
"Tahun 2021?" ulangnya tak yakin.
"Ya!" jawab Dean, masih dengan senyuman di wajahnya.
Pria itu melihat Dean dengan mimik yang rumit dan tak bisa difahami.
"Pesawat jatuh?" tanyanya lagi.
Melihat semua orang mengangguk dengan semangat, pria itu memiringkan kepala dengan alis bertaut.
"Kenapa kau langsung turun dari tempat tidur? Apa tidak pusing? Mari ku periksa dulu."
Dokter Chandra muncul dari belakang sambil mengomel.
Pemilik rumah itu berbalik dan melihat. Itu orang yang tertidur di bangku tadi. Dia mengelak, menarik kepalanya menjauh saat dokter Chandra hendak meraba dahinya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanyanya waspada.
Tangan dokter Chandra masih menggantung di udara.
"Aku hendak memeriksamu. Apa kau lupa kalau sakit? Beruntung kami menemukanmu tergeletak di lantai!"
Orang itu terdiam. Tapi saat dokter Chandra meraba dahinya, memeriksa nadi di tangannya, memperhatikan matanya dengan teliti, orang itu tak dapat lagi menahan rasa penasaran.
"Apa kau seorang Dokter?" tanyanya.
"Ya, aku seorang Dokter di Jakarta, sebelum pesawat kami jatuh. Meski sekarang aku tak punya peralatan medis, tapi aku masih bisa melihat dan memeriksa orang sakit atau tidak," jawab Dokter Chandra.
"Jakarta?" gumamnya pelan.
"Kenapa dengan Jakarta?" tanya Dokter Chandra.
"Itu tempat yang jauh dari sini. Bagaimana kalian bisa sampai ke mari? Aku tidak bisa memahaminya. Pesawat dari Jakarta jatuh tahun 2021? Kalian jatuh di mana?" Dia memandang tim Dean dengan ekspresi bingung yang tak dibuat-buat.
"Mari duduk dulu. Kita bisa cerita dengan santai," bujuk Dokter Chandra.
Orang itu mengangguk dan duduk di lantai. Dokter Chandra juga ikut duduk di lantai rumah itu. Lantai semen yang kasar dan kotor. Entah kapan terakhir disapu dan dipel.
"Namaku Dean, apa anda tinggal sendirian di sini? Kami datang dari arah pantai. Menemukan Empang, beberapa rumah yang sudah runtuh. Tapi tak melihat seorangpun selama perjalanan." Dean menceritakan perjalanan mereka hingga sampai di rumahnya.
"Ah, ya ... nama saya Sulaiman. Sekarang tempat ini sepi. Anak-anak muda lebih tertarik pindah ke kota besar ketimbang tinggal di pulau kecil dan terpencil. Seiring waktu, penghuni berkurang. Dan sekarang tinggal saya sendiri di sini, setelah istri saya meninggal setahun yang lalu," jawabnya.
Tim Dean berpandangan.
"Memangnya ini pulau apa?" tanya Widuri.
"Ini Pulau Buwan. Di kepulauan Karimata," jawabnya.
"Karimata? Dekat dengan Kalimantan kalau begitu," kata Alan cepat.
"Ya!" jawab Sulaiman.
"Bagaimana cara menghubungi pemerintah setempat? Agar kami bisa melaporkan kepulangan kami sekarang," tanya Dokter Chandra.
"Sebentar!"
Sulaiman masih menggelengkan kepalanya dengan bingung.
"Saya masih bingung," katanya lagi.
"Bingung kenapa?" tanya Niken.
__ADS_1
"Tahun 2021 itu sudah lewat 6 tahun yang lalu. Saya tidak pernah ada mendengar berita tentang pesawat hilang selama lebih dari 10 tahun ini. Jikapun ada dan saya tidak mendengarnya, ke mana kalian selama 6 tahun ini?" tanyanya menyelidik.
"Enam tahun?" Widuri terhenyak. Matanya kosong. "Mama ... Papa ... apa mereka masih hidup sekarang?" Suaranya terdengar lirih.. Dean segera memeluknya.
"Tenang ... kita akan pulang dan mencari tau kabar Mama dan Papa, okey?" bujuknya. Tangis Widuri pecah. Dean memeluk dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya.
Di sudut lain ruangan, Indra juga memeluk Niken yang sudah menangis tergugu.
Seluruh anggota tim itu shock mendapati kenyataan ini. Telah enam tahun terlewati. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Apakah ada perbedaan waktu selama petualangan mereka?
"Jadi, sekarang adalah tahun 2027?" tanya Robert memastikan.
Sulaiman mengangguk. Dia bangkit berdiri dan beranjak ke dalam sebuah kamar. Lalu keluar dengan sebuah kalender dinding. Dia menunjukkan kalender itu pada Robert.
"Harusnya sekarang adalah bulan Mei," tunjuknya ke kalender.
"Harusnya?" tanya Sunil heran.
"Apa kau jarang melihat kalender?"
"Orang yang hidup terpencil sepertiku, tak terlalu butuh kalender. Tapi aku tetap memilikinya agar tau kapan putraku pulang. Atau kapan tengkulak datang untuk memborong hasil kebun," jawabnya.
Robert melihat kalender dengan pandangan kosong. Tadi dia masih berharap ucapan Sulaiman tak terbukti. Tapi sekarang, dia sendiri yang memegang kertas penanggalan itu.
"Apakah kami bisa pinjam ponsel untuk menghubungi keluarga?" tanya Leon tiba-tiba.
"Sebentar."
Sulaiman kembali ke kamarnya. Ada sebuah alat di tangannya.
"Apa maksudmu yang seperti ini?" tanyanya.
Leon mendekat dan memeriksa alat yang disodorkan padanya. Tapi dia tak mengenalinya. Diberikannya pada Alan.
Alan memeriksa sebentar, lalu menggeleng. Yang lain ikut mengamati. Tapi tak seorangpun yang mengerti alat itu.
Lalu Dean mengeluarkan ponselnya yang sudah mati kehabisan baterai. Dia menunjukkannya pada Sulaiman.
"Di tahun 2021, ponsel saya seperti ini. Tapi sudah kehabisan baterai dan kartunya pasti sudah mati sekarang."
Sulaiman mengamati benda di tangan Dean. Menimbang-nimbangnya sebentar.
"Ini ringan," gumamnya. Lalu menggeleng. "Aku tak mengenal jenis ini."
Dean dan yang lainnya tercengang.
"Lalu bagaimana kau berkomunikasi dengan putramu?" tanya Marianne.
"Ya, bagaimana kau mengabarkan padanya ketika istrimu meninggal?" tanya Indra penasaran.
"Oh, alat komunikasi? Aku menggunakan alat khusus di kamar untuk memberitahunya. Putraku bilang itu hanya bisa ku gunakan jika terdesak saja. Biayanya mahal. Putraku sungguh sangat perhatian." Sulaiman tersenyum bangga.
"Boleh kami lihat seperti apa alatnya?" tanya Dean.
"Hanya lihat saja!" katanya mengingatkan.
"Ya, kami hanya lihat saja." Dokter Chandra meyakinkannya.
Kemudian Dean dan Dokter Chandra mengikuti Sulaiman ke dalam kamar.
Kamar itu gelap dan pengap. Namun masih terlihat sebuah tempat tidur di sudut ruang. Sebuah lemari tua dan meja kayu. Tampaknya meja itu memiliki fungsi tak terbatas. Entah apa saja diletakkan di atasnya, memenuhi seluruh permukaan meja.
__ADS_1
Sulaiman menunduk. Membuka laci dan mengeluarkan sebuah perangkat dari sana. Dia menunjukkan perangkat komunikasinya dengan bangga.
Meskipun bingung, Dean menyarankan agar alat itu dibawa keluar agar bisa dilihat dengan jelas.
Di ruang depan, yang lain menunggu dengan penuh rasa ingin tau. Melihat Sulaiman keluar sambil membawa sesuatu diiringi oleh Dean dan Dokter Chandra, mata mereka bersinar penuh harapan.
Sulaiman meletakkan alatnya di lantai. Lalu menyambung beberapa komponen, kemudian menunjukkannya pada tamu-tamunya.
"Ini. Aku mengabarkan anakku dengan ini," tunjuknya tersenyum haru.
Robert menggeleng bingung.
"Bagaimana cara kerjanya?" tanyanya ingin tau.
"Tidak boleh dinyalakan. Ini hanya untuk darurat. Harganya mahal!" Sulaiman menolak menunjukkan caranya.
"Aaaagghhh ...."
Anggota tim itu menunduk dan mengusap wajah. Merasa kecewa, putus asa sekaligus geregetan. Bagaimana mereka bisa tau itu alat apa jika tidak dinyalakan dulu?
"Apa kau pernah lihat alat seperti ini?" Dean duduk dan menunjukkan laptopnya yang mati pada Sulaiman.
"Ini juga bisa dipakai untuk berkomunikasi. Tapi baterainya habis. Bisakah aku menggunakan tenaga listrikmu sebentar?" tanya Dean.
Sulaiman duduk dan mengamati laptop di lantai. Itu berbeda dengan alat yang diberikan putranya. Milik Dean lebih tipis dan bagus.
Dean membuka laptopnya.
"Lihat, layarnya hitam. Karena baterainya habis. Aku perlu listrik untuk menyalakannya."
Sulaiman menggeleng dan mengerutkan keningnya.
"Listrik yang untuk menyalakan lampu," tunjuk Alan ke arah atas.
Semua mengangguk dan ikut melihat ke atas. Tapi mereka kemudian kecewa. Tak ada bola lampu di sana.
"Ternyata tak ada listrik di sini." gumam Alan shock.
"Aishhh ... tempat ini benar-benar terpencil. Bahkan listrik saja tidak ada!" gerutu Indra.
"Sudahlah. Lupakan saja. Kita pergi ke pulau lain yang lebih besar saja. Pantasan generasi mudanya pergi ke kota," ujar Sunil.
Dean mengangguk. Dia menyimpan lagi laptopnya. Sebelum menyimpan ponsel, Dean masih mencoba menyalakannya. Hidup sebentar, tak lebih satu menit. Sudah mati kembali. Dean akhirnya menyimpan kembali keduanya.
"Sebentar lagi sore!"
Suara Marianne memecahkan keheningan. Dia berdiri di pintu dan memandang ke luar.
"Bolehkah kami menginap di sini?" tanya Dokter Chandra pada Sulaiman.
"Ah, kami tidak ingin menganggumu. Mungkin kami akan beristirahat di lahan kosong dekat rumah yang sudah roboh di sana saja," kata Robert cepat saat melihat rona khawatir di wajah Sulaiman.
Yang lain mengerti, lalu mengangguk.
"Sebagai satu-satunya penduduk di sini, kami memang harus meminta izin padamu. Jadi Anda tau kami menginap di sana. Silakan berkunjung jika tak sibuk," kata Dean berbasa-basi.
"Yah, sekarang sudah hampir sore. Dan karena kesehatan anda sudah pulih, kami pamit. Karena masih harus menyiapkan tempat untuk beristirahat. Besok kami akan mencari cara menuju pulau lainnya,"
Dokter Chandra menepuk pundak Sulaiman dan berjalan keluar rumah, menyusul teman-temannya yang sudah menyusuri jalan setapak ke arah jalan besar.
Sulaiman hanya diam, berdiri di pintu melihat orang-orang yang baru dikenalnya itu berjalan keluar dari halamannya.
__ADS_1
******