
"Jadi bagaimana sekarang?" Tanya Laras.
"Mumpung siang, aku ajan memeriksa celah batu ini dulu." Kata Robert.
"Kalau begitu, aku akan memeriksa di luar. Mungkin ada benda terdampar lainnya diantara karang." ujar Laras
"Hemm," jawab Robert singkat.
"Liam, kau tunggu di sini" Laras keluar tanpa menunggu jawaban.
Dari tebing Laras bisa lihat laut yang surut. Dia turun hati-hati. Menyapu hamparan batu karang itu dengan mata elangnya.
Hasil pencarian Laras dari pagi hingga siang adalah sebuah ransel yang entah milik temannya yang mana. Semua pakaian yang ada di situ basah kuyup. Tak ada makanan sama sekali di dalamnya.
Laras juga menemukan 2 butir kelapa. Dia girang sekali. Buah kelapa adalah harta yang sangat berharga saat ini, karena mereka tak menemukan sumber air tawar untuk minum.
Laras kembali mencari-cari. Sesekali dicobanya menangkap ikan yang terjebak di air yang menggenangi kumpulan karang membentuk kolam kecil. Tapi itu tak mudah. Ikan itu lincah sekali mengelak ke sana- ke mari. Sampai dia capek sendiri dan memandang dengan keki.
"Kau sedang apa?" terdengar suara Robert dari atas tebing.
"Ini ada kolam karang kecil. ada beberapa ekor ikan di sini. Tapi susah banget menangkapnya." keluh Laras.
Robert turun dan menghampiri.
"Kenapa tak kita kuras saja airnya?" usul Robert.
"Ah, kenapa tak terpikir olehku yang seperti itu?"
Laras bersemangat menciduk air dengan tempurung kelapa kosong sisa yang mereka makan tadi malam. Robert membantunya mengeringkan kolam karang kecil itu.
Tak lama ikan-ikan itu menggelepar tatkala kolam kecil itu hanya menyisakan lumpur. Dengan sigap keduanya mengumpulkan ikan-ikan itu. Membersihkannya di air laut, lalu menyisihkannya di tebing bersama 2 buah kelapa.
Robert masih mencoba mengaduk-aduk lumpur kolam itu dengan patahan kayu yang ditemukannya. Benar saja. Ada beberapa gurita bersembunyi di balik lumpur. Keduanya bahagia sekali melihat hasil perburuan itu.
"Laras, kau bawa dulu semua ini ke tempat Liam. Aku mau periksa area sana." kata Robert.
"Jangan jauh-jauh ya." Laras kembali memanjat naik tebing untuk membawa hasil temuan itu ke dekat Liam.
"Kau tak tidur lagi?" tanya Laras yang melihat Liam masih membuka mata.
"Aku sudah puas tidur. Apa yang kau bawa?" tanya Liam.
Beberapa ikan, gurita dan buah kelapa. Ini bisa kita jadikan makan hari ini" jawab Laras.
"Lihatlah, api unggun itu masih berasap. Coba cari ranting kering untuk menjaganya tetap menyala " saran Liam.
Laras mengikuti saran Liam. Dikumpulkannya beberapa ranting kering di dalan celah itu. Lalu menyalakan perapian kembali. Kali ini digunakannya permukaan batu ceper sebagai alas memasak.
Siang itu perut ketiganya terisi penuh. Tenaga kembali pulih. Luka di kaki Liam tak lagi mengeluarkan darah. Tampaknya orang misterius itu telah memberi obat yang tepat untuknya.
"Aku melihat di balik dinding itu ada batu-batu yang bisa dijadikan pijakan untuk ke atas." Kata Robert.
"Baik, kita bisa naik lewat jalan itu," sahut Laras.
"Bagaimana jika aku lihat dulu situasinya? Kalian tunggu di sini dulu." Robert menanyakan pendapat kedua temannya.
"Oke."
Laras segera setuju. Bagaimanapun, dengan kondisi Liam sekarang, mereka harus punya kepastian sebelum melanjutkan perjalanan.
"Baik. Kalian tunggulah di sini." Robert berjalan menuju arah tembok tebing yang dimaksudnya. Laras memperhatikan sejenak.
__ADS_1
"Aku akan memeriksa di luar. Mungkin masih ada ikan yang bisa didapatkan untuk malam nanti." Laras berjalan keluar celah itu.
Matahari sudah berada di atas kepalanya. Laras menyusuri sisi tebing yang belum pernah dieksplorasinya.
"Hah.. sungguh langkah baik. Ada banyak kolam-kolam kecil di sini. Semoga saja banyak ikannya." gumam Laras.
Dia langsung menguras air kolam terdekat. Karena melihat beberapa ikan berenang riang di dalamnya.
Dengan menggunakan belitan batang rumput laut, Laras mengumpulkan ikan-ikan tangkapannya jadi satu rangkaian.
"Hemm.. Urusan makan, malam ini sudah aman. Tapi aku sudah tak menemukan buah kelapa lagi."
Laras berpikir keras bagaimana cara mendapatkan air tawar untuk minum mereka bertiga.
Laras terus menjelajahi area baru itu. Sampai kemudian dia berhenti.
"Apakah ini seperti yang ku fikirkan?" katanya pada diri sendiri.
Lalu Laras berbalik ke tempat Liam dan Robert di celah tebing batu.
"Robert. bagaimans denganmu di sana?" teriak Laras.
Tak ada jawaban. Laras masih menunggu. Tapi kemudian dia tak sabar lagi dan kembali memanggil. Namun masih sama. Robert tak membalas.
"Apa dia sudah mencapai tempat itu makanya tak mendengar teriakanku?" tebak Laras dalam hati.
"Robert! Jangan menakutiku." Laras kembali berteriak.
"Liam, kau tunggu di sini sebentar. Aku mau lihat Robert sedang apa di sana," kata Laras.
"Tidak. Jangan ke sana. Kalau kau menghilang juga aku bagaimana?" Liam menahan langkah Laras.
Laras terdiam. Liam ada benarnya. Harus ada orang yang bersama Liam apapun yang terjadi.
"Oke. Sini ku bantu."
Liam beringsut dari duduknya ke dekat api. Ditambahnya ranting-ranting kayu ke dalam api yang hampir tinggal bara.
"Aku keluar mencari ranting kayu lagi sebentar. Itu tak kan cukup hingga malam nanti."
"Iya. Tapi jangan jauh-jauh," sela Liam.
"Oke."
Laras berjalan keluar. Dia kembali menuruni tebing. Kali ini kakinya menuju tempat yang dilihatnya tadi.
'Jangan jauh-jauh. Liam membutuhkanku sekarang' kata Laras pada dirinya sendiri.
Sampai di tempat terakhir yang didatanginya tadi. Area itu lebih kering dan tinggi. Banyak karang besar-besar yang menghadang air di batas laut. Jadi bagian ini tidaklah terlalu basah. Cukup banyak ranting-ranting kayu lembab yang tersangkut karang saat laut surut pagi hari.
"Oke, sedikit lagi ku kira akan cukup untuk menyalakan api malam ini," gumam Laras.
Dia akan memungut beberapa kayu di depan sana, ketika sebatang ranting yang dipegangnya di tangan terlepas karena kepenuhan.
"Astaga!" Laras mundur selangkah.
Laras menoleh ke belakang, ke arah dia datang tadi. Masih pemandangan yang sama.
"Syukurlah," ucapnya lega.
Diambilnya segenggam pasir di permukaan. Lalu dilemparkannya ke arah ranting tadi jatuh.
__ADS_1
"Benar. Ini dinding cahaya. Hampir saja aku terjebak masuk ke sana. Apakah Robert juga terjebak?"
Laras segera berbalik ke celah tebing tempat Liam berada. Dia khawatir sekarang. Sangat khawatir.
"Liam.. Liam..." teriak Laras dari luar.
"Yaa.. aku di sini." Jawab Liam dari dalam.
Laras menyerbu masuk. Dipeluknya Liam saat melihatnya duduk dekat api.
"Syukurlah.. syukurlah.." ucapnya berkali-kali.
"Ada apa?" tanya Liam heran.
"Saat mencari kayu-kayu ini, aku hampir melewati dinding cahaya."
Laras menceritakan kejadian yang dialaminya tadi di balik batu karang besar.
"Syukurlah kau kembali. Jika tidak, maka aku akan sendirian sekarang. Terimakasih Laras."
Keduanya berpelukan dan menangis. Kini hidup mereka saling bergantung satu sama lain.
"Robert.." Laras memandang tempat tadi Robert menghilang.
"Dinding cahaya itu jaraknya sangat dekat ke pantai karang. Ku rasa tempat itu adalah batas dinding cahaya yang sama. Itu sebabnya Robert tak bisa kembali." Laras membuat kesimpulannya sendiri.
"Kau jangan ke sana." Liam memegang tangan Laras kuat-kuat.
"Tidak akan. Kita akan bertahan di sini hingga kakimu pulih." Laras meyakinkan Liam.
"Terimakasih Laras. Aku sangat menghargainya.
Keduanya duduk mencangkung kaki. Menjaga agar api tetap menyala. Dan menikmati ikan yang sudah dimasak Liam.
*
Jedeerrr!.. Gluduk.. gluduk..
Laras dan Liam sontak melihat ke atas.
"Oh tidak. Perapian ini ada di tempat terbuka. Kena hujan pasti padam." kata Liam.
Laras melihat berkeliling.
"Di dekat dinding itu ada penutupnya. Mari kita pindah ke sana." Laras menunjuk ceruk kecil tak jauh dari pintu masuk celah itu.
Liam mengangguk. Dengan ditopang Laras, mereka berpindah tempat. Setelah Liam berada di posisi yang aman, Laras kembali untuk memindahkan kayu-kayu bakar serta sedikit bara api. Keduanya kembali menumpuk kayu dan mencoba menyalakan api dari sisa bara yang ada.
"Menyala.. Akhirnya menyala juga apinya. Kita aman sekarang." Laras tersenyum senang.
"Ah, aku lupa. Sebentar aku ke sana." Laras menunjuk tempat tadi mereka duduk. Liam mengangguk.
Laras pergi ke tempat tadi siang mereka membelah buah kelapa. Batok-batok kelapa itu dia letakkan ditempat terbuka dimana air menetes jatuh.
Langit mulai memerah di atas sana. Hujan tidaklah terlalu lebat. Mungkin awannya terbawa angin dan menghabiskan sisa hujan di tempat lain. Laras beringsut ke tempat tadi dia menadahkan air hujan. Membawa semangkuk air hujan ke tempat Liam.
"Kita bisa minum sekarang."
Laras meminum air hujan di batok kelapa. Lalu memberikan sisanya pada Liam. Keduanya tersenyum senang.
Laras menadahkan kembali tempurung kelapa kosong di tempat dimana tetesan air masih ada. Lalu membawa yang masih berisi air ke dekat mereka duduk.
__ADS_1
Langit menggelap. Tak ada lagi yang bisa dilakukan saat malam di luar. Ombak pasti menggila. Kedua orang itu duduk bersandar berdampingan di dalam ceruk tebing. Api unggun kecil itu menari meliuk-liuk ditiup angin.
*****