
"Laras, aku harus menyayat sedikit punggungmu. Tampaknya ada gumpalan darah terkumpul di sana. Itu yang membuatmu terus demam," kata dokter Chandra.
"Ya... dok .... Lakukan saja ...," kata Laras lirih.
"Tabib akan memberimu ramuan untuk membuatmu tertidur. Tapi mungkin rasa sakitnya akan sangat terasa setelah itu. Apa kau siap?" tanya dokter Chandra lagi.
"Hemm ...." Laras mengangguk lemah.
"Aku akan menjagamu. Tidak apa-apa sakit sedikit, asal kau cepat sembuh," ujar Liam memberi semangat.
Tabib, putrinya dan Yabie masuk ruangan. Gadis itu menghampiri tempat tidur Laras. Dia membawa semangkuk cairan obat dengan aroma menyengat. Laras meminumnya dengan patuh.
Liam membantu membalikkan tubuh Laras agar bisa menelungkup. Lalu Liam keluar dan membiarkan gadis itu menggunting pakaian bagian punggung Laras.
Tabib dan dokter Chandra sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sayatan dan membersihkan darah beku ataupun nanah jika ada.
Laras mulai mengantuk. Yabie duduk di kursi di dekat kepala Laras. Bersiap membantu jika saat proses berlangsung, Laras terbangun karena kesakitan.
Dokter Chandra bersiap melakukan pembedahan. Tabib mengoleskan ramuan untuk menjaga luka tidak infeksi.
*
*
Di luar ruangan, Liam berjalan mondar-mandir di depan pintu.
"Kau seperti suami yang gelisah menunggu istri melahirkan saja." terdengar suara ejekan dari belakangnya.
Liam menoleh. "Alan!" serunya terkejut. Lalu Liam memeluk Alan tiba-tiba.
"Hah, ku ralat. Kau seperti bocah kehilangan mainan!" ujar Alan jengkel. Didorongnya tubuh Liam menjauh.
"Biarin. Itu karena aku senang melihatmu. Kau harusnya bangga," ujar Liam sambil tersenyum.
"Bagaimana kau bisa ke sini? Apa kau tau rumah tabib sebelumnya?" tanya Liam.
"Tidak. Saat Sunil sakit, tabib tua itu yang mendatangi kami ke pondok." jawab Alan.
"Lalu bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Liam heran.
"Eh, Sunil sakit apa? Bukankah ada dokter Chandra, kenapa memanggil tabib?" tanya Liam lagi.
"Pertanyaanmu banyak sekali." Alan geleng kepala.
"Ah, lupakan. Ayo duduklah. Aku hanya sedang khawatir pada Laras." kata Liam jujur.
"Tenanglah... dokter Chandra pasti akan melakukan yang terbaik. Kita berdoa saja." Alan merasa optimis.
"Hemmm... yah. Semoga semua berjalan baik," timpal Liam.
"Dimana Dean? Dia tidak ikut ke sini?" tanya Liam.
"Sebenarnya, saat ini kami sedang merenovasi pondok. Jika tidak segera diselesaikan, akan repot jika tiba-tiba turun hujan." Alan menjelaskan.
"Jadi kalian bergantian. Itu bagus," sahut Liam.
"Yah... Oh ya, besok adalah hari pemakaman ibunya Yoshi dan Yabie. Kami akan pergi ke kediaman ketua kota. Mungkin setelah itu, bisa menjenguk kalian di sini."
Alan memberitahukan rencana tim Dean. Liam mengangguk-angguk mengerti.
"Alan, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Liam.
__ADS_1
"Soal apa?" balas Alan.
"Setelah aku sampai di desa ini, aku menyadari bahwa desa ini terlihat kuno sekali. Lalu bagaimana bisa Dean punya saudari yang menjadi istri pemimpin kota? Apa saudarinya itu juga terjebak di dunia ini?" tanya Liam penasaran.
"Tentang itu, nanti saja diceritakan. Sebab panjang ceritanya. Mungkin 7 hari 7 malam pun tidak akan selesai," ujar Alan menggoda Liam.
Sejenak Liam bingung, lalu menjadi kesal setelah menyadari kalau Alan mempermainkannya. Dipukulnya lengan Alan.
"Aduh...." Alan mengaduh.
"Kalau tak mau cerita ya sudah. Nanti aku tanya dokter Chandra saja." Liam pasang muka cemberut.
"Hahahaa.. kau ternyata imut juga jika seperti itu," ledek Alan.
"Apanya yang imut. Kau kira aku bocah kecil?" Liam melotot.
"Pppffttt." Alan menutup mulutnya menahan tawa.
*
A few monents later
*
"Alan, apa kau di luar? Masuk!" terdengar suara panggilan dokter Chandra.
"Ya dok, aku masuk," ujar Alan sambil berdiri dari duduknya.
Alan membuka pintu dan masuk. Liam mengekorinya dari belakang.
"Liam, kau tunggu di luar dulu," perintah dokter Chandra tegas.
"Tapi...."
Tapi Alan langsung terdiam melihat punggung terbuka di depannya. Yabie sudah berkeringat, menjaga agar Laras tak terlalu kesakitan.
"Kau lihat ini."
Dokter Chandra menunjuk ke bagian tulang punggung Laras.
"Itu terlihat bergeser," jawab Alan cepat.
"Nah, bisakah kau menyambungkannya kembali? Dengan kekuatanmu mungkin bisa digeser tanpa disentuh." Harap dokter Chandra.
Alan memiringkan kepalanya ragu. Dahinya mengernyit. Tapi jika tak dilakukan, maka Laras akan terus kesakitan.
"Aku bukan ahli orthopedi dok. Tapi biar ku coba menyambungkannya," jawab Alan.
"Baik, kita segera mulai. Yabie, apa kau butuh istirahat dulu?" tanya Alan.
Yabie menarik nafas panjang, lalu mengangguk. "Ayo mulai."
Setelah Yabie mengeluarkan kemampuannya, Alan juga mulai berkonsentrasi menggerakkan jarinya. Menarik satu ruas tulang belakang yang bergeser dari tempatnya.
Tubuh Laras terlihat sedikit bergetar. Tampaknya dia bisa merasakan sakitnya. Yabie menyalurkan lebih banyak kekuatannya untuk membantu Laras.
*
"Ah, selesai juga. Apa itu cukup dok?" tanya Alan.
Dokter Chandra memeriksa lebih teliti. Dia mengangguk puas.
__ADS_1
"Ini cukup. Terima kasih Alan. Sekarang tinggal menutupnya," Ujar dokter Chandra.
"Jika butuh bantuan lain, katakan saja. Aku keluar dulu," Alan berjalan keluar ruangan.
"Bagaimana? Laras kenapa?" serbu Liam saat melihat Alan keluar.
"Tidak ada. Bekas darah yang menggumpal sudah dibersihkan. Semua baik-baik saja sekarang. Dokter Chandra akan menjahit lukanya," kata Alan.
"Oh syukurlah jika baik-baik saja." ujar Liam lega.
Keduanya kembali duduk dan menunggu.
"Lalu kenapa kau masuk tadi?" Liam kembali pada pertanyaannya semula.
"Kau benar-benar gigih ya. Hahahaa.." Alan tertawa. Tak mudah mengelak dari rasa ingin tau Liam yang besar.
"Jangan mempermainkanku. Katakan ada apa? Apakah kondisi Laras buruk?" Liam kembali cemas.
"Tck! Itulah kenapa aku malas mengatakannya. Kau pencemas. Lihat dirimu. Kau sampai sekuatir ini padanya. Apa kau menyukainya?" goda Alan untuk mengalihkan pikiran Liam.
"Alan, bukan seperti itu. Waktu aku hampir mati dan Robert kemudian lenyap di celah dunia lain. Laras tetap menjagaku. Kau tau? Dia sendirian mencari makanan untuk kami berdua. Dia tidak meninggalkanku saat itu. Padahal, bisa saja dia pergi masuk ke celah dunia itu untuk menyusul Robert. Aku berhutang nyawa padanya," ujar Liam. Airmatanya menetes tanpa aba-aba.
Alan merasa terharu. Seperti itulah yang dirasakannya juga terhadap teman-teman satu timnya. Saling bergantung satu sama lain. Beruntung tim Dean selalu bersama. Tak terbayang sulitnya jika terpencar-pencar seperti yang dialami tim Robert.
"Kau bisa tenang sekarang. Kita sudah saling menemukan. Dan kita akan terus saling menjaga." Alan menepuk pundak Liam hangat.
Liam mengangguk. Wajahnya masih sendu. Namun ada yang mulai mengganggu benaknya.
'Apakah aku menyukai Laras? Atau hanya sekedar rasa hutang budi?' batinnya.
Alan tersenyum dikulum melihat wajah Liam memerah saat terdiam.
'Hah, anak ini. Dia bahkan tak menyadari jika menyukai Laras.'
Alan duduk diam. Pandangannya jauh ke langit sore. Pikirannya mengembara pada keluarganya. Ada rasa rindu menggores hatinya. Rasa nyeri yang menusuk teramat perih. Alan mengatupkan rahangnya keras menahan pedih itu.
"Apakah kita benar-benar bisa pulang, Alan?" Liam jelas sudah merasa bimbang.
"Aku tak bisa menjawab itu, Liam," jawab Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari awan sore yang berarak.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Diam dan hanya memandang langit sambil melamun.
Krieettt...
Pintu ruangan dibuka. Putri tabib keluar membawa baki. Di sana ada wadah air yang merah gelap Setumpuk kain kotor ditumpuk di samping wadah itu. Dia berlalu pergi.
Lalu tabib ikut keluar. Dia juga membawa baki lain berisi peralatan kotor dan kain-kain penuh noda darah. Dia juga melangkah pergi.
Liam tak bisa menahan diri untuk masuk.
"Bagaimana Laras dok?" tanya Liam tak sabar.
"Operasinya sudah selesai. Semoga tidak terjadi hal yang tak kita inginkan."
"Kau keluar dulu. Putri tabib akan segera mengganti pakaian Laras. Setelah itu dia bisa istirahat," jelas dokter Chandra.
"Baik dok. Aku tunggu di luar."
Liam kembali keluar, meskipun hatinya masih cemas.
'Apa maksud ucapan dokter Chandra tadi? Apakah mungkin akan terjadi hal buruk pada Laras?' pikir Liam kalut.
__ADS_1
******