PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 278. Bumi?


__ADS_3

Begitu tubuh mereka menembus cahaya, mereka kembali memasuki lorong panjang yang gelap. Tubuh mereka serasa ditarik dan disedot dengan kuat.


"Pegangan yang erat!" teriak Dean.


Teman-temannya yang lain mulai mengeluarkan ekstra tenaga agar pegangan tangan Dean dan Sunil tidak terlepas.


Akhirnya kelima orang itu berhasil menguatkan posisi mereka. Siku mereka saling mengait dan terkunci satu sama lain. Kelompok yang membentuk lingkaran itu terombang-angin ke kanan kiri dan kadang menabrak dinding worm hole lalu terlontar dengan hebat. Kemudian mendapatkan tarikan lagi.


"Berapa lama lagi kita harus melewati ini? Worm hole ini jauh lebih mengerikan dibanding yang pertama," kata Alan.


"Iya, badanku sakit semua," keluh Michael.


"Sebenarnya untuk apa kita berpegangan begini?" tanya Alan lagi.


"Agar kita tak terpisah. Aku cuma khawatir jika worm hole ini memiliki cabang. Lalu kita terpisah ke cabang ruang dan waktu yang berbeda. Maka untuk bertemu lagi, pasti lebih sulit."


Dean menjelaskan alasannya.


???


"Okelah. Alasanmu bisa diterima."


Alan menambahkan lagi.


"Tapi alangkah baiknya, kalau kau berterus terang saja. Katakan saja kalau kau takut kehilanganku."


"Tck! Menjijikkan!" ujar Michael.


"Dalam keadaan begini masih aja bercanda," gerutu Sunil.


"Pppffftttt... hahahaaa...." Alan tertawa senang bisa menganggu teman-temannya.


Yang lain hanya bisa menggeleng dalam kegelapan.


"Kita tak tau berapa lama kita begini. Dari pada mati bosan." Alan membela diri.


15menit berlalu.


"Gggrrroookkkk...."


"Apakah ini seperti dugaanku? Si tukang tidur yang tak kenal tempat?" kata Alan.


"Dean, lebih baik Sunil dimasukkan ruang penyimpanan dulu," ujar Michael.


Dean, "Bagaimana aku tau yang mana Sunil? Gelap begini."


Alan membuka telapak tangannya. Seberkas cahaya merah kecil menyala sebentar, lalu padam.


"Ini Sunil di sebelah kananku," kata Robert.


"Biar aku saja yang menyimpannya," sambungnya lagi.


"Dia ada di kiriku. Oke, akan ku lepaskan dia," ujar Michael.


"Sudah ku lepaskan!" kata Michael.


Robert memasukkan Sunil yang tertidur ke ruang penyimpanan.


Lingkaran itu terputus. Michael berusaha menggapai tangan Robert dalam kegelapan.


"Aku mendapatkanmu. Tekuk sikumu Robert," kata Michael.


"Aku di sini," ujar Robert di kejauhan.


"Lalu tangan siapa yang ku pegang ini?" tanya Michael bingung.


Alan langsung menyalakan lagi api di telapak tangannya, diarahkan ke asal suara Michael.


"Hah?!" jerit Michael saat melihat tengkorak mengering di sebelahnya. Dia langsung melepaskan pegangannya.


"Mayat siapa itu?" tanya Michael takut.

__ADS_1


Semua terdiam. Berbagai pemikiran memenuhi kepala mereka. Apakah ada pintu teleport lain yang terhubung dengan jalur mereka? Lalu pelintasnya mengalami benturan keras dan tewas.


Atau kemungkinan yang lebih mengerikan. Pintu keluar teleportasi di ujung sana tertutup. Jadi mereka hanya akan terus berada di worm hole selamanya? Lalu menjadi tengkorak kering seperti yang tadi itu?


"Mengerikan!" ujar Michael.


"Bagaimana jika pintu tujuan teleportasi ini telah ditutup?" tanya Alan.


"Jangan berandai-andai yang mengerikan seperti itu, Alan!" sergah Michael jengkel.


"Itu bisa saja terjadi...."


"Robert!" teriak Michael jengkel.


"Telingaku bisa rusak kau teriaki!" protes Robert. Disikutnya Michael yang ada di sebelah kanannya.


"Hushhh! Kalau mau bertengkar itu, mesra sedikit kenapa? Biar enak dengarnya," goda Alan.


"Ehemmm...."


Deheman Dean menghentikan Michael yang masih ingin ribut. Mereka menunggu apa yang yang ingin dikatakan Dean.


"Menurutku, kita ini masih ditarik ke satu arah. Jadi, harusnya masih ada satu pintu tujuan yang terbuka. Dan kita sedang mengarah ke sana."


Teman-temannya hening. Mereka setuju dengan pendapat Dean. Tubuh mereka masih terasa disedot kencang ke satu arah. Semoga saja itu dunia yang lebih baik.


Setengah jam kemudian.


"Aku lapar," cetus Alan.


"Aku haus dan lapar," sambung Michael.


???


"Hahahaaa...."


Tawa keduanya membahana di lorong worm hole.


Semua memperhatikan. Seberkas cahaya terang kecil terlihat di ujung lorong.


"Itu tujuan kita. Bersiaplah!" seru Dean.


Mereka kini dapat saling melihat wajah teman-temannya. Lorong itu tak lagi gelap gulita.


Tapi, makin dekat dengan pintu cahaya yang makin lebar itu, mereka makin kesulitan untuk mendekat. Seakan ada angin yang berputar-putar melindungi pintu keluar.


"Tetap berpegangan!" teriak Dean mencoba mengalahkan bisingnya deru angin di sekitar.


"Kita harus menggunakan tenaga dan melesat secepatnya ke sana. Atau kita tak pernah bisa melewati rintangan angin itu!" Robert mengatakan pemikirannya.


"Mari kita coba. Tujuan kita, bagian tengah cahaya itu!" Dean setuju.


"Dalam hitungan ketiga!" kata Alan.


1... 2... 3!


Wuuushhhhh!


Keempat orang itu melesat cepat, terbang melintasi putaran angin di sekitar pintu keluar.


"Bersiaaappp!" teriak Robert.


Wuuuuusshhhhh....


"Aaaaaaaaaaahhhhh...."


Teriakan mereka menggema karena daya dorong dari lesatan mereka yang sangat cepat.


"Brukkk!!!"


Aduh... pinggangku...." keluh Michael.

__ADS_1


"Akhhh sialan! Puihh...! Sepatumu tepat di wajahku!" Alan mendorong kaki entah siapa yang jatuh ke wajahnya.


"Bisakah kalian turun dulu sebelum mengomel?"


Robert merasa tubuhnya remuk. Dia jadi bemper dari ketiga temannya saat mendarat.


"Dean?" panggil Robert.


Dia tak mendengar gerutuan Dean sedikitpun setelah mereka jatuh.


"Dean!" panggil Alan. Dia juga tak mendengar suara Dean sejak tadi.


Mereka melepaskan diri dari posisi jatuh yang ambigu itu.


Krakk!! Krakk!


Sebuah besi dengan dua lubang diarahkan ke wajah mereka. Dibelakang sana, wajah kaku seseorang menatap dingin.


Robert yang paling cepat memahami situasi. Mereka sedang ditodong senapan laras panjang. Dia tak mengenal jenis senjata itu. Tapi jika melihat pakaian gelap dan perlengkapan yang dikenakan orang itu, harusnya mereka adalah pihak keamanan.


'Senapan? Apakah kami sudah kembali ke bumi?' pikirnya.


Ada rasa senang dibalut kekhawatiran di hatinya. Ditolehnya teman-temannya yang juga telah ditodong senjata. Robert memperhatikan tempat mereka mendarat. Akhirnya dia mengerti.


Tak heran mereka langsung tertangkap. Pintu keluar teleportasi itu ternyata berada dalam satu ruangan besar dan tertutup. Artinya, penduduk dunia ini telah mengetahui keberadaan pintu teleport. Dan menjaganya seperti menjaga perbatasan wilayah.


Seseorang berbicara melalui radionya dalam bahasa Inggris.


"Ada empat orang masuk dari pintu 5" lapornya.


"Bawa ke sini!" jawab suara di seberang.


Dean, Alan, Sunil dan Robert saling pandang. Sedikit kilatan harapan muncul di hati mereka. Karena yakin bahwa mereka telah kembali ke bumi. Hanya saja, tidak tau sedang berada di negara mana. Dan mungkin saja, pintu teleport ini berada dalam pengawasan ketat militer.


Alan ingin buka mulut, tapi Robert menggeleng. Namun Alan tak peduli.


" Petugas.... Aku haus sekali. Bisakah kalian memberiku sedikit air?" tanya Alan.


Brukk! Tubuhnya dipukul dengan gagang senjata sebagai jawaban atas pertanyaannya.


"Aduuhhh, sakit.... Kalian kejam sekali." Alan meringis menahan sakit di punggungnya. Sedikit kilatan merah membayang di matanya.


"Jangan lakukan apa-apa dulu. Kita lihat mereka siapa dan mau apa." Dean mengingatkan melalui transmisi suara.


"Oke!" jawab teman-temannya.


"Duduk dalam barisan!" perintah salah seorang yang menodongkan senjata.


Dean, Robert, Michael dan Alan bangun dari posisi berbaring mereka. Lalu duduk dengan benar dan berdampingan.


Tangan mereka diikat ke belakang. Lalu mereka digeledah. Mereka tak menemukan apapun pada tubuh Sunil, Alan dan Dean.


Sampai pada giliran Robert. Salah seorang dari petugas berseragam itu menemukan pisau komando yang disimpan Robert di pinggangnya. Dia menyitanya.


"Hei, itu milikku!" protes Robert.


Plakkk!


Satu tangan kasar mendarat keras di pipi Robert.


"Argghhh. Cuihh!"


Robert meludahkan darah dari mulutnya.


"Robert!" seru Michael ngeri dan kasihan.


"Bawa mereka!" teriak seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan.


Keempat sekawan itu ditarik berdiri dan didorong untuk berjalan ke pintu.


******

__ADS_1


1 Chapter 🙏


__ADS_2