PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 136. The Fallen Angel


__ADS_3

Dean duduk di depan ketua kota setelah mengantarkan Yoshi untuk beristirahat. Mereka membicarakan kejadian kemarin dan temuan makhluk lain di hutan yang mungkin terhubung dengan ketua kota.


"Jadi, bisakah anda jelaskan dari mana anda berasal?" tanya Dean santai.


Ketua kota diam. Pandangannya diarahkan ke luar jendela besar kediaman. Seakan ada hal yang sangat menarik perhatiannya di diantara pendaran bias cahaya matahari di permukaan laut. Dean memberinya waktu untuk menyusun kata dan ikut membuang pandangan ke arah teluk.


Lalu tiba-tiba ruangan itu semakin terang serta bercahaya berpendaran laiknya riak air laut di bawah matahari. Dean menoleh pada tuan kota untuk menanyakan fenomena itu.


Tapi tak sepatah katapun terucap. Karena Dean bahkan tak bisa mempercayai matanya sendiri. Cahaya kemilau itu berasal dari tubuh ketua kota. Tubuhnya tampak transparan seperti kristal bening yang berkelap-kelip. Sangat berbeda dengan cahaya yang keluar dari tubuh Dean, Alan maupun Sunil.


"Apa Bi dan Yoshi tau anda seperti ini?" Tanya Dean masih dalam kegamangan.


Ketua kota mengangguk.


"Tentu saja mereka tau. Aku tak pernah menyembunyikan apapun dari istri dan putriku."


"Apakah Yoshi juga memiliki sayap?" tanya Dean hati-hati.


"Ya. Sekian lama kami tinggal berdua di pulau ini dan tampil apa adanya. Datanglah satu perahu yang hampir karam di dekat tebing. Mereka manusia biasa tanpa sayap. Sebelum menolong mereka, Bi bertanya, apakah aku bisa menyembunyikan sayapku untuk menghindari hal yang tak diinginkan yang mungkin terjadi."


"Jadi anda mengajarinya cara menyembunyikan sayap?" Dean memastikan.


"Ya. Dan beruntungnya, dia juga punya kemampuan terbang seperti yang dimiliki Bi. Jadi Yo lebih memilih menyembunyikan sayapnya." Ketua kota mengangguk-angguk.


"Lalu bagaimana anda bisa ada di dunia ini? Hemm, maksudku, sebelum anda bertemu Bi." tanya Dean.


"Kami tinggal di gugusan bintang. Negri yang damai. Sampai suatu ketika, ada makhluk lain menyerang dan menghancurkan tempat itu. Mereka memusnahkan sebagian besar bangsa kami yang cinta damai. Kami kalah tanpa perlawanan berarti."


"Aku dan sekumpulan remaja lain dikirim pergi ke tempat jauh dan asing. Yang menurutku, bahkan petugas pengirimpun tak tau itu dimana dan seberapa berbahayanya."


"Saat tiba di sana, kami dikelilingi pepohonan. Seperti hutan lebat. Tempat itu indah. Dan kami memutuskan untuk menetap di situ. Meski tak mudah untuk memulai sesuatu dari nol, tapi kami hidup dengan tenang dan damai."


"Namun kedamaian itu tak bertahan lama. Suatu hari saat berburu, kami menemukan seorang pria terluka. Seperti habis bertarung dengan binatang buas. Kami menolongnya hingga sembuh. Lalu dia pergi."


"Hanya berselang seminggu. Beberapa orang asing seperti yang kami tolong waktu itu, datang ke tengah hutan tempat kami tinggal. Mereka mengobrak-abrik tempat itu, membakar pondok-pondok yang kami bangun dengan susah payah. Mereka menculik beberapa wanita kami. Dan yang melawan serta berusaha menolong, berakhir mati. Mereka sangat kuat. Kami menyelamatkan yang tersisa dengan terbang menjauh."


Ketua kota mengusap matanya.


"Setiap mengingat ini, rasanya telingaku masih bisa mendengar teriakan ketakutan dan tangis para wanita yang mereka culik. Aku melihat mereka diseret. Dipukuli dan dipanggul di pundak lalu dibawa pergi."


"Setelah orang asing itu menghilang di hutan, kami lalu menyelamatkan yang terluka. Menguburkan yang tewas. Lalu meninggalkan tempat itu. Kami mencari hutan terlebat dan sangat jauh dari situ untuk bersembunyi."


"Tapi keberadaan kami ternyata sudah tersebar di dunia itu. Pada akhirnya yang memburu kami berasal dari beberapa ras. Entah apa yang tersebar hingga mereka sangat ingin menangkap kami."

__ADS_1


"Suatu hari, kami dikejar lagi. Kelompok kami hanya tersisa 15 orang dari 100 yang dikirim pergi. Disini tinggal 1 wanita yang terus kami jaga dan sedang hamil. Itu kami lakukan untuk menjaga kemurnian darah bangsa kami yang terakhir. Tapi saat berusaha terbang, mereka melempar jala dan menjerat sayapnya. Suaminya berusaha menolong. Tapi mereka memanahnya dengan keji hingga mati. Masih terngiang di telingaku lolongan wanita itu melihat cahaya kehidupan suaminya memudar. Dia terus memeluknya dari balik jala yang menjerat. Hingga orang-orang itu melepaskan pelukannya dengan paksa. Dan melempar jasad temanku ke jurang."


"Setelah itu kami menjauh. Lalu menemukan pulau kecil. Kami menetap di sana. Menghindari semua orang. Ada rasa sesal, kenapa tidak dari awal kami menemukan pulau itu untuk tempat sembunyi."


"Begitulah kami hidup dari hari ke hari. Sudah tak mungkin meneruskan darah murni bangsa kami. Jadi kami hanya bertahan hidup saja secara sederhana."


"Suatu hari aku berdua teman dapat giliran melaut, mencari ikan. Tak disangka sesuatu jatuh dari langit. Mengakibatkan gelombang besar yang langsung menghantam dan membalikkan perahu kecil kami. Membuatku pingsan dan terdampar di pantai ini. Lalu aku juga menemukan Bi. Entah bagaimana keadaan teman-temanku setelah itu."


Ketua kota terdiam sambil menerawang masa lalunya. Guratan-guratan hidup makin terlihat jelas di wajahnya.


"Aku teringat cerita-cerita di duniaku tentang the fallen angel. Mungkin anda adalah the fallen angel terakhir di dunia ini. Ras murni yang terakhir." Kata Dean sembari membuang pandang ke teluk, dimana perahu nelayan bergoyang-goyang seirama tarian angin.


Ketua kota tersenyum. "Coba kau ceritakan tentang tempat tinggalmu."


Mereka berbincang cukup lama. Sesekali ditingkahi tawa diantara lontaran-lontaran pertanyaan. Dean mengakhiri kunjungannya setelah melihat bahwa pria tua itu sudah melupakan kesedihannya.


"Aku sudah harus kembali. Nanti kami akan coba memeriksa kubah cahaya itu lagi setelah Sunil sadar."


"O ya... Bawalah para wanita kalian kemari. Kami akan menjamu paman dan bibi Yoshi." Ketua kota tersenyum.


"Mungkin nanti. Selama penguntit itu belum ditemukan, tak mungkin meninggalkan pondok kosong tanpa penjagaan." Jawab Dean.


"Aku mengerti. Jika dia adalah bagian dari ras kami, menurutku dia tidak akan bersikap jahat. Mungkin dia hanya ingin tau."


"Nanti kita bicarakan lagi tentang itu setelah Yoshi pulih. Mungkin dia bisa menggantikan anda membujuk makhluk itu." Kata Dean.


"Baiklah, aku kembali sekarang." Dean berpamitan.


Dean kembali ke hutan. Dia menyisir garis pantai untuk melihat sesuatu yang mungkin terlewat. Dean terbang dekat puncak pepohonan agar tidak menarik perhatian para nelayan di laut.


Matahari sudah tinggi. Dean belum menemukan satupun petunjuk menuju dunia lain, agar mereka bisa melanjutkan perjalanan pulang. Jadi dia menandai area terakhir yang diperiksanya.


'Lanjutkan besok lagi saja', batin Dean.


Dean kembali dengan melewati puncak-puncak pohon di tengah hutan.


"Pulau ini memiliki area hutan perawan yang luas. Para penduduk kota itu tak berani kemari karena harus melewati kubah cahaya di hutan larangan yang sangat berbahaya." gumam Dean.


"Kau sudah kembali?" sapa Michael.


"Ya. Bagaimana keadaan Sunil?" tanya Dean.


Michael hanya menggeleng murung. Dean berjalan menuju kamar.

__ADS_1


"Dimana yang lainnya? Kenapa sepi?" Tanya Dean lagi.


Alan menemani para wanita bermain air di bawah tebing. Marianne menunggui Sunil. Dan aku berjaga di sini." Jawab Michael.


"Hemm.." Dean melanjutkan langkah menuju kamar.


"Apa dia ada perkembangan?"


Marianne menggeleng. Dean mencoba meraba nadinya. Denyutannya terasa lebih jelas dan teratur. Dean mengangguk pada Marianne.


"Kau bisa istirahat sekarang. Biar aku yang gantian menunggui." Kata Dean.


"Baiklah." Marianne berdiri dari duduk dan keluar kamar.


"Ini. Ada sari buah anggur yang tadi kami buat. Minumlah." Marianne menyerahkan cangkir ke tangan Dean.


"Terima kasih Marianne. Kau selalu merawat kami seperti seorang ibu." Kata Dean tulus.


"Hanya itu yang bisa ku lakukan. Istirahatlah." Marianne menghilang dibalik pintu kamar.


Dean duduk dengan tubuh tegak di dipan kayu. Disesapnya minuman dengan perlahan sambil merenungi perjalanan mereka selama ini.


"Kapan semua ini berakhir? Jalan mana yang menuju dunia kami? Dimana harus ku cari petunjuk? Bagaimana dengan Robert dan lainnya? Ahhh.."


Dean menundukkan kepalanya diantara kaki.


"Perjalanan ini benar-benar bikin frustasi. Mungkinkah mereka di sana menganggap kami sudah mati? Lalu untuk apa lagi mencari jalan kembali?" Keluhnya bimbang.


"Apa kau pikir aku tak pernah berpikir begitu?"


Terdengar suara Michael dari pintu kamar. Dean melihatnya duduk di depan pintu, menghadap keluar.


"Kadang kupikir, mungkinkah mereka akan menerima kita lagi jika kita kembali? Terutama setelah kita ceritakan bagaimana perjalanan kita melewati berbagai dunia. Apa mereka akan percaya? Mungkin kita akan dianggap gila. Atau lebih buruk dari itu, mereka akan mencari dunia-dunia kecil yang kita lewati. Tempat damai dan indah ini mungkin akan mengalami kekacauan yang tak terbayangkan." Michael mencurahkan segala kegalauannya.


"Haruskah kita pulang?" Tanya Michael entah pada siapa.


Dean duduk mencangkung. Pikiran itu memenuhi kepalanya juga sejak dia berada di dunia kecil subur di gunung batu. Sejujurnya, jika bukan karena desakan Widuri dan bahaya kabut hitam, dia tak terlalu ingin pergi dari sana.


"Rasanya, jika nanti kita bisa menemukan tempat yang bagus untuk didiami dan berkeluarga, aku tak ingin kembali ke dunia yang penuh hiruk-pikuk dan dikejar-kejar waktu." Ucap Dean.


"Yeahh.. cari tempat yang damai dan indah lalu kita bisa menghabiskan usia pensiun di sana," Michael jadi teringat pantai tempat dulu dia diculik. Padang bunga yang indah. Pantai dan lainnya.


Kedua orang itu larut dalan angan masing-masing.

__ADS_1


*****


__ADS_2