
Setelah jam istirahat, para tahanan kembali masuk dalam sel dan dikunci.
Dean menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Penguasa Cahaya.
Setelah makan malam diantarkan, Dean merasa ini waktu yang tepat. Dean merunduk di lantai memberi hormat selayaknya.
Pria itu hanya melihatnya. Ekspresinya tak terbaca.
"Yang Mu ...."
Ucapan Dean terhenti ketika melihat jari pria itu disilang di bibirnya. Pria tua itu menggapai tangan Dean.
Dean mendekat dan mengulurkan tangannya. Menunggu orang tua itu menuliskan sesuatu. Lalu mengejanya dalam hati.
"Jangan panggil seperti itu. Jangan mengajakku bicara. Lebih aman untukmu jika tidak mengenalku."
"Kenapa?" tanya Dean.
Pria itu menggeleng tanpa jawaban. Tapi Dean bukan orang yang mudah putus asa. Dia akan menemukan sebab musababnya.
"Kami akan merencanakan pelarian untukmu yang mulia."
Dean menggores telapak tangan keriput orang tua itu.
Dia menggeleng lemah.
"Jangan melawannya. Kalian hanya akan disiksa hingga mati!"
"Siapa? Apakah dia juga yang menyiksa temanku? Jenderal So bahkan menolak menggunakan kekuatan untuk melindungi temanku!" Dean merasa marah.
__ADS_1
"Mungkin yang menyiksanya adalah orang keji itu. Dia punya kekuatan penekan. Kekuatan jiwa orang dibawahnya akan kalah di bawah tekanannya."
Pria tua itu menuliskan opininya.
"Anda terlihat begitu mengenalnya. Apa dia bangsa kita juga?" tanya Dean.
Pria itu mengangguk. Matanya terlihat kecewa. Dean tertegun mendapat jawaban itu. Dia tak menyangka ada pengkhianat diantara bangsanya.
"Orang itu mengkhianati anda?" Dean bertanya heran.
"Mungkin dia lelah menghadapi tekanan selama 200 tahun perjalanan kami yang sulit."
Pria tua itu menggoreskan lagi kata-kata di telapak tangan Dean.
"Apakah orang itu salah satu pengawal anda Yang Mulia?" tanya Dean.
Pria itu menggeleng.
"Tapi bagaimana mungkin dia bisa menahan anda seperti ini? Apakah anda tidak membawa pengawal ketika pergi?" tanya Dean.
"Ada Jenderal Bo dan 10 bawahannya. Mereka yang membawaku pergi menyelamatkan diri melalui lorong teleportasi. Lalu Pelindung Hu dan putranya ikut serta."
"Apa semua pengawal anda sudah tewas?" tanya Dean.
Pria itu mengangguk.
"Jendral Bo juga tewas?" Apa dia yang membunuhnya?"
Mata Dean berkilat geram.
__ADS_1
Pria tua itu menggeleng.
"Dia tewas saat melawan pasukan ini. Mereka memiliki senjata ajaib yang bisa melesat cepat. Senjata itu akan membunuhmu dari dalam. Berhati-hatilah."
"Yang Mulia, kami akan mencari cara untuk keluar dari sini. Kami akan membawa anda serta."
Pria itu menggeleng.
"Dunia kita sudah hancur. Rakyatku sudah tak ada. Akhirku hampir tiba. Jangan memanggil dengan sebutan itu lagi."
Dean menggeleng. Dikeluarkannya Widuri dan Cloudy dari ruang penyimpanan. Pak tua itu terkejut.
"Ini istriku."
Dean menggoreskan jarinya ke telapak tangan tua itu.
Dikeluarkannya 3 cangkir air abadi. Dan mereka minum bersama. Pria tua itu terkejut saat meneguk air itu. Ditatapnya Dean dengan pertanyaan di matanya.
Dean tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia senang melihat pria mulia itu kembali berseri-seri. Ditambahnya lagi air abadi di cangkir, agar kekuatan pria itu pulih kembali.
Sambil menikmati makan malam bersama, Dean menceritakan semua hal yang timnya alami. Pria tua itu akhirnya mengerti banyak hal. Tapi yang paling disadarinya adalah bahwa dunia ini sangat luas. Dunianya yang hancur hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Dunia berubah, tapi selalu ada yang sama tentang hidup. Perjuangan tanpa henti!
Pria tua itu merasa kagum dengan kegigihan manusia bumi yang ada di depannya. Hidup mereka sulit dan penuh ketidakpastian. Tapi tak pernah menyerah untuk mencari jalan pulang. Meski tubuh mereka lebah, tap tekadnya kuat. Hati mereka bersih dan penuh kasih sayang. Dia merasa terharu karena beberapa rakyatnya telah diselamatkan oleh Dean dan timnya.
Waktu bergulir. Widuri telah kembali ke ruang penyimpanan untuk istirahat. Dean juga sudah naik ke tempat tidurnya. Dengkuran halusnya mulai terdengar.
Namun pria tua itu tidak tidur sepicingpun. Pikirannya mengembara pada kejadian-kejadian yang akhirnya mematahkan semangatnya. Kematian pelindung Hu bukanlah salahnya. Harusnya hatinya tak melemah menghadapi hal itu. Hatinya melemah karena dia mengasihi anak itu. Tapi rasa kasih sayangnya telah membuat semua pengawalnya terbunuh.
Pria tua itu menggeleng. Entah bagaimana Penasihat Hu bisa memiliki putra sekeji itu. Berkhianat untuk menyelamatkan diri, bersekutu dengan musuh dan mengorbankan teman sebangsanya. Dia bahkan bersikap lancang, berani menginginkan kekuatan terbesar seorang penguasa. Sungguh keji!
__ADS_1
Pria tua itu beristirahat menjelang dini hari. Senyum pertama setelah ratusan tahun berlalu. Tekadnya kembali muncul. Dia akan berjuang bersama Dean dan timnya. Ini saatnya melawan. Agar dia bisa mati secara terhormat.
******