PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 342. Kecelakaan Dean


__ADS_3

"Kalian kenapa sih?" Indra bertanya dengan heran. "Ayo berenang dulu, menyegarkan diri," ajak Indra.


Sementara para wanita menyiapkan makan malam dan Dean beserta Indra serta Robert berenang, dokter Chandra duduk di sebelah Sunil. Dia memeriksanya dengan seksama. Dia menggelengkan kepala. Dikeluarkannya satu botol kaca kecil dari penyimpanan.


"Hemm ... obat ini tinggal satu." Diawasinya Sunil dengan kepala dipenuhi pikiran.


"Apakah orang yang dulu datang ke sini, mencabuti semua tanaman obatku?" gumamnya sedih.


"Padahal semua yang ku tanam itu jenis-jenis tanaman obat langka yang usianya ribuan tahun.


Dokter Chandra menggeleng kecewa. Disimpannya lagi botol kecil itu dalam penyimpanan. Lalu mengobati dengan mengalirkan kekuatan cahaya putih ke seluruh tubuh Sunil.


Niken berdiri di ujung tangga sambil memegang nampan bubur untuk Sunil. Dia tak beranjak dari situ, karena dilihatnya dokter Chandra sedang mengobati Sunil. Niken tak ingin mengganggu.


Cahaya putih yang menyelubungi Sunil, lenyap. Dokter Chandra menoleh ke arah Niken di ujung tangga.


"Kau bisa menyuapinya, sekarang," ujar dokter Chandra sambil bangkit dari duduknya.


"Baik, Dok." Niken mendekat ke tempat Sunil berbaring. Dia menyuapi Sunil bubur encer, campuran gandum dan sayur yang tadi dibawa dokter Chandra.


*


*


Dua hari berlalu.


Sunil masih belum sadarkan diri. Penguasa terlihat makin banyak diam. Sudah beberapa hari dia mencari jejak-jejak tanaman obat yang menurutnya bisa mempercepat pemulihan Sunil.


Dean, Indra dan Robert pun ikut membantu mencari di kendi-kendi penyimpanan yang ada di gua. Namun mereka tak menemukan tanaman obat yang dimaksud penguasa.


Mereka baru mengerti, bahwa dunia kecil ini dulunya tak hanya diisi tanaman gandum dan sayuran, tapi juga tempat memelihara koleksi tanaman obat langka. Dan semua itu sudah tak terlihat bekasnya sama sekali.


"Bagaimana bisa orang yang masuk ke sini, menghabiskan seluruh tanaman obat tanpa menyisakan bibit kecilnya?" gerutu Indra gemas.


"Kau benar. Bahkan, meski penguasa mampu mempermudah tumbuh kembang tanaman, tapi jika bibitnya tak ada, bagaimana mau menanamnya lagi." Robert juga merasa kesal.


"Padahal, Sunil sangat membutuhkannya." Indra menambahkan.


Tapi, di tempat lain. Tak ada yang memperhatikan Dean meraba-raba dinding gua. Dia ingin sekali meyakini bahwa orang yang dulu masuk ke sini, cukup cerdas untuk membuat penyimpanan rahasia.


Dean telah memeriksa hampir seluruh dinding gua. Dia merasa nyaris putus asa, karena tak menemukan dinding rahasia yang dibayangkannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Robert setelah menyadari ketidak sertakan Dean dalam pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Mencari dinding rahasia. Jika dia benar penjaga pintu teleportasi, harusnya dia tidak bodoh. Menghabiskan seluruh tanaman obat, tanpa menyisakan bibit sebiji pun!"


Sahutan Dean terdengar sangat ketus. Dia juga merasa jengkel pada orang itu.


"Baik. Mari kita cari di seluruh dinding," sambut Indra kembali optimis.


"Di situ sudah ku periksa. Cobalah periksa dinding lorong menuju keluar!" ujar Dean.


"Oke!"


Indra dan Robert memeriksa dinding lorong gua, menuju pintu keluar.


Di satu waktu, Dean tak sengaja menginjak sesuatu yang gak bergoyang di lantai. Ada sekeping batu seperti terlepas dari bagian lantai lainnya. Dean berjongkok. Dia merasa aneh. Karena seluruh lantai, dinding, hingga langit-langit gua adalah pahatan dari batu gunung. Lalu bagaimana ada sekeping batu terlepas seperti ini, sementara yang lainnya sangat solid?


"Apakah ini kunci menuju pintu rahasia?" pikir Dean.


Dengan hati-hati diangkatnya kepingan batu di lantai itu. Kepingan batu itu baru saja diletakkan di lantai sampingnya, ketika Dean merasakan kesiuran angin sangat kencang hingga menimbulkan suara seperti bunyi peluit yang sangat halus.


Dean teringat sesuatu. "Jebakan!" teriakan Dean menggema dari gua hingga ke lorong.


Dean mencoba menjauh dari tempatnya semula, tapi terlambat. Sebilah anak panah menancap di lengan atasnya.


"Aaaahhh!" teriaknya nyaring.


"Dean!"


Terdengar teriakan Robert dan Indra di lorong. Mereka menyerbu masuk ke dalam gua dan menemukan Dean terjengkang di lantai. Sebuah anak panah menancap di lengan atas Dean, dekat ke bahunya. Darah membasahi lengan baju Dean.


"Bagaimana kau bisa-"


"Ini jebakan!" Robert memotong pertanyaan Indra.


"Bagian mana yang kau sentuh tadi?" tanya Robert lagi.


"Aku melepaskan kepingan batu itu dari lantai!" tunjuk Dean.


"Biarkan tetap di situ, agar jadi penanda. Sekarang kita kembali ke rumah dan melepaskan anak panah ini." Tunjuk Robert pada anak panah yang menancap di lengan Dean.


"Baiklah." Dean menurut. Dia merasa lengannya agak panas sekarang.


Ketiganya kembali ke rumah panggung, dan mengejutkan para wanita, terutama Widuri yang merasa ngeri melihat anak panah runcing dengan duri-duri besar di bagian belakangnya.


"Penguasa, Dean terkena panah dari jebakan di dalam gua. Sepertinya ini bukan panah biasa!" lapor Indra lewat transmisi suara.

__ADS_1


"Di mana kalian?" tanya Penguasa


"Di rumah panggung," jawab Z.


"Tunggu aku kembali!"


"Ya."


Lengan baju Dean disobek hingga bahu. Lukanya terlihat nyata sekarang. Bagian bahunya diikat dengan erat, agar darah tak lebih banyak yang keluar. Kemudian dia diberi minum air abadi. Lukanya juga disiram dengan air abadi, untuk meredakan nyeri dan membantu mempetcepat sembuhnya luka.


Semua mengelilingi Dean untuk melihat jenis panah aneh itu. Robert juga sedikit bingung. Dia mencoba mematahkan batang anak panah. Tapi tak bisa. Anak panah itu keras seperti terbuat dari besi. Dean mendesis menahan rasa sakit, ketika Robert mencoba mematahkannya tadi.


"Apakah sangat sakit?" tanya Widuri sedih.


Dua alisnya terlihat turun. Dia sudah hampir menangis melihat Dean kesakitan. Pria hebatnya, sampai mengernyit dahi dan mendesis. Itu pasti karena rasa sakit yang tak terperi.


"Maafkan, aku ceroboh hingga membuatmu cemas," ujar Dean lembut. Widuri berinisiatif memeluknya lebih dulu.


"Sabarlah sebentar. Aku sudah melaporkan kejadian tadi pada Penguasa. Penguasa bilang, tunggu!" Indra menenangkan kekhawatiran Widuri.


"Bagaimana keadaannya?"


Itu suara dokter Chandra. Dia terbang memasuki rumah. Suara yang terdengar kali ini bukan suara yang lembut sama sekali. Dia terdengar sangat cemas.


Marianne dan Niken menyingkir, memberi tempat yang lebih leluasa bagi dokter Chandra untuk memeriksa keadaan Dean.


Mata dokter Chandra membesar melihat anak panah yang tersangkut di bahu Dean. Wajahnya menggelap suram, kemudian menggeleng samar.


"Penguasa, anak panah ini tak bisa dipatahkan. Kurasa, ini bukan dibuat dari kayu," lapor Robert.


"Biar kucoba memotongnya dengan laser. Harusnya bisa." Indra menawarkan diri.


"Cobalah!" Dokter Chandra mengijinkan Indra mencobanya. Dia tak berharap hal yang buruk menimpa Dean.


"Tahan sedikit, Dean. Mungkin akan terasa panas di lukamu," ujar Indra.


"Ini juga sudah terasa panas," sahut Dean. Dokter Chandra bisa melihat rona merah di bagian lengan itu. Dia mengangguk pada Indra.


"Lakukan!" perintahnya.


Indra mengeluarkan sinar laser dari ujung jarinya ke bilah anak panah. Harusnya itu mudah dipotong seperti memotong tahu oleh Indra. Tapi yang terjadi, hanya membuat anak panah itu merah membara, seperti besi yang dipanaskan.


Wajah Dean berubah-ubah, kadang memucat, kadang memerah. Dia menahan rasa sakit yang teramat sangat, hingga mengatupkan kedua rahangnya kuat-kuat.

__ADS_1


********


__ADS_2