
"Semua sudah berkumpul. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Ada tempat yang lebih baik untuk istirahat," kata Linch.
"Oke."
Tim Dean kembali bersiap melanjutkan perjalanan. Mengikuti langkah Linch menapaki tanah lembab.
Tak ada yang tau pasti berapa lama waktu yang berlalu. Namun saat langit mulai terang, mereka sudah mencapai batas hutan rawa. Di depan mereka adalah tempat terbuka sepanjang mata memandang. Jika tak ada rumpun perdu berwarna-warni di sana-sini, maka tempat ini dapat disebut padang rumput yang luas.
Niken dan Widuri terpukau.
"Tempat yang sangat indah."
"Tidak! Daratan ini penuh sihir!" bantah Linch.
???
"Apa maksudmu?" tanya Robert.
"Jika tiba masanya, sihir mereka keluar. Seluruh tempat ini akan dipenuhi aura misterius. Ada api di langit yang terlihat seperti laut bergelombang. Dan semua tanaman di sini berubah semerah api." Linch bergidik ngeri.
"Apakah itu seperti pikiranku?"
Robert menatap Dean dengan kening mengerut.
"Aurora!" Seru Dean dengan wajah tak percaya.
"Katakan padaku. Apakah maksudmu, langit jadi berubah warna, hijau, kuning, merah, ungu dan sebagainya?" tanya Dean tak sabar. Pundak Linch diguncangnya. Membuat pria itu terkejut.
"Kau... kau mengetahuinya?" tanyanya bodoh.
"Itu aurora! Kita ada di bagian utara bumi sekarang!"
Wajah Dean yang berseri, membuat heran Indra.
"Kau terlihat sangat gembira, Dean. Apa kau tau jalan pulang dari utara?" tanya Indra.
Dean menggeleng. "Bukan begitu. Dengan mengetahui lokasi saat ini, setidaknya kita tau, bahwa kita berada di utara bumi," jawab Dean.
"Apa ada pengaruhnya dengan kita?" tanya Michael.
"Yahh... mungkin tak ada pengaruhnya. Tapi satu hal yang pasti, kita sangat jauh dari Indonesia. Namun kita bisa bersiap, menghadapi suhu yang mungkin lebih rendah."
Meski sedikit bingung, yang lain tetap setuju pendapat Dean. Suhu di utara jauh lebih dingin.
"Jadi Linch, tempat ini bukan penuh sihir. Yang kau lihat di langit itu, adalah hal biasa di langit bagian utara. Jika kau memperhatikannya dengan baik, maka kau akan menemukan keindahan di situ," ujar Robert.
"Dan, apa kau tau betapa indahnya rumpun-rumpun perdu itu jika ditata dengan baik? Itu adalah bunga rumput Kochia. Dia akan berubah warna seiring pergantian musim! Jadi itu bukan sihir."
Niken bicara tanpa mengalihkan pandangan dari padang rumput yang ditumbuhi rumpun bunga kochia yang berwarna-warni. Matanya berbinar senang.
"Kenapa kau dan istrimu tidak tinggal di sini saja?" tanya Marianne.
"Ya, ini tempat yang bagus untuk memulai hidup. Kau bisa menanami sebagian padang rumput ini dengan tanaman." Dokter Chandra juga berfikir sama.
__ADS_1
Dean menggeleng tak setuju.
"Jika memang ini utara, maka kau mungkin hanya meniliki waktu yang singkat untuk berkebun. Selebihnya adalah suhu rendah yang membekukan. Itu akan menyulitkan bagi yang tak terbiasa."
"Baiklah. Sekarang, apakah kita bisa istirahat, atau melanjutkan perjalanan?" tanya Leon.
"Jika menurut kalian perubahan di tempat ini bukan karena sihir, kita bisa istirahat sebentar di sini."
Linch segera mencari beberapa ranting kering di sekitar. Dia membuat api unggun untuk mengusir hawa dingin pagi hari.
Mereka berkumpul mengelilingi api. Dean mengeluarkan makanan untuk sarapan yang sudah dimasak sehari sebelumnya.
Meski sudah berkali-kali melihat keanehan tim ini, tapi bukan berarti Linch tidak terkejut melihat setumpuk roti tiba-tiba muncul entah dari mana. Lalu ada tempayan air yang jadi sumber air minum mereka. Barang-barang sebanyak ini, tidak mungkin bisa disimpan dalam tas punggung.
'Apa mereka penyihir?' batinnya.
"Berapa jauh lagi dinding cahaya itu?" tanya Alan.
"Setengah hari perjalanan," jawab Linch.
Dean manggut-manggut. Dia bersiap dan berdiri.
"Kalau begitu, baiknya kita berangkat sekarang. Jadi kau masih bisa pulang hari ini."
Tim kembali melanjutkan perjalanan, melintasi padang bunga kochia yang sangat indah. Lalu melewati hutan cypress.
"Di sini!"
Linch berhenti di dekat tumpukan batu. Atau lebih tepatnya, seperti puing, bekas runtuhan sesuatu.
"Dimana dinding cahayanya?" tanya Leon.
Linch memungut sebutir kerikil. Melemparnya ke arah depan. Kerikil itu menyentuh satu permukaan yang tiba-tiba memendarkan cahaya. Terlihat seperti bidang kaca transparan kebiruan.
"Woaaa...! Dinding yang tersembunyi!" kata Indra.
"Siapa yang pertama kali mengetahui ini? Bukankah harusnya itu tak terlihat?" tanya Leon pada Linch.
"Aku dan temanku. Kami sedang berburu rusa saat tak sengaja berlari kemari. Rusa itu terus berlari dan hilang ke dalam cahaya itu.
"Dia menyebarkan berita itu di kota. Dan beberapa kali mengantar orang ke sana. Tapi dia tewas di bawah pohon kematian, di rawa. Dari 15 orang yang pergi, hanya seorang yang kembali dengan ketakutan dan setengah gila."
Semua diam mendengarnya.
Linch melanjutkan ceritanya.
"Sejak saat itu, jalur jalan menuju rawa dijaga ketat. Yang ingin pergi ke sana, harus membayar biaya masuk yang besar."
"Baiklah. Sekarang kami sudah di sini. Kau mengantar kami dengan selamat. Ini sisa bayaranmu."
Dean menyerahkan kantung uang pada Linch.
"Kalian yakin ingin pergi ke sana?" tanya Linch sekali lagi. Matanya yang cemas tak bisa disembunyikannya.
__ADS_1
Dean mengangguk. "Kami telah lama berpetualang dan berkali-kali juga melewati dinding cahaya."
"Ini sedikit makanan untuk bekalmu di jalan nanti." Marianne menyerahkan sebungkus roti pada Linch.
"Terima kasih," ujar Linch terharu.
"Kau juga bisa mengisi tempat airmu hingga penuh di sini."
Dean mengeluarkan tempayan air abadi.
Linch mengangguk. Memang akan sulit mendapatkan air bersih di sini. Jadi dia mengisi kendi air yang tergantung di pinggangnya sampai penuh.
"Baiklah. Terima kasih. Bekalku sudah cukup. Kalian bisa pergi. Aku akan mengawasi hingga kalian pergi," ujar Linch.
Dean mengangguk. Menepuk pundak Linch dan tersenyum.
"Ayo! Sudah saatnya kita pergi!" ujar Dean.
"Semangat... semangat. Semoga langkah kita kali ini langsung membawa kita pulang," harap Widuri.
"Semoga...."
"Semoga...."
Dean membagi tim itu dalam pasangan. Itu untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang ada di balik dinding cahaya. Tiap pasangan harus bisa saling menjaga.
Jane menaiki seekor kuda bersama Leon. Kuda yang seekor lagi dinaiki Michael dan Robert. Sunil memegang tangan Marianne. Dan Alan menjaga Dokter Chandra. Sisanya, menjaga pasangan masing-masing.
Dean memeluk Widuri dan Cloudy.
"Biar aku yang masuk lebih dulu."
"Bye Linc!"
Teriak mereka sebelum melompat memasuki cahaya.
Linch hanya bisa melambaikan tangan ke arah cahaya yang telah menelan orang-orang yang baru dikenalnya itu.
Dia menggeleng. "Sayang sekali. Kalian orang-orang baik, tapi mengambil keputusan bodoh untuk masuk ke sana. Linch tertunduk beberapa saat. Kemudian bidang cahaya itu menghilang sama sekali.
"Kau sudah kenyang sekarang?" tanya Linch entah pada siapa.
Dia berbalik, lalu berjalan menjauhi tempat itu dengan wajah murung.
"Harusnya ku beri tau mereka apa yang menunggu mereka di sana." Linch terus saja bergumam di sepanjang jalan.
"Orang-orang baik itu. Mereka tak pantas berakhir seperti itu."
Linch menarik rambutnya dengan kesal. Dia menyesali diri karena tak menginformasikan dengan jujur tentang dinding cahaya itu.
"Hah... tiap orang punya pilihan. Mereka telah membuat pilihannya sendiri. Jadi jangan mengutukku!"
Linch berjalan cepat. Dia ingin segera tiba di rumah sebelum malam berakhir. Memeluk Leah dan mengusir rasa bersalah di hatinya.
__ADS_1
******