
"Bagian pagar ini sudah dilewati kabut hitam. Itu sebabnya domba-domba itu hilang." Alan menunjuk temuannya.
Dean dan Sunil mendekat, memeriksa.
"Kita tak mungkin membuat pagar lagi. Setiap 2 minggu kabut hitam itu selalu menembus pagar yang kita buat," ujar Dean kesal.
"Ya. Sungguh buang-buang waktu, tenaga dan kayu." Sunil juga kesal.
"Kita pagari area padang rumput sekeliling kandang saja. Bagaimana juga kita akan segera pergi, jadi gak usah buang-buang tenaga lah." usul Alan.
"Lebih baik begitu." Dean setuju.
"Ayo kita kembali," sambungnya lagi.
Mereka menerobos area semak dan ilalang tinggi untuk kembali ke pondok di tengah padang rumput.
"Kalian sudah kembali? Bagaimana pemeriksaan pagarnya?" tanya Dewi yang baru kembali memetik sekeranjang tomat dan sayuran lain.
"Seperti biasa. Ada area pagar yang sudah dilewati kabut hitam." Sunil menjawab cepat.
"Oh." Dewi mengangguk faham. Itu sudah biasa terjadi.
"Sepertinya kabut hitam makin mendekat bukan? Apa kalian ingin memasang pagar lagi di sana?" tanya Dewi ingin tau.
"Tidak. Itu percuma saja." Alan menggeleng.
"Lalu?" Dewi menaikkan alisnya dengan penasaran.
"Kau tunggu saja," teriak Alan berlari mengejar Dean dan Sunil yang mulai masuk hutan kecil dekat kebun Lemon.
Dewi memandang kepergian ketiganya lalu menghela nafas. Dia lantas menyibukkan diri membersihkan hasil panen pagi itu untuk digunakan nanti. Selepas itu masih harus menggiling gandum lebih awal, karena Widuri dan Nastiti pergi ke gua untuk memeriksa daging-daging yang diawetkan.
*
"Nastiti, kau coba ini."
Widuri menyodorkan seiris tipis daging berbumbu yang sudah mereka awetkan.
Nastiti membuka mulut dan mengunyahnya.
"Ini sangat enak. Kita bisa langsung memakannya ataupun diolah lagi."
Mata Nastiti sampai terpejam saat menikmati kunyahannya. Wajahnya tampak bahagia.
"Biar ku coba juga."
Widuri mengiris daging berbumbu itu lagi lalu memasukkan kemulutnya sendiri.
"Waahh iya. ini benar-benar enak. Asinnya pas, cuma kurang pedas," komentarnya sambil mengunyah.
__ADS_1
"Widuri, semua daging ini bisa awet karena ruang penyimpanan ini sangat dingin. Tapi apa masih akan awet jika dipindah ke tempat penyimpanan Dean? Apa ruang penyimpanan di kalungnya itu punya suhu sedingin ini?" tanya Nastiti.
"Mana aku tau. Tapi kalau Dean bilang bisa, ya udah. Gak perlu kita ruwet dan mumet. Ntar kalau semua bahan makanan kita busuk, tinggal kita panggang saja dia. Hihihiii.." Widuri tertawa kecil. Nastiti nyengir sambil mengangkat jempol tanda setuju.
"Ambil satu ikat atau 2?" tanya Nastiti.
"Satu aja. Biar yang lain ikut mencoba. Yang lain kan untuk persediaan kita."
Widuri memeriksa daging-daging yang diawetkan dengan cara dibumbui, dibungkus kain lalu diikat tali dan digantung hingga kering di ruangan dingin itu. Banyak sekali daging kering berbumbu yang bergantungan di rak-rak ruang penyimpanan itu.
Semua stok daging beku yang ada di ruang itu sebelumnya, sudah mereka olah sebagai persiapan perjalanan.
Bulir-bulir gandum sudah bersih dari kulitnya, jadi tidak akan menghabis terlalu banyak tempat lagi di ruang penyimpanan Dean. Beberapa benih sudah dikemas untuk ditanam di tempat baru jika mungkin.
Buah-buahan matang sudah dipetik dan dimasak menjadi selai dan dimasukkan dalam tabung-tabung batu yang dibuat Dean. Mereka sudah membuat satu kendi besar cuka dari buah apel yang melimpah di kebun.
"Sebelum berangkat, baiknya kita petik lagi semua lemon yang cukup besar dari kebun," saran Nastiti.
"Iya. Aku juga mau cari apel, plum dan memeriksa pohon jagung di pojok itu, apakah sudah ada yang tua lagi," sahut Widuri.
"Petik aja semua jagung itu. Yang muda bisa kita sayur juga kan? Dari pada hilang percuma ditelan kabut hitam," tambah Nastiti.
"Ya sudah. Ayo kita kembali."
Widuri keluar ruangan diikuti Nastiti. Widuri menyentuh dinding di kiri pintu. Menekannya halus lalu terdengar suara pintu batu bergeser dan menutup ruangan itu. Mereka lalu berjalan menyusuri lorong gua yang dingin.
"Aku mau isi air dulu dari cucuran air di dinding itu."
Beberapa waktu lalu, Dean dibantu roh A membuat sebuah ruangan baru di dinding gua dan memindahkan tubuh A yang kaku ke sana. Atas saran yang lain, A setuju untuk membuat lubang di lantai sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir. A mengambil lambang bintang yang menempel di jubah lalu hilang ke dalam kalungnya. Dia menutup makamnya dengan beberapa keping batu lalu diukir dengan huruf-huruf yang tak dimengerti semua orang.
"Dulu aku tak percaya jika air ini punya khasiat dan dapat menyegarkan tubuh dengan cepat. Tapi sekarang, rasanya tak ingin melewatkan mengisi tempat minum jika sedang ke sini," tutur Widuri jujur.
"Coba tanya A, mungkinkah dia punya ide bagaimana membawa air ini untuk diperjananan kita nanti," saran Nastiti.
"Kau cerdas sekali," puji Widuri.
Mereka bergantian mengisi tempat minum, lalu melangkah keluar gua.
*
"Ku rasa cukup segini dulu. Nanti terlambat membuat pagar, hilang lagi seekor domba, maka Dewi akan mengomel seharian." Sunil tersenyum lebar.
"Baiklah, ayo kita bawa."
Dean mengangkat semua kayu yang mereka tebang hanya dengan menggerakkan tangannya ke atas. Mereka bertiga berjalan menuju kandang domba lalu sibuk membuat pagar mengelilingi kandang dan sedikit area padang rumput.
*****
"Kalian siapa? Kenapa tidur di sini?" Pria bertopeng dengan mata biru itu bertanya. Sementara pria-pria lain masih menodongkan senjata mereka.
__ADS_1
Robert dan semua anggota timnya baru menyadari bahwa mereka tertidur lagi pagi ini. Tidak. Matahari bahkan sudah mulai naik. Setidaknya sudah jam 8 jika melihat posisi miring cahaya yang jatuh ke tanah.
"Apa kalian yang membangunkan kami? Kami tersesat selama 2 hari di sini. Terimakasih sudah membangunkan kami." Robert berucap tulus.
Mendengar kata-kata Robert, pria bertopeng itu bicara dengan salah seorang anggota rombongannya. Sesaat tiupan angin kencang menerpa tempat itu menepis rambut putih panjang mereka. Penampakan itu membuat anggota tim Robert ternganga tak percaya.
"Kuping mereka lancip, seperti makhluk elf di filem-filem," bisik Niken pada Angel yang duduk di sebelahnya. Angel mengangguk gugup.
"Kami harus menyelidiki kalian dulu. Jadi silahkan ikut kami ke desa." Pria bertopeng itu memutuskan.
"Kami tidak berbuat salah. Tidak menyinggung kalian, kenapa harus ikut?" Bantah Robert.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari hutan sihir ini jika tidak ikut dengan kami." Pria bertopeng itu menjelaskan dengan tenang. Tak terlihat niat jahat sedikitpun.
"Kita ikuti saja dulu. Mungkin saja hutan sihir ini memang membuat kita berputar-putar. Kalau tidak dibangunkan oleh mereka, kita akan terus tertidur bukan?" bisik dokter Chandra pada Robert. Robert tercenung sejenak memikirkan kata-kata dokter Chandra.
"Baiklah. Tapi biarkan kami bereskan dulu semua barang bawaan kami. Dan kami tak mau ditahan tanpa kesalahan," kata Robert tegas.
Pria bertopeng itu mengangguk lalu bicara dengan pria di sebelahnya.
Setelah memuat semua barang ke punggung kuda, mereka siap untuk jalan. Dikawal beberapa orang berkuda, mereka menyusuri hutan, sementara pria bertopeng dan 3 orang lain mengambil jalan lain masuk ke dalam hutan.
Keluar dari hutan, pemandangan padang rumput luas terhampar. Karena Robert menuntun kuda, perjalanan itu jadi lebih lambat. Orang-orang bertelinga lancip itu tampak gusar, tapi tak bisa berbuat apapun.
"Cepat sedikit. Kita harus melewati batas sihir sebelum sore, atau kita akan terjebak di sini." Seru seseorang dari arah depan.
"Apakah masih jauh?" tanya Robert yang tidak mengerti.
"Ya. Lihat padang rumput yang luas ini. Kita harus melewatinya sebelum menemukan sungai dan pintu keluar." jawab Pria berkuda di sebelah Robert.
"Bukankah kita sudah keluar dari hutan sihir?" Robert bertanya lagi.
"Area hutan sihir itu sampai ke pintu keluar. Setelah melewati pintu, baru aman. Jadi percepat langkah." Pria itu memutar kudanya memeriksa barisan belakang.
"Kita harus bergegas. Sebelum sore harus sudah lewat padang rumput ini!" teriak Robert pada anggota timnya.
"Bagaimana kalau kita naik kuda saja. Kita bisa lebih cepat sampai lalu beristirahat," usul Silvia.
"Tak ada cara lain. Kita coba saja. Tapi jangan terlalu memaksa." Robert akhirnya setuju.
Mereka berhenti sejenak dan merapikan letak barang-barang. Lalu naik ke atas kuda masing-masing. Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan. Meski tidak bisa dipaksa berlari kencang, namun kecepatan berkuda seperti ini memang jauh lebih baik ketimbang berjalan kaki.
Mereka menemukan sungai kecil setelah melewati padang rumput. Kuda-kuda dibiarkan minum dan istirahat sebentar. Lalu mereka kembali berkuda menyusuri tepi sungai hingga matahari makin condong ke barat.
""Cepat, dan hati-hati!" teriak pemimpin jalan di depan.
Mereka kini melewati sebuah terowongan batu tempat air sungai berasal. Kuda-kuda berjalan pelan dan hati-hati menginjak bebatuan di sungai kecil itu.
Hanya sekitar 5 menit, rombongan itu sudah keluar dari terowongan batu. Ketika pemimpin jalan turun dari kuda, yang lain mengikuti. Kemudian mendaki tangga batu yang tiba-tiba ada di sisi kiri terowongan, sembari membimbing kuda. Di kedua sisi undakan batu itu dipenuhi pepohonan semata.
__ADS_1
Cukup lama mereka berjalan mengikuti jalan itu hingga tiba di sebuah tempat terbuka serta diterangi sinar matahari sore yang kemerahan. Di depan mereka terpampang pemandangan yang menakjubkan.
***