
PS: Hari ini kembali 2 chapter.. Bulan bahagia, dan author juga lagi bahagia.. 🥰
*
Dean dan Widuri sudah sampai di pondok. Widuri meminta Dean mengeluarkan bungkusan yang diberi Yoshi.
"Apa itu?" Tanya Marianne.
"Tadi kami melihat pelayan kediaman ketua kota sedang memanen walnut. Aku menginginkannya. Jadi Dean ikut mengambili buah-buah tua dari pohonnya."
"Tapi walnut harus diolah lagi sebelum bisa mendapatkan kacangnya." Kata Marianne.
"Ya. Itu sebabnya Yoshi memberi yang sudah bersih."
Widuri membuka bungkusan itu. Ada banyak barang di dalamnya. Ada gula merah, biji kopi, walnut, raisin dan beras!
"Ini beras? Apa mereka menanam padi di sini?"
Kepala keduanya dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Mungkin ada kapal yang datang. Dan tadi ku lihat para petugas di kediaman ketua kota mengangkut banyak barang." Kata Widuri.
"Lebih baik kita diskusikan. Jika memang tak menemukan celah dunia lain, mungkin bisa dipertimbangkan untuk mengikuti kapal-kapal yang kerap datang ke sini." Usul Marianne.
Widuri tercerahkan.
"Kau benar. Kenapa kita tak berpikir begitu sebelumnya ya."
Marianne menangguk senang.
'Tapi bagaimana dengan Sunil?' pikir Marianne risau.
Widuri mencari keberadaan Dean. Tapi Dean dan Michael tak terlihat. Entah kemana mereka menghilang. Tapi pasti tak jauh, karena mereka tak minta ijin lebih dulu.
"Aku ingin memanggang kacang ini dulu. Bisakah kau menyiapkan adonan pastel Marianne? Aku ingin pastel panggang isi kacang manis." Kata Widuri.
"Kedengarannya lezat. Ayo kita siapkan." Marianne bangkit.
Keduanya sibuk di dapur saat auman cloudy terdengar. Widuri dan Marianne melihat apa yang terjadi. Cloudy berdiri siaga di tengah pelataran. Kepalanya mengarah ke atas. Widuri ikut melihat ke atas.
"Ah, Yoshi. Kau sudah datang." Widuri menghampiri cloudy, mengusap kepalanya lembut.
"Bibi, sejak kapan kalian memelihara seekor macan?" Yoshi terlihat agak takut.
"Kemarin pamanmu menemukannya di tepi pantai di sisi lain pulau ini. Dan dia tak mau ditinggal. Jadi sekarang dia di sini. Namanya cloudy." Jelas Widuri.
"Cloudy, kau harus mengenalinya. Dia teman kami." Widuri mengajari cloudy.
"Kau bisa coba untuk mengelusnya. Dia sangat lucu." Ujar Widuri. Yoshi menggeleng.
"Lebih baik tidak." Tolak Yoshi.
"Jadi bagaimana dengan tabib itu? Apa dia menolak?" Widuri teringat rencana mereka memanggil tabib untuk Sunil.
"Dia sedang mengunjungi pasien di tempat lain. Aku sudah menyampaikan permintaan kita pada putrinya. Nanti sebelum sore aku akan kembali ke sana."
"Karena tak ada yang ingin ku lakukan di sana, jadi aku memilih untuk ke sini saja. Kalian sedang apa?" Tanya Yoshi.
"Membuat kue kacang. Ayo bantu kami agar cepat selesai." Ajak Widuri.
Mereka bergabung dengan Marianne yang sedang sibuk menggiling adonan pastel. Widuri menunjukkan cara mengisi dan menutup kulit pastel pada Yoshi. Mereka bekerja sambil berbincang diselingi tawa gembira.
Pekerjaan itu segera selesai. Widuri memasukkannya dalam panggangan. Sekarang mereka bisa istirahat menunggu kue matang.
"Dimana semua orang?" Tanya Yoshi yang sudah menyadari bahwa di tempat itu hanya ada mereka bertiga.
"Alan dan Nastiti pergi melanjutkan pemeriksaan di hutan. Dean dan Michael entah kemana." Sahut Widuri.
"Aku ingin melihat paman Sunil." Yoshi melangkah menuju kamar. Widuri bangkit dan mengikutinya.
"Bibi, apakah hal seperti ini pernah terjadi?" Yoshi menatap Widuri yang menggeleng.
"Kalian bicaralah di sana. Biar aku menjaga Sunil." Saran Marianne.
Widuri menarik tangan Yoshi untuk duduk di bangku.
"Kita sebaiknya tak bicara hal buruk di dekat pasien koma. Jangan membuatnya sedih." Kata Widuri.
__ADS_1
"Apa menurutmu, dia bisa bangun lagi? Apa dia akan mendengar kata-kata kita? Jika di negaramu, kejadian seperti ini disebut apa?" tanya Yoshi penasaran.
"Hemm, ada 2 hal yang mirip dengan keadaan Sunil. Pertama disebut hibernasi. Umumnya dilakukan oleh binatang di musim dingin. Mereka akan tidur di sepanjang musim dingin yang beku. Lalu bangun di musim semi yang mulai hangat."
"Itu juga terjadi di sini. Lamanya musim dingin antara 3 hingga 4 bulan." Komentar Yoshi. Widuri mengangguk.
"Kondisi kedua disebut koma. Ini biasa dialami pasien berat dan umumnya dirawat di rumah sakit dengan peralatan penunjang hidup."
"Maksud bibi?" Yoshi tak mengerti.
"Pasien koma kebanyakan tak dapat bernafas dengan sendirinya. Karena otaknya mengalami masalah. Jadi rumah sakit akan memasang alat untuk mengalirkan oksigen ke tubuhnya. Juga alat untuk mengalirkan makanan dan obat."
"Ini berbeda dengan Sunil yang masih bisa bernafas sendiri dan bisa diberi makanan cair seperti sup atau bubur encer. Semoga ini pertanda bahwa kondisinya masih cukup baik." Jelas Widuri.
"Lalu, kalau di negara bibi, bagaimana cara membangunkan orang koma?" Tanya Yoshi penuh harap.
"Tidak ada. Umumnya dokter akan menunggu pasien terjaga dengan sendirinya. Itu bisa hitungan minggu, bulan bahkan tahunan. Ada yang bisa sadar kembali, ada juga yang akhirnya meninggal karena komplikasi berbagai penyakit yang dideritanya selama dia koma." Widuri murung.
Yoshi tertegun mendengar penjelasan Widuri.
"Bibi, mari kita berharap paman Sunil dapat segera sadar. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita ajak bicara saja. Ceritakan banyak hal yang kita alami. Yaahh.. ngobrol seperti kita sekarang saja.. Kami selalu melakukannya bergantian." Jawab Widuri.
"Kalau begitu, sekarang giliranku yang bercerita pada paman Sunil." Yoshi bangkit dan berjalan menuju kamar.
Di depan pintu kamar, Yoshi melihat bagaimana interaksi Marianne. Tangannya memegang mangkuk dan sendok. Sambil bicara, Marianne menyuapkan sup ke mulut Sunil. Yoshi masuk.
"Bibi Marianne, bolehkan ku bantu menyuapi paman Sunil?" Tanya Yoshi.
"Ah, ke sinilah."
Marianne memberi ruang untuk Yoshi duduk dan menyerahkan mangkuk di tangannya.
"Paman, hari ini aku datang. Aku merindukanmu. Cepatlah bangun. Apa kau tidak merindukanku?"
"Kau tidak melupakan keponakanmu yang cantik ini kan? Aku Yoshi. Yoshi sang bidadari tercantik di sini."
Suara Yoshi terdengar riang. Marianne tersentuh mendengarnya. Perlahan dia bangkit dari duduk. Menyentuh pundak Yoshi lalu berjalan keluar kamar.
"Kau tau paman? Paman Dean membawakan seekor macan untuk peliharaan bibi Widuri. Ah, paman macam apa itu? Memberikan binatang buas untuk bibiku."
"Siapa yang menjelek-jelekkanku itu?" Terdengar suara Dean.
"Kalian dari mana saja?" Widuri menunjukkan wajah tak senang.
"Bukankah kita kembali sangat cepat hari ini? Jadi aku mengajak Michael memeriksa dan membersihkan area sekitar pondok. Membuat beberapa perangkap. Agar penguntit itu mengalami sedikit kesulitan untuk mendekat, dan jadi pertanda bagi kita tentang tamu tak diundang." Dean menjelaskan.
"Tapi kau bisa mengatakannya dulu kan. Kenapa pergi begitu saja?" Widuri cemberut.
"Kami di sekitar sini saja kok. Jika ada dari kalian yang berteriak, kami juga akan mendengar." Dean mengecup kening Widuri untuk meredakan jengkelnya
"Apa Yoshi tak membawa tabib itu?"
Dean mengambil air minum dari tempayan lalu meneguknya hingga habis.
"Yoshi bilang, tabib itu sedang mengunjungi pasien. Tapi dia sudah berpesan pada putrinya. Nanti dia akan kembali ke sana untuk menemui tabib itu lagi."
"Kalian cuci tangan dulu. Akan ku lihat apakah kue kita sudah matang." Kata Widuri pada Dean dan Michael. Kedua pria itu menuruti dengan patuh.
Marianne menyiapkan teh dari berbagai bunga liar yang mereka dapatkan di sekitar pondok. Sementara Widuri mengeluarkan wadah kue dari dalam panggangan. Lalu dia memasukkan wadah kue-kue lain untuk gantian dipanggang.
Keempat orang itu menikmati penganan lezat di siang yang terik itu.
"Biar aku menggantikan Yoshi." Kata Michael. Dean mengangguk.
"Aku ingin istirahat." Kata Marianne.
"Paman, kau sudah kembali." Sapa Yoshi.
"Ya. Tadi kami memeriksa area sekitar pondok. Membersihkan beberapa semak agar lebih terang." Jawab Dean.
"Ini kue yang kita buat tadi. Cobalah." Widuri menyodorkan wadah kue ke dekat Yoshi. Diambilnya cangkir dan menuangkan teh ke dalamnya.
"Ini enak sekali." Yoshi sangat menikmatinya.
"Nanti aku akan coba buat juga di rumah. Katanya lagi.
__ADS_1
"Yoshi, tadi di dalam pemberianmu itu juga ada beras. Apakah penduduk di sini juga menanam padi?" Tanya Widuri.
"Ada. Di desa di perbukitan sana sebagian penduduk menanam padi. Yang lain menanam ubi, kentang dan sayuran. Di tempat yang lebih rendah di balik bukit, kebanyakan menanam gandum." Jelas Yoshi.
"Oh.. ku kira beras ini berasal dari kapal yang datang." Raut wajah widuri terlihat kecewa.
"Ada apa?" Dean menyadari perubahan ekspresi Widuri.
"Tak ada. Aku hanya terlalu berharap." Widuri menghela nafas.
"Tadinya ku fikir, jika kita tidak juga bisa menemukan celah dinding menuju dunia lain, mungkin itu memang tidak ada di pulau ini. Jadi bisa dipertimbangkan untuk pergi mengikuti kapal pengangkut menuju kota lain dan mencarinya di sana." Widuri mengatakan pemikirannya.
"Kau benar. Aku juga sudah berpikir ke sana. Tapi sementara ini kita tak bisa kemana-mana dulu. Sunil belum sadar. Jadi baiknya kita maksimalkan pemeriksaan area hutan di sini hingga ke ujung pulau." Jelas Dean.
"Yoshi, apakah kau pernah memeriksa seluruh pulau? Atau, apakah ayah dan ibumu pernah melakukannya?" Tanya Dean akhirnya.
"Ya, aku pernah melakukannya. Itu membuatku tak pulang selama seminggu. Dan saat kembali, ayah langsung menghukumku karena sudah membuatnya khawatir. Sejak itu aku dilarang pergi ke arah hutan ini lagi. Apa lagi sejak binatang-binatang buruan hilang tak tentu rimba." Jelas Yoshi.
"Itu juga. Kami sudah memeriksa hingga pantai di sebelah sana. Juga tak ada binatang buruan seekorpun. Aku hanya menemukan beberapa tupai kecil dan cloudy si kucing besar." Kata Dean tak kalah heran.
"Paman menemukannya dimana?" Yoshi ingin tau.
"Area pantai dengan laut yang airnya asin. Saat aku ingin pergi, dia terus mengikutiku. Seperti tak ingin ditinggal. Dan dia tampak kurus serta kelaparan. Tak heran tupai-tupai itu lari ketakutan melihatnya."
"Ku rasa cloudy bersembunyi dengan baik hingga tak ikut menghilang bersama binatang lain." Kata Widuri.
"Alan juga mengatakan pernah melihat cahaya muncul dari dalam hutan, dipancarkan ke arah langit. Tapi saat kami memeriksanya kembali, kami tak menemukan apapun. Apa kau pernah melihat yang seperti itu?" Tanya Dean pada Yoshi.
Yoshi mengerutkan keningnya sebentar. "Seingatku tak ada. Aku tak pernah melihatnya." Ucap Yoshi.
"Hemm.. hutan ini penuh dengan teka-teki." Gumam Widuri.
"Itu juga yang dikatakan ayah. Itu sebabnya area hutan ini terlarang. Dan paman, berhati-hatilah jika ke pantai di sebelah sana itu. Pantai itu tak seindah kelihatannya. Begitu kata ayah." Yoshi mengingatkan.
"Memangnya ada apa di sana?" Dean justru penasaran.
"Tidak tau. Ayah tak cerita. Tapi saat aku memeriksa pulau ini, aku jadi tak berani singgah. Aku hanya melewatinya saja." Jawab Yoshi.
"Alan! Dia dan Nastiti sedang memeriksa area sana. Bisakah kau mengirim transmisi suara dan menyuruhnya kembali?" Tanya Widuri khawatir.
"Tidak tau. Aku belum pernah mencoba yang sejauh itu." Kata Dean.
"Cobalah dulu." Widuri mendesak.
Dean memejamkan matanya, berkonsentrasi mengirim pesan pada Alan untuk segera kembali.
"Bagaimana?" Tanya Yoshi setelah melihat Dean membuka mata.
Dean memiringkan kepalanya. Matanya menyipit. Tampak sedang berpikir keras.
"Aku tidak tau apa yang terjadi. Apakah Alan yang terlalu jauh makanya tak terjangkau, atau ada penghalang yang membuat aku tak bisa mengirim transmisi suara." Ujar Dean.
Widuri dan Yoshi bingung.
"Yoshi, apakah kau dan ayahmu bisa salingmengirim dan menerima transmisi suara?" Tanya Dean.
"Bisa." Yoshi mengangguk.
"Coba kau kirim pesan pada ayahmu. Apakah bisa terkirim atau ada penghalang juga?" Kata Dean.
"Akan ku coba." Yoshi berkonsentrasi untuk mengirim transmisi suara pada ayahnya.
Setelah beberapa lama, Yoshi membuka matanya kembali.
"Aku mengatakan perihal di sini. Dan ayah mengatakan lebih baik jangan ke sana." Jelas Yoshi.
"Berarti memang ada sesuatu di hutan ini." Kata Dean.
"Apakah maksudmu, keadaan ini seperti jammer yang memblokir sinyal ponsel di dunia kita?" Widuri menatap tak percaya.
"Ya, kurang lebih seperti itu. Tapi, jammer sebesar apa yang mampu memblokir komunikasi di area seluas ini?"
Dean tiba-tiba berdiri. Dia menatap berkeliling. Mulai menyadari bahwa ada sesuatu di hutan ini yang mungkin sangat berbahaya, bahkan untuk orang seperti mereka. Bi sudah jadi korban. Bi mungkin juga telah mencoba mengirim pesan pada suaminya, tapi terhalang. Atau dihalangi?
Siapa yang berkepentingan menghalangi komunikasi di tempat ini? Apakah tempat ini memiliki penguasa? Apa tujuannya memblokir komunikasi? Menjaga agar rahasia tetap terjaga? Atau ada hal lainnya?
Ketiga orang itu berpikir keras, Namun belum menemukan jawabannya.
__ADS_1
*****