PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 292. Bumi Dua


__ADS_3

Seperti biasa, tim itu berdiskusi saat sarapan. Mencoba mencari jalan keluar dari tempat aneh itu.


"Dean pengkhianat itu tak berguna. Untuk apa dibiarkan hidup?" tanya Indra.


"Betul! Dia sama sekali tak mau bicara jujur tentang dunia ini. Lebih baik lemparkan saja ke dalam jurang itu?" timpal Leon jengkel.


Semua mata melihatnya dengan pandangan benci. Hu Da hanya diam. Dia masih saja bersikeras tutup mulut.


"Kau mau bicara apa tidak? Jika masih diam dan tidak berguna, maka kami akan membuangmu!" ujar Alan.


Hu Da masih diam. Tapi Sunil sudah tak sabar. Ditariknya orang yang masih terikat itu, dan dibawanya ke tempat lain.


"Z, So, kalian ikut aku!"


Alan dan Robert pergi mengikuti Sunil ke tempat yang lebih jauh. Anggota tim lain hanya melihat sekilas, kemudian melanjutkan sarapan.


"Kau benar-benar tak mau menolongnya Dean?" tanya Widuri. Dean menggeleng.


"Berhasil ataupun tidak rencana Alan dan Sunil mengorek keterangan dari Hu Da, kita tetap harus pergi dari sini. Tapi kemana?" tanya Niken.


Kemudian terdengar jeritan-jeritan dari kejauhan. Makin lama, suara berisik itu makin sayup. Akhirnya berhenti sama sekali. Kemudian Alan, Sunil dan Robert kembali.


"Dia tak mengatakan hal lain. Kukira dia mungkin memang tak tau apapun tentang dunia ini," ujar Robert.


"Tidak!" Alan menggeleng.


"Dia ingin kita terkubur di dunia ini. Sinar matanya jahat dan bengis."


"Tapi tadi dia mengatakan bahwa sekarang adalah tahun 3561. berdasarkan penanggalan yang dipakai di basecamp."


"Tahun apa lagi itu?" Indra menggeleng heran.


"Kau sudah membakar jasadnya?" tanya Dean pada Sunil.


Sunil mengangguk. "Sudah. Dia habis hingga jadi debu. Tak ada kemungkinan lagi bagi jiwanya untuk bangkit dan mengganggu kita."


"Oke. Mari kita pergi dari sini."


Dean menyimpan lagi semua perlengkapan ke dalam kalung penyimpanannya.


Indra dan Niken kembali ke dalam penyimpanan Sunil. Leon dan Jane bersama Alan. Sementara Widuri bersama Marianne dan Cloudy bersama Dean.


"Kita pilih pergi ke arah mana Dean?" tanya Dokter Chandra.


"Bagaimana kalau kita telusuri sepanjang tebing ini? Jika tak membuahkan hasil hingga malam, kita bisa lanjutkan esok melewati tebing curam ini."


Dean menunggu tanggapan teman-temannya.


"Ku pikir, begitu ada bagusnya. Dengan begini, setidaknya kita bisa sedikit tau kenapa mereka memilih membuat basecamp di sini." Dokter Chandra setuju.


"Bagaimana menurut kalian?"


"Kita lakukan seperti itu saja. Bagaimanapun saat ini kita benar-benar buta tentang tempat ini. Jadi harus diselidiki dulu."


Robert setuju. Sunil, Alan dan Michael ikut mengangguk. Mereka memeriksa kembali lokasi tempat mereka bermalam. Semua yang dikeluarkan sudah disimpan lagi.


Enam orang itu kemudian melesat cepat, menyusuri tebing.


*

__ADS_1


*


Dean berhenti. Yang lain ikut berhenti. Di depan sana, ada Dua bangunan batu berdiri. Sebuah kendaraan terbang seperti yang membawa mereka waktu itu, terparkir di depan salah satu bangunan.


"Apakah itu bangunan dimana kita datang?" Tanya Robert.


"Ku kira memang begitu," jawab Michael.


Jadi, mau bagaimana?" ujar Alan.


"Bagaimana kalau kita tanyai dulu salah seorang dari mereka? Bisakah kau menculiknya?" tanya Dean pada Alan.


Alan senang sekali. "Bisa!"


Dia langsung melesat cepat.


Dean dan timnya menunggu beberapa saat. Dan Alan kembali tak lama kemudian. Dia memanggul tubuh seorang petugas di bahunya.


"Cepat sekali."


Dokter Chandra mengomentari.


"Hehehee ... dia sedang berjalan sendiri. Jadi ku pukul tengkuknya dan menculiknya ke mari."


Alan cengengesan lucu.


"Sebaiknya kita menjauh dari sini. Bagaimanapun, dia sedang pingsan dan tak bisa ditanyai," ujar Dean.


Mereka terbang tinggi dan melintasi bangunan tersebut.


"Dean, dia sadar!" teriak Alan.


"Ughh ... kepalaku sakit sekali," keluhnya.


Alan menurunkannya dari pundak. Memeganginya agar tak meluncur jatuh.


"Siapa kau? Lepaskan tanganmu!" ujarnya marah.


"Oke!"


Alan melepaskan pegangannya. Orang itu langsung meluncur jatuh ke daratan.


"Aaaaaaaaaaaa!"


Teriakan panjang ketakutan bergema.


Robert melesat cepat untuk menangkap tubuh itu sebelum remuk menghantam permukaan tanah.


"Ughhh! Ya Tuhan. Aku belum mati?" ujarnya kaget.


Robert membawanya kembali ke tengah-tengah anggota tim lain.


"Kau masih ingin dilepaskan?" tanya Alan.


Orang itu terkejut. Dia mulai menyadari keadaan yang sebenarnya. Kepalanya menoleh untuk melihat. Hatinya gentar saat memastikan bahwa dirinya sedang berada di ketinggian dikelilingi orang-orang asing yang bisa terbang sebebas burung.


"Siapa kalian?" tanyanya keheranan.


"Dari bumi mana kalian berasal?" sambungnya bingung.

__ADS_1


Gantian Dean dan teman-temannya yang bingung mendengar pertanyaan seperti itu. Mereka berpandangan.


"Apa maksudmu dengan bumi mana? Tempat ini berada di bumi mana?" tanya Michael keheranan.


"Ini bumi dua. Kalian tak tau?" tanya petugas, sama bingungnya.


"Memangnya ada berapa bumi di dunia ini?" Dokter Chandra memijit keningnya.


"Negara apa ini?" tanya Dokter Chandra.


"Kalian berasal dari mana? Bagaimana bisa tidak tau tentang kehancuran dunia seribu tahun yang lalu?" Dia memandang tim Dean dengan seksama.


"Lalu ada berapa bumi di dunia kalian ini?" tanya Dean, mengabaikan pertanyaan orang itu.


"Untuk apa aku menjawab pertanyaan orang asing? Konyol sekali!"


Dia tersenyum mengejek.


"Untuk nyawamu!"


Robert melepaskan pegangannya. Orang itu kembali meluncur jatuh ke arah tanah.


"Aaaaaaaaaaaa ...."


Kali ini Sunil yang mengejar dan menangkapnya. Dia menarik bajunya dengan kasar. Membawanya lagi ke hadapan teman-temannya. Wajah petugas itu pucat pasi. Matanya mulai menunjukkan ketakutan sekarang.


"Apa kau sudah siap untuk mengatakan yang sebenarnya sekarang?" tanya Dokter Chandra dengan sikap berwibawa.


Orang itu mengangguk.


"Seribu tahun yang lalu, Alam semesta ini hancur. Seluruh planet, bintang dan bulan saling bertabrakan. Setelah masa itu, di langit muncul planet-planet asing. Bahkan akhirnya ilmuwan mengetahui bahwa ada 4 bumi lain di angkasa."


Tim Dean tercengang mendengar penjelasan itu. Ini diluar pemikiran mereka. Ada 4 bumi lain di angkasa? Berarti ada 5 bumi yang mereka ketahui sekarang ini.


"Lalu? Apa kau lahir di bumi dua ini?" tanya Dean. Dia penasaran, dimana pemimpin utama orang-orang ini.


"Ya. Aku lahir di bumi dua. Orang tuaku adalah bagian dari tentara penjaga yang dikirim ke sini dari bumi satu." ujarnya.


"Bumi satu? Dean, apakah menurutmu itu sama dengan tempat asal kita?" tanya Michael.


"Tak mungkin kalian dari bumi satu. Tak ada yang bisa terbang di sana!" bantah petugas itu.


"Katakan! Kenapa orang dari bumi satu mengirim tentara ke sini? Bukankah tempat ini tak layak didiami?" Alan menbentak tak sabar.


"Tentara dikirim untuk melindungi para peneliti. Mereka harus meneliti apakah tempat ini bisa didiami manusia atau tidak. Meski jawaban yang dikirim adalah tidak layak huni, namun ketika mereka tau bahwa tersedia cukup oksigen di sini. Orang-orang di bumi satu justru mengirim lebih banyak orang lagi untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik di sini!"


"Lalu?" tanya Sunil tak sabar.


"Tapi, semakin banyak orang yang datang dan membangun koloni di sini, penghuni asli bumi ini makin terdesak. Mereka mulai membalas dan membunuh siapapun yang berada jauh dari koloni atau penjagaan. Terutama saat malam hari. Mereka keluar dari jurang dan menyebar ke seluruh tempat, mencari mangsa," katanya jujur.


"Kalau di sini bahaya, kenapa kalian tak kembali saja ke bumi satu?" tanya Michael.


Pukk!


"Aduhh ... sakit tau!" Michael mengusap-usap kepalanya yang dijitak Robert.


"Bagaimana tentara bisa melawan perintah? Dasar bodoh!" ejek Alan usil.


******

__ADS_1


__ADS_2