
Sepagian itu Dean berusaha merampungkan kamar barunya. Menyiapkan tanah lempung, mencetaknya jadi batu bata berukuran besar dan lebar. Setelah dia merasa itu cukup, dijemurnya di bawah cahaya matahari.
Lepas beristirahat dia membuat tiang-tiang untuk memasang atap di atas log kayu yang menjadi kamarnya dan Widuri. Michael membantu mengikat daun-daun yang akan dijadikan atap.
Sementara Marianne, dibantu Niken terus menggiling kelapa tua untuk diambil santannya.
Dokter Chandra membantu sesekali. Kadang dia juga mengajak Sunil yang sedang dijemur untuk bicara.
Saat Alan, Widuri dan Nastiti kembali sore hari, pekerjaan Dean sudah selesai. Batu-batu bata yang dibuatnya sedang dibakarnya untuk digunakan besok.
Widuri menyerahkan hasil dari pasar untuk segera diolah jadi makan malam.
"Dean, aku ingin berenang," kata Wuduri.
"Oke." Dean memeluk tubuh Widuri dan melesat ke arah tebing.
"Hei, tunggu!" cegah Marianne.
"Ada apa?" tanya Dean.
"Air kamar mandi," Marianne mengingatkan Dean untuk mengisinya.
"Siap." Dean kembali terbang bersama Widuri.
"Sepertinya berenang di saat sore begini memang asik. Ayo Alan, bawa aku turun." Kata Nastiti.
"Baiklah nona cerewet." Jawab Alan.
"Niken, kalau kau mau berenang juga, bisa ikut mereka." Kata Marianne.
"Tidak. Lain kali saja." tolak Niken.
"Kalau begitu mari kita siapkan adonan roti untuk makan malam." Ajak Marianne.
"Kenapa tak ada yang mengajakku berenang? Aku juga ingin berenang." Michael bersungut-sungut.
"Katakan saja pada Dean dan Alan." Sahut dokter Chandra.
"Itu Dean."
"Ada apa dok?" tanya Dean setelah selesai mengisi air kamar mandi.
"Michael ingin ikut berenang." Dokter Chandra menoleh ke arah Michael yang sedang cemberut.
"Ayo. Ngambekan.." Ledek Dean tertawa kecil.
Keduanya lalu menghilang ke bawah tebing.
*
*
"Ku pikir, kita harus membuka sedikit lahan pertanian. Kita bisa tanam gandum dan beberapa sayuran dari bibit yang kita simpan dulu. Membeli itu tidak hemat sama sekali. Hanya mengandalkan hasil penjualan blueberry, itu tidaklah cukup untuk seminggu." Widuri membuka diskusi setelah makan malam.
"Baik. Besok akan ku siapkan lahan di sebelah sana untuk ditanami." Dean menyanggupi.
"Apa kalian ingin menetap di sini?" tanya Niken tak percaya.
__ADS_1
"Sementara ini, itulah yang terbaik. Kami belum menemukan celah dunia lain. Sunil juga belum sadar. Berpindah-pindah dalam keadaan begitu tentu tidak nyaman." Marianne mengutarakan pendapatnya.
"Aku mengerti. Jadi selama kita menunggu dia pulih, maka harus mampu bertahan hidup dengan kemampuan kita sendiri." Niken menyimpulkan.
"Baiklah. Jadi kita sepakat untuk membuka lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri." Dokter Chandra ikut mendukung.
"Yah, yang paling penting adalah mengamankan kampung tengah.." Alan tersenyum lebar, disambut derai tawa yang lainnya melihat mimik lucu Alan.
"Widuri, bagaimana informasi tentang orang yang ditolong nelayan itu?" tanya Niken ingin tau.
"Tadi saat kami datang ke kediaman tuan kota, Yoshi tak ada. Tapi kami sudah katakan pada ayahnya jika orang itu bukan penduduk wilayah ini, maka mungkin itu adalah teman kita." Nastiti menjawab.
"Nanti tuan kota akan mengirim petugasnya untuk memeriksa." sambung Widuri.
"Oh, baiklah. Selama dia sudah ditolong, itu sudah bagus. Jika itu teman kita, maka kita pasti akan bertemu lagi." Niken tak lagi sengotot kemaren.
"Ehemm.." Dean berdehem.
Semua menoleh dan menunggunya bicara.
"Aku dan Widuri akan menikah. Setelah kediaman itu selesai, kami akan menemui tuan kota. Mungkin mereka punya aturan sendiri tentang pernikahan di sini." Ujar Dean.
"Woaaa.. selamat.." Seru Michael.
"Senang sekali akhirnya melihat kalian akur," kata Nastiti.
"Dewi! Dua musuh bebuyutan ini akhirnya menikah. Kau bisa tersenyum dari atas sana!" Teriak Nastiti kencang ke arah langit.
"Apa maksudmu dengan musuh bebuyutan?" protes Widuri.
"Nastiti betul. Bahkan jika Sunil sadar, dia juga bisa jadi saksi bagaimana kalian selalu memicu perang dunia. Keributan kalian bahkan lebih menyeramkan dibanding ledakan nuklir yang dibuat Sunil di gunung batu." Alan dan Nastiti saling menepukkan tangan dengan puas.
"Itu cuma perbedaan pendapat," Bela Dean.
"Hahahaa.."
"Iya deh.. iya deh.."
"Yang penting kan sekarang kita memberi mereka selamat." Kata Michael.
"Michael benar. Bertengkar juga bagian dari proses saling memahami." Dokter Chandra berkata bijak.
"Selamat untuk kalian berdua. Proses panjang untuk sampai ke tahap ini. Kami akan selalu mendukung." Sambung Marianne.
Niken merasa perih di hatinya. Dia teringat Indra. Andai kekasihnya ada di sini, Niken juga tak akan menunggu lama. Dia ingin segera menikah dengan Indra. Setetes air jatuh dari sudut matanya. Niken merasa kesepian diantara keramaian teman-temannya.
*****
Malam berganti pagi.
Robert akhirnya terbangun karena rasa lapar yang menggigit. Laras tertidur di pangkuannya. Indra tergolek di samping.
Robert menggerakkan sedikit punggungnya yang terasa pegal. Sinar matahari masuk dari sela-sela batu di atas kepalanya. Diperiksanya sekeliling, celah yang dimasukinya itu tidak terlalu besar. Tapi udara di dalam sini lumayan hangat setelah matahari muncul.
"Laras, bangun. Matahari sudah tinggi." Bisik Robert lembut.
Laras mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum melihat jelas. Kemudian dia sadar dengan posisi tidurnya yang memalukan.
__ADS_1
"Maaf.." katanya halus.
"Tidak perlu." Robert mengibaskan tangannya menolak permintaan maaf Laras.
"Aku periksa Liam dulu." Robert bangkit untuk berdiri.
"Liam, apa kau sudah bangun?" Sapa Robert saat menghampiri.
Liam tak menjawab. Robert jongkok untuk memeriksa luka di kaki Liam. Dia terkejut. Luka yang sebelumnya diikat dengan kain itu kini berubah jadi balutan rumput laut.
"Siapa yang melakukan ini?" gumamnya.
"Liam, apa kau tau siapa yang membalut kakimu seperti ini?" Tanya Robert.
"Apa maksudmu?" Laras mendekat.
"Lihat ini," tunjuk Robert ke arah luka Liam. Laras juga terkejut.
"Bagaimana bisa?" katanya tak percaya.
Keduanya memandang ruangan itu. Ada kepulan asap tipis tak jauh dari ketiganya. Robert mendekatinya.
"Ini bekas api unggun."
"Berarti ada yang berlindung di sini juga tadi malam." Robert menarik kesimpulan.
"Saat kita masuk, tempat ini gelap gulita. Berarti dia masuk setelah kita tertidur. Itu sebabnya kita tak tau dan tak melihat cahaya api unggun." sambung Laras.
"Dia juga meninggalkan makanan di sini. Lihat." Robert menunjukkan 3 ekor ikan bakar yang masih melekat pada kayu yang ditancapkan di sela batu.
Laras tersenyum.
"Lalu dimana orang baik itu? Kira harus berterima kasih padanya." kata Laras.
"Nanti kita cari. Sekarang ayo makan dulu." ajak Robert. Liam dibangunkan agar bisa ikut makan.
"Liam, kau sungguh tidak tau siapa yang mengobati lukamu?" Laras penasaran. Liam menggeleng lemah.
"Dia mengobati Liam. Menyalakan api agar kita tak kedinginan. Menyediakan makanan juga. Tapi meninggalkan kita di sini begitu saja. Apa maksudnya?" Robert berpikir keras.
"Menurutmu, dari mana dia datang?" tanya Laras.
"Pasti dari atas tebing itu. Berarti ada kehidupan di sana. Tapi kenapa dia tak membawa kita naik?" Robert merasa ini janggal.
"Dia harusnya orang yang cukup baik dengan semua yang ditunjukkannya ini. Tapi tidak ingin membawa kita ke tempatnya. Padahal dia pasti tau kita tak punya jalan lain, selain memanjat ke atas." Robert terus menduga-duga.
"Mungkinkah di atas bukan tempat yang baik untuk kita?" tebak Laras.
Robert terkejut. "Kau benar. Kemungkinan di atas adalah tempat yang berbahaya." Robert mengangguk dengan kesimpulan itu.
"Tapi kita tak punya jalan lain selain ke atas." ucapan Laras kembali membuat pusing kepala.
"Tempat yang berbahaya, tapi tak ada jalan lain." gumam Robert berulang kali.
Dia berpikir keras apa yang sebaiknya mereka lakukan. Robert tak ingin membuat keputusan berbahaya lagi, yang mungkin bisa merenggut nyawa mereka bertiga.
*****
__ADS_1