PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 124. Pemeriksaan Tetua Klan Penyihir


__ADS_3

Setelah berbasa-basi dan perkenalan, dokter Chandra diijinkan untuk memeriksa. Tabib Muchfur juga diminta memeriksa dengan metodologinya. Keduanya dibantu asisten masing-masing.


Pangeran Edric dan putri Leonora memperhatikan dari jauh. Pangeran itu segera melihat perbedaan nyata dari cara pemeriksaan keduanya. Dokter Chandra bahkan meminta tetua membuka baju atasnya. Dibantu Silvia, mereka memeriksa bagian ketiak, dada serta leher. Bahkan bagian punggung juga diperiksa dengan teliti.


Sebelum berakhir, dokter Chandra meletakkan sekali lagi sebuah alat sederhana dari kayu yang disiapkan Robert untuk memudahkannya mendengar detak jantung pasien. Dokter Chandra mendekatkan telinganya pada satu ujung alat dan ujung lainnya menempel di dada tetua. Tempat itu hening, bahkan tabib Michfur sudah selesai memeriksa. Jadi dokter Chandra bisa memeriksa dengan tenang.


Dokter Chandra mengatakan sesuatu pada Silvia. Silvia segera mengecek bagian tungkai kaki tetua. Lalu pemeriksaan itu selesai. Dibantu para pelayan, tetua kembali memakai baju atasnya. Sementara dokter Chandra, Silvia dan tabib Michfur berdiskusi.


"Sekarang pemeriksaan kami telah selesai. Tapi kami harus berdiskusi dengan tabib yang selama ini merawat tetua. Kami harus mengetahui detail dan riwayat penyakit tetua sebelum menegakkan diagnosa." Kata Dokter Chandra.


"Jadi belum bisa diputuskan apa sakit tetua?" tanya pangeran Edric dengan suara sedikit kecewa.


"Kami menemukan 2 benjolan di ketiak kiri, 1 benjolan antara leher dan bahu. Tetua juga terlihat kurus. Matanya cekung, batuk parah, tungkai kaki dan tangan bengkak. Ujung jari sering kesemutan dan kadang tidak terasa. Kuku yang bersemu biru. Dan beberapa detail lain. Semua ini menunjukkan banyak hal. Itu sebabnya kami perlu tau riwayat penyakit yang pernah dikeluhkan tetua sebelumnya."


"Saya tak punya peralatan pendukung yang memadai seperti lab darah, radiologi, ataupun ct scan di sini. Jadi, akan sangat membantu jika tabib yang biasa merawat tetua bersedia berdiskusi dengan kami." Dokter Chandra menjelaskan dengan gamblang kesulitan yang mereka hadapi.


Nyonya Felix berbisik pada sang pangeran. Kemudian pangeran itu mengangguk. Dihampirinya pembaringan dimana tetua beristirahat.


"Tetua, bagaimana? Bisakah tabibmu berdiskusi dengan mereka?" Pangeran Edric bicara dengan lembut sambil memegang tangan tetua.


"Nanti siang... dia akan datang.. untuk membawakan.. obat." Tetua menjawab terputus-putus.


"Baiklah, nanti biar saya tanya apakah dia bersedia." Pangeran tak ingin mendesak tetua lagi.


"Kalau begitu, lebih baik kami menunggu di luar saja Yang Mulia. Terlalu ramai di sini, bisa mengganggu istirahat tetua." Dokter Chandra mengundurkan diri.


Mereka berempat diantar untuk beristirahat menuju sebuah ruangan tak jauh dari kamar tetua. Beberapa pelayan menyusul masuk. Mereka membawa minuman dan makanan. Semuanya disajikan dengan cekatan. Seorang pelayan lain membuka jendela besar yang ada di situ. Udara segar segera terasa di dalam ruangan. Lalu semua pelayan keluar dan menutup pintu ruangan.


Keempat orang itu berdiskusi sambil menikmati sajian. Diskusi yang hangat dan saling melengkapi. Asisten masing-masing mencatat hasil diskusi tersebut dengan antusias. Mereka saling terbuka dalam diskusi ini karena sebelumnya telah bekerjasama untuk merawat tuan Felix.


Mereka sedang asik bertukar ilmu saat pintu ruangan terbuka. Pangeran Edric masuk diikuti seorang pria paruh baya. Dokter Chandra dan 3 orang lainnya segera berdiri dengan sikap hormat.


"Ini adalah tabib yang telah merawat tetua selama 20 tahun belakangan." Sang pangeran memperkenalkan pria itu setelah berada di dekat meja mereka.

__ADS_1


"Saya Cyrill Ayhnerr."


Pria itu menundukkan kepalanya sedikit saat memperkenalkan diri. Dokter Chandra balas memperkenal dirinya, diikuti juga oleh tabib Michfur.


"Baik, kalian bisa berdiskusi sekarang. Untuk kesembuhan tetua, dibutuhkan kerjasama yang baik dari banyak tabib."


Pangeran Edric lalu keluar dari ruangan. 2 orang pelayan masuk dan menyajikan minuman dan makanan kembali. Mereka mengganti cangkir-cangkir dan piring yang telah kosong. Lalu ruangan itu kembali hening.


"Baiklah. Sekarang kita bisa mulai diskusi kita. Tabib Michfur akan menjelaskan hasil pemeriksaan kami tadi." Dokter Chandra buka suara.


Mereka berdiskusi hangat. Sesekali terjadi adu argumentasi. Silvia dan asisten tabib Michfur tak melewatkan untuk mencatat setiap informasi dengan rinci. Kadang keduanya mencocokkan detail catatan mereka yang jelas-jelas berbeda tulisannya. Lalu keduanya tersenyum geli saat menyadarinya.


Menurut Silvia, diskusi ini seperti sedang melihat seminar para profesor kedokteran di masa modern. Tiga tenaga kesehatan di depannya adalah ahli di bidangnya masing-masing. Memeriksa dan mengobati pasien dengan tehnik yang berbeda. Ini adalah diskusi yang luar biasa.


Dokter Chandra dan tabib Michfur juga tak melewatkan untuk menambah referensi pengobatan mereka. Karena tabib Cyrill adalah ahli dalam teknik titik syaraf kehidupan. Dia bahkan menjelaskan titik-titik penting mana yang harus disentuh jika menderita satu penyakit. Jadi selain memberikan obat ramuan, dia juga melakukan teknik titik saraf pada tetua untuk memaksimalkan pengobatan.


Menurut Silvia, ini agak-agak mirip dengan teknik akupunktur di dunia mereka. Hanya saja tabib Cyrill tidak menggunakan jarum. Tapi menggunakan teknik sihirnya. Namun Silvia tak lagi terlalu heran, karena saat operasi tuan Felix, dia telah melihat bagaimana Glenn menggunakan sihirnya sebagai pengganti anestesi. 'Dunia ini memang luar biasa' batin Silvia.


Tabib Cyrill membuka pintu ruangan dan keluar. Diikuti dokter Chandra, tabib Michfur dan 2 asisten di belakang. Kelimanya menuju kamar tetua. Penjaga menyampaikan pesan pada pelayan yang berjaga di balik pintu.


Pintu dibuka, tiga orang masuk, menyisakan 2 asisten di luar. Silvia duduk dengan gelisah di bangku dekat jendela besar yang menghadap taman. Taman itu sudah kurang menarik kini. Itu karena Silvia sedang khawatir jika kesimpulan yang mereka buat, tidak dapat diterima. Akankah mereka dihukum mati?


Asisten tabib Michfur menyadari kegelisahan teman sejawatnya ini. Tapi dia tak tau bagaimana cara untuk menenangkan gadis itu. Jadi dia tak mengatakan apapun. Namun tanpa sadar, digenggamnya kedua tangan Silvia untuk mengalirkan ketenangan yang dimilikinya.


Lama mereka duduk dengan gelisah di depan jendela. Makin berwarna langit, makin gelisah Silvia. Keningnya kini mulai berkeringat. Meski asisten tabib Michfur sudah berusaha menenangkan, tapi dia terlalu irit bicara hingga tak bisa membantu banyak.


Gelap mulai turun ketika pintu kamar itu terbuka. Silvia langsung terlonjak saat melihat dokter Chandra keluar. Dia lalu menghambur dengan mata penuh pertanyaan.


"How's the result doc? Tanya Silvia dengan wajah khawatir.


"They received it well," jawab dokter Chandra.


"Oh, thanks God. So we're not going to be put to death right?" tanyanya meyakinkan.

__ADS_1


"Of course not."


Dokter Chandra mengeluarkan senyum andalannya. Tangannya menyentuh pundak Silvia dengan hangat dan menepuk-nepuk pelan seakan ayah yang sedang menenangkan putrinya.


Silvia mengangguk-angguk senang. Wajahnya tampak lega, tapi matanya berair. Tanda segala rasa di hatinya telah terakumulasi lalu menguap mendengar jawaban dokter Chandra.


"Kita bisa istirahat sekarang. Kau juga harus istirahat." Dokter Chandra bisa menyadari bahwa Silvia telah menahan rasa takutnya sejak tadi.


Pelayan mengantar keempat orang itu menuju kamar masing-masing yang berada di lantai 3.


"Istirahatlah. Buang pikiran buruk. Oke?" pesan dokter Chandra saat Silvia sampai di kamar yang telah disediakan.


"Baik dok. Terima kasih."


Silvia mengangguk pada tabib Michfur dan asistennya sebelum menutup pintu.


"Dokter, maaf saya ingin bertanya sesuatu," asisten tabib Michfur memberanikan diri bicara.


"Ya, katakan saja," jawab dokter Chandra ramah.


"Rasanya tadi saya mendengar asisten anda berbicara dengan bahasa yang berbeda dari biasa."


"Yah, dia menggunakan bahasa Inggris. Bahasa yang umum dipakai di negara Robert. Dunia kami memiliki banyak ras, etnis, bangsa dan negara-negara. Jadi ada ratusan bahasa yang dipakai di seluruh dunia itu. Salah satunya bahasa Inggris itu.


"Alangkah luasnya dunia anda itu." asisten tabib Michfur menampakkan kekagumannya.


"Lalu jika boleh tau, apa yang Silvia katakan tadi?" Pria muda itu masih sangat penasaran.


Dokter Chandra tersenyum, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Wajah asisten itu terkejut, lalu menatap tak percaya. Tapi tak mengatakan apa-apa, meskipun mulutnya terbuka.


"Baik, saya permisi dulu. Selamat beristirahat juga untuk kalian berdua." Pamit dokter Chandra sebelum menutup pintu kamarnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2