PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 36. Bekerja Keras Semalaman


__ADS_3

Dean mempersiapkan pertarungan terakhir mereka. Dia sudah lelah dan makhluk itu juga mengalami luka serius dimana-mana. Seharusnya tidak akan terlalu sulit lagi untuk membunuhnya. 'Ini harus diselesaikan dengan cepat, atau aku yang akan celaka' batin Dean.


Makhluk itu menggeram marah melihat Dean terus bersuara ribut dan mengganggunya dengan tusukan kayu. Dia bersiap menyerang Dean dengan menekuk kakinya sedikit untuk melompat menerjang. Dean ikut melompat menyambutnya dengan mata tombak mengarah ke jantung makhluk itu.


Crashh..! Tusukan keras itu membuat tubuh makhluk itu goyah, bergetar sekejap lalu jatuh tak tertahankan lagi, membuat ujung tombak itu menusuk makin dalam hingga menembus punggungnya. Dean ikut terdorong jatuh ke arah belakang dan terlalu dekat dengan pintu cahaya itu. Dean berjongkok dan mengayunkan tombak ditangannya melewati atas kepalanya untuk memindahkan bebannya ke arah belakang. Makhluk itu jatuh tepat di tengah pintu. Sebagian badannya sudah menghilang sementara dia mengeluh dan mengejang dengan mata sayunya yang menatap Dean. Dean merasakan tarikan pada tombaknya yang masih menyangkut di dada dan punggung makhluk itu. Dean mencoba menahan sebentar tombak itu hingga dia ikut terseret. Dean melepaskankan tombaknya tepat sebelum jarinya menyentuh cahaya putih susu tersebut.


Dean merebahkan tubuhnya yang lelah, berbaring telentang dengan nafas tersengal-sengal karena pertarungan itu. Makhluk itu sudah mati dengan tusukan tombak di jantungnya. Tubuhnya juga lenyap di balik pintu cahaya. Tak ada lagi makhluk jadi-jadian yang membahayakan di dalam tim. Itu terasa melegakan.


Setelah nafasnya mengalir teratur, Dean bangkit untuk kembali menemui Widuri. Tapi Dean merasa tubuhnya sangat lengket dan dipenuhi noda darah. Dean sangat ingin mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dean berjongkok menyentuh air kolam yang hangat. 'Jika aku mandi berendam di sini, Widuri pasti akan marah karena dia ingin menggunakan air ini untuk masak. Aku harus mengguyur tubuh dengan air ini di tempat lain. Tapi tidak ada alat untuk menciduk air. Dean melihat sekeliling tapi tak menemukan apapun selain beberapa batu di sekeliling kolam dan di tempat yang lebih rendah.


'Aku harus kembali dulu untuk meminjam panci pada Widuri' putus Dean setelah membersihkan wajahnya dari noda darah.


"Dean.. Dean.. apa kau baik-baik saja?" terdengar suara Widuri memanggilnya. Dean menoleh ke asal suara. Tampak Widuri berdiri di pintu lorong di atas sana sambil memegang kristal cahaya.


"Ya, aku baik-baik saja." Dean berjalan mendekat.


"Bagaimana dengan Alex?" tanya Widuri memastikan.


"Sudah mati. Makhluk itu bukan Alex lagi!" Dean menegaskan.


"Jika aku berubah jadi seperti itu, maka kalian juga harus membunuhku."


Widuri hanya terpaku di tempatnya mendengar ketegasan Dean.


"Widuri, aku ingin mandi. Baju dan tubuhku penuh darah. Bisakah kau mengambilkan panci agar aku bisa mengambil air? Sebenarnya akan lebih nyaman jika berendam, tapi karena kau ingin menggunakan air itu untuk masak, maka artinya aku tak boleh mengotori airnya bukan?"


"Baiklah, aku kembali untuk mengambilkanmu alatnya. Tapi teman-teman tim yang lain masih menunggu kabarmu. Apa kau ada mengalami luka?" tanya Widuri hati-hati.


"Tidak ada luka. Beritau mereka, aku hanya berlari dan memancingnya ke sini, lalu menusuk jantungnya saat dia melompatiku, lalu tubuhnya jatuh ke arah pintu cahaya dan lenyap di sana." Dean tersenyum menjelaskan.


"Baik, aku akan kabari mereka agar tidak lagi cemas dan bisa beristirahat. Sebentar aku kembali dengan wadah untuk mengambil air." Widuri berbalik dan dengan cepat menghilang dari pandangan Dean.

__ADS_1


Sambil menunggu, Dean mengamati ruang gua itu dengan lebih seksama. Di samping kolam air panas, ada cekungan kecil berisi air dikelilingi batu-batu. Dean mendekat, menciduk air dengan telapak tangannya dan mencoba mencicipi rasanya.


"Wahh,, air ini rasanya tawar dan segar," gumam Dean. Dean memasukkan tangannya ke kolam sedikit lebih lama. Alisnya dengan segera bertaut.


"Kedua kolam ini bersebelahan, tapi baik rasa maupun suhu, sungguh berbeda." Dean merasa ini sangat luar biasa.


"Air di kolam kecil ini bisa digunakan untuk minum, rasanya segar dan dingin." Dean mengangguk puas. Artinya mereka tak perlu lagi mencairkan salju untuk mendapatkan air minum.


'Sepertinya air di kolam kecil ini yang ditulis Eugene di bukunya' batin Dean. Dia beranjak ke sisi lain gua untuk memeriksa apa yang ada di situ.


Tak jauh dari tempat dia turun, Dean menemukan sebuah tumpukan batu meninggi. 'Seperti sebuah makam?' fikir Dean yang lalu berjongkok mendekat untuk melihat mungkin ada tanda atau tulisan di situ.


Lebih dekat ke tembok, Dean menemukan kalung dengan liontin salib terletak di atas bebatuan. Diarahkannya kristal cahaya lebih dekat ke dinding batu di atas kalung itu. Dean mengusap sedikit tembok yang penuh debu. Benar saja, ada tulisan Cerise digores dengan batu pada tembok itu. Dean sudah memastikan Cerise dimakamkan disitu.


Dean mencari petunjuk lain tentang Eugene. Tapi dia tak menemukan tengkorak manusia di gua itu, yang berarti Eugene memutuskan keluar dari pintu cahaya setelah memakamkan Cerise.


Dean kembali menyusuri gua, tapi tak menemukan hal lainnya. Hanya ada sedikit bagian tanah tak jauh dari pintu cahaya. 'Alangkah anehnya, gua ini penuh dengan batu, tapi disini ada sedikit tanah' batin Dean, tapi dia tak memikirkannya lagi. Widuri sudah memanggil-manggilnya sambil melambaikan sesuatu di tangannya.


"Apa itu?" tanya Dean.


"Baiklah, lemparkan saja ke sini," Dean menunggu Widuri melempar wadah di bawah pintu lorong.


"Ok, aku akan kembali dan beristirahat. Jangan bermain air terlalu lama, nanti kau masuk angin." Pesan Widuri.


"Ya." Dean menyahuti sebelum Widuri berbalik pergi.


Sekarang Dean bisa mulai membersihkan tubuh dan pakaiannya. Sayangnya mereka tak punya sabun sekarang, jadi harus cukup puas dengan mengucek pakaian saja.


Widuri tertidur lelap saat Dean kembali untuk membentang pakaian-pakaiannya yang basah tak jauh dari perapian agar segera kering. Hanya sebentar saja, Dean mulai menggigil meskipun sudah membaringkan tubuh dekat perapian. Akhirnya dia bangkit sambil membawa sedikit kayu bakar serta kayu dengan bara api. Dia berjalan kembali ke arah pintu cahaya. 'Gua itu jauh lebih hangat' pikirnya.


*


Pagi hari, Widuri terbangun setelah mendengar panggilan dari atas lubang.

__ADS_1


"Dean. Widuri. Bagaimana keadaan kalian di situ?" Terdengar suara wanita di atas.


"Kau kah itu Laras?" Widuri menyahuti dan turun dari batu datar tempatnya tidur.


"Ya, aku baru ada kesempatan sekarang untuk ke sini, mengingat banyaknya kejadian tak terduga. Apa kau tak takut saat Alex jatuh ke situ?" tanya Laras lagi.


"Aku tak melihatnya sama sekali. Dean menyembunyikanku dipojokan," jawab Widuri.


"Dimana Dean?" tanya Laras lagi.


"Aku tidak melihatnya di sini, mungkin masih di gua di bawah sana. Tapi dia meninggalkan semua pakaiannya di sini. Dia benar-benar bekerja keras semalaman," Widuri menyahut sambil tertawa kecil.


'Bekerja keras semalaman?' pikir Laras heran. 'Dean membuka semua pakaiannya di dekat Widuri? Apa yang mereka lakukan?' pikiran itu membuat wajah Laras memerah.


"Apakah kau mau bicara dengan Dean? Biar kupanggilkan. Aku juga memang mau ke sana." tawar Widuri.


"Siapa yang mencariku?" Suara Dean terdengar sebelum Laras sempat menjawab. Dean muncul hanya dengan singlet dan celana boxer. Laras terpaku melihat dari atas.


"Dean, kau bisa masuk angin jika berpakaian seperti ini." Widuri mulai mengomel.


"Itu sebabnya aku tidur di gua sana biar tetap hangat." jawab Dean santai.


"Disana bukan hangat, tapi lembab. Kau bisa sakit tidur disana semalaman," Widuri masih tidak puas.


"Ya, aku tau. Awalnya aku mau tidur di sini, tapi aku kedinginan. Kau pasti akan memukulku jika aku memelukmu lagi saat tidur." Dean memberi Widuri alasan.


Widuri terdiam sesaat, termangu.. 'yah benar juga,' batin Widuri.


Tapi Laras di atas memiliki pemikiran lain di kepalanya yang membuat wajahnya makin merona. Laras merasa seperti nyamuk yang sedang melihat pasangan bertengkar.


"Ehem.." Laras berdehem sedikit keras.. "Aku kembali ke shelter dulu, sepertinya Niken memanggilku," Laras mencari alasan untuk menyingkir.


"Ya.." jawab Dean dan Widuri bersamaan sambil menoleh ke atas. Itu membuat Laras merasa lebih canggung lagi dan segera menghilang.

__ADS_1


'Mereka bahkan kompak saat bicara' batin Laras. Ahh,, sudahlah.. lupakan.. lupakan. Laras berjalan kembali ke shelter dengan perasaan tak karuan.


***


__ADS_2