
"Pintu Teleportasi ini sudah kusetel dengan koordinat tempat ini. Jika pintu teleportasi di sana sudah hilang, kalian bisa kembali dengan ini, dan langsung sampai di sini," ujar Ta.
"Oke! Dokter Chandra menyimpan pintu teleportasi tersebut dalam penyimpanannya. Kemudian menoleh pada Dean dan yang lain.
"Kalian baik-baik di sini!" pesan Dokter Chandra.
"Tentu! Aku akan menjaga mereka di sini," sahut Dean.
Dokter Chandra menyelubungi dirinya, Robert dan Sunil dengan cahaya putih kemilau. Ketiganya melayang masuk ke pintu cahaya.
"Kalau begitu, aku juga harus segera pergi," kata Ivy.
"Sekarang? Kita bahkan belum punya persiapan apa-apa!" sanggah Indra.
"Aku sudah menyiapkannya!" kilah Ivy.
"Hah ... kau terlalu mencurigakan," gerutu Indra.
"Kuberi waktu lima menit, jika kau ingin berpamitan pada Niken!" Ivy tak bergeming.
"Oh, ya ampuun...." Indra langsung melesat keluar gua untuk berpamitan pada Niken yang sedang beristirahat di bawah pohon, tepi kolam.
"Niken, aku harus pergi menemani Ivy sekarang. Kau harus baik-baik jaga bayi kita. Aku mencintaimu!" seru Indra dari ketinggian. Dia sudah bersiap untuk terbang lagi.
"Hei, peluk aku dulu," panggil Niken manja.
"Oh Tuhan ... sabar Indra," bisiknya dalam hati. Dia turun dan membiarkan Niken memeluknya hingga puas.
"Oke. Kau sudah boleh pergi. Jangan lupa bawakan aku sesuatu yang unik dari sana!" pesan Niken sambil tersenyum manis.
"Tentu. Aku pergi!"
Indra melesat cepat ke arah padang rumput dan mengambil seekor domba gemuk, lalu menyimpannya di penyimpanan. Dia bergerak cepat untuk mengambil cukup rumput bagi domba itu di dalam penyimpanan.
Tak lupa dibawanya satu tempayan besar yang ada di depan rumahnya, dan diisi air, untuk minum dari dari air terjun. Setelah itu, dia kembali ke dalam gua. Tapi tak ditemukannya Maruanne atau siapapun.
"Ivy, kau dimana?" tanyanya lewat transmisi suara.
"Coba naik ke bukit!" perintah Ivy.
Indra melesat lagi menuju puncak bukit. Dilihatnya Dean dan Aslan berdiri di gazebo.
"Di mana dia?" tanya Indra pada keduanya.
Aslan menunjuk ke laut lepas. "Itu!"
"Dia ke sini lewat laut?" gumam Indra.
"Kukira, itu mungkin saja. Sama seperti saat timku di dunia kecil pertanian. Kami keluar dan berada di perairan menuju Kota Pelabuhan, juga dari batas dunia kecil. Kami mencari celah antar dunia di sana!"
__ADS_1
Dean masih mengingat dengan jelas perjalanan itu. Perjalanan yang menewaskan Dewi, akibat terbawa arus laut.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, aku pergi, sekarang. Sampai jumpa!" teriak Indra sambil terbang. Ivy sudah terlihat sangat kecil. Dia tak boleh ketinggalan..Atau akan tersesat di dunia asing tanpa jalan kembali.
"Tunggu aku!" teriaknya lewat transmisi suara.
Ivy berhenti dan menoleh ke belakang. Segaris senyum tergurat di wajahnya.
"Kukira kau tak mau menemaniku!" Ivy terkekeh kecil.
"Aku tak mau dihajar oleh Penguasa, jika tak menjaga adiknya!" Indra beralasan.
"Lewat mana kita?" tanya Indra.
Kita lurus hingga menemukan batu karang di sana. Lalu berbelok ke kiri empat puluh lima derajat!" jelas Ivy.
"Kau bahkan masih menghafal besar derajatnya. Hebat!" komentar Indra kagum.
"Aku hanya mati, bukan pikun!" ketus Ivy.
"Hahahaha ... bukankah itu lebih parah?" Indra tertawa geli.
Keduanya terbang menuju batu karang di tengah laut, yang kini mulai terlihat.
"Seberapa luas Penguasa membuat tempat ini!" celetuk Indra.
"Meskipun sangat hebat, dia tetap tak bisa membuat dunia kecil. Dia pasti menemukan dunia ini tak berpenghuni, lalu menjadikan ini dunia kecil pribadinya, dengan meletakkan pintu teleportasi."
"Kita hanya makhluk cahaya yang bisa mati dan musnah. Bukan Dewa ataupun Tuhan yang menciptakan dunia!" tegasnya.
"Oke ... aku tahu." Indra tak berminat berdebat. Mereka telah menjejakkan kaki di batu karang.
"Sekarang kita ke kiri empat puluh lima derajat!"
Ivy merentangkan tangannya membentuk L. Tangan kanan direntang ke depan, dan tangan kiri lurus ke samping. Lalu dia membelukkan tubuhnya ke tengah-tengah bentangan tangan.
"Empat puluh lima derajat!" ujarnya. yakin.
Kemudian dia terbang tinggi ke arah laut yang terbentang luas. Indra hanya mengikuti langkahnya. Mereka terus terbang dan makin tinggi.
Kemudian ivy berhenti. Dia menoleh ke arah lautan di bawahnya. Pantai dan bukit sudah sangat kecil. Indra menghitung jarak terbang itu sekitar lima belas menitan.
Ivy melayang naik perlahan, dengan mengangkat tangan, mencoba meraba-raba sesuatu di atasnya.
"Di sini!" serunya.
Indra mendekat. Dia ikut meraba tempat itu. Terasa kosong. "Perkataan Dean benar. Ada celah antar dimensi di titik tertentu dunia kecil. Kita hanya perlu mencari!" batinnya.
"Celah antar dimensi!" celetuk Indra.
__ADS_1
"Kau juga tahu tentang itu?" Ivy tak menyangka.
"Dean yang mengatakannya!" sahut Indra santai.
"Hah...." Ivy terperangah, takjub dengan sikap santai Indra.
"Sekarang bagaimana?" tanya Indra.
Ivy tak menjawab. Dia melayang melewati celah dimensi itu, kemudian hilangbdari pandangan Indra. Pria itu segera mengikutinya. Benar saja. Sekarang mereka berdua ada diatas lautan luas yang lain. Tak ada pulau, sejauh mata memandang.
"Sekarang ke mana lagi?" tanya Indra.
"Ke kanan, tepat di samping kanan!" Tangan Ivy terentang lurus ke samping kanan tubuhnya. Ivy dan indra mengarahkan pandangan ke tempat itu.
"Ayo!" Ivy terlihat tak sabaran menuju tempat tujuannya yang belum terlihat.
Hingga menjelang matahari terbenam, mulai terlihat sebuah pulau di batas horizon. "Itu!" tunjuknya antusias.
Indra mengikuti aja dari belakang. Hingga gelap turun, barulah mereka mencapai garis pantai pulau itu. Ivy tak sabaran untuk mencari penghuni pulau sepi itu.
"Tunggu dulu!" Tahan Indra.
"Apa kau yakin, orang-orangmu masih bertahan di sini? Atau mungkin mereka berpindah tempat? Dan kemungkinan besar, yang ada di sini adalah keturunan dari anak-anak yang kau tolong. Mereka mungkin tak mengenalmu. Jadi jangan gegabah!" Indra memperingatkan.
Ivy mengangguk. Dia setuju pendapat Indra. Jadi mereka berjalan mengendap-endap dari balik pepohonan. Jauh dari pantai, baru mereka bisa melihat seseorang sedang berjalan membawa obor.
"Obor?" Indra bicara lewat transmisi suara pada Ivy. Ivy mengangguk, mengerti maksud ucapan Indra.
Manusia Cahaya tak butuh obor untuk berjalan di malam gelap. Tubuh mereka bercahaya dengan sendirinya, dan bisa menerangi sekitar. Temuan ini memang terasa aneh.
"Ada tiga kemungkinan. Pertama, dia bukan Bangsa Cahaya. Atau kedua, mereka hidup berdampingan dengan bangsa lain dan tak ingin menonjolkan diri! Terakhir, mereka dijajah oleh bangsa lain!" tebak Indra.
"Ayo kita selidiki lagi yang lainnya!" ajak Ivy. Keduanya kembali mengendap-endap, mengikuti orang itu hingga sampai di gerbang tinggi. Orang tadi berjalan menuju gerbang tinggi yang dijaga ketat
"Kau terlambat masuk!" ujar penjaga gerbang.
"Sudah makin sulit mendapatkan bahan obat di sekitar sini. Aku harus berjalan sangat jauh!' jelas pria yang dicegat itu.
"Tak ada alasan! Kau boleh menunggu hingga pagi, di sini!" ujar salah satu penjaga.
"Tidak mau! Di luar sini, berbahaya!" tolaknya tegas. "Bukankah aku sedang mengambil bahan obat untuk kepala suku? Apa kau tak mau kepala suku sehat kembali?" tuduhnya tajam.
Penjaga itu saling melihat satu sama lain. Tapi tak mau melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh kepala suku sendiri.
"Jangan biarkan siapapun lewat, setelah gerbang diturunkan!" ujar seorang pria lain, menengahi keributan. Orang itu menatap tajam orang di luar gerbang. Tiba-tiba, mata orang di atas pintu gerbang memperhatikan sesuatu.
"Dia membawa orang asing masuk!" seru penjaga di atas menara.
"Hah? Tidak! Tak ada siapapun yang kubawa!" bantahnya cepat.
__ADS_1
Sebuah anak panah dilesatkan oleh penjaga yang berdiri di bagian atas pintu gerbang. Anak panah itu meluncur ke arah semak belukar. Ivy dan Indra sedang bersembunyi di sana.
**********