
Sore itu, Dean, dibantu Indra membangun rumah panggung dari kayu. Mereka membuatnya sederhana saja. Bagian bawah untuk area servis. Bagian atas untuk tidur dan beristirahat.
Kayu yang tadi didapat dari tepi kolam, tidak mencukupi. Dean dan Indra mencari kayu dari hutan lebat yang menutupi seluruh bagian luar dunia kecil ini. Mereka menebang beberapa pohon yang tumbuh berdekatan. Lalu mengangkut semua potongan kayu ke arah kolam.
Di tempat lain, Sunil sedang membersihkan daging domba yang sudah dipotong-potong. Sementara Robert masih menguliti Seekor sapi yang terlihat kurang gizi.
Para wanita mulai sibuk mengikat daging-daging itu dengan tali. Itu harus segera diawetkan dengan pengasapan. Dean sudah menyiapkan tempatnya.
Sementara dokter Chandra terbang berkeliling, untuk memeriksa seluruh tempat itu. Tak ada yang melihat apa yang dilakukannya selama berkeliling.
Mereka berkumpul saat makan malam.
"Aahh ... ini sate terenak yang pernah kumakan." Indra merasa sangat puas dengan hidangan malam ini.
"Lebayy ... bilang saja kalau kau sudah rindu makan daging," ledek Sunil.
"Itu juga salah satu alasannya," balas Indra kalem.
"Apa yang akan kita lakukan besok?" tanya Robert.
"Memanen gandum yang tumbuh liar itu. Kemudian menanaminya lagi agar tumbuh teratur," sahut Dean cepat.
"Hahahaha ... kau sangat cocok jadi petani, Dean. Langsung tau mesti bagaimana." Sunil menepuk pundak Dean bangga.
"Sudah terbiasa. Hehehe," kekeh Dean ikut merasa lucu. Di sisi lain, dokter Chandra tersenyum sambil manggut-manggut.
Tapi keasikan mereka kemudian terganggu oleh bunyi petir dan tak lama turun hujan rintik-rintik.
"Lebih baik kita beristirahat. Banyak yang harus dikerjakan esok hari," ajak Robert.
Malam yang menyenangkan di dunia kecil yang indah itu. Udara sejuk menyelusup masuk dari celah-celah dinding kayu. Membawa tubuh-tubuh penat itu ke dunia mimpi.
*
*
Suara cericit burung terdengar sangat ramai. Ditingkahi gemuruh suara air yang jatuh ke kolam dari ketinggian tiga puluh meter. Air terjun berjenjang yang sangat indah.
"Kenapa rasanya jadi males bangun, ya?" bisik Widuri.
"Kalau begitu, tidurlah lagi," sahut Dean. Dipeluknya tubuh istrinya dengan lembut.
Lamat-lamat terdengar suara canda dan teriakan Niken yang berdebat dengan Indra. Suasana makin ramai. Widuri tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Kau tau Dean? Aku rasa, tinggal di sini saja juga bagus. Apa lagi kalau misalnya Niken dan Indra juga ingin tinggal di sini. Anak kita, bisa menikah dengan anak mereka. Tempat ini akan ramai," Widuri tersenyum membayangkannya.
Dean tertegun. Sudah dua kali Widuri mengatakan ini. "Apakah dia benar-benar tak ingin pulang lagi?" batin Dean.
Dia berperang dengan dirinya sendiri, sekarang. Apakah dia masih ingin kembali? Lalu bagaimana dengan Penguasa? Siapa yang akan menjaganya nanti, jika dia dan Indra memutuskan untuk tinggal di sini?
"Perutku lapar. Ayo kita turun," ajak Widuri yang sudah tak bisa tidur lagi.
"Hemm." Dean tersenyum dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kalian sudah bangun?" tegur Marianne dari dapur.
"Ya. Entah kenapa aku merasa malas bangun. Kurasa suasana di sini membuatku nyaman, seperti di rumah," jawab Niken tersenyum.
"Bagus kalau begitu." Marianne balas tersenyum lebar.
"Aku cuci muka dulu!" Widuri berjalan ke arah kamar mandi. Dean mengikuti, karena akan bergantian ke kamar mandi.
Dari arah dapur, Marianne mendengar suara aneh Widuri yang ingin muntah. Dia tersenyum bahagia.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dean khawatir. Tapi Widuri tak menjawab.
"Sayang ... buka pintunya," panggil Dean lagi, ketika Widuri masih muntah di kamar mandi.
"Sebentar ...." Suara Widuri terdengar lirih. Tak lama dia membuka pintu dengan wajah pucat pasi. "Dean ...."
"Widuri!" Dean meraih tubuh istrinya yang jatuh merosot tak berdaya. Dia segera membopongnya naik ke lantai atas.
"Dokter, Widuri sakit!" teriaknya panik.
Semua berlarian mendengar teriakan Dean. Dokter Chandra meminta mereka memberi ruang pribadi pada Widuri. Jadi yang lain menunggu di sudut ruangan, memperhatikan dokter Chandra.
"Kapan kau terakhir haid?" tanya dokter Chandra saat memeriksa denyut nadi Widuri.
"Hemmm ...." Widuri berpikir cukup lama. Dia tak pernah merasa perlu untuk mengingatnya. "Aku lupa. Mungkin sebulan yang lalu atau ... entahlah," jawab Widuri tak yakin.
"Terakhir berhubungan dengan Dean, kapan?" tanya dokter Chandra lagi.
"Aku ini, Dokter. Pertanyaanku untuk diagnosa keadaanmu. Kita tak punya testpack untuk meyakinkan," ujar dokter Chandra lembut.
"Apakah menurut dokter—" Widuri tak dapat melanjutkan perkataannya.
"Ini masih terlalu awal untuk dipastikan. Terutama karena kita tak tau kapan terakhir kali—"
"Jadi, bagaimana?" potong Widuri. tak sabar.
"Kita tunggu dua minggu lagi untuk pemeriksaan lanjutan. Tapi, kau harus mulai berhati-hati sejak sekarang!" tegas dokter Chandra.
"Baik, Dok." Widuri mengangguk. Ada senyum bahagia di wajah pucatnya.
"Tidak lagi bekerja terlalu berat, jangan melompat-lompat ataupun berlarian. Kehamilan muda sangat rentan bahaya!" tegas dokter Chandra.
Sambungnya lagi, "Dan Kau harus tetap makan, biarpun mual. Minum air jahe bisa mengurangi rasa mual ...."
Widuri mendengarkan semua pesan dokter Chandra dengan seksama. Hatinya membuncah rasa bahagia tak terkira.
"Dok, tolong ... jangan katakan apa-apa dulu pada Dean. Aku ingin memastikannya dulu. Aku tak ingin dia kecewa," pinta Widuri sebelum dokter Chandra pergi.
Dokter Chandra mengerutkan keningnya heran. "Tapi dia justru harus tau, agar bisa membantumu," sanggah dokter Chandra tak setuju.
"Katakan saja aku kelelahan dan masuk angin. Hanya dua minggu lagi ... dia akan tau juga akhirnya." Widuri sudah bertekad untuk menyembunyikan hal ini hingga ada kepastian.
"Baiklah. Ini keputusan yang kau pilih. Aku tak akan mencampuri."
__ADS_1
Dokter Chandra bangkit berdiri dan menuju tempat Dean serta yang lain menunggu dengan tak sabar. Widuri bisa melihat wajah-wajah tegang di sudut ruangan itu kembali lega setelah mendengar penjelasan dokter Chandra.
Dean kemudian datang menghampirinya. "Tenang, tidak apa-apa. Aku akan buatkan minuman jahe agar badanmu jadi lebih hangat. Istirahatlah dulu."
"Widuri!" sapa Niken dari kejauhan. Kau istirahatlah. Biar aku dan Marianne siapkan bubur lezat untukmu!" teriaknya.
"Oke. Terima kasih Niken." Widuri melambaikan tangan melihat teman-temannya menuruni anak tangga ke lantai dasar.
"Kau tak apa-apa jika kutinggal sebentar?" tanya Dean sambil tersenyum.
"Menyiapkan wedhang jahe spesial untukmu." Wajah Dean terus mengulas senyum, menutupi rasa cemasnya melihat Widuri yang lemah dan pucat.
Widuri tertawa kecil. " Pergilah. Bawakan buket bunga liar untukku. Mungkin aku bisa sedikit happy melihat bunga-bunga indah," pinta Widuri manja.
"Siap, nyonya!"
Dean mengecup dahi Widuri dan beranjak pergi. Dean melangkah pergi dengan hati-hati. Pikirannya terasa penuh. Dia sangat khawatir dengan kesehatan Widuri. Tapi di sini tak ada Rumah Sakit, membuat Dean tak bisa memberikan layanan kesehatan terbaik untuk istrinya. Dan itu melukai hatinya sendiri.
Sesampai di bawah, Dean meminta bumbu jahe dan rempah lain pada Marianne. Marianne mengajari Dean rempah-rempah untuk dibuatkan teh jahe yang enak.
"Aku mau memetik bunga liar dulu untuk Widuri. Bisakah Kau tunggui air jahe ini mendidih?" tanya Dean pada Marianne.
"Pergilah. Jangan khawatir," sahut Marianne ramah.
"Terima kasih."
Dean melesat cepat keluar dari rumah. Dia berkeliling ke seluruh area, dan memetik setiap bunga liar yang ditemuinya.
Sudah terkumpul cukup banyak bunga liar berwarna warni di tangannya. Dean mengikatnya jadi satu buket sederhana. Dilihatnya hasil kerjanya pagi itu.
"Ini sangat indah. Semoga bisa jadi mood booster," harapnya dalam hati.
Dean segera terbang kembali ke arah rumah panggung di dekat air terjun. Tapi kemudian dia berhenti di depan kaki bukit. Dilihatnya pintu gua di dinding bukit.
"Bukankah harusnya itu tinggi di atas? Kenapa sekarang ada bukit dan kebun sayuran?" pikirnya heran. Dia terbang mengitari bukit kecil yang mendadak muncul di bawah pintu gua.
Dean mengamati tanaman gandum yang tumbuh liar. "Itu masih sama," gumamnya. Tapi dia merasa ada yang berubah sejak dia terbang mencari bunga tadi.
Dean membalikkan badan dan melihat sekeliling. Dia terbang perlahan mengitari bukit kecil yang menjadi pusat tempat itu. Di dekat air terjun, keningnya mengerut.
"Bukankah kemarin Padang rumput itu penuh sesak? Kenapa jadi terlihat longgar sekarang? Apakah kemarin Sunil dan Robert telah memotong puluhan sapi dan domba?" pikir Dean tak percaya.
Dia segera kembali ke rumah.
"Dean, wedhang jahe ya sudah siap. Antarkan segera!" seru Marianne.
"Ahh, ya. Akan kuantarkan."
Dean merutuk diri karena hampir melupakan Widuri yang sakit.
Dibawanya nampan berisi teh jahe dan bubur untuk Widuri. Serta seikat bunga liar yang cantik.
*******
__ADS_1