PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 398. Perjalanan Menuju Jakarta


__ADS_3

Tidak ada seorang pun di sekitar. Desa itu sudah sepi. Rumah terdekat dengan pos ronda itu, jaraknya sekitar lima puluh meter.


"Apakah ini sudah masuk jakarta Dok?" tanya Sunil.


"Belum. Ini harusnya masih daerah Banten," sahut Dokter Chandra.


"Sekaran istirahat sebentar. Setelah jari terang, kita bisa lanjutkan perjalanan," saran Dokter Chandra.


"Tapi sekarang harusnya belum larut. Kita masih bisa berjalan lagi, sebelum istirahat," bantah Robert.


"Orang desa itu, waktu istirahatnya setelah malam turun. Lihatlah ... tempat ini sudah sepi sekali!" jawab Dokter Chandra.


"Tapi kan kita justru jadi lebih mudah untuk berjalan cepat, tanpa dilihat orang!" Sunil kini ikut berargumen.


Dokter Chandra mendesah panjang. Dia berbaring di lantai bambu yang dibuat mirip balai-balai di pos ronda itu.


"Seisi warga desa ini sudah dalam mode tidur. Lalu ada tiga orang asing berjalan setengah terbang di malam buta. Jika ketemu orang lain, apa kira-kira yang akan dipikirkannya?" Dokter Chandra balik bertanya.


"Bukannya orang-orang sudah tidur. Bagaimana bisa ada yang melihat kita?" tanya Sunil.


"Di Indonesia selalu ada petugas yang jaga malam. Beberapa orang berkeliling lingkungan saat malam hari. Gubuk kecil seperti ini namanya pos ronda. Tempat berkumpulnya para petugas jaga di malam hari!" jelas Dokter Chandra.


Sunil dan Robert makin tidak mengerti.


"Jika tenpat ini milik mereka, lalu kenapa kita justru pilih istirahat di sini?" tanya Robert.


"Lebih bagus bertemu mereka di sini, ketimbang saat berjalan tak tentu arah!" jawab Dokter Chandra kalem.


"Apa yang akan kita katakan kalau mereka bertanya?" tanya Sunil lagi.


Kali ini dia sudah ikut membaringkan diri di sebelah Dokter Chandra. Robert juga ikut membaringkan tubuhnya.


"Tinggal bilang kita tersasar setelah turun dari bukit. Atau, terserah ... kalian buat cerita sendirilah. Yang masuk akal yaa.... Aku mau tidur dulu!" Dokter Chandra membalikkan badannya menghadap dinding bambu.


Sunil dan Robert saling pandang. Mereka disuruh mengarang alasan? Bagaimana membuat alasan yang masuk akal jika tak mengenal tempat ini?"


"Bagaimana kalau kita katakan sedang berwisata?" Robert mengutarakan idenya.


"Ini desa pertanian. Apa kau lupa kita melewati kebun buah-buahan dan persawahan sebelum sampai sini. Tak ada tempat wisata di sini!" debat Sunil.


"Ya wisata alam pedesaan. Sedang berjalan-jalan dari desa di sana hingga ke sini, dan menuju ke kota!" jelas Robert.


"Ah, baiklah. Tampangmu yang bule memang sangat cocok untuk itu. Mari kita gunakan itu saja." Sunil setuju.


Robert terkekeh. "Memangnya wajahmu tidak terlihat asing? Apa lagi kalau kau bicara dengan bahasa Inggris."


Sunil ikut tertawa kecil. Robert ada benarnya. Kemudian ketiganya beristirahat, mengikuti Dokter Chandra yang sudah terbang ke alam mimpi.


Robert dan Sunil membuka setelah tubuhnya digoyang-goyang. Hari masih gelap. Dokter Chandra sudah duduk dan melihat ke sekitar.


"Ayo bangun! Kita lanjutkan perjalanan!" seru Dokter Chandra.


"Sekarang? Bukankah hari masih gelap?" tanya Robert.


"Ini sudah subuh. Sebentar lagi terang. Tadi aku sudah mendengar suara azan dari musholla di sebelah sana!" tunjuknya.


"Wah, pulas sekali tidur kita. Sampai tak mendengar suara apapun." Sunil menggeliat dan meregangkan tubuhnya.


"Udara di sini dingin dan masih sangat segar," komentarnya.


"Namanya juga di desa kaki bukit. Masih banyak pohon dan kurang polusi!" sahut Dokter Chandra.

__ADS_1


"Ayo!"


Tiga orang itu berjalan cepat setengah terbang. Melintasi kebun-kebun sayur yang subur dan teratur rapi. Cukup jauh juga mereka menempuh perjalanan dengan teknik setengah terbang itu. Dalam sekejap, desa yang mereka tempati untuk menginap, telah tertinggal jauh.


Tapi lari sambil terbang itu sudah tak mungkin dilakukan lagi setelah mereka mencapai jalan beraspal dan hari terang. Anak-anak sekolah sudah mulai ramai. Mungkin sekarang sudah pukul enam pagi.


Dokter Chandra, Robert dan Sunil berjalan kaki melewati sejelompok anak yang berdiri di pinggir jalan. Kemungkinan sedang menunggu bus atau angkot.


"Mister, Mister mau kamana?" tanya salah seorang, yang melihat tiga orang itu terus berjalan kaki.


Dokter Chandra berbalik. "Mau ke Jakarta, nak," jawabmya.


"Kenapa jalan kaki? Dan itu bukan jalan ka Jakarta. Itu jalan ka curug!" kata anak-anak lainnya.


"Oh, ke arah mana jalan ke kota?" tanya Dokter Chandra lagi.


"Naik angkot wae atuh pak!" ujar yang lain.


"Bapak gak ada uang, Neng. Tidak apa-apa jalan kaki. Beritahu saja arahnya," bujuk Dokter Chandra.


"Jiahhh ... bule malarat sigana." ¹)


Yang lain kemudian tertawa.


Dokter Chandra mengerti anak-anak itu mentertawai mereka karena tak punya uang. Dia hanya tersenyum.


"Numpang colt sayur Mang Dudung saja pak! Sebentar lagi dia lewat, mau ka pasar!" saran anak lainnya.


"Apakah boleh?" tanya Dokter Chandra.


"Itu Mang Dudung!" teriak anak lain.


Anak-anak itu kompak berdiri ramai-ramai di tengah jalan untuk menghentikan laju mobil sayur itu.


Anak-anak itu menunjuk ke arah Dokter Chandra dan dua temannya.


"Maranéhna rék ka kota, tapi teu boga duit. Masihan aranjeunna numpak ka pasar," ³) ujar salah satu murid.


Mang Dudung menepikan kendaraannya. Tangannya melambai ke arah Dokter Chandra.


"Rek kamana? ⁴)


Dokter Chandra berjalan ke arahnya. Robert dan Sunil mengikuti. Meski Dokter Chandra tak terlalu paham bahasa Sunda, tapi dia bisa menebak pertanyaan tadi.


"Kami mau kembali ke Jakarta," jawab Dokter Chandra.


"Jauh pisan. Abdi tiasa nganteurkeun ka pasar. Sanggeus éta manggihan beus ka kota. Ngan ngobrol jeung supir lamun teu boga duit," ⁵) katanya.


"Hatur nuhun, Mang." ⁶) Dokter Chandra tersenyum lega.


Kernet Mang Dudung turun dari mobil dan menggeser kotak-kotak sayur agar ada cukup ruang untuk tiga orang itu duduk.


"Mister, Mister ... photo dulu atuh." Seorang gadis remaja mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto bersama-sama. Anak-anak itu ramai dan gembira.


Mang Dudung sudah menyalakan lagi mobil sayurnya. "Hatur nuhun Neng, Ujang," ucapnya tulus.


Anak-anak sekolah itu melambaikan tangan saat kendaraan sayur itu melaju. "Selamat jalan Mister!" teriak meraka.


Robert dan Sunil tersenyum melihat tingkah polos anak-anak sekolah itu. Terlihat dari jauh, bus berhenti dan mereka berebutan naik.


"Hehehehe ... masa kanak-kanak dan remaja yang polos memang menggembirakan!" Senyumnya mengembang teduh.

__ADS_1


Tak lama kemudian, bus tadi melewati colt sayur Mang Dudung.


"Bye. bye!" teriak mereka ramai.


Sunil dan Robert membalai lambaian tangan mereka.


"They are so cute!" ujar Robert.


"Yeah...." Sunil mengangguk setuju.


Jarak desa ke pasar itu lumayan jauh. Udara mulai terasa panas saat Colt itu masuk ke arah pasar kecamatan.


Mang Dudung menghentikan kendaraannya. Kernetnya turun dengan sigap dan membantu tiga orang di belakang untuk turun.


"Terminal bus aya." Jarinya menunjuk ke arah kiri pasar.


"Hatur nuhun Mang Dudung," ujar Dokter Chandra. Dia bersalaman dengan pria gempal itu.


"Tunggu!"


Dokter Chandra menahan tangan Mang Dudung yang sedang dipegangnya. Sekarang posisi jari Dokter Chandra berubah dari bersalaman dengan memeriksa denyut nadinya.


"Kenapa?" tanya Mang Dudung ingin tahu.


Tapi dia tak menarik tangannya. Dia pernah lihat Sinshe cina di toko obat di pasar itu, memeriksa pasien dengan memegang tangannya.


"Saya rasa Mang Dudung punya penyakit gula. Jangan lagi makan dan minum yang manis-manis Mang. Minum air putih saja yaa. Mamang bisa periksa ke puskesmas biar tidak salah diagnosa. Tapi saya rasa, obat ini bisa sedikit membantu mengurangi keluhan yang mamang rasakan selama ini."


Mang Dudung terlompat melihat sebuah botol keramik kecil tiba-tiba muncul di tangan Dokter Chandra. Matanya membulat melihat tiga orang yang sebelumnya menumpang kendaraannya itu.


Dokter Chandra memberikan botol keramik itu ke tangan Mang Dudung. "Minum satu sehari, setelah makan malam," pesannya.


Tiga orang itu menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih. Kemudian berlalu dari sana. Robert berbisik pada Mang Dudung saat melewatinya.


"Dokter Chandra adalah dokter yang hebat di Jakarta. Kau beruntung mendapatkan pemeriksaan dan obat gratis darinya." Robert kemudian mempercepat langkah menyusul Sunil dan Dokter Chandra.


"Dokter, tunggu!" panggilnya.


Dokter Chandra berhenti dan menoleh ke belakang. Alisnya naik. Apa yang dilakukan Robert sampai tertinggal jauh?


*


*


Terjemahan:


¹) "Jiaahh ... bule miskin ternyata."


²) "Kamu bosan hidup?"


³) "Mereka mau ke kota, tapi tak punya duit. Beri mereka tumpangan ke pasar."


⁴) "Mau pergi ke mana?"


⁵) "Begitu jauh. Saya bisa mengantarkan ke pasar. Setelah itu cari bus ke kota. Bicara saja dengan sopir jika Anda tidak punya uang."


⁶) "Terima kasih, Mang."


*********


Note:

__ADS_1


Jangan lupa terus support author yaa.. please jangan skip iklan.. 🙏


Silakan mampir di novel kedua yang tak kalah seru.


__ADS_2