PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 311. Menyelamatkan Bayi


__ADS_3

Malam hari, Dean, Robert, Alan dan Sunil kembali pergi ke pulau terdekat. Dan sepertinya belum ada yang datang untuk memeriksa. Pulau itu masih mengeluarkan asap di sana-sini. Rumah-rumah dan bangunan lain sudah jadi puing.


Empat sekawan itu terbang rendah untuk memeriksa lebih teliti lagi. Benar-benar tak ada yang tersisa. Setelah meyakinkan itu, mereka menyisir pantai. Kapal-kapal yang kemarin terbakar, sebagian tinggal rangka yang mengapung di air.


Keempatnya bekerja keras mengangkat bangkai-bangkai kapal dan bangkai ikan yang memenuhi pantai. Semua dikumpulkan di satu titik. Lalu kembali dibakar dengan api biru Sunil. Dalam sekejap, semua berubah jadi debu.


"Pekerjaan di sini sudah selesai. Mau pulang atau bagaimana?" tanya Alan.


"Bagaimana kalau kita lihat pulau lainnya dulu?" Dean meminta pendapat teman-temannya.


"Dalam gelap begini, bagaimana mencari pulau?" tanya Robert.


"Kita cari saja. Tak perlu berteori."


Dean sudah melesat tinggi. Dengan mata keemasannya dia mencoba melihat ke laut sekitarnya.


"Sana!" tunjuknya.


Keempatnya kembali melesat cepat menuju titik yang dimaksud Dean. Pulau itu lebih besar lagi. Tapi kerugiannya jelas lebih besar juga. Tak ada bangunan yang selamat. Semua terbakar habis.


Mereka mengelilingi pulau. Beberapa jenazah gosong ditemukan di pantai. Dean mencari area kosong untuk mengubur mereka.


"Dean, apa kau dengar itu?" tanya Alan.


"Dengar apa?" tanya Dean lagi. Tapi dia menajamkan telinganya.


"Tangis bayi!" ujar Dean dan Alan serempak.


Keduanya mencari-cari asal suara tangisan bayi yang memecah keheningan malam itu.


"Di sini, Dean!" panggil Alan.


Dean mendekat.


"Itu!"


Alan menunjuk sesuatu yang hitam gosong menempel di tebing, tepi pantai. Suara tangisan serak bayi itu berasal dari balik sosok hitam itu.


Dean membuat lubang di samping. Mencoba mengeluarkan benda hitam itu. Perlu sedikit usaha ekstra hati-hati agar gerakan Dean tidak melukai bayi yang ada di dalam.


Dan yang mereka lihat, sungguh mengejutkan. Menggetarkan hati. Di situ terlihat seorang ibu yang menyembunyikan anaknya di dalam cekungan tanah. Lalu menutup lubang cekungan itu dengan punggungnya, untuk melindungi sang bayi.


Air mata Alan menetes. Dia meraih bayi yang terus menangis itu.


"Cup ... sayang. Cup ... cup. Anak baik, pintar, kau harus bersyukur memiliki ibu yang begitu mencintaimu," bisik Alan menahan tangis.


"Hei, kami mendengar—"


Kata-kata Robert terputus.


Dia dan Sunil tiba di tempat itu. Mereka melihat Dean tercenung sedih pada satu jasad yang terbujur kaku di pasir. Jasad itu melengkung dengan tangan terulur, seperti memeluk sesuatu. Lalu ada Alan yang menangis sambil membujuk seorang bayi di pelukannya.


"Apakah ini seperti dugaanku?" bisik Sunil pada Robert.


Robert mengangguk setuju. "Seorang ibu yang mengorbankan diri untuk melindungi bayinya."


"Baiknya kita kubur ibunya bersama yang lain," ujar Sunil sambil menepuk pundak Dean.


"Jangan sedih. Kita harus bersyukur masih ada yang selamat dari pulau ini," timpal Robert.

__ADS_1


Alan mengangguk. Bayi itu sedikit tenang setelah mengisap-isap jari Alan dan memegangnya erat.


"Kita bawa dia pulang ke pulau. Jafi6 mari cepat bereskan pekerjaan di sini," ujar Robert.


Dean membawa jasad wanita itu terbang ke arah lubang yang sudah digalinya. Dibaringkannya jasad itu dengan baik.


"Masih ada lagi?" tanya Dean.


"Tak ada. Kami sudah menyisir pantai dua kali," jawab Sunil.


"Baik, kita tutup kubur mereka sekarang." Dean mengangkat tanah dan menimbun 7 jasad yang mereka temukan malam ini.


Robert dan Sunil mencari bongkahan batu besar, untuk jadi penada makam.


"Semoga kalian tenang di sana. Kami akan menjaga bayi ini dengan baik." Dean berbisik lirih.


Kudia dia melesat naik untuk memeriksa seluruh area. Semua sudah bersih. Baik bangkai ikan, maupun bangkai kapal, sudah lenyap jadi debu.


"Sudah larut. Kita harus kembali," kata Dean.


"Ya, bayi ini kelaparan," sambung Alan.


*


*


Malam itu, kediaman Leon menjadi heboh. Tangisan bayi menggema ke seluruh ruangan. Leon dan Jane bersedia merawatnya. Jane malah dengan segera memasak nasi sesuai ajaran Widuri.


Bayi itu menjadi tenang setelah disuapi air tajin.


"Besok, nasi yang tadi, ditambahkan cincangan halus sayur. Masak hingga lunak dan jadi bubur encer. Kita bisa coba suapi dia dengan itu," ujar Widuri.


"Mari kita istirahat. Simpan tenaga untuk besok," saran dokter Chandra.


Semua setuju dan mulai berbaring di lantai di ruang tengah. Berbagai hal berkecamuk di pikiran mereka. Bagaimana situasi Jakarta sekarang ini? Dapatkah mereka melalui serangan panas kemarin dengan selamat? Bagaimana dengan negara-negara lain?


*


*


Pagi kedua yang sepi tanpa kicauan burung.


Dokter Chandra duduk di teras samping, menghadap kandang ayam. Indra membawakan dua cangkir teh bunga dan duduk di sebelah dokter Chandra. Sarapan belum selesai, jadi mereka menikmati teh hangat dulu.


"Bagus kita masih bisa mendengar Kokok dan Kote ayam di sini. Jika tidak, alangkah sepinya dunia ini." gumam Indra.


Dokter Chandra mengangguk.


"Yah ... kita baru menyadari arti keberadaan sesuatu, setelah dia pergi ...."


Indra terdiam mendengarnya. Kalimat itu memiliki arti yang sangat dalam.


"Apa rencana Dean hari ini?" tanya dokter Chandra.


Indra menggeleng. Dia tidak ikut serta dalam diskusi, karena menyadari kekuatannya sendiri tidaklah cukup. Jadi Indra lebih memilih membantu pekerjaan lain di rumah.


"Mereka di mana?" tanya dokter Chandra.


Di sana." Indra menunjuk ke arah halaman depan.

__ADS_1


Dokter Chandra meneguk tehnya hingga habis. "Terima kasih tehnya. Aku mau ke sana dulu."


Indra mengangguk mengerti. Dilihatnya dokter Chandra melangkah cepat ke arah yang ditunjuknya.


"Ada apa gerangan? Apa Dokter Chandra juga mau ikut pergi ke sana? Yahh ... bagaimana pun dia tetaplah seorang dokter." Indra tenggelam dalam pikirannya.


*


*


"Kalian di sini, rupanya," tegur dokter Chandra.


"Ya Dok. Kami sedang mendiskusikan renca—"


Dokter Chandra mengakat tangannya menyuruh Robert diam.


"Jika kalian mau pergi memeriksa pulau lain lagi, aku ikut!" tegas dokter Chandra.


"Tapi Dok, kami tak ingin menyulitkan Anda," bujuk Dean.


"Aku bisa terbang juga. Apa Kau lupa siapa Aku?" mata dokter Chandra berkilauan sejernih berlian.


"Penguasa, kekuatan Anda telah dibagi-bagikan pada kami. Yang Anda miliki saat ini, hanya sedikit. Kami hanya ingin menjaga ...."


"Kalian takut aku mati karena kelelahan?" dokter Chandra menyunggingkan senyum.


"Kalian semua, berkumpullah di sini. Aku akan mengambil kembali kekuatan yang kupinjamkan waktu itu," perintah dokter Chandra.


"Baik, Penguasa," jawab Robert cepat.


"Ma, kau segera ke sini. Penguasa memanggilmu!" panggil Robert pada Leon.


Tak butuh waktu lama, enam orang itu telah berkumpul. Lima orang duduk berjejer menghadap dokter Chandra. Mereka sedang berkonsentrasi.


Indra mengawasi aktifitas itu dari halaman samping. Dia melihat berkeliling. Berharap tak ada yang mengetahui apa yang terjadi di tempat itu. Tapi kemudia dia terkejut. Lalu buru-buru menuruni tangga batu menuju ke bawah. Dia melihat Sulaiman sedang mengarah ke tempat itu.


"Sulaiman," sapanya begitu sampai di depan pria itu.


"Aku butuh bantuanmu," kata Indra cepat. Ditariknya tangan Sulaiman untuk kembali.


"Tapi aku mau mengantarkan ini. Hasil panen kemarin sangat banyak. Kalian pasti membutuhkannya. Aku ingin berterima kasih pada Sunil," tolak Sulaiman.


"Mereka telah pergi sejak tadi. Dan ini, biar ku bawa ke rumah, setelah itu, kau bantu aku di sana," ujar Indra.


Dengan cekatan diambilnya keranjang sayur dari tangan Sulaiman. Dia segera berlari ke atas, mengantar sayur pemberian itu. Lalu kembali secepatnya. Benar saja. Sulaiman menyusul naik.


"Ayo!" ajak Indra segera.


Tiga anak tangga lagi, maka aktifitas di pelataran itu akan terlihat.


"Buru-buru sekali?" tanya Sulaiman.


"Ya. Kalau tidak, telingaku bisa dijewer," Indra menunjukkan mimik menyedihkan. Bibirnya melengkung turun.


"Kau tidak terlihat menyedihkan," bantah Sulaiman. "Wajahmu lucu," tambahnya tertawa.


"Hah ... kau tak tau bagaimana kejamnya para wanita kalau keinginannya tak terpenuhi," keluh Indra.


Mereka berjalan turun bukit sambil mengobrol. Sesekali derai tawa keduanya terdengar hingga ke atas.

__ADS_1


*******


__ADS_2