PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 39. Tidak ada waktu untuk hipotesa


__ADS_3

Pagi ini setelah sarapan, Robert dan seluruh anggota tim bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Mereka bergerak lambat, karena hanya berjalan setengah hari lalu berhenti untuk membuat tempat berlindung malam itu. Dalam 2 hari mereka bergerak bersama-sama tanpa adanya tim ekspedisi karena rasa takut yang sangat besar terhadap serangan serigala seperti terakhir kali terjadi.


Robert memimpin jalan di depan, memilih jalur turun gunung yang tidak curam dan bisa dilalui semua orang tanpa perlu alat khusus.


Menjelang siang, dokter Chandra yang berjalan tak jauh di belakangnya memanggil-manggil.


"Robert.. Robert.. Tunggu dulu. Berhenti..!" teriaknya.


"Ada apa dok?" Robert akhirnya berhenti dan menunggu sambil memperhatikan anggota tim lainnya yang masih berjalan terseok-seok di kejauhan.


"Itu, coba kau lihat di atas pohon-pohon itu?" dokter Chandra mengatur nafasnya yang terengah-engah sambil⁵ menunjuk ke arah atas pohon di depan sana.


Robert mengikuti arah yang dimaksud dokter Chandra. Dia serta merta terperanjat.


"Itu tampak seperti dinding cahaya biru kehijauan yang waktu itu ku lihat." Robert sangat senang, karena cahaya itu tidak terlihat terlalu tinggi lagi. Kemungkinan batas tirai cahaya itu tidak jauh lagi.


"Jadi betul, cahaya itu sama dengan yang kau lihat waktu itu?" dokter Chandra memastikan.


"Ya." Robert mengangguk pasti.


"Jika kita ikuti teori film yang disebut Leon, maka harusnya batas tirai cahaya itu tak kan jauh lagi." Robert mengingatkan dokter Chandra.


"Ya, aku ingat itu. Mudah-mudahan saja tirai cahaya itu betulan seperti kisah di film itu, jadi kita tinggal mencari celah pintu untuk bisa keluar dari hutan salju ini." tambah dokter Chandra.


"Kenapa kalian berhenti?" tanya Marianne. Dia terlihat kelelahan dan segera duduk begitu saja di tumpukan salju yang tebal.


"Apa kita mau bikin shelter di sini?" Silvia ikut berhenti.


"Tidak. Tadi dokter Chandra menunjukkan itu padaku," tunjuk Robert pada tirai cahaya yang tampak di atas pepohonan.


Marianne dan Silvia ikut memandang ke arah itu tapi tak melihat apapun.


"Apa itu? Pucuk pohon? Apa ada burung di pucuk pohon?" tanya Marianne heran.


Dokter Chandra dan Robert saling pandang.


"Kau tak melihatnya?" tanya dokter Chandra tak percaya.


"Apa yang harus dilihat? Pohon? Burung? Atau apa?" tanya Silvia sambil terus mencari apa yang dimaksud Robert.


"Ada apa?" Laras bergabung dan ikutan berhenti.


"Itu, di atas pepohonan tampak tirai cahaya hijau kebiruan seperti yang ku lihat sebelumnya di langit, di atas reruntuhan pesawat." jawab Robert.


Kelima rekannya mendongak melihat ke arah puncak pepohonan di depan mereka, memperhatikan dengan teliti.

__ADS_1


"Aahh,, aku melihatnya..!" seru Laras sambil melompat-lompat kegirangan.


"Benarkah?" Marianne dan Silvia bertanya serempak dan kembali memperhatikan pepohonan.


Menyusul Angel, Niken, Gilang dan Michael bergabung dan ikut memperhatikan pepohonan setelah Laras menjelaskan.


Indra dan kelompoknya yang berjalan di belakang untuk menjaga rombongan itu akhirnya ikut bergabung juga. Mereka dengan segera menemukan tirai cahaya yang menjadi pusat perhatian seluruh anggota tim.


"Robert, harusnya kita akan segera mencapai batas tirai itu. Tidakkah kita lebih baik bergegas?" saran Indra.


"Ya, aku hanya ingin memastikan kalian bisa melihatnya. Jadi mari kita lanjutkan ke arah itu," jawab Robert.


"Ayo.. Lebih cepat mencapainya, akan lebih baik."


Semua tim setuju dan melanjutkan lagi langkah kaki mereka. Robert menggamit Indra dan berbisik:


"Aku sejak tadi merasa ada yang memperhatikan kita. Jadi tingkatkan kewaspadaan bagian belakang."


"Baik," Indra mengangguk dan menyampaikan apa yang dikatakan Robert pada Toni, Leon dan Liam yang menjadi kelompok penjaga belakang tim. Mereka melangkah dengan waspada.


Satu jam kemudian, terlihat hamparan salju di dataran kosong tanpa pepohonan. Mereka menatap tirai hijau kebiruan tepat setinggi pandangan mata, ada diujung sana sekitar 100 meter saja lagi. Itu memberi mereka semangat, batas itu sudah dekat. Tim itu berjalan cepat melintasi ruang terbuka yang dipenuhi hamparan salju tebal.


Aouuuuu..


Lolongan serigala terdengar bersahutan tak lama setelah mereka berjalan di tempat terbuka itu. Robert berhenti dan memperhatikan sekitarnya dengan waspada. Anggota tim lain segera mendekat dan bergabung dengan kelompok setelah mendengar lolongan serigala semakin dekat.


Seluruh tim segera mempercepat langkah ke arah tirai cahaya yang tampak dibatas pandangan mereka. Mereka ingin sekali berlari seperti instruksi Robert, tapi bagaimana bisa berlari di tumpukan salju tebal? Jarak puluhan meter itu terasa sangat jauh dijangkau kali ini.


Semakin dekat, semakin terlihat cahaya itu serupa dinding cahaya transparan, tak terlihat ada apapun dibalik itu selain hamparan salju juga. Tapi mereka tak punya pilihan arah lain, karena di belakang, ada pasukan serigala yang mulai mengejar.


Dokter Chandra yang memimpin tim berteriak pada Robert yang menjaga bagian tengah rombongan:


"Robert, di seberang dinding cahaya itu juga hamparan salju.."


"Coba lintasi saja, tidak ada pilihan lain!" Robert memotong ucapan dokter Chandra yang belum selesai.


Dokter Chandra dan yang lainnya tidak lagi peduli apakah di sana hamparan salju atau bukan. Yang paling mereka inginkan adalah lepas dari kejaran kumpulan serigala itu. Mereka terus melangkah dengan cepat mendekati dinding yang tinggal 20 meter lagi.


Di belakang, Indra dan Liam sudah berhenti dan bersiap untuk menghalau serigala yang berada paling dekat. Mereka memegang tombak dengan kuat siap menerima terjangan serigala yang sedang berlari.


Di baris kedua, Robert dan Leon juga bersiap. Anggota tim lain di depan sana harus diberi waktu untuk mencapai batas tirai lebih dulu sebelum mereka bisa menyusul.


"Yiahhh..! teriakan Indra terdengar saat melompat menyambut seekor serigala yang melompat ke arahnya. Mata tombaknya diarahkan ke perut serigala yang tidak terlindung. Indra bergulingan mengikuti arah jatuh serigala yang perutnya telah tertusuk tombak. Liam berjalan mundur mendekati Indra sambil tetap waspada. Tak jauh dari mereka Robert dan Leon mulai bersiaga menyambut serigala berikutnya.


"Kami sudah sampai!" teriak Toni ke arah Indra, Liam, Leon dan Robert.

__ADS_1


Robert mengangguk mengerti.


"Indra, tinggalkan serigala itu dan bersiap di belakang kami." kata Robert.


Indra melepaskan tombaknya yang penuh darah dari perut serigala yang terlihat masih bergetar, yang sepertinya belum mati. Bersama Liam, mereka kembali bersiaga sebagai lapisan kedua dari Robert dan Leon yang segera akan menerima terjangan serigala.


"Yiahhh..! teriak Robert sambil melompat dan menusukkan pisau dan tombaknya ke arah serigala besar yang mencoba menyambarnya. Serigala itu langsung mengejang dan jatuh menimpa Robert dengan luka koyak di perutnya akibat sabetan pisau Robert.


"Oh tidak!"


"Leon!" terdengar teriakan Indra dan Liam yang dengan segera mengejar ke arah Leon yang sedang bergumul dengan serigala abu-abu di hamparan salju.


Robert dengan cepat melepaskan pisau dan tombaknya dari serigala yang telah dibunuhnya. Berjalan penuh waspada ke arah ketiga rekannya. Robert berjaga-jaga jika ada serangan lain saat kedua rekannya menolong Leon.


Leon berusaha sekuat tenaga menahan gigitan dengan tombaknya melintang dimulut serigala yang sedang menganga itu. Hal itu membuatnya tak mungkin menyerang, jadi dia memang butuh bantuan. Indra segera menancapkan tombaknya dan mendarat di pundak serigala yang membuatnya dengan segera mengalihkan perhatian dan menggeram dengan marah.


Liam juga segera menusukkan tombaknya sambil melompat. Dia berhasil melukai punggung binatang buas itu. Itu membuat binatang itu melepaskan Leon dan terjatuh bersama Liam.


"Cepat menyingkir! Yang lainnya sudah dekat." Robert mengingatkan mereka bertiga.


Indra membantu Leon berdiri dan mendekati serigala yang sedang berusaha bangkit. Indra mengarahkan tombaknya ke arah dada dan melompat cepat. Liam menahan tusukan tombaknya tetap di punggung agar serigala itu tak bisa menghindari serangan Indra.


Crasshh!


Serigala abu-abu itu rubuh dengan dada tertusuk tombak. Indra kembali menekan tombaknya lebih dalam dengan memindahkan beban tubuhnya pada kedua tangannya yang memegang tombak, menusuk lebih dalam lagi, memastikannya mati. Sebentar terdengar erangan pelan, lalu serigala itu diam. Tubuhnya penuh darah dari 3 luka tusukan yang diterimanya.


Segera terdengar lolongan serigala di sekitar mereka berempat. Pasukan serigala itu berjalan pelan dengan suara geraman marah dan mata bersinar merah mendekati Robert, Liam, Indra dan Leon yang berjalan mundur sambil tetap menjaga kewaspadaan.


Para serigala itu berhenti dan berkumpul di sekitar serigala abu-abu yang tergeletak. Mereka bergantian mengendus tubuh serigala itu. Merahnya darah menodai salju putih di bawah tubuhnya.


Robert ketiga rekannya tinggal sekitar 10 meter lagi dari anggota tim yang lain.


"Coba julurkan tangan ke dalam dinding itu dok," perintah Robert.


Dokter Chandra mengangguk lalu mengulurkan tangannya ke arah dinding cahaya biru kehijauan di sebelahnya. Tangannya masuk menembus cahaya, tapi dia tak bisa melihatnya. Dokter Chandra segera menarik kembali tangannya.


"Ternyata tidak transparan. Jadi hamparan salju yang terlihat adalah ilusi semata. Kita tetap tak bisa mengetahui apa yang ada di balik itu," dokter Chandra menjelaskan.


"Tidak ada waktu untuk hipotesa dok. Jalan kita hanya itu, atau bersiap bertarung melawan pasukan serigala itu." Robert menegaskan keadaan yang sedang mereka hadapi.


"Biar aku duluan," Toni menawarkan diri. Dia langsung melangkah melewati dinding cahaya dan menghilang di sana.


Para wanita saling berpandangan. Memang tak ada pilihan lain lagi. Jadi mereka segera menyusul Toni dan ikut menghilang di balik dinding cahaya, disusul Michael dan Gilang.


Kelompok Robert sudah berkumpul dengan dokter Chandra. Mereka memandang ke arah kumpulan serigala yang terus memperhatikan sambil mengeluarkan suara lolongan bersahutan, tapi tidak bergerak menyerang lagi. Mereka hanya mengelilingi tubuh serigala abu-abu yang dibunuh Indra. 'Apakah serigala abu-abu itu pemimpin mereka?' pikir Robert.

__ADS_1


Indra berjalan lebih dulu melewati dinding cahaya disusul Liam, Leon, dokter Chandra dan Robert.


***


__ADS_2