
Petang hari.
Ivy, Indra dan Ketua Suku Cahaya tiba. Mereka dapat datang lebih cepat karena menggunakan pintu teleportasi.
Malam itu mereka berkumpul dan berdiskusi.
"Jika suku kalian sering diganggu oleh bangsa lain, bagaimana kalau kalian tinggal di dunia kecilku saja. Kalian juga mudah untuk ke sini. Dan jika jalur ke tempat cucuku sudah terbuka, maka kalian juga bisa berdagang ke kota itu. Bukankah jauh lebih menjanjikan?" tawar Kang Tua.
"Kau serius?" Dokter Chandra tertarik dengan tawaran Naga itu. Awalnya dia berpikir untuk memindahkan Suku Cahaya ke hutan larangan. Tapi tempat tinggal Naga Tua ini terlihat lebih menjanjikan untuk ditinggali.
"Tentu saja. Itupun jika mereka bersedia. Tempat itu masih sangat luas. Kita pasti bisa berbagi dan tinggal berdampingan!" ujarnya optimis.
"Apakah di sana tidak ada yang datang menyerang?" tanya Ketua Suku Cahaya.
"Selama ratusan tahun aku tinggali, belum ada yang datang ke tempat itu!" sahut Kang Tua.
"Jadi selama ini kau hidup sendiri?" tanya Niken.
"Ya. Tapi aku bisa pergi ke dunia lain dengan pintu teleportasi!" jawabnya.
"Hebat sekali. Jika Anda tak keberatan, dan Penguasa mengijinkan. Kami bersedia pindah ke sana!" jawab Ketua Suku Cahaya.
"Baiklah. Itu rencana yang bagus. Tapi selama beberapa waktu ini, kau harus dirawat dulu, agar kesehatanmu pulih," putus Dokter Chandra.
"Baik, Penguasa!" Ketua Suku itu mengangguk patuh.
"Besok, kurasa yang pergi ke Kota Pelabuhan bersama Kang Tua adalah Dean, Robert, dan Sunil. Apa kalian bisa?" tanya Dokter Chandra.
"Bisa!" Dean menjawab cepat. Robert dan Sunil mengangguk.
"Naiklah, mari kita beristirahat lebih cepat, untuk persiapan perjalanan kalian besok!" perintah Dokter Chandra.
Semua membubarkan diri. Indra dan Niken menghilang lebih dulu. Robert dan Sunil berjalan keluar.
"Aslan, apakah kau mau menginap di tempat kami?" tanyanya.
"Benarkah? Tentu saja. Aku sudah lama ingin melihat pemandangan sekitar dari tempat kalian!" ujarnya senang.
"Kang Tua, sayangnya hanya ada lantai bawah ini sebagai tempatmu beristirahat," jelas Dokter Chandra.
"Kami belum memiliki banyak rumah!" tambahnya lagi.
"Aku bisa di sini saja," kata Ketua Suku Cahaya.
"Kau pasien yang harus kurawat. Lebih mudah bagiku jika kau berada di tempat tersendiri!" tolak Dokter Chandra.
"Tenang saja. Aku bisa beristirahat di mana saja," jawabnya santai.
Malam itu berlalu dengan damai.
__ADS_1
*
*
Dean, Sunil, Robert dan Kang Tua berdiri di pintu teleportasi yang sudah diatur Aslan, mengikuti koordinat yang diberikannya.
"Kami berangkat!" Kang Tua melambaikan tangan. Keempatnya melesat masuk ke pintu teleportasi.
Aslan dan Indra kembali. "Jadi apa pekerjaan kita hari ini?" tanya Indra.
"Memindahkan ikatan gandum yang tersisa ke rak penyimpanan!" sahut Aslan.
"Ayo kubantu!" Indra melesat keluar gua untuk melihat pekerjaan yang masih belum selesai, karena banyaknya hasil panen mereka.
"Banyak sekali gabah kita. Mungkin bisa dijual di pasar, di tempatmu!" usul Indra.
"Sebaiknya tanyakan dulu pada Kakek!" balas Aslan.
"Kau benar. Jadi mari susun saja semuanya. Soal penggunaannya, bisa ditanyakan nanti!" Indra sepakat dengan pendapat Aslan.
Mereka bekerja dengan kompak. Dokter Chandra mengobati Ketua Suku Cahaya di rumahnya. Marianne kembali sibuk di dapur seperti biasanya. Dia tak menduga Widuri bisa menjahit sendiri kain-kain yang telah dipotong Marianne, menjadi baju-baju bayi. Semua kembali ke rutinitas semula.
"Kakek, hasil panen kita sangat banyak!" tunjuk Aslan ke langit-langit lantai satu.
"Kurasa, kau sudah mampu untuk melintasi jalur teleportasi kembali ke rumahmu. Bawakan kelompokmu sedikit bahan makanan ini. Pertanian mereka belum akan panen hingga beberapa bulan ke depan," saran Dokter Chandra.
"Benarkah?" ekspresi Aslan terlihat senang.
"Baik, Kek. Aku akan bertanya pada paman Indra, domba mana yang bisa disembelih!" Aslan keluar rumah dan mencari Indra.
"Dia mau ke mana?" tanya Marianne dari dapur.
"Mencari domba untuk disembelih. Dia mau kembali ke pulau itu. Apa kau tak ingin melihat anak cucu para pengikutmu di sana?" Dokter Chandra mengajuk hati Ivy.
"Aku akan ikut dengannya!" Mata Marianne berbinar-binar.
"Tapi jangan katakan kau masih hidup. Mereka tahu kau dan putrimu sudah tiada," pesan Dokter Chandra.
"Akan kuingat!" Marianne mengangguk. Marianne menyiapkan sedikit buah dan bahan makanan lain untuk dibawa.
*
"Kalian sudah siap? Pastikan gandum yang dibawa, cukup untuk semuanya!" pesan Dokter Chandra.
"Sudah, Kek. Aku sudah menghitung ulang," jawab Aslan.
"Cepatlah kembali! Kami membutuhkan pengetahuanmu untuk kembali ke Indonesia!" Dokter Chandra menekankan hal itu.
"Iya, Kek," sahut Aslan patuh.
__ADS_1
"Ayo!" Marianne menyelubungi Aslan dengan cahaya hijau kuning keemasan. Keduanya melayang memasuki pintu teleportasi, dan menghilang di sana.
"Tempat ini kembali sepi!" celetuk Indra.
"Setelah memindahkan Suku Cahaya, akan semakin banyak yang berlalu lalang di sini!" Dokter Chandra mengangguk-angguk penuh harapan.
*
*******
"Tempat ini bagus sekali!" Dean berdecak kagum. "Tidakkah kau ingin memanennya?" Jiwa pekerjanya meronta-ronta melihat ladang luas siap panen itu, dibiarkan begitu saja.
"Bukankah nanti Suku Cahaya kalian akan pindah ke sini. Biarkan saja mereka yang mengerjakannya," sahut Kang Tua.
"Baiklah. Terserah Anda saja!" Dean akhirnya mengangguk.
"Aku ingin bertanya dulu. Jika kita pergi ke sana melalui pintu teleportasi, bagaimana kita kembali?" tanya Robert.
"Bukankah harusnya melalui pintu teleportasi juga? Di sana tak ada pintu teleportasi!" Sunil mengingat dengan jelas hal itu.
"Bagaimana caramu datang dan pergi ke suatu tempat?" tanya Dean pada Kang Tua.
"Aku melewati pintu teleportasi. Lalu kembali masuk ke jalur yang sama. Itu bisa dilakukan, meskipun tak ada pintunya. Asalkan kau mengingat dengat jelas letaknya!" ujarnya yakin.
"Tidak adalah satu pintu teleportasi yang bisa kau bawa ke Kota Pelabuhan? Itu akan memudahkan mereka yang di sana, untuk datang ke sini. Seperti pintu teleportasi dari dunia kecil kami yang terhubung dengan pintu ini!" jelas Robert.
"Bisa saja. Sebentar aku pilih pintu yang sebelumnya kusimpan!"
Kang Tua berubah menjadi Naga, dan memilih-milih pintu yang ingin digunakannya sebagai pintu penghubung dari Kota Pelabuhan, ke tempat itu.
"Kurasa, pintu ini bisa dipakai. Tempat di sana tak terlalu menjanjikan!" ujarnya.
"Benarkah? Tempat apa itu?" tanya Sunil ingin tahu.
"Entah. Tadi kulihat hanya tanah tandus dan gersang, tanpa tanda kehidupan," jawabnya.
"Baiklah. Kita bawa pintu itu. Tapi, bisakah Anda menghubungkannya dari sana ke sini? Tak ada Ta yang mengerti tentang koordinat di pintu teleportasi!" Ujar Robert.
"Seharusnya, kita membawanya serta," sesal Sunil.
"Kalian pikir, bagaimana aku bisa pergi ke sana kemari jika tak bisa menentukan arahnya?"
Naga Tua itu terkekeh sendiri. Dia merasa pemikiran Sunil, Robert dan Dean begitu lucu.
"Baiklah. Jika kau sangat yakin kita bisa kembali melalui pintu itu, mari kita pergi!" ajak Dean. Dia merasa mereka sudah terlalu lama di tempat itu.
"Oke. Mari kita pergi!"
Sang Naga tua berubah menjadi manusia, untuk memasuki pintu teleportasi itu. Keempatnya segera lenyap di balik cahaya.
__ADS_1
*******