
Pagi hari dicapai kesepakatan. Linch akan mengantar mereka nanti malam. Jadi seharian ini dia bisa menghabiskan waktu di rumah dengan istri dan putranya yang baru lahir.
Para wanita menggunakan dapur di rumah Linch untuk memasak hidangan hari itu. Dean mengeluarkan persediaan bahan makanan mereka.
Linch tak menyangka bahwa orang-orang yang menyewa jasanya akan bermurah hati membantu persalinan serta menyiapkan hidangan untuk semuanya.
'Tak heran Kapten Smith meminta bantuanku untuk mengantarkan tim ini dengan selamat' batin Linch.
Seharian itu mereka beristirahat, mempersiapkan tenaga untuk perjalanan berat seperti yang dikatakan Linch.
Tapi tidak dengan Dean, Alan dan Sunil. Mereka membongkar sebagian lantai dek di halaman rumah itu.
Dean menarik dan mengumpulkan semua sampah yang tersangkut di tiang-tiang fondasi. Sangat banyak sampah yang lembab dan berbau busuk.
Alan membakarnya dengan sinar laser merah dari matanya. Tak lama semua sampah itu menjadi debu. Bau sampah terbakar memenuhi udara. Namun dengan segera tersapu kencangnya angin laut.
Linch keluar rumah untuk melihat apa yang terbakar. Dia tak percaya kolong rumahnya kini sudah bersih dari sampah seluruhnya.
Namun tanah berlumpur hitam menjijikkan di bawah sana, Dean belum menemukan solusi untuk membenahinya.
"Tak apa. Terima kasih sudah membantuku membersihkan semua sampah di sini. Tapi, simpan saja tenaga kalian. Saat air laut naik nanti, sampah-sampah dari tempat lain perlahan akan menyebar ke seantero kota dan tersangkut di semua tiang fondasi." Linch terlihat putus asa.
Dean terdiam mendengarnya. Linch ada benarnya. Solusi pembersihan seperti ini tak terlalu efektif. Karena sampah telah menyebar ke seluruh kota, dan telah berlangsung selama puluhan tahun, sejak kota ini berdiri.
Bagaimanapun, sampah yang terurai telah menaikkan level permukaan tanah kota yang awalnya adalah rawa yang sangat basah. Dan sepertinya, penduduk di sini juga sudah terbiasa mencium aroma yang tak karuan ini. Itu sebabnya mereka tak mempermasalahkannya lagi.
"Baiklah. Aku akan rapikan lagi papan dek ini seperti semula," kata Dean.
Linch mengangguk. Menepuk pundak Dean dan kembali ke dalam rumah. Dia tadi dibantu Sunil sedang merapikan dapur dan kamar mandi. Banyak kain kotor yang sedang dicucinya.
Linch harus menyelesaikan semua hal di rumah sebelum sore. Dia akan meninggalkan istrinya untuk beberapa hari. Sementara keadaannya masih lemah. Jadi Linch harus memastikan semua kebutuhan Leah berada di dalam rumah.
Setelah menjemur semua kain yang berhasil dicucinya, Linch pamit untuk mencari persediaan kayu bakar dan bahan makanan untuk Leah. Dean menyerahkan 300 koin perak pada Linch.
"Aku pergi dulu. Kalian harus langsung kunci pintu pagar. Jangan buka, siapapun yang memanggil. Kecuali aku yang pulang," pesan Linch.
Meskipun merasa heran, tapi Dean tetap mengangguk. Dia tak berniat ikut campur urusan orang lain.
Dean melanjutkan membersihkan rumah, sambil membunuh waktu.
*
*
"Aku sudah harus pergi."
Linch berpamitan pada Leah dan memeluknya.
"Hati-hati," kata Leah sambil membalas pelukannya.
"Jika kau ingin ke belakang lagi, biar ku temani sebelum berangkat," tawar linch.
Leah menggeleng. "Bawa mereka dengan aman. Mereka terlihat seperti orang baik-baik. Hindari jalur merah!" pesan Leah.
Linch mengangguk. "Tentu."
Linch mengikat sebuah kantung di pinggangnya. Dia memeriksa isinya. Lalu menyelipkan dua pisau lengkung yang cukup besar di kiri-kanan tali pinggangnya.
Linch tampak sudah siap.
__ADS_1
"Ada makanan di meja, jika kau lapar. Ada cukup persediaan air, bahan makanan dan kayu di dapur. Kau tak perlu keluar untuk beberapa hari," pesan Linch.
Leah tersenyum. "Kau yang terbaik."
Linch mengecup kening Leah. "Aku pergi. Jika terjadi sesuatu padaku, buka tempat rahasia kita. Kau bisa membesarkan putra kita dengan tenang," bisik Leon.
"Kau harus kembali. Atau aku akan mengutukmu, hingga kau takkan bisa mati dengan mudah!" Leah menatap tajam ke mata Linch. Linch mengangguk.
"Kami berangkat, Leah. Terima kasih atas keramahanmu," ujar Dean.
"Tidak... aku yang harus berterima kasih. Kalian dikirim dewa untuk menyelamatkan putraku. Aku berhutang nyawa." ujar Leah sepenuh hati.
"Jaga putra tampanmu dengan baik," pesan Dokter Chandra.
"Terima kasih, tabib." Leah mengangguk.
*
*
Tim itu keluar saat malam semakin larut. Kota itu telah tidur dalam buaian angin malam.
Linch mengambil jalan dengan sangat hati-hati dan waspada. Dean tidak dapat memahami kewaspadaan tinggi Linch, bahkan saat dia ada di rumahnya sendiri. Saat mereka berangkat tadi pun, Linch memastikan dulu bahwa pagar kayu itu telah terkunci dengan baik.
Sejauh ini, perjalanan mereka lancar. Meski harus beberapa kali berputar untuk menghindari petugas kota yang berpatroli.
Sekarang mereka berdiri di akhir jalanan yang terbuat dari kayu. Kayu-kayu itu terlihat tua dan lapuk di sana-sini. Tampaknya tak banyak yang melewati jalan ini.
"Ini akhir perjalanan kita," kata Linch. Dia menatap ke arah kegelapan yang pekat di depan sana.
Anggota tim Dean menatapnya bingung dan mengharapkan penjelasan. Di depan mereka tak ada jalan. Lalu mau lewat mana? Apa harus melompat ke dalam kegelapan?
"Ya, kita harus mengarungi rawa gelap itu!"
"Apa?!"
Terdengar sedikit protes dari para wanita. Mereka tak bersedia nyemplung ke air rawa yang penuh kotoran dan bau itu. Mereka tak sanggup. Membayangkannya saja sudah membuat mual.
"Sunil, Alan, bisakah kalian mendeteksi keberadaan makhluk asing dalam kegelapan itu?" tanya Dean.
Sunil dan Alan mengedarkan pandangan mereka ke sekitar. Mata keduanya bersinar biru dan merah.
"Apakah ada bahaya di bagian atas rawa ini?" tanya Dean pada Linch.
"Tidak. Kalian harus mengikuti arahku berjalan agar tetap aman. Ada banyak jebakan di rawa ini, untuk menghindari orang menyeberanginya," jawab Linch.
"Berapa jauh kita mencapai daratan setelah rawa?" tanya Dean lagi.
"Jika kita berjalan cepat tanpa hambatan, kita akan mencapai ujung rawa saat matahari muncul," jawab Linch lagi.
"Aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan di dalam kegelapan ini," kata Alan.
Sunil mengangguk setuju. "Aku juga tak melihat apapun."
"Bagus! Kita bergantian menyeberangkan mereka ke daratan kering di ujung rawa. Sunil, kau menjaga yang lainnya di sini!" Dean membuat pengaturan.
"Tidak! Sebaiknya kita berjalan bersama. Sangat membuang waktu jika harus bolak-balik ke sini," bantah Linch.
Dean menggeleng. Dia ingin bivara, tapi didahului Linch.
__ADS_1
"Aku sudah kerap melewati rawa ini. Percayalah, ada tanah kering di ujung sana. Aku tidak berbohong!" ujar Linch ngotot.
Dean menghela nafas. Dia tersenyum dan menepuk pundak Linch.
"Bagus jika benar ada daratan kering di sana. Tapi aku punya cara yang lebih baik menuju ke sana," kata Dean tenang.
"Sunil, kita bersiap. Aku bawa Widuri dan Cloudy. Kau bawa Linch dan Robert. Apa kau bisa?" tanya Dean.
"Oke," jawab Sunil.
Dean memeluk Widuri dan Cloudy. Lalu ketiganya melayang di atas jalanan yang lapuk itu.
Linch sangat terkejut melihat Dean yang bisa terbang melayang. Dilihatnya, anggota tim itu terlihat biasa dan tidak terkejut. Kecuali Leon dan Jane.
Sunil sudah memegang tangan Robert. Dengan tak sabar, ditariknya tangan Linch agar bisa dibawa. Linch berteriak tertahan. Dia tak menyangka dibawa terbang oleh Sunil.
Mereka mengarungi lumpur rawa yang hitam pekat.
"Tunjukkan dimana daratan keringnya!"
Kata-kata Sunil berhasil mengembalikan fokus Linch. Dia mulai memperhatikan kegelapan. Dia memberi petunjuk arah ke kanan dan kiri, mengikuti ingatannya saat berjalan mengarungi rawa.
Sunil sedikit mangkel. Sebenarnya mereka bisa saja terbang lurus. Tidak harus ikut-ikutan zig-zag seperti sedang mengelakkan jebakan di dalam rawa.
"Di depan sana!" seru Linch.
"Apa di depan sana sudah tanah kering?" tanya Dean.
"Bukan! Kalian kan terbang. Hati-hati dengan pohon besar dan rindang di depan sana!" jelas Linch.
"Oke!"
Dean mengangguk. Mereka segera bisa menemukan pohon rindang itu. Pohon itu bersinar di kegelapan. Menerangi seluruh tempat dan air rawa yang pekat.
"Itu pohon kematian. Itu sebabnya rawa ini ditutup agar tak ada lagi korban yang jatuh!"
Linch menjelaskan tanpa diminta.
"Pohon kematian?" Widuri mengulangi.
"Ku kira itu hanya pohon glow in the dark. Mungkin ada sumber fosfor di bawah rawa yang menghidupinya," celetuk Robert.
"Masuk akal," kata Dean.
"Sekarang kita lewat mana?" tanya Sunil pada Linch.
"Oh, kita lewat jalur ini."
Linch menunjuk arah berbelok menghindari pohon itu.
Meski merasa konyol, tapi Dean dan Sunil tetap mengikuti arahan Linch.
"Itu daratannya!" seru Linch gembira. Dia senang, karena perjalanan jadi lebih cepat dengan terbang.
"Kalian tunggu di sini. Kami jemput yang lainnya," kata Dean.
"Oke!" jawab Robert.
Robert mengawasi sekitar dan memeriksa. Dia bersikap waspada. Itulah alasan Dean membawanya lebih dulu ke sini.
__ADS_1
******