PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 147. Tabib dan Alan


__ADS_3

PS: Author sibuk, jd gak bisa 2 chapter yaa.. Cumaaa.. 1 chapter inipun udh dibuat panjaang. Hampir 2ribu kata hloo.. Itu artinya hampir 2 chapter.. krn 1 chapter min. seribu kata.. Happy reading kk 🥰


*


Yoshi sudah lama kembali ke bukit untuk menemui tabib. Dean masih berpikir keras. Dia merasa harus menemukan sumber penghalang komunikasi di pulau besar itu. Jika area seluas ini, maka harusnya dia ada di tengah-tengah hutan itu.


'Apakah cahaya suar yang di lihat Alan sekilas itu ada hubungannya?' pikir Dean.


"Tak heran Bi dan suaminya tak memilih pantai yang di sebelah sana. Ternyata bagian kota pelabuhan ini tak terjangkau jammer penghalang komunikasi. Jadi mereka tetap bisa mengetahui keberadaan satu sama lain." Gumam Dean.


"Kau istirahatlah dulu. Agar bisa berjaga malam nanti." Saran Widuri.


"Hemm.." Dean menarik bangkunya ke dekat tiang atap pelataran. Lalu memejamkan mata sambil bersandar di tiang kayu besar.


Widuri hanya disa menggelengkan kepala melihatnya tidur begitu rupa.


Diangkatnya wadah" kotor dari meja untuk dicuci. Meriksa wadah kue terakhir, apakah sudah matang atau belum.


Tak banyak yang dilakukannya lagi. Pondok itu sunyi. Matahari mulai condong ke barat. Widuri memutuskan untuk mandi dan mencuci pakaian-pakaian kotornya dan Dean yang telah menumpuk.


Alan dan Nastiti kembali saat Widuri masih di kamar mandi. Mereka menemukan Dean yang tertidur tenang bersandar di tiang pelataran. Nastiti menuju kamar. Dia hanya menemukan Marianne yang belum bangun dari tidur siangnya.


"Widuri, apakah kau di dalam?" Nastiti mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya. Kalian sudah kembali? Syukurlah. Tolong katakan pada Alan untuk mengisi air kamar mandi. Aku sedang mencuci." Sahut Widuri dari dalam.


"Oke." Jawab Nastiti.


"Ada kue di mangkuk dapur. Kalian makanlah." Teriak Widuri lagi.


"Makasih sayang." Sahut Nastiti.


Alan segera melesat ke bawah tebing untuk mengambil air. Dia mengisi penuh penampungan air di atas kamar mandi. Dia tak sadar ada yang terkejut melihat aksinya itu.


"I.. itu. Di.. dia bisa mengendalikan a.. air?" Orang itu berkata dengan gagap.


Yoshi tersenyum. Diturunkannya orang tua berambut putih itu di tanah. Segera sebuah tongkat digunakannya untuk menstabilkan posisi tubuhnya.


Tiba-tiba seekor binatang besar melompat ke depannya, mengaum dan memperlihatkan taringnya. Tabib itu hampir saja jatuh terduduk karena kaget, jika tidak segera ditahan Yoshi.


"Cloudy! Jangan nakal." Alan mengelus kepala Cloudy lembut.


Tapi tabib masih berwajah pucat. Terlalu banyak kejutan saat pertama tiba. Dia harus mengatur deburan jantungnya lebih dulu sebelum mengalihkan perhatian.


"Tabib, ini paman Alan. Ini bibi Nastiti." Yoshi memperkenalkan.


"Ini tabib yang diminta ayah untuk memeriksa paman Sunil." Jelas Yoshi.


"Oh, baiklah. Silahkan duduk. Sunil ada di kamar." Sambut Alan.


Yoshi menarik sebuah bangku untuk tabib itu. Saat itulah dia menyadari bahwa Dean sedang tidur pulas. Jadi dia tak mengganggunya.


Nastiti menuang teh yang selalu hangat karena tekonya terus di letakkan dekat bara perapian dapur. Sepiring kue yang sebelumnya disebut Widuri juga dihidangkan.


"Silahkan." Tawar Nastiti ramah.


"Sebentar ku lihat Sunil dulu." Alan berjalan menuju kamar. Dia melihat Marianne keluar dari kamarnya.


"Siapa itu?" tanya Marianne.


"Tabib. Yoshi yang bawa." sahut Alan. Marianne mengangguk dan membiarkan Alan pergi.


"Widuri, apa kau di dalam?" Marianne mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya, sebentar.. sebentar.." Sahut suara di dalam.


Tak lama Widuri keluar sambil membawa keranjang cucian basah. Wajahnya terlihat segar. Keranjang itu diletakkannya di tepi pelataran.


"Kau sudah membawa tabib?" Widuri menghampiri Yoshi.


"Ya, bibi. Ini tabib yang dikatakan ayah tadi pagi." Jawab Yoshi.


"Dimana Alan?" Tanya Widuri.


"Dia melihat Sunil di kamar." Nastiti menunjuk ke arah kamar. Alan keluar diikuti Michael yang tampak baru bangun tidur.


"Tabib, itu paman Michael. Ini bibi Widuri. Yang tidur menyandar tiang itu paman Dean, saudara ibuku. Yang barusan masuk kamar mandi adalah bibi Marianne."


Yoshi memperkenalkan semua orang di situ pada sang tabib.


"Saya sudah merapikan kamar. Anda bisa melihat Sunil. Silahkan." Ujar Alan dengan senyum ramah.


"Dean, bangun. Tabib sudah datang." Widuri membangunkan Dean dengan lembut.


"Apa?" Tanya Dean.


"Tabib sudah datang." Widuri menoleh ke arah kamar dan menunjuk dengan dagunya ke arah itu.


"Baiklah. Aku lihat ke sana." Dean segera bangkit dari duduknya dan menyusul Alan.


Widuri melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Marianne mengangkati kain kering dari jemuran. Sekarang Widuri punya tempat untuk menjemur.

__ADS_1


"Menurutmu, apa sunil masih bisa bangun?" Tanya Marianne pada Widuri sambil melipat kain.


"Bahkan di dunia kita, kondisi pasien koma hanya bisa menunggu dia sadar dengan sendirinya." Balas Widuri.


"Tapi ini sudah 8 hari. Semakin lama dia dalam kondisi ini, semakin buruk dampak fisiknya saat dia sadar nanti." Marianne merasa sedih membayangkannya.


Widuri tak bisa menjawab lagi. Itu juga kenyataan pahit yang harus mereka terima jika memang terjadi. Yang penting Sunil bisa sadar saja, sudah membuatnya bahagia.


Nastiti ikut duduk di pelataran disamping Marianne.


"Pastel ini sangat enak," katanya.


Marianne meliriknya.


"Isinya dari kacang walnut. Diberi Yoshi."


"Pantas saja rasanya luar biasa."


"Eh, bukankah kacang walnut bagus utk otak? Bagaimana caranya agar Sunil bisa mengonsumsi ini?" Nastiti mencoba memikirkan cara memasak kacang agar Sunil juga ikut menikmatinya.


"Selai kacang? Sirup kacang? Jus? Atau bubur kacang? Bagaimana menurut kalian?" Nastiti merasa dirinya sangat brilliant karena sudah menemukan ide cerdas.


"Kenapa bukan susu kacang? Seperti orang membuat susu kedelai atau susu almond?" Widuri menyela.


"Widuri benar. Nanti kita rendam dulu kacangnya lalu giling di penggiling tepung." Marianne segera menyambut ide Widuri.


Nastiti cemberut.


"Ternyata aku masih kurang ide. Huh." Gerutunya.


"Justru karena idemu, aku jadi ingat bahwa kacang bisa dijadikan susu." Widuri menyemangati Nastiti.


"Benarkah?" Wajah Nastiti kembali berseri-seri.


"Kau pergi mandilah. Bau." Kata Marianne pada Nastiti.


"Aku sudah mandi di laut tadi." Bantah Nastiti.


"Pantas saja bau amis. Pergi mandi sebelum sore. Kita sudah harus menyiapkan makan malam." Marianne tak memberi Nastiti kesempatan untuk membantah.


Marianne lalu membawa semua baju yang sudah dilipat rapi ke dalam kamar. Karena pintu kamar pria biasanya terbuka, maka suara di dalam dapat terdengar jelas.


"Jadi bagaimana dok? Bisakah saudara kami terbangun?" Tanya Alan penuh harap.


Marianne tak mendengar jawaban tabib itu. Dia meneruskan langkah untuk menyimpan pakaian.


Marianne, Widuri dan Nastiti sudah sibuk di dapur. Tabib itu cukup lama berada di dalam kamar. Para wanita itu sedang menekan rasa gelisah mereka dengan melakukan kegiatan.


Hari benar- benar sudah petang ketika tabib keluar dari kamar. Keningnya berpeluh. Yoshi mengajaknya duduk, dan mrmberikan minuman.


"Alan, tabib terlihat lelah. Kenapa tak kau keluarkan buah kelapa muda agar staminanya kembali?" Saran Nastiti.


"Ahh, aku lupa tentang itu." Alan menggaruk kepalanya.


Dikeluarkannya buah-buah kelapa yang mereka panen siang itu. Sekarang pelataran ity penuh dengan buah kelapa.


"Banyak sekalu. Kalian menggunduli hutan kelapa?" Tanya Dean heran.


Alan cengengesan. "Aku tidak tau mana yang tua atau muda. Kalian pilih saja sendiri." Ujarnya.


Michael menimbang-nimbang dan mengguncang beberapa kelapa. Lalu memilih satu. "Coba belah yang ini. Mungkin cukup enak."


Dean mengambil buah kelapa, lalu sebuah pisau ukuran sedang tiba-tiba muncul di tangannya. Membuat tabib sangat terkejut.


"Ba.. bagaimana di.. dia me.. lakukannya?" Tanyanya gugup.


"Setiap orang dari bangsa ibuku, punya keahlian sendiri. Seperti ibuku yang ahli bertarung, maka paman-paman yang lain juga punya keahlian mereka sendiri." Jelas Yoshi.


"Tabib tidak usah khawatir, kami orang baik kok." Kata Michael dengan senyum lebar.


Dean menyerahkan buah kelapa yang sudah dibukanya. Widuri memberikan sendok.


"Silahkan dicicipi. Ini baik untuk mengembalikan tenaga yang kelelahan." Ucapnya.


"Dan ini pastel walnut yang sangat baik untuk kesehatan otak kita." Nastiti nimbrung.


Tabib itu akhirnya berani mencoba setelah melihat senyum Yoshi.


"Ini, sangat menyegarkan."


Tabib meresapi tiap suapan buah kelapa muda. Lalu dia mencoba pastel walnut panggang yang dihidangkan.


"Ini.." Tabib memejamkan matanya mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa kue itu.


"Bagaima rasanya?" Yoshi penasaran.


"Ini unik.." Jawab tabib.


"Unik? Deskripsi makanan macam apa itu? Sudahlah bibi. Aku tak mau ikut memasak lagi lain kali." Yoshi cemberut.


Tabib terkejut. "Apa kau yang membuatnya? Ini enak.. sungguh enak." Tabib membujuk Yoshi.Tapi Yoshi sudah terlanjur ngambek.

__ADS_1


"Jujur ini sangat enak. Orang tua ini hanya tak bisa menjelaskan rasa unik di dalamnya." Tabib tua itu masih membujuk Yoshi. Semua tersenyum melihatnya.


"Jadi bagaimana dengan keadaan Sunil? Bisakah anda membuatnya bangun?" Marianne bertanya tak sabar.


Tabib menghela nafas sejenak.


"Itu sulit. Tapi kita bisa mencoba beberapa metode untuk merangsang kesadarannya.."


"Misalnya?" potong Nastiti tak sabar.


"Yah, kita bisa lanjutkan seperti metode kalian selama ini, mengajaknya bicara, menyentuhnya.."


"Tapi itu tak membuahkan hasil. Semakin lama dia begitu, akan makin buruk akibatnya sekalipun dia sadar nanti." Tukas Marianne.


Tabib mendengarkan dengan sabar.


"Kita tau penyebab dia seperti itu..."


"Ya, gara-gara kenakalan dia." Nastiti mentowel jidat Alan dengan gemas.


"Kalian selalu memotong perkataanku." Tabib tua itu menatap tajam semua orang. Pelataran kembali hening.


"Teman kalian jadi begitu karena sambaran petir kan. Bagaimana jika kita biarkan dia mendapatkan sambaran lagi untuk merangsang responnya?"


Semua ternganga tak percaya dengan ide sang tabib.


"Masa dia mau disambar petir lagi? Bisa koit dong." sergah Widuri.


Ditinggalkannya meja menuju dapur dan berkutat di sana. Cloudy mengikutinya.


"Kau sudah lapar sayang? Mari kita siapkan makan malam yaa." Ucapnya lembut. Marianne dan Nastiti datang membantu.


"Jadi bagaimana maksud anda tadi?" Dean kembali fokus pada tabib.


"Saya tidak dapat menjamin teman anda sadar. Jadi jika bisa, coba rangsang dia dengan sambaran petir. Tapi jangan yang berkekuatan besar seperti sebelumnya." Tabib menguraikan idenya.


Alan tersenyum misterius.


"Apakah yang seperti ini bisa?" Alan menunjukkan telapak tangannya yang memancarkan setruman petir kecil-kecil. Terdengar derakan halus dari sinar-sinar itu.. zzzzzttt.. blarr... zzzzttt..


Tabib tua itu reflex mundur dan jatuh terjengkang ke belakang karena kaki bangku yang didudukinya tersangkut di celah lantai.


"Aduh.. ini terlalu banyak. Terlalu banyak hal tak terduga." Keluhnya.


Dean membantunya bangun.


"Anda baik-baik saja? Ayo minum dulu."


Dean memelototi Alan. "Kau sembrono." Tegurnya.


"Apa salahku? Pak tua ini yang bilang petir kecil. Aku hanya memberi contoh." Kata Alan membela diri.


"Kau bisa mengendalikan air dan petir?" Tanya tabib setelah dia lebih tenang.


"Air? Tidak. Siapa yang mengatakan aku mengendalikan air?" Tanya Alan heran.


"Aku sendiri yang melihatmu mengendalikan air lalu masuk ke atas sana." Tunjuk tabib ke arah atas kamar mandi.


"Oh, itu hanya membawa air dari bawah tebing. Aku tidak bisa mengendalikan air. Tapi bisa ini (sambil menunjukkan petir) dan ini (menunjukkan cahaya laser merah di telapak tangannya yang satu lagi)


Tabib itu benar-benar terkesima. 'Bangsa yang luar biasa' batinnya.


"Ehemm.. baiklah. Mungkin petir kecilmu bisa dicoba untuk merangsang titik sarafnya..."


"Aku akan menyetrumnya sekarang." Alan bangkit mau ke kamar. Tapi segera ditarik Dean lagi.


"Duduk dan dengar dulu. Kesembronoanmu sudah membuat banyak kesulitan untuk Sunil. Jadi jangan ditambah lagi." Kata Dean tegas.


Alan akhirnya duduk diam dan menunggu penjelasan tabib tua itu.


Tabib itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Alan. Tak heran kawannya jadi korban.


"Ckk. Kau harus belajar bersabar. Jika terus begini, nanti semua temanmu akan mengalami nasib sama seperti Sunil. Dan kau akan sendirian!" Katanya pedas.


Alan mengedip-ngedipkan mata tak percaya. 'Apa aku sedang diomeli oleh si tua ini? Hah.. berapa umurnya? Beraninya mengomeliku?' rutuk Alan kesal di hati.


Dean melihat seberkas cahaya merah di mata Alan. Tangannya segera diletakkan di bahu Alan untuk menyadarkannya dari amarah. Cahaya merah di mata Alan meredup.


Yoshi juga melihat perubahan Alan sejemak. Dan dia waspada untuk menjaga tabib dari hal-hal yang tak diinginkan.


Tabib tua itu bukan tak menyadari ketegangan yang terjadi akibat kata-katanya barusan. Dia harus mengakhiri ini.


"Coba setrum ujung-ujung jarinya dengan petir kecil. Dan lihat apakah ada responnya." Katanya to the point.


Alan segera berdiri dan melesat masuk kamar. Dean dan Michael menyusulnya. Tabib tua itu akhirnya dapat bernafas lega.


"Mengerikan. Dia sangat mengerikan." Gumamnya.


Diambilnya buah kelapa mengangkatnya ke mulut dan langsung menuang semua isinya. Air kelapa itu meluncur masuk untuk membaahi kerongkongannya yang kering.


*****

__ADS_1


__ADS_2