis wajah Bi di sana. Dean tahu, Yoshi tak mudah untuk dekat dengan orang baru. Tapi, memulai pernikahan karena menuruti nasehatnya, juga tidak terasa benar.
"Apa kau menyukai seseorang? Kau bisa katakan padaku. Aku akan bicara dengan ayahmu, jika dia menentangnya." Tanya Dean penuh selidik.
Yoshi menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada."
"Jika tak ada, maka belajarlah membuka hatimu. Jangan berharap terlalu tinggi, nanti kau kecewa. Bagaimanapun, dia hanya manusia biasa."
"Memutuskan menikahi seseorang hanya akan berjalan manis jika kau bisa menerima kekurangan pasanganmu. Karena dibalik kekurangan seseorang, tersimpan kelebihan yang kau mungkin belum menyadarinya."
Yoshi hanya menunduk, mendengarkan.
Dean memberikan nasehat panjang malam itu. Dia hanya berharap Yoshi jadi lebih dewasa dalam hal ini.
"Aku ingin mengucapkan salam perpisahan pada ibumu."
Dean melangkahkan kakinya tanpa menunggu respon Yoshi. Yoshi hanya menatap punggung Dean dari teras. Airmatanya menetes jatuh. Hatinya sakit tak terkatakan. Dia menghela nafas panjang dan berlalu dari sana.
Dean terpekur menatap makam Bi. Matanya bercahaya kemilau keemasan.
"Seperti inilah perjalanan kita Bi. Pada akhirnya bangsa dan peradaban kita musnah. Dan kita semua tercerai-berai. Kau di sini, dan aku akan pergi melanjutkan pencarian pemilik tubuh ini."
"Namun aku bersyukur, kau beruntung memiliki putra dan putri serta suami yang sangat mencintaimu. Aku lega mengetahui kau hidup bahagia. Dan jiwa prajuritmu kau pegang teguh hingga akhir hayatmu."
"Aku... bangga padamu, saudariku."
Dean bergumam sendiri di samping makam Bi. Matanya panas, tenggorokannya tercekat. Namun tak ada setetespun tangis yang tumpah. Bi tak menyukai aroma duka dalam perpisahan.
"Ahh... akhirnya aku menemukanmu."
Suara lembut Widuri membuat Dean mengakhiri waktu "intimnya" dengan Bi. Dean menoleh dan tersenyum.
"Aku mengucapkan perpisahan pada Bi," kata Dean jujur.
Widuri, "Aku juga akan mengucapkan perpisahan."
"Bi, meski aku tak mengenalmu, tapi aku ingin berterima kasih. Karena kau punya saudara sebaik A. Dan karena jiwanya menyatu dengan suamiku, maka aku akan membawanya. Ku harap kau tak keberatan berpisah lagi dengannya. Kau bisa mengawasinya dari bintang-bintang."
Dean memeluk Widuri penuh kasih sayang. Dan bagi A, tujuan hidupnya kini adalah menjaga pasangan ini. Dia tak punya keinginan lain lagi. Pencariannya tentang Bi, berakhir di kota ini.
"Ayo kita berstirahat. Besok, hari yang berat dimulai," ujar Dean.
Keduanya melangkah, meninggalkan makam Bi.
__ADS_1
"Selama kau bersamaku, hari-hariku jadi lebih ringan." Widuri berkata dengan suara manja.
"Jangan menggodaku, nyonya Whittman," ujar Dean sambil mengecup kening istrinya mesra.
Keduanya menyusuri jalan setapak menuju kamar yang disediakan Ketua Kota.
Bayang-bayang gelap pepohonan bergoyang. Desauan angin yang melintasi dedaunan berirama melankolis. Mengantarkan bulan kembali ke peraduannya.
*
*
Pagi itu, setelah sarapan.
Semua sudah siap. Masing-masing orang menyandang tas keperluan pribadi sendiri.
Mereka berpamitan dengan Ketua Kota. Yabie dan Yoshi mengantarkan hingga ke tangga kapal. Kapten Smith telah menunggu di atas dek. Lalu dis turun saat melihat rombongan Dean.
"Akhirnya kalian tiba juga," ujarnya ramah.
"Apakah kami terlambat?" tanya Dean.
"Tidak. Masih sekitar 3 jam lagi kita baru berangkat," jawab Kapten Smith.
"Apakah kami sudah boleh masuk?" tanya Dean lagi.
"Ya. Masuklah. Dan jaga wanita kalian masing-masing." Nasehatnya.
""Baiklah, akan kami perhatikan. Terima kasih," kata Dean.
"Ehh, tunggu dulu!" Kapten Smith menghentikan Dean. Dia berjalan ke samping kanan Widuri.
"Apa ini binatang peliharaanmu?" tanyanya menyelidik.
"Ya. Namanya Cloudy." jawab Dean.
"Kenapa?" tanya Dean balik.
"Kawan, kau tak bilang membawa binatang peliharaan sebesar ini. Belum lagi, dia adalah hewan buas."
Kapten Smith berekspresi rumit. Dean sangat mengenal akting seperti itu.
"Kami akan memberinya makan sendiri. Jadi, berapa ongkosnya?" tanya Dean to the point.
"Kawan, ini bukan hanya tentang ongkos dan makanan." Kapten Smith mencoba menjelaskan maksudnya.
"Lalu apa?" tanya Dean tak sabar.
"Aku percaya bahwa peliharaanmu ini tidak seganas makhluk liar di hutan. Bahwa orang lain akan aman, selama tidak mengganggunya. Bukankah begitu?" Kaptes Smith meminta kepastian.
"Ya! Lalu?" reaksi Dean dingin.
"Aku justru takut peliharaanmu ini jadi incaran orang lain," ujarnya dengan suara rendah.
__ADS_1
"Jadi, kau melarang dia naik?" Dean terlihat tak senang.
"Tidak... tidak! Jangan salah faham. Aku mau kasih jalan keluar bagus untukmu," ujarnya dengan senyum misterius.
"Apa? Katakan saja. Untuk apa bertele-tele?" ujar Dean kesal.
"Kau ku ijinkan menitipkan dia di kabinku. Di sana, dia aman dari incaran orang jahat," katanya dengan seulas senyum licik di wajahnya.
"Dan, berapa besar ongkos yang kau minta untuk fasilitas itu?" tanya Dean langsung ke pokok persoalan.
"Ahhh,, tenang saja. Tidak mahal. Aku masih segan pada Ketua Kota ini," ujarnya lagi.
Dean tak bereaksi. Ditunggunya Kapten Smith menuntaskan maksud hatinya.
"Ehemmm... apa kau masih punya keju yang waktu itu? Buatku, bayaran segitu juga cukup antar teman." Kapten Smith menunjukkan senyum lebar di wajahnya.
'Heh! Si licik ini. Jelas-jelas harga keju itu sangat mahal. Tapi sikapnya seolah sedang bermurah hati'. Dean merutuk dalam hatinya.
"Widuri, berikan aku keju milikmu," ujar Dean.
"Oh, baiklah."
Widuri membuka tas dan mengeluarkan sebungkus keju yang memang sangat enak itu. Diserahkannya keju itu pada Dean.
"Ini ongkos Cloudy. Dan aku akan datang secara berkala untuk memberinya makan." Dean menyodorkan bungkusan keju itu.
Kaptem Smith terlihat sangat gembira menerima keju ysng sangat mahal itu.
"Ku peringatkan! Jangan macam-macam dengan Cloudy... Aku tidak bertanggung jawab jika kau mengganggunya." Dean memperingatkan dengan serius.
"Tentu saja. Ayo kita ke atas. Kau bisa lihat ke kabinku."
Kapten Smith berjalan dan memandu jalan menuju kabinnya.
"Masuklah!"
"Kalian bisa lihat dan pilih kandang mana yang kalian inginkan."
Kapten Smith menyibak tirai di samping kanannya. Tampak beberapa kandang di situ. Ada yang kecil, ada pula yang besar dan sesuai ukuran Clioudy.
"Yang besar ini saja," tunjuk Dean.
"Pilihanmu bagus sekali." puji Kapten Smith.
Widuri memasukkan Cloudy ke kandang. Hatinya berat berpisah dengan binatang kesayangannya itu.
"Kau di sini dulu untuk beberapa waktu yaa....: bisik Widuri.
Cloudy seakan mengetahui situasinya. Dia hanya menatap Widuri dengan mata polosnya.
"Tenang saja, nyonya. Kami sudah berpengalaman soal binatang peliharaan." Kalian bebas ke sini jika ingin memberi makan."
Dean dan Widuri akhirnya meninggalan Cloufy di sana.
__ADS_1
******