PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 201. Mustafa (1)


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Silvia sudah terbiasa berada di kediaman Mustafa. Ternyata Mustafa adalah keluarga terpandang dan dihormati di kota itu. Pamannya adalah pemimpin suku mereka.


Silvia diminta mengasuh putrinya yang berumur 4 tahun. Mustafa telah memiliki 2 putra dan seorang putri dari istri berbeda.


Silvia jatuh sayang pada gadis mungil itu. Gadis yang ibunya tiada setelah melahirkannya. Tak heran Mustafa mencari pengasuh khusus yang dapat menjaga dan memberi kasih sayang untuknya.


Silvia melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang pengasuh. Cara Silvia mengasuh kerap tidak disetujui oleh istri pertama Mustafa.


"Tuan, anda sangat tau bahwa saya berasal dari tempat berbeda. Seperti inilah cara pengasuhan di tempat saya. Bahwa seorang gadis kecilpun harus dipersiapkan dengan baik dan pengetahuan yang banyak. Agar saat dewasa, dia berpengetahuan luas."


"Putri anda itu sangat cerdas. Terlalu sia-sia jika menekan perkembangannya sebatas memasak, menyulam atau merias diri yang sebenarnya bisa dilakukan seorang pelayan," bantah Silvia.


Mustafa tercenung mendengar pembelaan Silvia. Itu terdengar masuk akal di telinganya. Tapi memang sangat berbeda dengan tradisi komunitasnya. Dimana para wanita hanya diajari tentang hal-hal domestik. Bukan perkara mudah mendobrak tradisi turun temurun. Pasti akan terjadi penentangan dari pihak-pihak lain. Terutama dari istri pertamanya yang memiliki 2 orang putra.


Mustafa dapat menyelami pikiran istrinya itu. Dia takut kedua putranya tersaingi dengan kepintaran putri satu-satunya.


"Silvia, selama ini, meskipun dia tak punya ibu, tapi karena dia hanya seorang gadis kecil yang tak tau apa-apa, maka tidak terlihat sebagai ancaman. Dia tetap dibesarkan sebagai putri kecil. Setelah remaja, dia bisa segera dijodohkan dan keluar dari rumah."


"Tapi dengan caramu mengasuhnya, pihak lain jadi merasa posisinya terancam. Itu bisa membahayakan putriku, dan membahayakanmu juga. Apa kau tau itu?"


Mustafa menjelaskan keseriusan masalah yang ada. Silvia terdiam.


"Tuan, boleh aku bercerita sedikit tentang tempat asalku?" tanya Silvia.


"Silahkan," kata Mustafa.


"Tapi tak boleh ada orang lain yang mendengar. Saya hanya percaya anda," kata Silvia menegaskan.


Alis tegas seperti pedang itu terlihat saling mengait. Dia sedang berpikir. Tapi kemudian dia melambaikan tangan.


"Yang lain keluar," perintah Mustafa.


"Sekarang katakan apa yang begitu rahasia." Mustafa menatap tajam.


Silvia sedikit gugup mendapatkan tatapan seperti itu. Biasanya Mustafa selalu melihatnya dengan lembut.


'Apakah aku bersikap keterlaluan?' batinnya.


"Ini rahasia. Anda mungkin tak kan percaya jika saya mengatakan berasal dari masa depan." Silvia menantikan reaksi Mustafa.


Benar saja, Mustafa terkejut. Tapi kemudian dia tersenyum, lalu tertawa kecil.


"Yeahh. Itu reaksi yang wajar. Saya bisa buktikan. Tunggu sebentar."


Silvia berjalan setengah berlari keluar ruangan. Dia pergi menuju kamarnya. Mengambil sebatang arang dan selembar kain polos yang ada di kamarnya. Dibawanya semua itu kembali ke ruangan Mustafa.


Pria itu melihat Silvia masuk. Dia tersenyum samar.


'Ternyata dia bukan mau melarikan diri dari perbincangan. Menarik. Benar-benar wanita yang gigih,' pikirnya.


Silvia membentangkan kainnya di lantai. Lalu mulai menggambar dengan arang.


Menggambar kota dengan gedung-gedung tinggi. Di situ Silvia menulis kata Indonesia.

__ADS_1


"Seperti ini kota tempatku tinggal. Negara ini bernama Indonesia. Sangat jauh dari sini."


Mustafa membuka matanya lebar, tak menyangka ada kota dengan rumah begitu tinggi.


Silvia menggambar mobil.


"Kami tidak lagi menggunakan kuda. Tapi naik ini untuk pergi ke mana-mana.


Mustafa meraih kain itu dan memperhatikan gambar mobil di situ.


"Bagaimana benda ini bisa berjalan tanpa kuda?" tanya Mustafa tak percaya.


"Orang masa depan telah menciptakan banyak hal juga mesin-mesin untuk mempermudah segalanya. Bahkan di masa depan, lentera-lentera ini akan digantikan dengan bola lampu yang cahayanya lebih terang," jawab Silvia.


Silvia menulis nama Mustafa di atas kain.


"Ini nama anda, Mus-ta-fa."


"Ini nama saya, Sil-via."


Mustafa tak menyangka bahwa namanya ditulis di situ. Dia bahkan tak mengenal huruf itu.


Silvia masih melanjutkan menulis.


"Ini nama putri anda, Yas-meen."


"Ini O-maar, ini Ka-reem."


Mustafa benar-benar terdiam. Dia memandangi garis-garis di kain itu.


"Tentu saja. Saya juga mengajari Yasmeen menulis dan berhitung," jawab Silvia.


"Berhitung? Apa lagi itu?" tanya Mustafa heran.


"Berhitung adalah menjumlah, mengurangkan, mengalikan atau membagi sesuatu. Untuk pedagang seperti anda, harusnya itu hal yang sangat penting. Agar mudah dalam pencatatan barang dan uang yang masuk serta keluar. Dengan cara itu anda akan tau berapa sisa uang. Jika tidak sesuai catatan dgn jumlah uang yang anda simpan, anda jadi bisa mencari, dimana jatuhnya atau hilang dimana.."


"Benarkah?" Mustafa memotong penjelasan Silvia. Dia sangat tertarik belajar berhitung itu.


"Ya, tentu saja." Silvia mengangguk pasti.


"Ajari aku menulis dan berhitung seperti itu." Kata-kata itu terdengar sebagai sebuah perintah.


"Ya tuan, tentu. Karena di sini belum ada kertas, maka anda harus siapkan beberapa lembar kain putih seperti ini sebagai alas menulis." Silvia menunjuk kain dan arang kayu yang ada di lantai.


Mustafa mengangguk.


"Tuan, tidakkah putra-putra tuan juga harus belajar menulis dan berhitung? Bukankah nanti mereka yang akan meneruskan bisnis anda?" tanya Silvia.


Mustafa berpikir sejenak, dia merasa bimbang.


"Mengajari putra-putri anda keahlian ini tidak akan merugikan anda. Jika mereka belajar bersama, maka akan terpacu untuk mengungguli saudaranya. Mereka akan punya lebih banyak interaksi yang bisa menumbuhkan rasa kasih sayang antar saudara. Semoga dengan begini, mereka tidak lagi menganggap Yasmeen sebagai ancaman."


Silvia menarik nafas lega setelah bicara begitu panjang. Dia memperhatikan raut wajah Mustafa. Pria itu terlihat sedang berpikir serius.


"Baiklah. Aku akan mengatur jadwal belajar mereka," katanya setuju.

__ADS_1


Silvia tersenyum senang. Jadi sekarang dia tidak lagi dipandang dengan wajah perang oleh istri Mustafa. Biarkan pria itu menjelaskannya sendiri.


*


*


Silvia mengajari Yasmeen banyak hal. Hari ini mereka sedang asik bermain air dan menumbuk sesuatu hingga hancur. Gadis kecil itu senang sekali belajar sambil bermain.


Sore hari Mustafa mendatangi putrinya yang duduk di bangku. Silvia terlihat sedang mengerjakan sesuatu di halaman.


"Kalian sedang apa?" Mustafa meraih putrinya ke dalam gendongannya.


"Kak Silvia ingin membuat kertas. Tapi katanya tidak cukup bahan. Jadi kami hanya membuat beberapa," kata gadis kecil itu dengan manja.


Mustafa berjalan ke arah Silvia dengan Yasmeen di gendongannya.


"Kau sedang membuat apa?" tanya Mustafa.


"Ini kertas. Semoga cukup bagus untuk dipakai menulis." Silvia berdiri di samping Mustafa.


"Ini untuk menulis? Bukannya dengan kain putih? Aku sudah membeli banyak kain putih," kata Mustafa.


"Kain putih bagus untuk menulis. Tapi sayangnya, mahal. Di negaraku, menulis itu dengan kertas. Tapi disini tidak ada hutan, jadi tidak ada bahan untuk membuat kertas," jelas Silvia.


Mustafa tak mengerti kata-kata Silvia. "Baiklah. Lakukan yang kau mau."


Seseorang berdiri di depan pintu kamar Yasmeen. Mustafa melihatnya. Dia mencium lalu menurunkan Yasmeen.


"Nanti malam kau datang ke ruanganku setelah makan malam." katanya sambil berlalu.


"Ya tuan," jawab Silvia.


*


*


"Ada informasi?" tanya Mustafa pada seorang pria yang duduk di depannya.


"Pria yang tuan cari. Kami menemukannya." Wajah Mustafa muram.


"Tapi dia tidak terlihat seperti nona yang tuan bawa kemarin. Pria ini lebih mirip orang kita. Dia seorang nelayan dan sudah punya istri." lapor pria di depan.


"Kau memeriksanya?" tanya Mustafa.


"Ya, tuan. Kami memeriksa kediaman mereka di tepi pantai. Kediaman itu sudah usang. Dan banyak pedagang yang mengenalnya di pasar," pria itu memberikan laporannya.


"Hemmm, baiklah. Untuk sementara, awasi saja dulu," kata Mustafa.


"Tidak perlu ditangkap tuan?" tanya pria itu heran.


""Belum. Tunggu perkembangan selanjutnya. Lanjutkan pekerjaan kalian." Mustafa mengeluarka sebuah kantung dari laci, lalu melemparkannya ke meja.


"Terims kasih tuan," pria pelapor itu keluar dengan puas.


Wajah Mustafa sungguh tak enak dipandang petang itu.

__ADS_1


******


__ADS_2