PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 105. Kota Pelabuhan


__ADS_3

Selesai sarapan, Dean meminta semua temannya berkumpul sejenak.


"Ada apa Dean? Biasanya kau langsung bicara saat kita makan." Sunil bertanya heran.


"Aku takut kalian tersedak mendengar berita ini." Jawaban Dean membuat mereka penasaran.


"Informasi apa yang mungkin membuat kami tersedak? Apa bumi benar-benar datar?" tanya Nastiti dengan mimik sangat serius.


"Pppftt.. wajah dan kata-katamu tidak singkron," Widuri menahan tawanya melihat ekspresi Nastiti.


Dean menggeleng dan sudah tak sabar untuk menceritakan temuannya tadi malam.


"Aku melihat kapal laut, dan kota pelabuhan."


Dean mengamati ekspresi keempat temannya dengan penuh minat. Wajah-wajah mereka tampak lucu.


"Kau serius?"


"Kapan kau melihatnya?"


"Apa tadi malam saat kau berjaga?"


"Kapan kita ke sana?"


Pertanyaan bertubi-tubi dari teman-temannya membuat Dean hanya tersenyum tipis.


"Aku bermaksud memeriksanya hari ini. Alan, kita pergi berdua."


"Memeriksa? Kenapa kita tak pergi bersama saja?" tanya Nastiti kecewa.


"Tidak. Alan harus membersihkan ikan-ikan hari ini. Juga membantu menyiapkan tempat pengasapan ikan." Widuri melarang dengan tegas.


Alan menunduk. Yah, itu kesalahannya. Jadi harus dibereskan dulu, atau Widuri dan Nastiti akan terus mengomelinya nanti.


"Kalau begitu, Sunil saja." Putus Dean.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Dean," protes Nastiti.


"Seperti dulu di hutan salju, aku akan memeriksa keadaan dulu. Jika aman, maka kita semua bisa berangkat bersama. Bukankah itu lebih baik?" Dean balik bertanya.


"Baiklah. Kalian periksa saja dulu. Bagaimanapun hari ini tugas utama kita adalah mengasap ikan hasil tangkapan Alan dan Sunil." Widuri memutuskan.


"Tapi Dean, sebelum pergi, bisakah kau memotong beberapa kayu bakar untuk kami?" tanya Alan.


Dean mengeluarkan peralatan besi kapak dan golok yang mereka tempa dari bijih besi sebelumnya.


"Gunakan ini. Cari ranting-ranting pohon kering saja kalau untuk kayu bakar," kata Dean.


Dean dan Sunil bersiap untuk pergi. Setelah menyimpan persediaan minum, mereka berangkat.


Sementara Alan pergi ke kaut untuk membersihkan semua perut ikan yang dia simpan. Lalu menyerahkan pada Widuri dan Nastiti untuk diberi bumbu.


Alan mengambil kapak untuk mencari kayu bakar. Dia sesekali terbang untuk mengambil dahan kering yang menempel pada batang pohonnya. Dalam waktu singkat, pekerjaan itu selesai.


Alan membantu para wanita membuat tempat pengasapan ikan. Mereka bekerja dengan semangat.

__ADS_1


*


"Apa kita akan terbang menuju pelabuhan itu?" tanya Alan.


"Kita terbang dulu saja untuk mengecek keadaan. Jika kondusif dan ingin ke sana, maka kita akan turun di pinggiran lalu berjalan masuk," jawab Dean.


"Oke," sahut Sunil.


Keduanya melesat cepat dan meninggalkan cahaya samar kuning dan biru di belakang.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah tebing yang merupakan akhir area hutan. Pohon-pohon yang tumbuh di bagian hutan ini sudah tidak serapat tempat mereka tinggal.


Di balik rimbun daun-daun di puncak pohon, mereka mengamati situasi di depan. Sebuah kota pelabuhan kecil yang tampak tidak terlalu maju.


"Tidakkah pelabuhan itu tampak sangat ketinggalan jaman? Yang bersandar juga bukan kapal-kapal bertenaga listrik atau uap, tapi kapal-kapal layar." Sunil melihat itu dengan heran.


"Kau benar. Tidak ada kendaraan berat semacam kontainer atau bahkan tak ada truk sebagai kendaraan pengangkut barang." Dean mengernyitkan dahi.


"Ayo kita melihat-lihat kota kecil ini. Mencari tau situasinya dari dekat." Ajak Sunil tak sabar.


"Ayo."


Dean memperhatikan area sekitar, lemudian melayang turun dari puncak pohon. Dikeluarkannya panah dan busur dari tempat penyimpanan.


"Untuk apa busur itu?" Sunil melihatnya dengan heran.


"Sebaiknya kita mencari satu hewan buruan dan menjualnya di kota itu. Dengan begitu kita bisa punya sedikit uang." Jawab Dean singkat.


"Apa kau ingin membeli sesuatu di sana?" Sunil akhirnya mengikuti, mengeluarkan busur dan panahnya juga.


"Dengan melihat mata uang, kita akan mengetahui negara apa ini. Bukankah begitu?" tanya Dean balik.


Mereka akhirnya mencari hewan buruan di sekitar situ. Tak satupun hewan yang tampak pagi itu. Akhirnya mereka menyerah dan berjalan gontai memasuki kota.


"Berhenti. Kalian dari mana?"


Seorang pria berpakaian panjang dan kuno menegur dan memberhentikan langkah kaki mereka.


"Kami mencoba berburu. Tapi tak menemukan satu hewanpun," jawab Dean jujur.


"Hah.. masih tidak ada hewan buruan? Sudah berbulan-bulan begini. Kemana seluruh hewan itu pergi?" Orang itu bicara sendiri.


"Ya sudah. Pergi sana."


Dean dan Sunil kembali melanjutkan perjalanannya masuk ke kota.


"Kau dengar tadi? Berbulan-bulan hewan buruan menghilang dari hutan." bisik Dean.


"Terus, kenapa?" Artinya sekarang mereka hanya mengandalkan ikan di laut untuk konsumsi." jawab Dean.


"Apa kau mau menjual ikan asap kita?" tanya Sunil bingung.


"Nanti kita pikirkan soal itu." Dean berjalan-jalan santai melihat keadaan kota itu. Beberapa penduduk pria dan wanita berlalu lalang sambil memikul barang di punggungnya. Beberapa lainnya menuntun bagal yang penuh dengan barang.


Sebuah kereta keledai kecil akan melintas, semua pejalan kaki menepi memberi ruang. Jalanan kota ini cukup ramai juga.

__ADS_1


"Bukankah transportasi ini sangat kuno?" bisik Sunil pada Alan yang dijawab anggukan kepala. Mereka melanjutkan perjalanan.


Beberapa kuda melintas cepat di jalanan penuh orang. Dean cepat menarik Sunil agar terhindar dari tabrakan. Beberapa orang memekik melihat Sunil yang nyaris diterjang kuda.


"Apa apa mereka itu? Memacu kuda di jalanan ramai."


"Ku dengar tadi pagi ada pengumuman hukuman mati di depan kediaman Duke."


"Apa? Siapa lagi yang mau dibunuhnya? Satu bulan ini sudah 5 orang tewas di tangan algojonya."


"Ya, apakah pemimpin kota akan terus menutup mata?"


Pembicaraan-pembicaraan itu ditangkap dengan jelas oleh telinga tajam Dean dan Sunil. Keduanya mengangguk sepakat.


"Boleh tau, dimana kedianan Duke?" tanya Sunil ramah pada orang di dekatnya.


"Apa kalian bukan orang sini?" tanya orang itu memperhatikan Sunil dan Dean.


"Bukan. Kami menumpang kapal untuk tiba di sini. Tadi mendengar kalian mengatakan ada hukuman mati di kediaman Duke. Kami ingin pergi melihatnya," jelas Dean masih dengan ramah.


"Oh, pantas saja. Kalian ikuti jalan itu, lalu belok kanan. Rumah terbesar dengan tembok batu hijau satu-satunya di kota ini. Itu rumah Duke." jawab orang itu, kemudian pergi.


"Ayo kita lihat."


Sunil dan Dean berjalan bergegas. Ternyata ada cukup banyak orang yang juga menuju tempat itu untuk melihat. Dean dan Sunil yang datang belakangan hanya bisa melihat punggung penonton lain.


"Ayo kita cari cara lain." Dean menarik Sunil pergi, menghindari keramaian.


Di balik sebuah bangunan, Dean melesat naik ke atap. Sunil mengikuti. Mereka melompati atap-atap rumah, hingga tiba di rumah terakhir, tepat di depan panggung hukuman mati.


Seorang algojo dengan pedang besar dan panjang mengkilat, sudah mondar-mandir mengelilingi dua orang yang berjongkok di tengah panggung. Seorang diantaranya menyibak rambut panjangnya yang kotor. Wajahnya sangat kotor.


Tapi wajah itu membuat Sunil dan Dean terkejut setengah mati.


"Bukankah itu Michael?" tanya Sunil tak percaya.


"Apa tim Robert tertangkap oleh mereka?" tanya Sunil lagi.


"Lalu siapa orang di sebelahnya?" gumamnya lagi.


"Dean, kita harus menyelamatkan mereka." Sunil tak sabar melihat Dean yang terus diam.


"Lepaskan Marianne. Bunuh aku saja!" teriak Michael pada seorang pria muda yang berdiri di sisi panggung.


"Hahahaa.. Duke sedang ingin membunuh orang. Hanya kalian berdua budak yang paling tak berguna. Jangan salahkan aku," terdengar tawa congkak dari mulut pria muda itu.


Michael menggeram marah dan meronta-ronta. Namun Marianne yang lemah langsung ambruk dari jongkoknya. Algojo segera menarik rambutnya agar dia kembali jongkok.


"Lepaskan! Dasar binatang!" teriak Michael murka.


Bugh!


"Aagghh"


Michael segera bangun dari jatuhnya. Menyeka mulutnya yang berdarah dan menatap penuh kebencian pada algojo yang meninju wajahnya tadi.

__ADS_1


"Dean, itu Marianne. Kita harus bantu mereka." Mata Sunil sudah membiru karena sangat marah melihat teman-temannya diperlakukan seburuk itu. Dia siap untuk menghancurkan tempat itu sekarang juga.


*****


__ADS_2