PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 357. Pria Muda dengan Panah Pembunuh


__ADS_3

Sebelum cahaya matahari muncul, sebuah pulau besar terlihat.


"Itu!" tunjuk Robert.


"Hemmm, mari kita cari pulau kecil yang agak sepi," ajak dokter Chandra.


"Di sana. Lihat!" tunjuk Dean ke arah pulau kecil yang sepi, berdinding agak terjal, serta masih dipenuhi pepohonan.


"Ayo!"


Ketiganya turun ke tempat tersebut. Tempat itu memang sunyi. Tak terlihat satu orang pun di situ. Jadi mereka bisa beristirahat sejenak.


"Aku masih merasa mengantuk dan lelah. Dapatkah kita tidur sejenak?" tanya Robert.


"Mari naik ke atas tebing itu dulu. Jadi, jika ada yg datang ke sini pun, kita tak langsung terlihat," saran dokter Chandra. Dua orang itu mengikuti. Mereka naik ke atas tebing. Berbaring di tanah kering, diteduhi.tajuk pohon rindang.


Tatkala cahaya mentari muncul di timur, tiga pria itu masih terlelap dalam mimpi. Bahkan meski kicauan burung mulai ramai terdengar, ketiganya tetap tidur dengan pulas. Mereka menang kelelahan, terbang begitu jauh semalaman tanpa henti.


"Sinar matahari yang mulai hangat menyelinap lewat dedauan dan jatuh tepat di wajah Robert. Dengan malas, dia menggeliat bangun. Hari sudah hampir siang. Perutnya juga sudah lapar.


"Dean, sudah siang. Dokter, sudah siang!" Robert membangunkan kedua temannya.


"Hari sudah tinggi," komentar dokter Chandra.


"Baiknya sarapan dulu. Baru pikirkan bagaimana mau ke pulau utama," saran Robert.


"Ketiganya mengeluarkan bekal makanan dari penyimpanan. Makan dalam diam, sambil berpikir.


"Tadi malam, saat kita melihat pulau besar itu, kenapa rasanya agak berbeda dengan perkiraanku?" kata Dean.


"Berbeda bagaimana?" Robert rak mengerti.


"Mala dewa itu adalah negara dengan kawasan wisata yg luas di sepanjang pantai. Kotanya adalah kota yang lumayan maju. Tapi yang terlihat tadi malam, tidak menunjukkan hal itu," jelas Dean.


Dokter Chandra mengeluarkan sebuah buku dari penyimpanan.


"Itu, buku yang kutemukan di kamar dokter."


Dean mengambil buku dan mulai membacanya. Matanya membesar sekarang.


"Apa isinya?" tanya Robert penasaran.


"Kau baca sendiri!" Dean menyerahkan buku catatan itu pada Robert.

__ADS_1


Tak lama kemudian, matanya ikut melotot dan membesar.


"Pantas saja kita dikurung. Ternyata ada manusia dengan mama sama di dunia ini!" gerutu Robert.


"Beruntung mereka tak mendapatkan apa-apa." tambahnya lagi.


"Berarti kita ada di bumi yang berbeda!.Tapi bagaimana bisa? Bukannya kalian hanya menggeser sedikit wilayahnya? Tp kenapa justru bergeser waktu dan dunia?" gumam Dean yak mengerti.


"Sudahlah.. Sekarang ada titik terang. Selanjutnya mau bagaimana?" ujar dokter Chandra menenangkan.


"Kita cari sesuatu yang mungkin. bisa dibawa ke dunia kecil!" putus Dean.


"Baiklah ... ayo cepat selesaikan inj, lalu berangkat." Dokter Chandra sudah berdiri dari duduknya. Dilihatnya lait membiru yang terbentang.


"Hei, lihat itu!" tunjuk dokter Chandra gembira.


"Apa sih?" Dean ikut melihat ke arah yang ditunjuk. Matanya ikut berbinar senang.


"Ada apa? Kau kelihatan senang sekali," komentar Robert.


" Air surut. Ada permukaan pasir yang muncul. Kita hanya perlu berjalan kaki ke kota itu!"


Dean turun dari bukit itu dengan tak sabar. Dokter Chandra mengikutinya sambil tersenyum. Robert juga ikutan berlari mengejar Dean yang sudah tiba di pantai.


Dengan samtai, ketiganya menapaki permukaan pasir yang mulai panas. Pulau utama itu tak jauh lagi. Mereka melewati para nelayan yang membawa hasil laut pulang.


Dean terus saja mengomentari yang dilihatnya. Meski dia sendiri belum pernah ke Maladewa, tapi sebagai orang yang bekerja di bisnis perhotelan kelas dunia, dia pernah mendengar bagaimana majunya industri wisata negara ini. Tentu, termasuk hotel-hotel dan penginapan dengan standar kelas atas.


"Hei, sudahi komentarmu. Ini di dunia yang berbeda. Mungkin, wisata tak laku saat ini." potong Robert.


"Sekarang pikirkan bagaimana kita mau membeli barang-barang yang kau inginkan itu!" sambungnya lagi.


"Kita coba tukar dengan mutiara saja!" sahut Dean enteng.


"Kawan, negara ini di kelilingi laut. Mereka tak kesulitan mutiara di sini. Kerang pun melimpah!" ledek Robert.


"Ah, kau benar juga."


Dean mulai kebingungan sekarang. Dia tak punya alat pembayaran.


"Kita coba saja, dulu. Mutiara di dunia kecil itu sangat bagus!" Dokter Chandra membesarkan hati Dean.


"Kita juga punya beberapa obat yang bisa kita jual, jika harganya cocok." Dokter Chandra menambahkan.

__ADS_1


"Ahh hahaha ... kau dengar itu? Jangan pesimis dulu!" tegur Dean.


"Itu, di depan ada pertokoan!" tunjuk Robert. Dean sudah tak sabar untuk segera menemukan yang dicarinya.


"Lihat di sana! Banyak pengunjung di tempat itu!" ujar Dean. Mari lihat dulu!" ajak Dean.


Seorang pria muda, mencoba menjual barang miliknya sambil berpromosi dan menunjukkan cara penggunaan alat yang dijualnya.


"Dia menjual busur dan anak panah. Tidakkah itu sedikit ketinggalan jaman?' Dean kembali mengeluarkan kritikannya.


"Dok, coba lihat anak panah itu!" Robert menggamit lengan dokter Chandra agar bisa lebih mendekat lagi.


Dokter Chandra meraih anak panah itu dengan mata menbesar. Ini adalah anak panah yang sama dengan yang menusuk Dean. Ini buatan adiknya.


"Mau kau jual berapa?' tanya dokter Chandra dengan suara bergetar. "Coba kulihat dulu busurnya," pinta dokter Chandra sambil menunjukkan wajah penuh minat.


"Apa anda biasa menggunakan busur dan anak panah?" pria muda itu terlihat ragu untuk menyerahkan busurnya.


"Bukankah kau hanya ingin menjualnya? Tak masalah jika aku tidak mahir memakainya 'kan?" desak dokter Chandra. "Apa kau mahir menggunakan ini?"


"Ya!" Pria muda itu mengambil anak panah lain dan memasangnya di busur. Diangkatnya senjata itu dan diarahkan pada dokter Chandra.


Semua orang berseru dengan terkejut. Tapi kemudian dibelokkannya tubuhnya dan mengarahkan bidikan pada papan bidik yang tersedia. Anak panah itu melesat cepat dan menembus bulatan tengah papan bidik. Para penonton berseru ramai, memuji dan bertepuk tangan.


"Tidak buruk!" gumam dokter Chandra. Dia melangkah mendekati pria itu. Diulurkannya tangan, meminta busur yang seperti enggan dilepas oleh pria itu.


"Biarkan Pak Tua itu mencobanya!" teriak penonton ramai. Tontonan itu jadi sangat seru. Dari promosi, berubah jadi tanding memanah. Akhirnya, pria muda itu menyerahkan busurnya.


"Kau kelihatan sangat menyayangi benda ini. Kenapa dijual jika tak rela?" tanya dokter Chandra sambil lalu.


Dia sedang bersiap untuk mengangkat busur yang lumayan besar itu. Tangannya digerak-gerakkan sedikit, untuk melemaskan otot.


"Aku sudah sangat lama tak memegang busur dan panah. Maafkan aku," ujarnya sambil tersenyum pada penonton.


"Ayo Pak Tua, kalahkan dia!" penonton mrneriakkan semangat dengan riuh rendah. Ada punya yang tertawa melihat penampilan dokter Chandra yang tidak meyakinkan.


"Apa penguasa bisa melakukannya?" bisik Dean.


"Apakah tak kau perhatikan? Anak panah itu, serupa dengan yang menancap di bahumu!" tukas Robert.


"Apa?" seru Dean terkejut.


"Ssshhhh ... jangan berisik!" Para penonton menegur Dean yang tiba-tiba berteriak dan mengganggu konsentrasi dokter Chandra.

__ADS_1


Akhirnya Dean memperhatikan pria muda yang ingin menjual busur dan anak panah itu. "Siapa dia?" pikir Dean.


*******


__ADS_2