
Pagi berikutnya setelah sarapan.
Dean dan Alan memulai aktifitas mereka membuat tangga pada dinding gunung batu. Dean memang ahli untuk pekerjaan pahat-memahat. Dia mengiris dinding batu, membuat lubang-lubang dengan pola tertentu di dinding gunung. Lalu memasukkan potongan undakan pada pola dinding gunung yang dibuat itu. Kemudian matanya bersinar seperti cahaya laser untuk menempelkan batu undakan agar melekat kuat dan tetap berada di tempatnya.
Sementara Alan membantu menahan kepingan-kepingan undakan yang sudah dipotong agar tetap melayang di udara, untuk memudahkan pekerjaan Dean. Hingga sore, pekerjaan mereka sudah hampir selesai. Tangga batu melayang itu hanya kira-kira 20 meter lagi dari permukaan tanah.
"Mari kita lihat dulu area ini sebelum menyelesaikan tangga."
Dean urung mengiris dinding batu lagi. Dia ingin memastikan tempat yang mereka tuju sebelum memasang anak-anak tangga terakhir, yang mungkin bisa dimanfaatkan pihak yang tidak diharapkan.
Dean dan Alan melesat terbang rendah, mengitari kawasan itu. Beberapa tanaman dan rumput liar tampak di sela-sela tanah kering serta bebatuan. Mereka terbang hingga cukup jauh, tapi tak juga menemukan sumber air.
"Tidak ada sumber air, dan kemungkinan curah hujan rendah di sini. Jadi sulit bagi tanah ini untuk memulihkan kesuburannya." Alan menggelengkan kepalanya setelah memeriksa begitu jauh.
"Jika ini benar bekas padang rumput tempat aku memelihara sapi, harusnya di sebelah sana ada aliran air yang berasal dari gunung batu."
Dean kemudian melesat kembali ke arah gunung batu. Cahaya keemasan tubuhnya berkejaran dengan cahaya tubuh Alan yang kemerahan. Mereka memeriksa sekitar dinding gunung batu.
"Lihat bagian rendah memanjang ini. Ini harusnya saluran air hingga ke sana. Tapi tidak ada air yang jatuh dari gunung ini."
Dean mendongakkan kepala dan terbang lebih tinggi untuk memeriksa gunung itu. Benar-benar tak ada lagi air terjun di situ.
"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya. Kami melawan makhluk-makhluk mutasi dan kabut hitam dengan cara dibakar dengan cahaya."
"Dengan susah payah dan dalam keadaan terluka, aku membawa O yang pingsan ke mulut gua. Saat itu mulut gua itu tidak setinggi ini. Tapi belum lama kami tiba, terjadi guncangan keras dan gunung ini bergetar hebat. Aku tak melihat perubahan apapun, karena diluar masih ditutupi asap panas bekas terbakar."
"Aku juga sudah tak ada kekuatan. Jadi aku terus mengirim sinyal memanggilmu, tapi kau tak juga datang. Ku kira, guncangan keras itu mungkin menghancurkan sisi gunung disebelah sana dan membunuhmu. Jadi aku hanya bisa membagi air minum terakhirku dengan O, berharap bisa pulih seiring waktu. Tapi kemudian kau menemukan kami sudah seperti itu."
Alan kembali menceritakan detail kejadian saat itu.
"Jadi, kemungkinan tabrakan di atas gunung yang membuat aliran air terjun menghilang. Pantas saja tanah ini kering kerontang. Tapi bagaimana bisa posisinya jadi jauh lebih rendah dari pintu gua?" Dean berpikir keras.
"Tak perlu terlalu dipikirkan. Yang jelas keadaannya sudah begini. Sekarang mau bagaimana? Bahkan binatang kecilpun tak ada." Alan membentangkan tangannya.
"Aku mau mengamati sebelah sana dulu. Setelah itu kita kembali." Dean melesat lagi diikuti Alan.
"Area ini harusnya bagian dari kebun anggur. Di sana mestinya juga ada saluran air, membatasi kebun apel." Dean bergumam sendiri sambil mengingat-ingat tempat itu.
__ADS_1
Z mengikuti arah jari-jari Dean yang menunjuk kesana kemari. Tapi semua yang dikatakan Dean itu sudah hilang. Tanah pertanian subur itu kini berubah jadi tandus dengan tanah yang keras dan kemerahan.
Ya, semua itu adalah akibat tindakan Z dan O. Tapi dulu mereka meyakini bahwa itulah cara tercepat menghancurkan makhluk itu dan mengira A serta penjaga kebun lain dapat memulihkan kondisi itu dengan cepat. Ternyata benturan demi benturan antar dunia kecil tak lagi terhindarkan. Jadilah bagian dunia kecil ini terus merana.
Dean terus melayang makin jauh. Tiba-tiba Dean terpental dan jatuh. Z segera menahan tubuh Dean agar tidak membentur tanah.
"Ada apa?" tanyanya tak mengerti.
"Kau lihat di sana tidak ada apa-apa kan? Tapi tadi aku menabraknya lalu terpental dan jatuh." Dean menunjuk ke arah dia terbang sebelumnya.
"Biar ku coba," kata Alan.
"Coba terbang dengan pelan saja."
Pesan Dean tak sempat didengar Alan, dia sudah melesat secepat kilat, lalu ikut terpental keras seperti Dean tadi. Dean mengejar tubuh Alan yang terpental cukup jauh.
"Kau tak apa-apa?" tanyanya setelah berhasil meraih tubuh Alan.
"Aku seperti menabrak dinding karet yang sangat lentur. Makin cepat kita menabraknya, makin jauh kita terpental." Begitulah kesimpulan Alan.
"Aku menemukannya. Kita tak bisa menembus dinding transparan ini." Dean terus meraba, lalu berhenti dan menoleh pada Alan.
"Mari beri tanda untuk dinding pembatas ini."
Dean turun sambil tangannya terus menempel ke dinding yang tak terlihat itu. Ditariknya beberapa batu dan disusun berjajar di sepanjang dinding yang dilewatinya. Batu-batu itu membentuk garis, terus memanjang.
"Sudah sore A, kita kembali dulu saja. Diskusikan hal ini dengan yang lain," ajak Z.
"Baiklah. Setidaknya kita sudah membuat tanda. Besok kita lanjutkan pemeriksaan." Dean mengikuti Alan kembali ke tangga menuju gua.
*
Saat makan malam, diskusi kembali hidup karena semua orang ikut menyumbangkan ide.
"Jadi besok rencana kita apa?" tanya Widuri.
"Disana sama sekali tak ada sumber air. Meskipun ada beberapa tanaman liar, tapi itu bukanlah pakan ternak. Dan tak ada sumber air sama sekali."
__ADS_1
Alan menjelaskan situasi tempat itu.
"Bukankah kau akan mengambil batu mata air abadi?" tanya Widuri heran.
"Air itu untuk konsumsi, bukan untuk pengairan. Volumenya tak memadai untuk membasahi tanah kering dan keras itu," jelas Dean.
Widuri akhirnya mengangguk mengerti. Kini dia tau kenapa ada bak batu untuk menampung cucuran air di ruang itu. Fungsi awalnya pastilah untuk menampung air konsumsi dari tetesan air di tembok.
"Aku ingat, di gua kelelawar ada air yang terus mengucur dari lubang pada atap gua. Bisakah kau membuat saluran air menembus dinding batu hingga ke sana?" tanya Dewi.
"Aku belum pernah mencobanya," jawab Dean jujur.
"Lalu bagaimana air di bak batu bisa berakhir di kolam? Prinsipnya sama seperti itu. Buat saluran air kecil, agar dunia sebelah sana, bisa kembali hidup." Nastiti berargumen.
"Bukan aku yang membuat saluran air dari bak ke kolam. Mungkin itu dilakukan oleh penjaga kebun pertama atau mungkin petugas lain yang membuka tempat ini." Dean menjelaskan.
"A, bisakah kau membuat lubang dengan jarimu?" tanya Sunil.
"Biar ku coba besok. Kita akan periksa dulu gua kelelawar untuk melihat sumber airnya." Dean mengakhiri bahasan itu.
"Lalu domba-domba bagaimana?" Dewi tampak sedih.
"Apa kau yakin ingin terus memelihara semua ternak ini di tempat segersang itu? Tak ada rumput sama sekali di sana. Kalaupun Dean berhasil mengalirkan air, rumput tetap tak bisa langsung tumbuh." Alan memberi pengertian pada Dewi.
"Kita mungkin masih bisa mempertahankan ayam dengan membagi gandum?"
Nastiti berkata dengan ragu, karena itu berarti mengurangi jatah makan mereka sendiri. Tapi dia tak tahan melihat Dewi yang terlihat begitu sedih.
"Potong sajalah semuanya. Dengan begitu, kita tak perlu pusing soal ransum, sampai kita menemukan jalan keluar dari tempat itu." Dewi akhirnya memutuskan.
"Besok akan ku kerjakan," sahut Sunil cepat. Satu masalah sudah beres.
"Aku akan membantumu," timpal Alan. Sunil mengangguk senang.
Diskusi malam itu berakhir dengan diputuskannya tugas-tugas yang harus dilakukan esok hari. Mereka memutuskan beristirahat untuk memulihkan tenaga. Besok, perjuangan panjang lainnya telah menanti.
***
__ADS_1