
Dean bergeming terhadap tepukan dan suara-suara yang memanggil namanya. Dia tampak tenggelam dalan mimpinya.
Widuri menyambar panci dekat perapian dan membuang airnya sambil lari ke arah kolam. Diambilnya air dengan panci dan membawanya hati-hati ke tempat Dean yang masih bergerak-gerak ketakutan.
"Apa yang akan..." ucapan Alan tergantung di udara melihat tindakan Widuri.
Byuurrr.. Widuri menuangkan semua air di panci ke wajah Dean. Semua orang terkejut melihat kenekatannya. Tapi cara itu tampaknya berhasil. Dean bangun dengan gelagapan untuk menghirup udara.
"Siapa yang menyiramku?!" teriak Dean marah.
Rekan-rekan setimnya terkejut melihat sisi Dean yang seperti ini. Dean tampak berbeda dari sebelumnya. Yah, Dean memang belum pernah marah sebenarnya.
"It worked," Widuri berjalan santai meninggalkan Dean yang basah kuyup.
"Kau mimpi apa tadi?" tanya Alan.
"Mimpi apa?" Dean malah bertanya balik dengan heran.
"Tadi kau berteriak ketakutan. Dibangunkan gak bisa. Ditepuk-tepuk juga gak bisa." Sunil menambahkan.
"Oo jadi itu sebabnya aku disiram dengan air?" Dean masih tak terima.
"Kami khawatir padamu Dean. Abaikan caranya, yang penting kamu sudah sadar sekarang," Dewi menengahi pertengkaran.
"Sudah sadar gimana maksudmu? Apa aku pingsan?" tanya Dean lagi, masih dengan nada tinggi.
"Mungkin bukan pingsan, tapi kau terlihat ditarik ke dalam dunia mimpimu. Itu sebabnya dicoba cara yang paling mudah untuk membangunkan orang tidur." Nastiti mencoba menjelaskan dengan lebih masuk akal.
Dean termangu mendengarnya. 'Ditarik ke dunia mimpi?' pikir Dean heran. Dia mencoba mengingat-ingat mimpi apa yang dialaminya barusan, tapi Dean tak mampu menjelaskannya.
"Kukira, lebih baik besok kita tinggalkan gua ini. Atau menjauh dari hutan ini sekalian." Widuri mengutarakan pendapatnya.
"Alasannya?" tanya Alan.
"Mungkiiiinn.. ini mungkin hlo yaa.. Mungkin aja gua ini dihuni makhluk lain yang bisa jadi tak senang melihat kehadiran kita," jawab Widuri.
"Jangan menakut-nakuti dong," Dewi memilih duduk dekat dengan Widuri.
"Aku gak bermaksud menakut-nakuti, tapi sejak pesawat kita jatuh, kita udah lihat banyak banget hal aneh toh? Jadi aku cuma berusaha berpikiran terbuka tentang segala hal dan kemungkinan." Widuri kembali membaringkan dirinya.
"Besok kita periksa dulu seperti apa di luar sana. Jika ketemu tempat yang lebih baik, baru kita pindah. Bagaimana menurut kalian?" Dean menawarkan jalan tengah.
"Aku akan menemanimu keluar besok." Sunil menawarkan diri.
"Ku kira lebih baik kita berpasangan, 1 tim 2 orang. Besok aku dengan Widuri memeriksa hutan di sekitar. Alan dan Nastiti mencari sumber makanan yang bisa ditemukan di hutan. Sementara Sunil.dan Dewi lanjut memeriksa gua yang tadi sore kita datangi." Dean membagi kelompok kerja timnya.
"Baiklah, sesuai pengaturanmu saja." sahut Dewi.
__ADS_1
"Oke, sekarang waktunya istirahat. biar aku yang berjaga." Dean mengakhiri perbincangan di tengah malam itu, memberi teman-temannya waktu untuk tidur.
Selesai sarapan pagi itu, Dean dan Widuri bersiap untuk memeriksa hutan. Widuri mengikuti langkah Dean menapaki bebatuan menuju pintu gua. Dia terpaku melihat hutan lebat hijau segar di depan matanya. Dean melanjutkan track yang dijalaninya bersama Alan sehari sebelumnya. Mereka makin masuk ke dalam hutan. Sinar matahari sesekali menerobos masuk menerangi dahan-dahan yang kokoh.
"Dean, bukankah itu jamur?" tunjuk Widuri pada sekelompok jamur putih yang tumbuh di batang pohon mati.
"Kamu yakin itu bisa dimakan?" Dean balik bertanya.
"Hmm, bentuknya mirip jamur tiram. Kenapa tidak kita coba ambil beberapa?" Widuri meminta saran.
"Kalau kamu mau mencobanya, ya ambil saja," jawab Dean sambil melihat sekitar, membalik-balik dedaunan yang basah dan setengah busuk yang menutupi permukaan tanah dengan tombaknya.
Widuri mengumpulkan jamur-jamur yang dilihatnya dan menyimpannya dalam dedaunan sebelum dimasukkan ke ransel. Merekapun kembali jalan lebih jauh ke dalam hutan.
"Dean, itu buah apa?" Widuri menunjuk buah yang lebat bergantungan di pohon tak jauh dari mereka.
"Wahh.. Itu plum. Benar-benar rejeki. Mari kita kumpulkan." ajak Dean yang bergegas mendekati pohon plum yang berbuah lebat itu. Dean memeriksa buah-buah plum yang tergeletak di permukaan tanah.
"Aahh ini sudah terlalu matang," Dean menggerutu sambil mendongak mengira-ngira, apakah dia bisa memanjat pohon itu.
"Dean, sebentar. Aku merasa tempat ini bukan hutan." Widuri menggamit tangan Dean yang sedang bersiap untuk memanjat pohon.
"Maksudmu?" tanya Dean tak mengerti.
"Lihat.. tidakkah ini tampak seperti kebun buah plum?" Widuri menunjuk ke arah depannya.
Dean terpaku saat menyadari apa yang dilihatnya. Itu benar-benar kebun buah plum. Pohon-pohon plum itu tumbuh dengan jarak tertentu. Dean memeriksa lebih jauh, dia menemukan tidak hanya ada plum, tapi juga apel, pir dan lemon. Widuri mengikuti Dean dengan antusias. Tapi dia tak berani memungut satupun buah yang jatuh di tanah.
"Kita cari saja dulu." Dean juga berharap seperti itu, tapi dia tak bisa menjanjikan apapun pada Widuri saat ini.
Langkah keduanya melambat setelah keluar dari kebun buah-buahan itu. Di depan mereka tampak hamparan semak dan perdu yang lebat. Mereka jalan dengan hati-hati.
"Aduh." Widuri mengaduh saat kulit lengannya tertancap ranting penuh duri. Dean membantunya melepaskan diri.
"Kau ingat pohon berry di hutan salju? Lihat yang ini ada buahnya. Ini rumpun blueberry." Dean memetik beberapa buah yang biru ungu kehitaman karena terlalu matang.
"Hmm,, ini manis banget," Widuri sudah lupa dengan lengannya yang tergores. Dia menikmati sensasi rasa manis saat mengulum blueberry yang dipetikkan Dean untuknya.
"Sudah, kita periksa ke depan sana dulu, nanti saat kembali bisa petik lagi." Dean memilih jalan menghindari rumpun blueberry.
Mereka melintasi tempat yang menurut Dean adalah kebun sayur. Kebun itu tak beraturan, rumpunnya tinggi-tinggi dan padat.
"Kebun sayur ini benar-benar diabaikan. Lihatlah, tanaman kol ini jadi begitu tinggi dan kecil-kecil. Cckk." Widuri mendecakkan lidah menyayangkan.
Dean melihat pada apa yang dimaksud Widuri, kemudian menggeleng.
"Itu memang jenis yang kecil. Rasanya lebih enak," Dean menjelaskan.
__ADS_1
Ohh, benarkah? Ada yang seperti itu ya? Aku ingin mencobanya." Widuri terlihat tertarik.
Dean mengangguk sambil terus berjalan mengitari kebun sayur itu. Tiba-tiba dia berhenti.
Dug.
"Kau selalu berhenti tiba-tiba!" Widuri mulai mengomel.
Dean menunduk memperhatikan sesuatu di depannya. Lalu menelusuri hal yang menarik perhatiannya itu.
"Kau sedang mencari apa jalan sambil nunduk begitu?" Widuri ingin tau.
"Kau cerewet sekali," Dean menyahuti tanpa menoleh sedikitpun. Dia terus mencari sambil berjalan.
"Aku bukan cerewet. Tapi ingin tau, biar bisa ku bantu menemukan apa yang sedang kau cari. Tapi kalau tak perlu bantuan ya bodo amat lah." Balas Widuri ketus.
Dean menghela nafas lalu berdiri dan berbalik menghadapi Widuri.
"Oke, kau bukan cerewet, hanya bawel. Aku tadi melihat kayu seperti ini di sana. Menurutku itu kayu pagar kebun atau halaman pemilik kebun ini. Jadi aku ingin memastikannya," tunjuk Dean ke arah batang kayu lapuk yang tersisa.
"Bukankah biasa jika kebun dipagari?" tanya Widuri.
"Benar. Aku hanya ingin memastikan apakah ini pagar atau tidak. Jika ini pagar, pemilik kebun sebenarnya ingin berlindung dari apa? Hewan liar pemakan tanaman ataukah hewan liar karnivora?" jelas Dean.
Widuri akhirnya mengangguk mengerti. Dia ikut memperhatikan hamparan semak di depannya.
"Dean, ayo coba ke sana. Aku ingin memastikan dugaanku." Widuri mencari celah semak untuk bisa melintas ke arah yang ditujunya. Dean mengikuti dari belakang, ingin tau apa yang akan mereka temukan di depan sana.
"Dean, tidakkah menurutmu ini tampak seperti.. hmmm.." Widuri berpikir keras.
"Rumah?" tebak Dean setelah memperhatikan tumpukan kayu lapuk di depan mereka.
"Mungkin cuma gubuk, kediaman sementara penjaga kebun?" Widuri menduga.
Dean mengangguk mengerti. Dicobanya mengangkat sebatang balok kayu yang terlihat utuh. Seketika kayu itu hancur ditangannya. Dean dan Widuri terkejut melihat itu.
"Butuh berapa tahun untuk membuat balok kayu sebesar ini berubah jadi debu Dean?" cahaya di mata Widuri terlihat redup.
Yah, jika sudah belasan tahun gubuk itu dibiarkan rubuh, artinya pemilik tempat ini sudah mati, atau tidak pernah kembali untuk melihat kebunnya lagi. Harapan Widuri yang tadi tumbuh kembali hancur. Matanya berkaca-kata.
"Jangan putus asa. Selama kita berusaha dan percaya, maka akan selalu ada harapan untuk hidup yang lebih baik." Dean mendekati Widuri dan menggenggam tangannya dengan lembut, mengalirkan rasa hangat dan semangat bagi Widuri.
Widuri menghapus airmatanya yang jatuh sembari menunduk. Menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang membuncah rasa putus asa.
"Terima kasih Dean," mata Widuri menatap Dean tulus. Dean mengangguk dan tersenyum lalu berbalik.
"Bagaimana menurutmu jika kita tinggal di sini?" tanya Dean sambil terus berjalan ke arah depan sambil merentangkan kedua lengannya.
__ADS_1
Widuri termangu mendengar ide itu. 'Tinggal? Apakah itu artinya Dean ingin menetap di sini? Apa dia sudah tak ingin mencari jalan pulang lagi?' Widuri tak habis pikir.
***