PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 230. Silvia dan Mustafa


__ADS_3

Sudah lebih 2 bulan Silvia mengasuh putri Mustafa, Yasmeen. Hidupnya dipenuhi warna serta kasih sayang dari gadis kecil itu. Mustafa juga memberi perhatian istimewa padanya.


Silvia mengajari keduanya banyak hal baru. Bukan hanya menulis, membaca dan berhitung. Tapi juga tentang alam semesta. Tentang bumi, bulan, matahari, bintang dan semua planet.


Dengan Mustafa, Silvia sering diajak berdiskusi tentang bisnis. Bukan hanya tata cara pembukuan yang rapi, tapi Silvia juga memberi masukan cara bisnis baru. Seperti waralaba atau membuka restoran, hingga usaha pengiriman surat dan barang dari kota ke kota. Ide-ide Silvia sangat dihargai Mustafa.


Bagi Mustafa, Silvia bukan hanya pengasuh putrinya, tapi juga penasihat bisnisnya. Itu sebabnya Silvia dilimpahi kecukupan di kediaman itu. Dia dianggap sebagai bagian dari keluarga itu.


Di kediaman itu, Silvia punya halamannya sendiri. Kamarnya tidak berada dalam bangunan yang sama dengan rumah besar. Di situ dia bebas bereksperimen apa saja untuk melatih Yasmeen.


Halaman yang mulanya kosong dan gersang itu, kini dipenuhi tanaman-tanaman kecil dalam pot-pot tanah liat. Itu adalah hasil percobaan Silvia dan Yasmeen. Mereka awalnya membuat kompos dari limbah dapur. Kemudian meminta aneka macam biji-bijian dan pot tanah liat pada Mustafa.


Mustafa melihat sendiri putrinya sangat antusias menabur bibit. Lalu bersorak gembira saat melihat tunas hijau mungil keluar dari dalam tanah. Dia menyiramnya dengan rajin pagi dan sore hari. Yasmeen tak sabar menunggu saatnya panen. Terutama untuk tanaman semangka yang menjalar di halaman kamar Silvia.


Mustafa menyadari kelebihan Silvia. Bukan hanya menyemarakkan rumah dengan aktifitas bermanfaat, tapi juga membuat bisnisnya jadi lebih terarah dengan pembukuan yang rapi. Dia mulai mencatat banyak hal. Dan karena orang lain tak mengerti tulisan dari masa depan itu, maka catatannya aman dari pencuri rahasia.


Mustafa mengunjungi kediaman Silvia sore itu. Keduanya duduk di bangku yang ditata di halaman. Mengawasi Yasmeen menyirami tanaman dibantu Omaar dan Kareem.


"Aku akan pergi selama 3 minggu. Tetaplah di rumah, jangan kemana-mana," kata Mustafa.


"Hemmm.. oke. Tapi, bisakah kau mencari tau tentang teman-temanku yang mungkin terdampar di tempat lain?" tanya Silvia penuh harap.


Mustafa mengangguk.


"Aku sudah meminta orang-orangku untuk memperhatikan berita-berita seperti itu. Jika ada, maka mereka akan melaporkan secepatnya."


"Terima kasih," ucap Silvia lirih.


Sudah beberapa bulan. Tak ada satupun kabar tentang yang lainnya. Harapan Silvia mulai menipis. Mungkinkah tak ada yang selamat selain dirinya? Dia terus menepis pikiran negatif itu dari kepalanya. Tapi seiring waktu berlalu, harapan itu memang mulai sirna.


"Ini untuk persediaanmu selama aku pergi."


Mustafa menunjuk kotak yang ada di meja. Silvia membuka kotak itu.


"Manisan buah kering dan kacang?" gumam Silvia heran. Tapi dia tak bertanya apa-apa.


"Simpan ini di dalam. Anak-anak tak boleh ikut serta memakannya. Mereka punya milik mereka sendiri," pesan Mustafa.


"Baiklah...."


Silvia bangkit dan mengangkat kotak itu ke dalam kamarnya. Lalu kembali duduk di teras.


"Aku sudah menyimpannya," kata Silvia sambil tersenyum.


Mustafa mengangguk, tersenyum lembut dan mata kelabu kehijauannya menatap Silvia intens. Silvia menunduk dengan pipi memerah karena jengah.

__ADS_1


"Jangan memandangiku seperti itu...." pinta Silvia lirih. Hatinya bergejolak setiap kali berada dalam moment seperti ini.


Mustafa menghela nafas dan tersenyum samar. Dia suka gadis di depannya ini. Yang pipinya selalu bersemu merah setiap kali dipandanginya.


"Apakah kau sudah menikah saat di duniamu?"


Mustafa melontarkan pertanyaan tak terduga. Hal itu sukses membuat Silvia terjatuh dari bangku yang diduduki saking terkejutnya.


"Oh, maaf.... Pertanyaanmu mengagetkanku."


Silvia bangkit dari lantai. Menepuk-nepuk debu dari roknya. Membenarkan letak bangku lalu kembali duduk dengan sopan.


Reaksi Silvia diluar dugaan Mustafa. Dia menganggap itu sebagai jawaban "ya".


'Apakah pria yang bernama Leon itu suaminya?' pikir Mustafa gundah.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Silvia.


Dia melihat Mustafa terdiam setelah dirinya jatuh tadi. Reaksinya dingin dan tak acuh. Jika orang lain, pasti sudah tertawa terbahak-bahak melihat orang jatuh dari bangku begitu saja.


"Hei... kenapa kau melamun?"


Silvia menjentikkan jarinya untuk membuyarkan lamunan Mustafa.


Nada suaranya tetap lembut, dan pertanyaan itu menyiratkan perhatian. Tapi sinar matanya tidak menunjukkan itu. Dan Silvia menyadarinya.


"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Silvia khawatir.


Mustafa menggeleng, lalu berdiri dari duduknya. Langit sudah memerah. Anak-anak sudah selesai bermain air di halaman itu. Mustafa mengajak mereka kembali ke rumah besar. Anak-anak itu berlarian dengan girang.


Sebelum Mustafa mencapai ujung teras, tetdengar suara Silvia.


"Aku belum menikah," kata Silvia.


Langkah kaki Mustafa terhenti di udara. Dia lama menatap ujung sepatunya, seakan itu terlihat sangat menarik. Tapi sebenarnya, Mustafa senang menenangkan gejolak hatinya yang serasa ingin melompat terbang. Kemudian dia berbalik melihat Silvia yang sejarak 3 meter darinya.


Mustafa tak mengatakan apapun. Tapi mata abu kehijauan itu melemparkan tatapan penuh makna. Senyum tipisnya yang lembut dan alis pedangnya yang tegas, menawarkan kehangatan yang sangat dikenal Silvia.


Itu tatapan cinta! Tubuh Silvia bergetar. Ada keinginan di hatinya untuk lari menghambur ke pelukan sosok pria yang dirindukannya itu. Tapi Mustafa jelas bukan Ethan.


Bahkan meski dia sangat ingin dan tidak memedulikan Mustafa atau Ethan, tapi pria itu nyata-nyata sudah beristri. Silvia adalah gadis dari dunia moderen, dimana poligami adalah hal tabu dan selalu ditolak wanita.


Silvia menunduk dalam. Airmatanya mengalir tanpa aba-aba.


"Ada apa denganku?" gumamnya tak mengerti.

__ADS_1


Silvia berbalik untuk masuk ke kamar. Kakinya tersandung kaki meja, membuatnya terhuyung ke arah belakang.


"Akhh!" seru Silvia tertahan. Dia sudah pasrah akan jatuh terduduk di lantai.


Grepp!


Tangan kekar dipenuhi rambut halus keriting sigap memeluknya. Akhirnya mereka jatuh bersama.


Mustafa terus mengawasi Silvia yang menunduk setelah pernyataannya, melihat gadis itu berbalik dan limbung. Sementara dia berdiri terlalu jauh untuk menahan agar tidak jatuh. Jadi, pilihan yang diambil Mustafa adalah menjaga agar tubuh Silvia tidak membentur lantai batu yang keras.


Dipeluknya gadis itu dengan erat. Silvia meronta saat menyadari berada dalam pelukan seseorang.


"Sssttt... diamlah. Ini aku," bisik Mustafa tepat di telinganya.


Hal itu sontak membuat tubuh Silvia kaku dan gugup. Rasa geli di telinganya akibat hembusan nafas Mustafa, benar-benar membuatnya gugup dan gelisah. Tapi dia tak berusaha melepaskan diri lagi.


Silvia dapat merasakan kepala Mustafa di punggungnya. Nafasnya yang hangat, ikut menghangatkan punggung Silvia. Dentaman irama jantungnya terdengar jelas. Dan entah bagaimana, irama jantung Silvia mengikuti irama yang didengarnya.


"Aku... mencintaimu...," bisik Mustafa dengan suara serak.


Dia bangkit dari lantai dan mengangkat tubuh mungil Silvia dengan kedua tangannya. Membopongnya masuk ke kamar. Silvia memeluk leher Mustafa. Malu untuk melihat mata hijau kelabu itu. Dia hanya melihat dada bidang di depannya yang terus memperdengarkan irama indah yang menghipnotis kesadarannya.


Mustafa menatap gadis itu dengan tatapan sayu yang memohon. Silvia mengangguk tanpa sadar. Membuka bibirnya dan menerimanya.


*


*


Renjana Senjakala


*K**idung* dersik mengalun...


Irama asmaraloka...


Senja nan lindap mengaburkan kesadaran...


Bersama hilangnya raja langit...


Berganti pendar cahaya cinta gemintang


Rindu itu itu luruh dalam renjana....


******


1 chapter 🙏

__ADS_1


__ADS_2