PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 91. Tak Ada Yang Senyaman Rumah


__ADS_3

Selepas sarapan dan berbincang, mereka kembali ke lantai atas. Lalu kembali menghabiskan waktu hanya dengan bermalasan.


Niken duduk di teras dengan kertas dan pena. Dia asik menggambar pemandangan gunung di kejauhan lalu menambahkan hal-hal lain yang diinginkannya.


Angel duduk dengan malas. Membiarkan sinar lembut matahari menyentuh pipinya.


"Kau melamun lagi?" Laras tiba-tiba menyentuh bahu Angel dan membuatnya kaget.


"Mana ada," elak Angel.


"Sepanjang sarapan kau tidak fokus dan seperti sedang entah dimana. Apa yang kau pikirkan?" selidik Laras.


"Tidak ada. Itu perasaanmu saja." Angel bangkit dari duduk, ingin pergi dari situ.


"Bahkan tuan Glenn memperhatikanmu yang terbengong-bengong dengan heran," tukas Niken.


Langkah Angel seketika terhenti. Dia berrbalik.


"Benarkah?" tanyanya gugup.


Alis Laras tertaut melihat sikap Angel. Dia sangat mengenal ekspresi seperti itu.


"Apa kau jatuh cinta padanya?" Laras berbisik halus di telinga Angel.


"Apa yang kau katakan? Ada-ada saja."


Angel membantah dan berlalu dengan wajah memerah seperti orang yang ketahuan mengintip orang mandi. Laras tersenyum simpul.


"Apa yang kau bisikkan sampai dia begitu?" tanya Niken heran.


"Rahasia.. xixixiii.." Laras tertawa kecil.


Dia gantian duduk menikmati cahaya hangat matahari dunia ini.


"Dengan matahari yang seperti ini, kulit kita tak akan gosong meskipun berjemur setiap hari. Nyaman sekali."


"Apa kau ingin tinggal di sini?" tanya Niken sambil mengamati gambarnya.


"Seindah apapun tempat, gak ada yang senyaman rumah," jawab Laras diplomatis.


"Sejujurnya, pernah terbersit niatku untuk mengajak Indra tetap tinggal di daerah pantai. Kita bisa hidup normal dan nyaman di sana. Tapi pikiran tentang bajak laut, membuatku urung mengatakannya pada Indra," ujar Niken.


Laras mengangguk mengerti.


"Disana memang nyaman dan indah. Jika saja bukan karena ingin pulang, aku pasti akan berpikiran sama."


"Aku bahkan sampai membayangkan kita membentuk keluarga dan punya anak-anak lucu di sana. Hahaha.." Niken tergelak karena pikirannya sendiri.

__ADS_1


Laras merespon dengan tawa kecil. Dia tersenyum sendiri. Tak ingin mendebat Niken, karena mungkin saja suatu saat dia akan punya pemikiran serupa. Mereka sudah dewasa. Pemikiran seperti itu harus dihargai. Dan Laras memaklumi. Jika ada yang ingin menetap, maka tidak seorangpun boleh memaksa utk terus melanjutkan perjalanan yang entah kapan akan berakhir.


Tak ada seorangpun yang dapat menjanjikan bahwa mereka benar-benar bisa pulang. Semua langkah mereka murni didorong keinginan kuat untuk pulang sambil berharap bisa menemukan Marianne dan Michael kembali.


***


Dean, Alan dan Sunil kembali ke gua. Mereka mendapati ketiga wanita masih duduk di lorong menuju ruang batu.


"Kenapa duduk di situ?" tanya Alan.


"Di sini lebih dingin," jawab Dewi lugas.


"Ahh.. kau benar. Udara panas masuk dari luar." balas Alan.


"Ternak-ternak ini juga kepanasan," adu Dewi cemberut.


"Siram saja dengan air kolam," jawab Dean.


"Z, angkat semua bawaanmu dan ransel mereka," perintah Dean.


Alan menggerakkan tangannya dan semua benda selain binatang ternak, telah terangkat dan melayang di udara.


Dean menarik air kolam dengan gerakan tangannya hingga meluncur ke arah para domba, ayam dan kelinci. Binatang-binatang ternak itu diguyur Dean dengan air beberapa kali. Mereka basah kuyup. Debu yang melekat ikut luruh bersama air. Tapi lantai jadi basah dan becek. Namun Dean belum berhenti membersihkan ruang gua yang besar itu hingga seluruh sudut gua basah dan meluruhkan debu.


"O, bisa kau tiup air kotor di lantai itu agar mengalir keluar?" tanya Dean pada Sunil.


O terbang melayang kebagian dalan gua lalu meniup lantai penuh air kotor itu dengan udara hangat. Mendorongnya ke arah saluran air keluar gua.


Dean kembali menarik air dari kolam, melayang ke arah pintu gua, menariknya lebih tinggi dari pintu gua, baru menjatuhkan kumpulan air itu. Itu dilakukan Dean hingga isi kolam di gua itu hampir kosong.


"Sudah tidak terlalu berdebu lagi, tapi udara panasnya memang tidak sepenuhnya hilang. Kita harus menutup rapat gua ini agar udara panas dan partikel debu tak lagi menerobos masuk." Dean menjelaskan.


"Kau menghabiskan air kolam," tunjuk Nastiti ke arah kolam yang nyaris kosong.


Dean tersenyum.


"Tidak apa, nanti kolam ini akan kembali terisi dengan tetesan air yang lebih bersih," jawabnya.


"Anggap aja lagi nguras bak mandi. Nanti airnya diisi lagi oleh tetesan air dari langit-langit gua." Widuri menengahi.


"Z, kau bisa turunkan itu sekarang. Bantu aku menutup pintu gua ini," ajak Dean.


Mereka bertiga bekerjasama menutup pintu gua dan mengambil beberapa bongkah batu besar agar gua itu benar-benar tertutup rapat.


Widuri, Nastiti dan Dewi memilah hal-hal yang dibawa Alan malam sebelumnya.


Sebagian besar sayuran sudah layu karena udara yang cukup panas. Sebagian masih bisa dimasak untuk makan malam nanti. Tapi cukup banyak apel, plum dan lemon yang masih sangat segar. Itu bisa jadi cemilan siang ini. Selebihnya adalah jatah hewan ternak mereka. Cukup untuk pakan 2 hari.

__ADS_1


Mereka memulai aktifitas harian seperti biasa. Tapi kali ini, mereka menyiapkannya di ruang makan dengan meja batu. 2 mangkuk besar salad buah dan sayuran sudah siap dan terhidang di meja. Dewi membuat lemonade untuk minuman penyegar di udara yang panas itu.


Nastiti berjalan ke gua untuk mengajak ketiga pria makan siang di dalam. Hanya ada 3 bangku batu di situ. Jadi Sunil mengeluarkan 3 bangku kayu yang disimpannya tadi malam, untuk para wanita duduk. Mereka menikmati sajian segar itu dengan lahap sambil membahas rencana selanjutnya.


"Jadi kalian berencana membuat saluran air mengelilingi area pondok?" Widuri memastikan.


"Ya. Ku fikir hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membantu memulihkan kondisi tanah yang kering dan panas. Biarkan air melembabkan tanahnya perlahan." jawab Sunil.


"Baiklah. Itu bagus. Bagaimanapun, setelah beberapa waktu dan diguyur hujan, maka seluruh debu yang beterbangan akan kembali mengendap dan menyuburkan tanah." Dewi mendukung rencana itu.


"Lalu kapan kita mulai perjalanan? Pakan ternak hanya tersisa untuk besok." Widuri bertanya penuh penekanan.


"Hari ini kami akan membuat saluran air. Besok Sunil dan kalian bantu mengumpulkan batu bara untuk persediaan kita di bawah sana. Sementara aku dan Alan menyiapkan tangga batu untuk turun. Bagaimana?" tanya Dean.


"Setuju," jawab Widuri cepat.


Yang lain juga mengangguk dan setuju dengan Dean.


Siang itu Dean, Alan dan Sunil kembali ke tempat kebakaran. Alan menumpuk beberapa batu membuat aliran air jadi bercabang dua dari jalur sebenarnya.


Dengan gerakan tangannya, Dean dan Alan membuat jalur-jalur air ke sekitarnya. Itu butuh usaha keras, karena tanah itu tak lagi selembut tanah lempung, tapi sudah mirip batu bata setelah terkena panas yang tinggi. Setiap kali air mengalir melalui celah, uap panas langsung membubung dan air kembali menguap dan tanah tetap kering.


"Abaikan itu. Butuh waktu sampai tanah kering ini kembali lembab dan bisa menumbuhkan rumput. Jalur-jalur air ini yang akan lebih dulu subur dan menghijau." Alan tampak optimis.


"Ayo kembali. Area ini sudah selesai. Hanya ini yang kita bisa. Selanjutnya tergantung kemurahan alam." Sunil melayang naik untuk melihat hasil kerja mereka yang tampak seperti labirin yang kusut berputar-putar ke segala arah.


"Kita membuat labirin!" teriak Sunil.


Alan dan Dean ikut melesat naik dan melihat hasil kerja mereka.


"Hahaha.. itu lebih mirip jalur tikus mabuk ketimbang labirin," Alan tertawa terpingkal-pingkal.


Dean ikut tertawa melihat bagaimana kacaunya jalur air yang memenuhi seluruh area itu. Tapi biarlah. Toh rencana mereka memang memulihkan seluruh area.


"Kita tinggal berharap hujan segera turun agar udara bisa lebih bersih."


Sunil tersenyum puas.


"Ayo kita kembali dan membersihkan diri." ajak Dean.


"Membersihkan diri dimana? Air kolam sudah kau habiskan untuk memandikan domba." celetuk Alan.


"Kita ke pancuran di sana saja." ajak Sunil.


"Baiklah. Ayo."


Ketiganya beriringan melayang menuju pancuran air yang yang aliran airnya mereka bagi ke seluruh tanah pertanian itu.

__ADS_1


******


__ADS_2